Pengaruh Teori Evolusi Terhadap Moralitas Manusia

Posted on Juni 16, 2009

9


Berbicara mengenai sains penciptaan dan berbagai topik yang terkait didalamnya, maka seharusnya beberapa orang mulai bertanya-tanya mengenai relevansi sains penciptaan terhadap kehidupan sehari-hari? Kalau kita telah mengetahui bahwa dunia ini diciptakan dalam waktu enam hari secara literal lalu bagaimana? Makalah singkat ini akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara ringkas dan akan dimulai dengan mengkritisi dampak daripada teori evolusi kepada etika dan moralitas manusia, dilanjutkan dengan solusi dari sudut pandang Alkitabiah.

Teori evolusi yang sangat kontroversial ini sesungguhnya telah menelurkan banyak sekali paham yang baru yang sangat bertentangan dengan apa yang telah dipegang masyarakat secara luas sebelumnya. Sama halnya ketika ditemukan komputer, maka masyarakat yang sebelumnya sangat ‘kolot’ istilahnya. Akhirnya harus mengubah paradigma berpikir mereka daripada menggunakan cara yang kuno dan tidak menarik, lebih baik melakukan hal yang baru, selain baru sebenarnya menarik pula! Itulah yang kami lihat sedang terjadi dan sebenarnya sedang terjadi di sebagian besar masyarakat dunia ini.

Salah satu paham utama yang muncul setelah kemunculan teori Darwin adalah Marxisme, dimana paham ini sudah tidak asing lagi bagi sebagian kita. Karl Marx dengan jelas menyatakan bahwa teori Darwin memberikan dasar yang kokoh bagi materialisme, dan tentu saja bagi komunisme. Ia juga menunjukkan simpatinya kepada Darwin dengan mempersembahkan buku Das Kapital, yang dianggap sebagai karya terbesarnya, kepada Darwin. Dalam bukunya yang berbahasa Jerman, ia menulis: “Dari seorang pengagum setia kepada Charles Darwin”. Marxisme adalah dasar dari sebagian besar negara komunis di dunia. Contoh yang sangat populer adalah Adolf Hitler dimana kediktatorannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tetapi mungkin kita berpikir mengapakah bisa begitu? Bukankah ini hanya merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang ’netral’? mengapakah bisa mengakibatkan sebuah kekejaman seperti yang dilakukan oleh Hitler?

Teori evolusi Darwin mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Inilah yang disebut dengan materialisme. Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah. Dengan mereduksi segala sesuatu ke tingkat materi, teori ini mengubah manusia menjadi makhluk yang hanya berorientasi kepada materi dan tidak memikirkan hal-hal yang bersifat non-materi, seperti contohnya jiwa, roh dan terutama didalam pembahasan kita disini adalah moralitas.

Mengapa bisa moralitas ditinggalkan? Sebenarnya mereka berusaha membentuk sebuah tatanan morlaitas yang ’baru’ yang mereka sebut sebagai relativisme moral. Dengan kata lain siapapun benar bagi dirinya sendiri. Tidak ada yang benar atau salah. Ini adalah sebuah pernyataan yang menarik sekali dan dapat dilihat contohnya dari gambar-gambar berikut ini.

Richard Campaign

Ini adalah kampanye seorang atheist Richard Dawkins yang pernah dimuat di Jawa Pos dalam tahun ini. Kata-kata ”Now stop worrying and enjoy your life” menggambarkan bagaiamanakah etika yang nantinya akan mau dibawa oleh wawasan dunia atheistik ini. Ketika tidak ada satu apapun yang benar ataupun salah, toh, kita semua adalah pada dasarnya berasal dari makhluk yang sama, yaitu makhluk bersel tunggal. Maka mengapakah kita tidak boleh membunuh seseorang? Mengapakah kita tidak bisa memperkosa semua wanita yang kita inginkan dengan alasan memperbanyak keturunan saya? Kalau pada dasarnya kita semua adalah binatang yang lebih canggih. Tidak ada satu alasanpun yang dapat dikemukakan untuk menentang saya membunuh seseorang sama seperti saya membunuh binatang. Jadi ”Stop worrying and enjoy your life” adalah sebuah pernyataan yang berdampak sangat besar, dan tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa itu jelas bukanlah dunia impian kita. Itu hanya akan menjadi dunia dimana kita tidak ada bedanya dengan binatang. Ini adalah sebuah ironisme yang digambarkan dengan tepat sekali melalui ucapan paradoks ini.

Seluruh celaan mengimplikasikan semacam doktrin moral dan orang skeptis modern meragukan bukan hanya institusi yang dicelanya, melainkan juga doktrin yang ia gunakan untuk menyampaikan celaannya. Akibatnya, ia menulis sebuah buku bahwa penindasan imperial menghina kesucian para wanita, dan kemudian menulis buku lainnya, sebuah novel yang berisi penghinaan pribadinya terhadap hal itu. Sebagai seorang politisi ia akan menyerukan bahwa perang merupakan pemborosan kehidupan, dan kemudian menjadi seorang filsuf bahwa seluruh kehidupan adalah pemborosan waktu. Seorang Rusia yang pesimis akan mencela seorang polisi karena membunuh seorang petani kecil, dan kemudian membuktikan dengan prinsip-prinsip filosofis tertinggi bahwa petani kecil itu seharusnya mengambil nyawanya sendiri. Seorang pria mencela pernikahan sebagai sebuah dusta dan kemudian mencela para aristokrat yang amoral karena memperlakukakannya sebagai sebuah dusta.

Orang yang berpandangan seperti ini pertama-tama pergi ke sebuah pertemuan politik dimana ia mengeluh bahwa suku-suku primitif diperlakukan sebagai binatang. Kemudian ia mengambil topinya dan mengambil payungnya melanjutkan perjalanannya ke sebuah pertemuan ilmiah dimana ia membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah binatang. Singkatnya seorang revolusionis modern, dengan sikap skeptisnya yang tidak terbatas, selamanya terikat untuk menggali lubang-lubang bagi dirinya sendiri, dalam bukunya tentang politik ia menyerang manusia karena menginjak-nginjak moralitas; dalam bukunya tentang etika ia menyerang moralitas karena menginjak-nginjak manusia. Karena itu manusia modern yang memberontak menjadi benar-benar tidak berguna bagi segala tujuan pemberontakan. Dengan memberontak terhadap segala sesuatu ia telah kehilangan haknya untuk memberontak terhadap apapun.[1]

G.K. Chesterton melukiskannya dengan sangat tepat sekali betapa manusia sebenarnya bukan tidak mengenal kebenaran, tetapi mereka menindas kebenaran itu. Kalau begitu etika seperti apakah yang ditawarkan oleh Alkitab?

Sebenarnya kebenaran ilmu pengetahuan terbaru telah banyak menghancurkan banyak dasar dari teori Darwin. Dengan kata lain, sebenarnya mereka sudah tidak memiliki dasar untuk berargumentasi lagi berdasarkan data-data mereka yang sudah tidak valid lagi. Tetapi Alkitab yang adalah Firman Allah dari Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya menawarkan sebuah etika yang berbentuk absolut. Dimana segala-galanya harus diukur oleh kebenaran Alkitab itu sendiri, baik itu secara normatif maupun aplikatif. Mengapa hanya Alkitab saja? Karena sampai hari inipun sudah teruji bahwa manusia tidak dapat menentukan moral bagi sesama manusia sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan seorang oknum yang memiliki tingkat moralitas yang absolut dan tidak bisa salah yang secara moral jelas jauh lebih tinggi dari manusia untuk menentukan moralitas manusia. Dan oknum itu tidak lain adalah Sang Pencipta manusia itu sendiri. Ini adalah hal yang sangat logis, sama halnya kita sebagai pembuat komputer, tentunya kita berharap komputer itu berjalan sesuai dengan tujuan awalnya ia dibuat. Oleh karena itu Allah itu telah membukakan diri-Nya sehingga dapat dikenal, yaitu melalui firman-Nya yang dibukukan didalam Alkitab, dan tentunya Ia sendiri telah turun kedunia sebagai Firman yang berinkarnasi sebagai Yesus Kristus agar diri-Nya dapat dikenal oleh ciptaan-Nya. Dan dalam etika Alkitab, maka jelaslah bahwa manusia dan hanya manusia saja yang diciptakan menurut ’peta dan teladan Allah’, atau lebih lazim kita katakan ’gambar dan rupa Allah.’ Apakah implikasinya ini? Luar biasa banyaknya. Jelaslah bahwa manusia tidak boleh merusak sesamanya karena itu artinya merusak ’gambar dan rupa Allah’. setiap manusia individu per individu semuanya berharga dimata Allah. Tidak ada satupun yang pada akhirnya tidak akan mempertanggung-jawabkan seluruh kehidupannya kepada Allah sang pencipta itu sendiri. Oleh karena itu kita senantiasa berusaha hidup taat, karena itulah persembahan yang harum di hadapan-Nya. Semoga makalah singkat ini dapat membantu kita semua untuk menyadari kemuliaan-Nya dan kasih-Nya bagi kita. Bagi Dialah yang empunya kemuliaan sampai selama-lamanya.


[1] G.K Chesterton, Orthodoxy (Garden City, N.Y.:Doubleday, 1959), 41.

Posted in: Apologetika