Pengaruh Teori Evolusi Terhadap Moralitas Manusia

Berbicara mengenai sains penciptaan dan berbagai topik yang terkait didalamnya, maka seharusnya beberapa orang mulai bertanya-tanya mengenai relevansi sains penciptaan terhadap kehidupan sehari-hari? Kalau kita telah mengetahui bahwa dunia ini diciptakan dalam waktu enam hari secara literal lalu bagaimana? Makalah singkat ini akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara ringkas dan akan dimulai dengan mengkritisi dampak daripada teori evolusi kepada etika dan moralitas manusia, dilanjutkan dengan solusi dari sudut pandang Alkitabiah.

Teori evolusi yang sangat kontroversial ini sesungguhnya telah menelurkan banyak sekali paham yang baru yang sangat bertentangan dengan apa yang telah dipegang masyarakat secara luas sebelumnya. Sama halnya ketika ditemukan komputer, maka masyarakat yang sebelumnya sangat ‘kolot’ istilahnya. Akhirnya harus mengubah paradigma berpikir mereka daripada menggunakan cara yang kuno dan tidak menarik, lebih baik melakukan hal yang baru, selain baru sebenarnya menarik pula! Itulah yang kami lihat sedang terjadi dan sebenarnya sedang terjadi di sebagian besar masyarakat dunia ini.

Salah satu paham utama yang muncul setelah kemunculan teori Darwin adalah Marxisme, dimana paham ini sudah tidak asing lagi bagi sebagian kita. Karl Marx dengan jelas menyatakan bahwa teori Darwin memberikan dasar yang kokoh bagi materialisme, dan tentu saja bagi komunisme. Ia juga menunjukkan simpatinya kepada Darwin dengan mempersembahkan buku Das Kapital, yang dianggap sebagai karya terbesarnya, kepada Darwin. Dalam bukunya yang berbahasa Jerman, ia menulis: “Dari seorang pengagum setia kepada Charles Darwin”. Marxisme adalah dasar dari sebagian besar negara komunis di dunia. Contoh yang sangat populer adalah Adolf Hitler dimana kediktatorannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tetapi mungkin kita berpikir mengapakah bisa begitu? Bukankah ini hanya merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang ’netral’? mengapakah bisa mengakibatkan sebuah kekejaman seperti yang dilakukan oleh Hitler?

Teori evolusi Darwin mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Inilah yang disebut dengan materialisme. Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah. Dengan mereduksi segala sesuatu ke tingkat materi, teori ini mengubah manusia menjadi makhluk yang hanya berorientasi kepada materi dan tidak memikirkan hal-hal yang bersifat non-materi, seperti contohnya jiwa, roh dan terutama didalam pembahasan kita disini adalah moralitas.

Mengapa bisa moralitas ditinggalkan? Sebenarnya mereka berusaha membentuk sebuah tatanan morlaitas yang ’baru’ yang mereka sebut sebagai relativisme moral. Dengan kata lain siapapun benar bagi dirinya sendiri. Tidak ada yang benar atau salah. Ini adalah sebuah pernyataan yang menarik sekali dan dapat dilihat contohnya dari gambar-gambar berikut ini.

Richard Campaign

Ini adalah kampanye seorang atheist Richard Dawkins yang pernah dimuat di Jawa Pos dalam tahun ini. Kata-kata ”Now stop worrying and enjoy your life” menggambarkan bagaiamanakah etika yang nantinya akan mau dibawa oleh wawasan dunia atheistik ini. Ketika tidak ada satu apapun yang benar ataupun salah, toh, kita semua adalah pada dasarnya berasal dari makhluk yang sama, yaitu makhluk bersel tunggal. Maka mengapakah kita tidak boleh membunuh seseorang? Mengapakah kita tidak bisa memperkosa semua wanita yang kita inginkan dengan alasan memperbanyak keturunan saya? Kalau pada dasarnya kita semua adalah binatang yang lebih canggih. Tidak ada satu alasanpun yang dapat dikemukakan untuk menentang saya membunuh seseorang sama seperti saya membunuh binatang. Jadi ”Stop worrying and enjoy your life” adalah sebuah pernyataan yang berdampak sangat besar, dan tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa itu jelas bukanlah dunia impian kita. Itu hanya akan menjadi dunia dimana kita tidak ada bedanya dengan binatang. Ini adalah sebuah ironisme yang digambarkan dengan tepat sekali melalui ucapan paradoks ini.

Seluruh celaan mengimplikasikan semacam doktrin moral dan orang skeptis modern meragukan bukan hanya institusi yang dicelanya, melainkan juga doktrin yang ia gunakan untuk menyampaikan celaannya. Akibatnya, ia menulis sebuah buku bahwa penindasan imperial menghina kesucian para wanita, dan kemudian menulis buku lainnya, sebuah novel yang berisi penghinaan pribadinya terhadap hal itu. Sebagai seorang politisi ia akan menyerukan bahwa perang merupakan pemborosan kehidupan, dan kemudian menjadi seorang filsuf bahwa seluruh kehidupan adalah pemborosan waktu. Seorang Rusia yang pesimis akan mencela seorang polisi karena membunuh seorang petani kecil, dan kemudian membuktikan dengan prinsip-prinsip filosofis tertinggi bahwa petani kecil itu seharusnya mengambil nyawanya sendiri. Seorang pria mencela pernikahan sebagai sebuah dusta dan kemudian mencela para aristokrat yang amoral karena memperlakukakannya sebagai sebuah dusta.

Orang yang berpandangan seperti ini pertama-tama pergi ke sebuah pertemuan politik dimana ia mengeluh bahwa suku-suku primitif diperlakukan sebagai binatang. Kemudian ia mengambil topinya dan mengambil payungnya melanjutkan perjalanannya ke sebuah pertemuan ilmiah dimana ia membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah binatang. Singkatnya seorang revolusionis modern, dengan sikap skeptisnya yang tidak terbatas, selamanya terikat untuk menggali lubang-lubang bagi dirinya sendiri, dalam bukunya tentang politik ia menyerang manusia karena menginjak-nginjak moralitas; dalam bukunya tentang etika ia menyerang moralitas karena menginjak-nginjak manusia. Karena itu manusia modern yang memberontak menjadi benar-benar tidak berguna bagi segala tujuan pemberontakan. Dengan memberontak terhadap segala sesuatu ia telah kehilangan haknya untuk memberontak terhadap apapun.[1]

G.K. Chesterton melukiskannya dengan sangat tepat sekali betapa manusia sebenarnya bukan tidak mengenal kebenaran, tetapi mereka menindas kebenaran itu. Kalau begitu etika seperti apakah yang ditawarkan oleh Alkitab?

Sebenarnya kebenaran ilmu pengetahuan terbaru telah banyak menghancurkan banyak dasar dari teori Darwin. Dengan kata lain, sebenarnya mereka sudah tidak memiliki dasar untuk berargumentasi lagi berdasarkan data-data mereka yang sudah tidak valid lagi. Tetapi Alkitab yang adalah Firman Allah dari Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya menawarkan sebuah etika yang berbentuk absolut. Dimana segala-galanya harus diukur oleh kebenaran Alkitab itu sendiri, baik itu secara normatif maupun aplikatif. Mengapa hanya Alkitab saja? Karena sampai hari inipun sudah teruji bahwa manusia tidak dapat menentukan moral bagi sesama manusia sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan seorang oknum yang memiliki tingkat moralitas yang absolut dan tidak bisa salah yang secara moral jelas jauh lebih tinggi dari manusia untuk menentukan moralitas manusia. Dan oknum itu tidak lain adalah Sang Pencipta manusia itu sendiri. Ini adalah hal yang sangat logis, sama halnya kita sebagai pembuat komputer, tentunya kita berharap komputer itu berjalan sesuai dengan tujuan awalnya ia dibuat. Oleh karena itu Allah itu telah membukakan diri-Nya sehingga dapat dikenal, yaitu melalui firman-Nya yang dibukukan didalam Alkitab, dan tentunya Ia sendiri telah turun kedunia sebagai Firman yang berinkarnasi sebagai Yesus Kristus agar diri-Nya dapat dikenal oleh ciptaan-Nya. Dan dalam etika Alkitab, maka jelaslah bahwa manusia dan hanya manusia saja yang diciptakan menurut ’peta dan teladan Allah’, atau lebih lazim kita katakan ’gambar dan rupa Allah.’ Apakah implikasinya ini? Luar biasa banyaknya. Jelaslah bahwa manusia tidak boleh merusak sesamanya karena itu artinya merusak ’gambar dan rupa Allah’. setiap manusia individu per individu semuanya berharga dimata Allah. Tidak ada satupun yang pada akhirnya tidak akan mempertanggung-jawabkan seluruh kehidupannya kepada Allah sang pencipta itu sendiri. Oleh karena itu kita senantiasa berusaha hidup taat, karena itulah persembahan yang harum di hadapan-Nya. Semoga makalah singkat ini dapat membantu kita semua untuk menyadari kemuliaan-Nya dan kasih-Nya bagi kita. Bagi Dialah yang empunya kemuliaan sampai selama-lamanya.


[1] G.K Chesterton, Orthodoxy (Garden City, N.Y.:Doubleday, 1959), 41.

9 pemikiran pada “Pengaruh Teori Evolusi Terhadap Moralitas Manusia

  1. Ping balik: 2010 in review « Vincenttanzil's Blog

  2. hai kak.vincent. ak setuju banget ttg kesalahan besar teori darwin. mbah darwin tuh menyodorkan teori evolusi krn dipengaruhi kepentingan kaum Atheisme yang ingin menjauhkan manusia dr tuhan. (pernyataan bahwa ayam n telur diciptain bersamaan).
    plus ada kesalahan pd perhitungan munculnya manusia dan hewan.
    menurut harun yahya teori darwin dijadiin pondasi filsafat materialisme yang memandang segalasesuatu itu diukur dari materi. kalo di kuliahku pun teori evolusi darwin jadi landasan munculnya sistem kapitalisme di abad20, dimana ada pembedaan antara buruh dan orang kaya. buruh dianggap manusia yang tidak berhasil berevolusi. akibatnya uda muncul org kaya yang tamak, dimana yg kaya semakin kaya dan yg miskin dibiarin miskin.
    yg terpenting adalah Darwin g pernah mengenyam pendidikan formal di bidang Biologi.
    ngomongin masalah ketuhanan. sekedar pengetahuan kalo ternyata Nabi isa almasih (Yesus) itu diangkat sbg “tuhan” oleh raja Romawi di zamannya karena butuh simbol kekuasaan absolut Raja bisa memerintahkan rakyatnya. lantas siapakah yg sebenarnya absolut di alam semesta ini?????

    • Hai Hardani,

      Terima kasih untuk komentar dan kesediaan untuk membaca tulisan saya. Mengenai Darwin saya tidak berkomentar banyak. Saya tertarik dengan pernyataan bahwa “Yesus diangkat sebagai tuhan oleh raja Romawi di zamannya.” Jelas ini baru bagi saya, mungkin Hardani bisa memberikan referensi mengenai pernyataan ini?

      • hai vincent, salam persahabatan.
        coba kita sama2 belajar sebagai pemuda yang haus akan pengetahuan dengan link dibawah ini.

        tidak ada maksud apapun selain memberikan wacana baru yang patut untuk sama-sama kita uji tentang apa yang benar dan apa yang salah, tentunya sebagai generasi penerus yang harus kritis terhadap apapun dengan mengenyampingkan emosi dan egoisme.

      • Oke terima kasih banyak Hardani. Salam kenal juga. Semoga diskusi kita di dalam blog kecil ini dapat saling mencerahkan satu sama lain. Nah, saya sudah pernah mendengar soal Hj. Irene Handono ini juga. Perihal yang diusung oleh beliau bukanlah tuduhan yang baru bagi iman Nasrani. Karena itu banyak orang sudah menanggapi kasus yang serupa dengan ini di berbagai media pula. Ini saya cantumkan link menuju sebuah situs yang berupaya menjawab tuduhan yang umum diberikan seperti beliau. Semoga bisa menambah wacana Hardani dalam hal ini juga http://www.yabina.org/TanyaJawab/05/Nop_05.htm

        Saya ingin tahu tanggapa Hardani mengenai hal ini bagaimana?

      • Salam Persahabatan kak.Vincen……
        permasalahannya kak, ada fakta yang mengatakan bahwa al-kitab sudah banyak yang berubah dr aslinya, al-kitab telah banyak mengalami perubahan oleh tangan-tangan manusia. bahkan dikatakan hanya 6% dari isi al-kitab yang berasal dari wahyu yang diterima nabi Isa, sisanya adalah kitab-kitab karangan raja-raja yang di lembagakan dalam agama kristen yang di buat oleg Paus (Nabi Isa tidak pernah mengucapkan kristen).
        contoh : dalam al-kitab ayat Imamat keluarab Bibble tahun 97 dikatakan bahwa “manusia dilarang memakan daging babi”, namun pada bibble keluaran tahun 99 pada ayat yang sama disebutkan “yang dilarang dikonsumsi hanyalah babi hutan”
        di sisi lain nabi Isa menyebutkan dalam ayat hakim-hakim bahwa “manusia dilarang meminum minuman keras” namun pada kenyataannya?,
        kak.vincent mungkin bisa mempelajarinya melalui link berikut :

        disitu ibu.irene mengungkapkan beberapa kejanggalan dalam al-kitab
        —-Pada J-2, bagaimana bisa isi dari sebuah kitab wahyu dari tuhan di perdebatkan bahkan diganti oleh umatnya sendiri ? apakah hal tersebut bersumber dari sebuah rekayasa? karena terdapat fakta bahwa ternyata Nabi Isa al-masih itu sendiri tidak pernah mau disebut sebagai tuhan, tidak pernah menyebut kata kristen, tidak pernah menyebut kata gereja. yang menyebut kristen dan gereja adalah Paus, yang sengaja melembagakan sebuah agama “kristen” untuk mendukung kekuasaan absolut raja romawi dalam mengatur rakyatnya.
        —–lalu siapakah yang mengubah al-kitab perjanjian lama menjadi perjanjian baru? bagaimana bisa manusia merekayasa kekuasaan tuhan dalam wahyu2nya?
        —-kak.vincent kita ini kan memiliki tokoh yang sama, yaitu nabi Isa Almasih, namun peranan dan posisinya saja yang berbeda. dalam al-qur’an disebutkan banyak ayat mengenai nabi isa, dan ayat yang menyebutkan bahwa agama yang di ridhoi’ oleh allah adalah Islam. disebutkan juga dalam al-qur’an bahwa banyak orang terdahulu yang disesatkan oleh wahyu2 karangan manusia (wahyu tuhan yang dirubah, diganti, ditambahi) sehingga dia tidak dapat menerima wahyu yang paling terakhir dari tuhan (Al-Qur’an) sebagai penyelamat umat manusia dan kebenaran atas segalanya.
        —-pernahkan kak.vincent membandingkan isi dari setiap al-kitab ?

  3. Vincent: Salam persahabatan juga Hardani. Maaf baru bisa menjawab belakangan karena alasan kesibukan. Saya senang dengan diskusi seperti ini, karena inilah yang saya pikir dialog antar iman yang sesungguhnya; di mana setiap iman menyadari bahwa mereka berbeda dan tidak bisa sama-sama benar, karena itulah ada toleransi (karena kita berbeda) dan dialog (karena asumsi yang dibawa tidak sama). Semoga kita bisa lebih mengerti iman yang berbeda-beda satu sama lainnya melalui dialog ini.

    Nah, Hardani, pernyataan bahwa hanya 6% dari Alkitab yang berisi wahyu dari Yesus merupakan pernyataan yang sering didengungkan orang. Sayangnya pendapat ini tidak diberikan pembuktian yang berarti. Saya sangat penasaran dengan pernyataan “raja-raja” tersebut. Itu pendapat yang sangat tidak umum. Apabila anda menilik ensiklopedia mengenai Kristen pun hal ini jelas pandangan yang tidak umum. Diperlukan bukti-bukti khusus untuk membuktikan bahwa Injil ditulis oleh “raja-raja.” Yang benar adalah Alkitab dibagi menjadi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama merupakan serapan langsung Kitab Suci orang Yahudi, tanpa ada perbedaan sedikit pun (orang Yahudi pun setuju dengan hal ini). Perjanjian Baru adalah kumpulan tulisan dari para rasul Yesus Kristus yang menuliskan ajaran-ajaran Yesus Kristus (coba buka sebuah Alkitab dan lihatlah isinya). Masalah yang kamu angkat hanyalah permasalahan penerjemahan. Alkitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, sementara Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani (Lembaga Alkitab Indonesia juga menerbitkan Alkitab yang memaparkan secara berdampingan teks Ibrani dan Yunani beserta terjemahannya). Sama halnya dengan penerjemahan sebuah buku, maka beberapa ide mungkin tidak tersampaikan dengan baik, karena itu perlu ada revisi penerjemahan, namun bukan revisi teks-teks Alkitab. Hal ini saya rasa wajar, misalnya terjemahan Al-Quran pun juga ada bermacam-macam dan sedikit berbeda. Sekali lagi, bukan isi, namun penerjemahannya yang berubah.

    Kitab “Hakim-hakim” yang anda katakan adalah Kitab mengenai masa sebelum Israel menjadi negara monarki. Itu adalah kisah beratus-ratus tahun sebelum Isa lahir di dunia ini. Saya terkejut anda mengatakan bahwa ada perkataan Isa di dalam kitab Hakim-hakim. Apalagi ada larangan minum minuman keras!? Coba berikan saya alamat ayatnya.

    Apakah Isa tidak pernah menyebut “Kristen?” Memang, sebab “Kristen” adalah panggilan untuk pengikut Kristus (Almasih) dari masyarakat yang berarti “pengikut Kristus (Almasih).” Belakangan hal ini menjadi sebuah nama dari kelompok pengikut Kristus secara resmi. Jadi tentu saja Isa tidak pernah menyebut “Kristen.”

    Saya rasa berpegang kepada ibu Irene, seorang mantan suster Katolik (suster termasuk kalangan yang awam terhadap ilmu tafsir Kitab Suci) bukan pilihan yang tepat. Tuduhan yang diberikannya bisa jadi karena pengertiannya yang belum terlalu lengkap mengenai Kitab Sucinya sendiri. Saya tidak membenci beliau, hanya saja sayangnya banyak pertanyaan yang diajukannya sebenarnya sudah hal umum. Semoga ini bisa memberi pengertian.

    Mengenai pernyataan bahwa wahyu Tuhan diperdebatkan, saya rasa itu merupakan hal yang umum bagi agama yang berbasis kepada teks Kitab Suci, sebab teks selalu membutuhkan tafsir. Karena itu perdebatan mengenai makna sesungguhnya menjadi perdebatan. Bukankah itu juga yang terjadi dengan banyak agama di dunia? Misalnya, Buddha mengenal Theravada, Mahayana, Zen, dsbnya. Islam mengenal Ahmadiyah, Muhammadiyah, NU, dsbnya (coba anda perhatikan sejarah Islam, mengenai perdebatan kaum Mu’tazilla dan sebagainya). Jadi kalau diperdebatkan itu berarti Kitab Suci agama itu salah, maka saya rasa tidak ada agama yang benar di dunia ini. Benar bukan?

    Mengenai fakta bahwa Isa tidak pernah menyebut diri-Nya Tuhan, juga tidak mau disebut sebagai Tuhan, saya meragukannya. Di Alkitab Isa menerima penyembahan Tomas yang berkata “ya Tuhanku dan Allahku” (Yohanes 20:28). Ia tidak menolak sedikit pun perkataan Tomas mengenai diri-Nya, malah mengatakan bahwa itulah yang seharusnya dipercayai oleh Tomas dari dulu! Ada banyak pernyataan lain juga, tapi saya rasa satu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa Isa menyadari diri-Nya sebagai Tuhan.

    Mengenai kata “gereja” sebenarnya ada Hardani. Matius 16:18 menyatakan bahwa Yesus akan mendirikan “jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Kata “jemaat” di sini sama artinya dengan “gereja.” Dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi “Church.” Jadi saya rasa salah apabila kita menganggap bahwa gereja baru lahir pada zaman Paus yang mendukung kaisar dan sebagainya. Sistem kepausan sendiri baru dimulai pada abad ke-8, sementara peristiwa yang kamu maksud sebagai dukungan kepada kaisar dan lain sebagainya itu baru ada pada abad ke-3. Lagi pula kekristenan sudah dimulai semenjak abad pertama, dan penyembahan kepada Yesus sebagai Tuhan sudah dimulai dari abad pertama tersebut. Hal ini umum dan dapat dijumpai di ensiklopedi-ensiklopedi umum.

    Tidak ada yang mengubah Alkitab Perjanjian Lama menjadi Perjanjian Baru. Saya rasa ini kesalahpahaman umum. Kitab Perjanjian Lama umat Kristen sama persis dengan kitab suci Yudaisme (agama orang Yahudi). Semua kisah Abraham (Ibrahim) dan keturunan-keturunannya sama antara orang Yahudi dengan orang Kristen. Hal ini dapat anda cek dari sumber-sumber mengenai kekristenan yang ada di internet sekalipun, misalnya Wikipedia. Orang Yahudi pun menyadari bahwa kitab mereka sama dan tidak diubah sama sekali oleh orang Kristen. Bagaimana anda menyikapi pernyataan ini? Sebab Yudaisme sudah berdiri Sebelum Masehi dan kekristenan sudah ada semenjak abad pertama Masehi. Kalaupun anda percaya dengan pernyataan populer (yang menurut saya salah) bahwa kitab suci kaum kristiani baru didirikan atau dinormatifkan pada abad ketiga, tetap saja Alkitab Kristen sudah ada jauh lebih mendekati kitab suci orang Yahudi. Saya tidak tahu bagaimana anda menjawab hal ini; saya mohon bisa diberi pengertiannya.

    Anda benar bahwa tokoh yang ada di dalam kitab suci orang Kristen yakni Isa Almasih dan Yesus Kristus kemungkinan besar merupakan tokoh yang sama. Namun, kita menyadari juga bahwa penuturan mengenai kisah Yesus di dalam Alkitab dan Al-Qur’an berbeda dalam banyak aspek. Semisal, Alkitab mencatat bahwa Yesus mati disalib lalu dibangkitkan dari antara orang mati pada hari ketiga, sementara Al-Quran mencatat bahwa Isa Almasih tidak mati disalib, malah diangkat ke surga pada waktu ia hendak ditangkap. Antara disalib dan tidak mati disalib tentu tidak bisa sama-sama benar bukan? Mengingat kredibilitas Alkitab yang mencatat peristiwa ini semenjak abad pertama dan tidak ada literatur yang mencatat bantahan terhadap peristiwa ini, saya rasa catatan Alkitab bisa diterima sepenuhnya, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya.

    Memang benar ada klaim bahwa kitab suci kami disesatkan melalui pengubahan oleh manusia. Permasalahannya, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, di mana bukti untuk klaim ini? Lagi pula, cobalah anda perhatikan konteks dari ayat-ayat tersebut di Al-Quran. Apakah tuduhan tersebut adalah dalam mengubah teks atau dalam mengubah pengertian dari teks? Saya rasa itu dua hal yang sangat berbeda. Setahu saya ada dua jalur tafsir dari teks yang anda rujuk tersebut.

    Mengingat saya seorang mahasiswa Alkitab, maka ya saya pernah membandingkan isi dari setiap Alkitab. Itulah yang sedang saya pelajari. Karena itu saya menyambut dengan hangat pembicaraan mengenai Alkitab, sebab itu menuntut saya untuk belajar Alkitab saya dengan lebih baik juga. Semoga ini bisa membawa kita untuk berdialog dan melihat perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan antara iman kita.

    • Hi kak.vincent, maaf beberapa hari ini ak keluarkota terus, g sempet buka email jadinya.
      Salam persahabatan.

      Mengenai terdapatnya beberapa kesamaan kitab yahudi dengan Kristen saya tidak tau menau, namun satu hal yang saya pahami bahwa kitab suci diturunkan ke bumi oleh tuhan tidak secara langsung jadi, namun melalui proses (yang dalam iman kami yakini bermula dari kitab zabur, tauratm injil, lalu menjadi sempurna dalam Al-qur’an). Mengapa begitu? Yaitu karena kitab suci diturunkan dengan tujuan menjadi hikmah dan petunjuk pada kaum yang saat itu kitab diturunkan, ketika permasalahan dunia, masyarakat, dll muncul kembali maka lembar demi lembar isi dari kitab sucipunditurunkan. Sedangkan mengapa kami menyebut sempurnanya kitab suci tuhan terdapat pada Al-qur’an? Hal tersebut dikarenakan di dalam kitab suci al-qur’an telah disebutkan berbagai petunjuk mengenai segala permasalahan manusia seperti permasalahan kesehatan, harta warisan, keadilan yang juga termasuk gender, alam, pengetahuan, bencana, kematian, jodoh, nasib, takdir, awalmula manusia, hari akhir atau kiamat, masa setelah mati, neraka dan surga, dan jelas saya tidak bisa menyebutkannya satu persatu. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa diantara sekian banyak kitab suci, masih saja ada perbedaan? Marilah hal ini kita renungkan bersama kak.

      Dalam al-qur’an sesuai dengan firman tuhan tersurat bahwa kaum yang diakui oleh tuhan yang sesungguhnya maha tunggal adalah judais (yahudi adalah sebutan nama bangsa, dan tidak semua orang yahudi menganut agama judais), nasrani, dan islam. Namun sayapun tidak memahami kenapa kita bisa berbeda…. Hanya tuhan yang tau, dan saya tidak pantas untuk mempertanyakannya.

      Beberapa kegundahan saya mengenai beberapa hal tentang agama selain islam ternyata dijawab oleh tuhan melalui teman saya dan guru spiritual saya. Seorang teman yang bernama sidiq mengatakan kepada saya “bukan hak kita untuk menghakimi suatu agama itu salah atau benar, itu adalah hak absolute dari tuhan dani, yang terpenting adalah kita dapat menemukan segala hikmah dan pelajaran atas apa-apa yang telah diciptakan tuhan di dunia ini”. Yang kedua adalah guru spiritual saya, beliau adalah ahli al-qur’an, seorang imam di sebuah mushola kecil di sebuah desa, dan seorang yang memiliki kedekatan batin yang kuat dengan tuhan dimana dia sering kali diminta pertolongan untuk mendoakan seseorang demi kesembuhannya. Dia bercerita bahwa terdapat beberapa orang yang datang kepadanya namun mamiliki agama yang bukan islam. Saya pun bertanya ustat “dapatkah doa islam untuk meminta kesembuhan orang yang bukan islam dikabulkan tuhan?” Jawabnya dengan tersenyum “tuhan tidak membeda-bedakan umat manusia, asalka doamu untuk kebaikan maka insyaAlLah akan diwujudkanNYA. Seorang hindu pernah datang kepada saya dan dia mencoba untuk mengajak saya mempelajari agamanya namun saya hanya berkata terimakasih, sesungguhnya kitab yang digunakan hindu hanyalah 7lembar, sedangkan lembar lainnya itu adalah tulisan tangan dari manusia” namun saya tidak bertanya terlalu jauh karena keterbatasan waktu saat itu. Namun sebuah hal penting yang dapat saya petik bahwa tuhan ternyata itu sama karena dia tidak membeda-bedakan siapapun, dan tuhan memiliki rencana atas apa yang telah diciptakanNYA. Jadi mintamaaf ya kak kalo ada pembicaraan saya yang menyinggung….

      Oh ya, saya mengucapkan selamat ya kepada kak.vincent dan umat katolik dan kristen atas terpilihnya paus yang baru.

      Satu hal lagi kak, hanya sekedar pengetahuan bahwa dalam al-qur’an disebutkan bahwa islam tidak pernah memaksa seseorang untuk memeluk islam alias benar-benar menghargai umat lain dan selalu terbuka dengan seorang mualaf yang benar-benar dari hatinya, bahkan dalam al-qur’an tersurat seorang pria muslim boleh menikahi wanita dr agama lain tanpa harus memaksa mereka untuk memeluk islam.
      hal tersebut juga didukung dengan firman tuhan yaitu :

      Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

      Katakanlah: “Wahai orang-orang kafir, Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.
      Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
      Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
      Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.
      ( Surah Al Kafirun )

      Yang ingin saya tanyakan mengapa ada kristenisasi yang dilakukan umat Kristen pada umat manusia?? Bagaimana tanggapan kak.vincent?…

      Yang kedua, pernahkah kak.vincent mempelajari sejarah dari orang yahudi? Beberapa yahudi taat pada tuhan, namun beberapa lainnya ternyata menyimpang dan justru ingin menguasai dunia. Hal tersebut saya temukan melalui surfing media yang pada akhirnya menemukan lambang ini :

      (http://smpwahidhasyimmlg.blogspot.com/p/makalah.html)

      Gambar diatas adalah prinsip dan usaha yang dilakukan yahudi melalui lambang-lambang disetiap jari untuk menguasai dunia, yaitu melalui uang (pada jempol), salib, gerakan zionisme, gerakan komunisme, dan gerakan iluminate…. Cari tau aja kak, g ada salahnya. Lebih-lebih kenapa ada lambang salib.

      Beberapa sumber yang saya dapatkan :
      1. Kutipan salahsatu pembaca di media yang mengungkapkan “Sepak Terjang Yahudi ini sendiri sudah tidak diragukan lagi. Bahkan saya menemukan banyak sekali buku-buku tentang Yahudi di toko buku Gramedia. Setiap buku di sana tidak ada satupun yang membela Yahudi. Semua buku menceritakan bagaimana pengaruh Yahudi di dunia ini yang sudah meluas dengan signifikan. Jika anda ingin mencari tahu lebih jauh tentang kekuasaan mereka, saya sarankan untuk membeli buku ‘Yahudi Menggenggam Dunia’ karya William Carr. Microsoft digenggam Yahudi, 65% saham-saham di Wall Street digenggam Yahudi, mantan presiden Amerika, Bush Sr. Dan Bush Jr. adalah orang Yahudi, dan yang terutama adalah anggota-anggota mereka banyak yang duduk di posisi penting pemerintahan dunia.”

      2.http://majalaharmanees.blogspot.com/2012/12/bukti-bukti-bahwa-kristen-dan-hindu.html (disebutkan bahwa “apakah kristen dan buda adalah agama buatan Yahudi????), dipelajari aja kak, mungkin bisa mendapatkan fakta baru yang bisa mematahkan hal tersebut.

      3.http://mind666.blogspot.com/2012/07/blog-post.html lambang-lambang yahudi pada segala bentuk di dunia

      Banyak lainnya yang saya tidak berani berkata benar atau tidaknya hal tersebut. Yang jelas sangat banyak sumber. silahkan caritau kak.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s