Filsafat Sebagai Mekanisme Teologi

Mungkin dikenal sebagai pencetus pertanyaan paling terkenal mengenai relasi teologi dengan filsafat, Tertulianus menyatakan “apakah hubungan Yerusalem dengan Atena?”  Di dalam pertanyaan tersebut terdapat kegelisahan akan kecenderungan beberapa tokoh kekristenan pada masanya untuk minum terlalu banyak dari sungai filsafat dunia.  Senada dengan keprihatinan Tertulianus, banyak kalangan orang Kristen pada hari ini juga mengkhawatirkan sepak terjang “cinta akan hikmat” (philosophia) tersebut.  Sebab tidak sedikit filsafat yang dibangun, bukan hanya tidak berdasarkan firman Tuhan, malahan bersifat antitesis secara radikal dengan Alkitab.  Bukankah Paulus, sang misionaris, teolog, dan gembala besar itu, menyatakan dengan lugas dan tegas,  “Hati-hatilah,supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kol. 2:8)?  Kalau begitu, bagaimanakah umat beriman masa kini melihat relasi keduanya?

Nyatalah bahwa kekristenan tidak pernah lepas dari perdebatan filsafat pada zamannya.  Paulus tidak, apalagi bapa-bapa gereja, demikian pula kekristenan hari ini.  Di tengah semua ini Agustinus, bapa gereja yang tersohor tersebut, menyatakan diktum yang bergema, “segala kebenaran adalah kebenaran Allah”; sebuah keyakinan yang akan dan telah mewarnai jalannya rel filsafat dengan teologi.  Dalam pandangan ini, filsafat merupakan sebuah alat yang patut untuk dipertimbangkan relevansinya.  Maksudnya, apabila tesis yang diberikan oleh filsafat tidak bertentangan dengan kekristenan, maka mengapa sulit untuk menerimanya?  Mengacu pada anugerah Allah yang umum, manusia di luar Kristus pun dapat memperoleh hikmat, sekalipun kadar kesejatiannya perlu diawasi.  Sejarah mencatat bahwa filsafat telah dengan indah menjadi pelayan teologi yang efektif.  Para teolog dan apologis masa lalu hingga kini telah berhasil menggunakan filsafat sebagai sarana transportasi dan pengertian iman Kristen.

Pun demikian, gema dari rasul Paulus masih terdengar jelas, “Hati-hatilah…” Faktanya, para filsuf tidak jarang berangkat (atau menghasilkan) asumsi-asumsi yang bertentangan dengan Kekristenan.  Siapa yang tidak kenal dengan jeritan Friedrich Nietzsche, “Allah sudah mati”?  Tetapi contoh Nietzsche tidak harus mengecilkan hati orang Kristen yang ingin berdialog dengan filsafat.  Almarhum Greg Bahnsen mengingatkan bahwa apabila ada filsafat yang “tidak menurut Kristus,” maka artinya ada filsafat yang “menurut Kristus.”  Tugas seorang teolog Kristen dalam mempelajari filsafat adalah seperti seorang dokter yang mempelajari penyakit, ia mempelajari mereka untuk menyembuhkannya, demikian tandas Bahnsen.  Antibiotik adalah bakteri yang berbahaya, namun kadar keberbahayaannya dapat digunakan untuk menyerang bakteri lain yang lebih berbahaya, ketimbang menyerang tubuh manusia.  Filsafat harus dipegang secara kritis, tetapi juga dengan produktif.

Aristotle

Martin Luther dengan tajam membagi penggunaan filsafat sebagai magisterial dan ministerial.  Dalam magisterial, filsafat diprakarsai menjadi titik tolak, sekaligus tolak ukur kebenaran teologi.  Otoritas diletakkan kepada filsafat itu sendiri.  Sementara filsafat secara ministerial menundukkan dirinya pada otoritas kebenaran dari wahyu Allah.  Apabila filsafat dipegang sebagai ministerial maka sejatinya asumsi-asumsi dari filsafat yang bertentangan dengan wahyu wajib dilepaskan dan dibuang jauh-jauh.  Sekalipun asumsi-asumsi tersebut dibuang, mekanisme dari filsafat tersebut dapat dipergunakan sebagai alat teologi.  Contoh paling umum mungkin adalah penggunaan logika di dalam teologi.  Di mana logika itu sendiri merupakan penemuan dari Aristoteles, yang jelas merupakan bapak dari empirisisme.  Mekanisme pemikiran dari filsafat dapat digunakan, tanpa mengambil asumsi-asumsi dari mereka.  Terkadang bapa-bapa gereja juga memasukkan asumsi teologis ke dalam mekanisme berpikir filsafat demi membuat kekristenan lebih mudah dimengerti bagi zaman mereka.  Sekalipun demikian, mekanisme dari filsafat itu sendiri juga tetap dapat menjadi objek kritik dari teologi.  Yang jelas, filsafat tidak dapat diterima dengan mentah, tetapi juga tidak untuk ditolak sebelum bahkan dimasak.  Inilah filsafat yang berperan sebagai ancilla theologiae (handmaiden of theology).

Vincent Tanzil, 10 November 2011.

Esai Bidang Minat Teologi Sistematika SAAT.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s