Golgota; Menapaki Jalan Salib dan Menggenggam Maknanya yang Sejati (Markus 15: 20-30)

Posted on Desember 17, 2011

2


Domenichino,_The_Way_to_Calvary

Peristiwa penyaliban Tuhan Yesus adalah peristiwa yang sangat besar signifikansinya dalam kekristenan. Siapa pernah menyangka Tuhan Yesus yang berjalan dengan penuh kuasa di dataran Israel, dikelilingi oleh ratusan orang yang bernafsu membunuhnya namun senantiasa gagal, akhirnya didapati tersalib di atas sebuah kayu di bukit Kalvari. Apakah ini bukti dari kekalahannya? Apakah ini bukti bahwa selama ini Ia, terlebih pengikutNya, hanyalah segerombolan pecundang? Sebenarnya apakah arti salib itu sebenarnya? Di tengah jajaran salib-salib dari emas, perunggu, dan perak yang dikalungkan ataupun digantung di tembok-tembok zaman ini, bagaimana kita memandang salib kayu Tuhan Yesus tersebut?

Asal Muasal dan Tujuan Penyaliban

Peristiwa kejam dan berdarah tersebut sebenarnya bukan hal asing bagi masyarakat zaman itu. Bangsa-bangsa seperti Persia, India, Asyur, dan lainnya, hingga akhirnya orang Yunani dan Romawi telah menggunakan penyaliban untuk menghukum mati orang yang tertuduh bersalah. Berbeda dengan penyaliban Tuhan Yesus, penyaliban mereka terkadang dilakukan setelah korban meninggal dunia. Entah setelah atau sebelum korban meninggal, adalah jelas bahwa ini adalah peristiwa yang memang dimaksudkan untuk dilihat secara publik.

Penyaliban bervariasi dalam bentuknya. Kendati demikian Romawi memiliki proses penyaliban yang lebih seragam. Biasanya proses tersebut meliputi penderaan dengan cambuk, pengangkatan salib oleh korban sendiri menuju tempat penyaliban, di mana akhirnya ia dipakukan kepada salib dengan tangan terbentang. Setelah itu salib dinaikkan hingga posisinya berdiri tegak vertikal. Beberapa penelitian dari tulang belulang korban-korban penyaliban menunjukkan bahwa ada paku yang ditusukkan pada telapak tangan, sementara tumitnya ditusuk dengan sebuah paku juga. Sebagai penutup, nampaknya tulang kering dari korban dipatahkan secara sengaja.

Tetapi penelitian tidak berhenti sampai di situ saja. Penemuan-penemuan baru terkadang membuktikan bahwa proses penyaliban sedikit berbeda dari proses penyaliban yang diduga sekarang. Sebagai contoh, melihat tulang-tulang yang tidak rusak, ada kemungkinan bahwa kedua tangan tersebut mungkin diikat, bukan dipakukan. Ada juga yang mempertanyakan, apakah tulang kering tersebut sebenarnya dipatahkan setelah atau sebelum kematian. Karena itu tidaklah jarang ada penggambaran penyaliban yang berbeda-beda pada lukisan-lukisan yang biasa kita jumpai. Ada yang diikat tangannya, ada yang tangannya dirangkulkan pada kayu salib. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa penyaliban pada saat itu biasanya bahkan tanpa menghadirkan sehelai kain pun pada tubuh sang korban, alias telanjang bulat tergantung di atas bukit. Satu kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwa itu adalah peristiwa yang sangat menyakitkan dan memalukan! Yesus, Tuhan dan Raja kita disalibkan.

Penyaliban itu sendiri tidak merusak organ-organ yang vital, dan juga tidak mengakibatkan pendarahan yang berlebihan. Karena itulah penyaliban pada umumnya membunuh dengan perlahan, terkadang setelah beberapa hari, melalui proses yang menyakitkan karena sesak nafas.  Karena pada saat penyaliban, otot yang digunakan menghirup nafas semakin lelah menahan beban tubuh yang tergantung. Pada dasarnya penyaliban memang sebuah tindakan untuk mempermalukan. Tidak jarang orang yang disalibkan tidak boleh dikuburkan, mereka dibiarkan di atas salib untuk menjadi makanan burung atau membusuk di situ.

Tetapi pertanyaan tetap muncul, mengapa harus salib? Mengapa penghukuman begitu brutal perlu dilakukan untuk diperlihatkan kepada khalayak ramai? Perlu untuk diketahui bahwa penyaliban adalah sebuah tindakan penghukuman, meskipun orang berkewarganegaraan Romawi tidak akan pernah dihukum dengan tindakan penyaliban, kecuali dalam kasus-kasus ekstrem. Karena memang proses penghukuman ini sangat kejam, orang-orang kalangan atas tidak mungkin dihukum dengan cara seperti ini. Penghukuman ini, penyaliban, disediakan hanya bagi mereka yang  memiliki status lebih rendah seperti kriminal yang sangat berbahaya, budak, dan penduduk dari provinsi lain. Seperti yang sudah kita lihat, berbeda dengan proses hukuman mati yang biasa kita lihat hari ini (kalaupun boleh  kita lihat), penyaliban merupakan sebuah tindakan publik untuk menjaga keamanan dan hukum, serta menegaskan otoritas Romawi. Apalagi di daerah Yudea yang terkenal sering memberontak, penyaliban dipandang sebagai sebuah ajang yang efektif untuk meredam perlawanan.

Penulis-penulis elit literatur pada zaman itu merasa bahwa tindakan brutal tersebut bukan suatu hal yang layak dibahas panjang lebar. Dalam narasi Alkitab kita (konon adalah deskripsi penyaliban paling detail dibandingkan literatur sejenis lainnya) penjabaran kisah penyaliban sangatlah singkat. Membuang segala detail yang bisa dituliskan, para rasul hanya menuliskan “Mereka menyalibkan Dia” (Mat. 27:35; Mrk. 15:25; Luk. 23:33; Yoh. 19:18). Kalimat singkat ini pun dapat mengerenyitkan dahi pembaca yang paham akan betapa memilukannya penyaliban tersebut.

Proses Vonis Penyaliban

Ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah guru moral yang besar. Ia mengajarkan kebaikan dan juga menyembuhkan banyak orang yang sakit dan tertindas pada zamannya. Namun, apabila benar demikian, apakah yang membuat ia sampai terpancung di atas kayu salib yang begitu memalukan? Kriminalitas macam apakah yang Ia buat hingga Ia layak dipakukan di atas sana? Bukankah permasalahan Yesus dengan orang Yahudi adalah persoalan agamawi? Mengapa penghukuman Romawi bisa dilangsungkan kepadanya?

Seperti yang sudah kita lihat sebelumnya, penyaliban merupakan peristiwa penghukuman yang mengandung unsur politis dan militer. Mereka yang disalibkan biasanya adalah orang-orang yang berpengaruh dalam kepemimpinan Yahudi (secara khusus dalam usaha pemberontakan). Kita mungkin membayangkan bahwa orang Yahudi akan menganggap pahlawan-pahlawan mereka yang disalibkan sebagai semacam martir seperti kita memandang martir Kristiani hari ini. Namun sebaliknya, kebrutalan dan penghinaan yang dilangsungkan membuat banyak orang Yahudi berpikir dua kali untuk menganggap mereka yang tersalib sebagai martir rohani.

Penghukuman salib bukanlah sesuatu yang lumrah untuk dilakukan seperti hukuman-hukuman lain. Mungkin karena kebrutalannya, di provinsi Romawi seperti Yudea, eksekusi seperti demikian hanya bisa berjalan berdasarkan izin dari seorang pejabat Romawi yang berkuasa. Pada masa itu, seperti yang disaksikan di dalam Injil, Pontius Pilatus merupakan orang yang berkuasa di daerah tersebut.

Ketika orang-orang Yahudi sudah bersekongkol untuk membunuh Yesus, mereka membawanya ke hadapan Pontius Pilatus untuk dihukum dengan cara yang paling keji pada masa itu! Fitnah yang dituduhkan kepada Yesus, “Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja” (Luk. 23:2). Sebenarnya ini adalah hal yang cukup ironis, sebab tentu wajar bagi kita untuk melaporkan orang yang berbahaya bagi kita kepada pihak yang berwajib, namun, bagaimana dengan orang yang berada di pihak kita? Perlu diingat bahwa orang-orang Yahudi pada saat itu bukannya menikmati kehidupan mereka bersama dengan orang-orang Romawi, mereka juga menunggu-nunggu kesempatan untuk menyingkirkan Romawi dari tanah Yudea. Karena itu jelas sekali bahwa fitnahan orang Yahudi pada saat itu bukan karena mereka ingin setia kepada Romawi, namun didorong oleh kedengkian mereka kepada Yesus.  (lih. Jewish Background tentang konflik-konflik Yesus bersama orang Yahudi).

Pilatus yang menyadari bahwa hukuman salib hanya bisa diberikan kepada mereka yang merupakan musuh politis menanyakan pertanyaan yang bernada politis pula, “Engkaukah raja orang Yahudi?” pertanyaan penting ini disaksikan di dalam keempat Injil (Mat. 27:11; Mrk. 15:2; Luk. 23:4; Yoh. 18:33).

Akhirnya Yesus memang diberikan penghukuman salib, meskipun dengan keputusan dan tuduhan yang tidak adil! Inskripsi yang dituliskan di atas salib-Nya menunjukkan tuduhan-Nya, bahwa Ia adalah “raja orang Yahudi.” Dilihat juga bahwa Yesus disalibkan bersama dua orang penjahat yang merupakan pemberontak bagi orang Romawi. Yesus disalibkan bukan hanya karena Ia telah menentang para tetua Yahudi pada saat itu, namun juga karena tuduhan bahwa Ia merupakan tokoh politik yang berusaha menggulingkan pemerintahan Romawi.

Arti Sejati Penyaliban Yesus

The Flagellation of Christ

Sangatlah ironis, Yesus dihina oleh ejekan-ejekan yang pada akhirnya malah mengkonfirmasi diri-Nya sebagai Kristus. Yesus diejek sebagai “raja orang Yahudi,” padahal kenyataannya Ia memang adalah mesias yang datang untuk menguasai dunia ini ke bawah kaki-Nya. Tetapi semuanya itu dimulai melalui kemenangan besarnya dengan menjadi korban penebus dosa. Para prajurit dan orang-orang yang mengejeknya sebagai “raja orang Yahudi” tidak sadar bahwa akan tiba harinya ketika mereka semua harus bertekekuk lutut di hadapan-Nya, sang Raja atas seluruh dunia ini (Rm. 14:11; Flp. 2:10; Why. 1:5; 21:24, 26).

Selain itu Yesus juga disebut sebagai “Anak Allah,” bahkan dilanjutkan dengan panggilan untuk “turunlah dari salib itu!” (Mat. 27:40). Karena sebutan tersebut, Yesus terus dihina “Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah” (Mat. 27:43). Padahal memang Dialah Anak Allah tersebut dan Ia tidak hanya akan turun dari salib tersebut namun datang dalam kepenuhan kemuliaan-Nya untuk menghakimi dunia ini!

Matius dan Markus merupakan penulis Injil yang secara khusus menggambarkan kengerian dari peristiwa penyaliban tersebut. Di sinilah penggambaran akan ketidakrasionalan manusia yang paling puncak akibat dosa. Anak Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia disiksa dan dimaki, serta dihina, sementara Allah seakan-akan terdiam menonton semuanya itu.

Semua hinaan kepada Anak Allah di atas salib itu, menunjukkan bahwa manusia memang membenci Allah. Kita mungkin memandang bahwa itu terjadi sebab Yesus turun di antara orang Yahudi yang mengeraskan hatinya, namun penggambaran akan tidak bekerjanya akal sehat orang Yahudi seharusnyamembuat kita berpikir kembali apakah kita tidak akan melakukan hal yang sama apabila Yesus hadir di hadapan masyarakat kita hari ini. Dosalah yang mendorong semuanya itu, dan kita tidak terlepas daripadanya kecuali karena darah Kristus yang sudah tercurah itu.

Pada akhirnya seluruh hinaan manusia akan sang Anak Allah pada penyaliban tersebut akan menerima hukuman-Nya. Tiga jam kegelapan pada saat peristiwa penyaliban hanyalah pengantara menuju kengerian penghakiman terakhir dari Yesus sang Anak Allah dan Raja di atas segala raja. Namun bagi kita hari ini, penyaliban tersebut adalah tanda sukacita bahwa dosa sudah ditebus. Hari penghakiman akan menjadi hari bahagia, sebab Kristus yang telah bangkit tersebut datang menjemput mempelai-Nya untuk tinggal bersama-Nya selama-lamanya.

Itulah arti salib yang sejati. Salib berbicara tentang pengorbanan, pengorbanan Anak Allah, bagi dunia. Bagi Anda. Betapa besarnya kerelaan-Nya, sehingga Yesus menanggung murka Allah, yang seharusnya, anda dan saya yang menerimanya.  Bukankah ucapan syukur dan kehidupan yang bertanggung jawab adalah respon yang seharusnya kita berikan bagi Dia?

Vincent Tanzil

Tulisan ini pernah dimuat dalam buku aktifitas Camp Pemuda SAAT 2011. Yang dipublikasikan di sini adalah hasil editan bersama dengan Himawan T. Pambudi.