Kesarjanaan Teologi Injili

Posted on Februari 10, 2012

2


Scholarship-photo

Evangelikalisme (Injili) merupakan salah satu gerakan dalam kekristenan yang tengah bertumbuh dengan kecepatan yang mengherankan.  Sebagai sebuah gerakan dengan skala yang besar, kaum evangelikal pun tidak luput dari kritik, baik kritik tersebut berasal dari dalam maupun dari luar.  Salah satu kritik yang biasa dilancarkan kepada kaum evangelikal adalah kualitas kesarjanaannya, yang ditandai dengan suburnya penelitian dan karya tulis ilmiah, dianggap belum memuaskan.  Tetapi, perihal kesarjanaan ini nyatanya bukanlah masalah yang universal.  Kaum evangelikal di belahan dunia Barat bisa dikatakan cukup berbuah lebat dalam hal ini, khususnya dalam beberapa dekade terakhir.  Karena itu, apakah ada hal lain yang memengaruhi kesuburan atau kesuksesan sarjana evangelikal di Indonesia?  Mungkinkah faktor itu terkait perihal budaya yang khas Indonesia, kalau tidak mengatakan Asia?  Apabila kesarjanaan evangelikal di Indonesia bertumbuh dengan pesat, apakah manfaat yang bisa diberikannya kepada negara dan dunia?  Pertanyaan-pertanyaan tersebut membidani acara temu bicara yang diadakan pada bulan Januari 2012 di SAAT, sebagai pembukaan kelas-kelas bidang minat senat mahasiswa SAAT.  Puluhan mahasiswa berkumpul untuk mendengar dan berbicara. Bapak Andreas Hauw diundang untuk menjadi narasumber kunci.  Maka temu bicara pun dimulai.  Apakah yang dibicarakan?

Narasumber kunci memulai dengan ketegasan, bahwa kaum evangelikal memiliki pijak berpikir yang unik.  Seorang evangelikal tidak perlu takut membawa komitmen teologisnya ke dalam kancah kesarjanaan, baik teologi maupun umum.  “Riset adalah argumentasi!” demikian seru beliau.  Karena itu, riset yang dimulai dengan titik tolak evangelikal tidaklah menjadi masalah.  Masalah yang perlu dipikirkan dengan serius adalah bobot argumentasi yang ditawarkan dalam riset tersebut.  Sepatutnyalah seorang evangelikal berangkat dari titik tolak evangelikal.

Paparan berita-berita nasional menunjukkan bahwa masalah kesarjanaan bukanlah unik milik kaum evangelikal semata.  Dari wacana yang beredar, diketahui bahwa Indonesia bukanlah negara yang kondusif bagi penelitian ilmiah.  Kesarjanaan harus bersaing dengan kesejahteraan.  Apabila seorang mahasiswa harus memilih antara menjadi seorang peneliti atau praktisi, maka pilihan bukan didasarkan atas kebutuhan negara, namun kebutuhan mahasiswa.  Surat kabar kerapkali menyoroti kurangnya perhatian negara terhadap kesejahteraan peneliti-peneliti di Indonesia.  Tampaknya gereja juga kurang memerhatikan ini.

Tetapi ada masalah lainnya.  Beasiswa dan suntikan dana melimpah di jaringan internet, namun sumber daya tidak siap untuk menanggapinya.  Lagi-lagi surat kabar menyatakan banyaknya beasiswa yang terbuang disebabkan calon penerima tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai; “sekarang bukan lagi kandidat mencari beasiswa, tetapi beasiswa mencari kandidat”–demikian simpulnya.  Tidak hanya demikian, lesunya iklim menulis di antara kalangan akademisi pun menjadi sorotan surat kabar.  Tidak cukup hanya meneliti, penelitian tersebut perlu dipublikasikan.  Inilah yang menjadi permasalahan para peneliti di Indonesia: bahasa dan penulisan.  Mungkin demikian pula dengan kaum evangelikal; bukannya kekurangan orang pandai atau dana, namun masalah bahasa dan penulisan seringkali menjadi rintangan yang tidak mudah.

Artikel Jenell William Paris menjadi penutup paparan narasumber.  Paris mengingatkan bahwa panggilan seorang evangelikal bukanlah sekadar menjadi seorang intelektual atau ahli riset.  Kesalehan hidup tetap menjadi tuntutan yang penting bagi teologi evangelikal.  Pada akhirnya, teologi harus membuahkan hidup yang serupa Kristus.  Ini pun merupakan keunikan evangelikalisme.

Segera setelah pemaparan ditutup, mengalirlah pertanyaan demi pertanyaan kepada narasumber.    Pertanyaan-pertanyaan yang muncul berkaitan dengan kekondusifan Indonesia dan gereja bagi penelitian.  Narasumber menyikapinya dengan sebuah tugas bagi para mahasiswa untuk membangun kesadaran dan kekondusifan yang diperlukan tersebut.  “Lakukanlah riset yang relevan dengan gereja Indonesia,” ujar beliau. Usulan topik yang diberikan beliau meliputi apologetika, misi, konseling di budaya Timur, sejarah gereja, dan banyak hal lainnya—semuanya dengan horizon konteks Indonesia.  Apabila para peneliti evangelikal dapat menunjukkan bahwa riset mereka relevan dengan kehidupan gereja, maka itu merupakan langkah awal yang signifikan bagi pertumbuhan kesarjanaan evangelikal di Indonesia.

Kemampuan argumentasi menjadi kunci dalam makalah riset yang bertolak dari asumsi evangelikal.  Kelambanan dalam bahasa Inggris dan menulis harus digerus semenjak generasi ini.  Aktiflah mencari beasiswa yang bertaburan di internet.  Sebenarnya ada banyak lembaga yang bersedia untuk memberikan beasiswa, termasuk dalam bidang teologi.  Teologi evangelikalisme, pada akhirnya, harus memberi buah keserupaan dengan Kristus.  Kesemuanya ini sepatutnya menjadi stimulan bagi sarjana-sarjana evangelikal masa kini untuk menjadi periset-periset handal yang produktif.

Vincent Tanzil, 4 Februari 2012.