Ahli Silat dan Kesombongan

Ahli silat dan  Kesombongan

yip_man_1

 

Baru saja pulang dari nonton film silat di Sutos “Ip Man”. Jelas pertama kali judulnya amat meragukan! Tetapi film ini sangat membuat saya terpukau-pukau dan membuat saya tidak henti-hentinya berpikir mengenai film ini. Film ini berkisah tentang seorang ahli beladiri yang sering ditantang para ahli silat disekitarnya. Meskipun ia terkenal paling hebat dikota tersebut, tetapi ia tidak pernah mau menerima murid biarpun itu adalah anak sahabatnya sekalipun. Para penantang biasanya dikalahkan dengan mudah olehnya, tetapi ia tetap menjadi seseorang yang amat sangat rendah hati dan selalu menuruti istrinya, padahal ia adalah orang yang sangat terpandang di kota tersebut, sampai-sampai ada yang menghina dia kalau-kalau dia hanyalah seorang “suami takut istri” istilah yang sering kita dengar sekarang. Balasannya sangat menarik sekali :”tidak ada suami yang takut pada istrinya, yang ada hanya suami yang menghormati istrinya” waow itu sudah bisa menjadi perenungan yang dalam sendiri bukan? Tetapi singkat cerita mendekati akhir film ini, pria hebat ini satu kali mengatai dirinya sendiri bahwa ia tidak berguna dan sia-sia belajar semua ilmu silat tersebut, karena ia tidak dapat melindungi temannya yang mati terbunuh.

Satu kali saya ke kantornya ko Cun2 dan meminta nasehat selama saya sedang belajar teologi, mengenai sebuah perasaan didalam untuk selalu ingin dikatakan lebih hebat daripada yang lainnya! Jawabannya sederhana: “belajar teologi itu sama dengan ilmu silat, kalau baru bisa sedikit, pasti ingin berkelahi terus, kalau sudah Grand-Master, maka menjadi tahu yang mana hal yang perlu diperjuangkan dan yang mana yang tidak” atau dengan kata lain, beda menjadi seorang yang kritis dan seorang tukang kritik. Akhir-akhir ini saya sering juga bertanya-tanya apakah yang saya lakukan ini sebenarnya? Atau untuk apakah saya melakukan semua ini sebenarnya? Dengan berselubungkan slogan “berikan yang terbaik” mudah sekali untuk membungkus rapi sebuah rasa jauh didalam hati yang mencari pengakuan diri dari egoisnya seorang anak laki-laki. Yang tentu saja tidak akan mengembalikan kemuliaan itu seutuhnya kepada Tuhan.

ip-man-movie-poster-chinese

Teman-teman yang membaca tulisan ini. Saya masih sangat perlu belajar banyak dalam hal ini. Tidak jarang saya berusaha memberitahukan atau mengajarkan segala sesuatu yang saya sudah pelajari kepada orang lain yang “terjebak” dihadapan saya dan tidak terlalu mengejutkan bahwa mereka sebenarnya sedang ingin didengarkan! Lalu bagaimana? Sebenarnya saya menemukan sebuah fenomena yang menarik selama saya menggumulkan masalah ini. Sangat wajar bagi kita untuk kita membicarakan segala sesuatu mengenai apapun didunia ini, termasuk politik, perang, negara, koruptor, artis, dan bahkan kue, tetapi kita selalu nyaris tabu untuk membicarakan mengenai teologi ataupun agama! Lebih baik bagi kita untuk membicarakan semua hal lainnya daripada segala sesuatu yang ber”bau” teologi atau agama, begitu tercium baunya disekitar kita, maka tidak jarang kata cemoohan yang muncul seperti “mau jadi pendeta ya?” atau “kamu jangan ikut-ikut jadi orang-orang aneh itu ya!”. Tetapi kalau kita berbicara mengenai keuangan di masa depan atau mengenai rencana membeli rumah, maka kita lebih sering didengarkan, dan bahkan dipuji! Saya percaya kita tidak bisa hidup tanpa membicarakan nilai-nilai. Sambil kita meniadakan semua pembicaraan mengenai nilai-nilai, kita sebenarnya sedang membangun nilai-nilai kehidupan kita, meskipun sebenarnya saya meragukan apabila manusia membentuk nilai-nilai kehidupannya sendiri, saya kira mereka akan lebih sering merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, karena sayapun pernah mengalaminya. Tidak ada alasan bagi saya didunia ini untuk berhenti berkata-kata kotor meskipun saya tahu itu tidak baik, tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti menonton pornografi, meskipun jauh di lubuk hati saya jelas tidak ingin anak saya nantinya juga melakukan hal ini! Dan terlebih parah lagi adalah perasaan bersalah setiap kali selesai melakukan sesuatu yang kita tahu itu tidak pantas untuk dilakukan. Dan manusia mendorong jauh-jauh nilai-nilai tersebut hanya untuk menyadari sudah menjadi betapa bobroknya diri mereka dan tidak ada jalan kembali lagi. Lebih banyak jeritan penyesalan daripada kemenangan yang setiap hari kita jumpai pada kehidupan manusia saat ini. Disinilah baru kusadari bahwa didalam hidup yang sangat “bebas” itu sebenarnya saya ingin ada seseorang untuk memberitahukan saya mana yang benar dan salah. Karena hidup menjadi tidak ada artinya lagi! Entah apakah ini hanya pemikiran saya sendiri, ataukah sebenarnya anda pun menyadarinya tetapi kita menutupinya dengan kembali mengangkat panji-panji ke”bebas”an yang kita tahu membawa kita kedalam kekosongan jiwa.

Teman-teman yang membaca tulisan ini. Apakah yang sedang kita perjuangkan saat ini? Apakah yang mendorong kita untuk melakukan segala sesuatu? Untuk apa anda melakukan segala sesuatu itu? Kita semua mengetahui jawabannya jauh didalam lubuk hati kita yang terdalam, dimana tidak ada seorangpun yang tahu kecuali diri kita sendiri. Entah itu ego kita, kehausan kita akan pujian, uang, APAPUN itu! Layakkah itu kita jadikan pijakan kita dalam melakukan segala sesuatu di kehidupan yang singkat ini? (80 tahun sudah untung)

Di akhir cerita film tersebut, akhirnya sang pendekar tahu apa yang harus ia perjuangkan, dan bahkan untuk itu ia rela mati. Akhirnya saya mendapatkan kesimpulan dari perenungan singkat ini. Bila kita memiliki dasar yang kuat untuk melakukan segala sesuatu, maka kita tidak akan jatuh dalam kekecewaan hanya karena keadaan, justru kita yang akan mengubah keadaan! Bila akhirnya apa yang saya pelajari mampu mengubahkan segelintir kehidupan manusia saja, bukan kuantitas, tetapi kualitas. Maka itu sungguh hidup yang sangat indah! Tetapi semua itu adalah dengan dasar untuk melayani Dia yang kekal, dimana apa yang kita capai bersifat kekal. Teman-teman, mungkin kita sedang menekuni sesuatu, APAPUN itu, atau tidak tahu harus menekuni apa. Cobalah luangkan waktu untuk melihat kedalam hati kita, untuk apakah anda dan saya melakukannya? Percayalah waktu yang anda pakai hari ini tidak akan sia-sia, milyaran orang menyesal karena fokus pada apa yang mereka kerjakan, tetapi melupakan untuk apa mereka mengerjakan sehingga membuat hati mereka terasa kosong, dan hidup menjadi tidak ada artinya. Kesombongan akan datang apabila kita memusatkan pelajaran “silat” kita demi menonjolkan diri, tetapi kesombongan tidak akan datang bila kita tahu kita dapat melakukannya sungguh hanya oleh karena Anugerah-Nya.

Semoga tulisan pendek saya ini bisa memberkati kita semua, Soli Deo Gloria.

 

Vincent Tanzil, 27-Desember-2008

2 Comments

  1. HI Cent !!!
    Luar binasa…. eh luar biasa cent…
    akhirnya saya sempat mampir pula hehehe…
    but sayang baru baca 1 thok…
    ntar aq sempatin baca yang lain yah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s