Christian Worldview On Beauty

Pendahuluan

Berbicara mengenai keindahan itu sangat menarik, karena kata “indah” itu sudah sering sekali dipakai untuk menggambarkan berbagai kejadian, atau menilai sesuatu, bahkan dalam bahasa inggris, kata “Beauty” sering juga dipakai untuk wanita. Tidak seperti di Indonesia, dimana untuk wanita lebih sering menggunakan kata “cantik” daripada “indah”. Karena itu definisi indah bisa menjadi sangat kabur, oleh karena seringnya penggunaan kata ini untuk menilai berbagai aspek. Oleh karena itu menariknya adalah pada jaman ini kita sering menjumpai berbagai pernyataan indah untuk berbagai macam hal yang sudah jelas sangat bertentangan dengan iman kristiani, sebagai salah satu contoh ekstrimnya adalah pornografi yang mengekspos sebuah hubungan yang seharusnya kudus antara suami dan istri. Kalau begitu apakah ada sesuatu yang membatasi keindahan? Mudah bagi kita untuk membuktikan bahwa batu granit itu keras, karena memang granit itu keras adanya. Tapi bagaimana dengan keindahan? Adakah standar absolut bagi keindahan? Mengapa keindahan terasa begitu relatif? Bukankah kita semua sudah bosan dengan “The same old thing” sehingga kita merasa perlu untuk terus mencari melewati batas-batas yang pernah ada?

Melihat berbagai permasalahan ini, maka saya merasa perlu untuk mengangkat topik ini, apalagi dengan latar belakang saya sebagai mahasiswa Fakultas seni dan desain. Topik mengenai keindahan ini setelah saya pelajari, ternyata tidak sesederhana yang saya kira sebelum saya mengambil topik ini. Topik ini dapat dibahas melalui berbagai segi dan aspek lainnya,tetapi tidak mungkin untuk membahasnya secara komprehensif dengan pemahaman saya yang masih sangat dangkal mengenai topik ini, dan bahkan mengenai kekristenan itu sendiri. Karena itu saya akan membahas topik ini dengan membahas apa itu keindahan melalui CWV (Christian Worldview) agar kita memperoleh struktur pemikiran, untuk selanjutnya membahas beberapa isu yang ada mengenai keindahan yang sudah saya sebut sebelumnya, beserta solusinya melalui CWV. Semoga makalah singkat dan jauh dari sempurna ini mampu menjawab kebutuhan kita akan kebenaran. Tuhan Yesus memberkati. Soli Deo Gloria.

Isi

Manusia tidak terlepas dari yang namanya keindahan. entah bagaimana kita selalu tertarik pada sesuatu yang indah. Kita sepertinya selalu terdorong dari hati kita yang terdalam untuk mencari dan mengejar keindahan baik orang itu adalah seorang seniman ataupun orang biasa yang tidak mengenal seni. Kristen percaya bahwa kita manusia diciptakan Imago Dei atau serupa dan segambar dengan Allah, karena itu kita memiliki rasio untuk berpikir, perasaan, dan lain sebagainya termasuk sebuah sense of beauty, karena kita mencerminkan gambar Allah. Karena itu tidak terelakkan bagi kita orang kristen untuk membahas salah satu pertanyaan mendasar ini yaitu: “Apakah yang dipandang indah oleh CWV?”

Keindahan menurut Christian Worldview

Melihat apa yang disebut indah melalui terjemahan Alkitab ITB saja sangatlah sulit, karena terkadang sesuatu yang dalam bahasa indonesia ditulis indah, ternyata ditulis pleasant atau glory dalam konteks terjemahan bahasa inggris. Salah satu ayat yang jelas menjelaskan yang saya maksud terdapat pada Mazmur 96:6 Honor and majesty are before Him; strength and beauty are in His sanctuary (KJV penekanan ditambahkan) sementara dalam bahasa Indonesia “Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya” (ITB penekanan ditambahkan) dari sini saya simpulkan bahwa keindahan tidak dapat terlepas dari definisi yang terkandung didalam kata tersebut, seperti keagungan, kehormatan, kekudusan dan lain sebagainya yang juga sudah seperti kita ketahui, adalah penjabaran dari karakter Allah. Augustine berkata didalam “Confessions” “I have learnt to love you late, Beauty at once so ancient and so new! I have learnt to love you late! You were within me, and I was in the world outside myself. I searched for you outside myself and, disfigured as I was, I fell upon the lovely things of your creation. The beautiful things of this world kept me from you and yet, if they had not been in you, they would have had no being at all.” Disini Augustine mengakui bahwa dia seperti ditarik oleh sesuatu yang indah “It was you then, O Lord, who made them. You who are beautiful, for they too are beautiful. You who are good, for they too are good. You who are, for they too are. But they are not beautiful and good as you are beautiful and good. Nor do they have their being as you the Creator have your being. In comparison with you, they have neither beauty nor goodness nor being at all.” Augustine menambahkan penekanan akan Allah yang indah, dan alasan dari segala sesuatu itu indah adalah karena Sang Pencipta itu sendiri merupakan Keindahan! Tanpa Sang Pencipta, maka tidak ada satupun yang indah.

Didalam Christian Worldview, segala sesuatu harus dinilai dan dipandang menurut kacamata Allah. Sebuah worldview dibentuk dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar yang membentuk sebuah worldview seperti What is Real? What Is True? What is Good or Best? Dan What is done? Dengan pendekatan ini saya ingin mencoba memasukkan definisi yang sudah kita jabarkan diatas. What is Real? Yang tertinggi dan merupakan realitas ultimat itu adalah Allah itu sendiri, Dialah keberadaan yang merupakan sumber dari segala keberadaaan lainnya. Dengan ini maka What is True? Akan kita jawab bahwa Allah itu indah. Dan dari presaposisi ini maka kita berlanjut ke What is Good or Best? Disini kita akan berbicara mengenai standar dalam menilai sesuatu, dan seperti yang sudah kita bahas diatas, standar dari keindahan itu adalah Sang Pencipta itu sendiri. Dari sini kita akan menjawab pertanyaan terakhir yaitu What is done? Nah, yang ini berupa aplikasinya, dan saya kira salah satu aplikasinya adalah tidak mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan karakter Allah sebagai sesuatu yang indah! Seperti yang dikatakan oleh Jonathan Edwards “True holiness must mainly consist in love to God, for holiness consists in loving what is most excellent and beautiful. Because God is infinitely the most beautiful and excellent being, He must necessarily be loved supremely by those who are truly holy. It follows from this that God’s own holiness must consist primarily in love to Himself. Being most holy, He most loves what is good and beautiful, that is Himself. To love completely what is most completely good is to be most completely perfect. From this, it follows that a truly holy mind, above all other things, seeks the glory of God and makes the glory of God His supreme governing and ultimate end.”

Sebenarnya dengan ini sangat mudah disimpulkan bahwa segala sesuatu yang indah menurut CWV adalah segala sesuatu yang sesuai dengan karakter Allah. Tetapi masih ada banyak pertanyaan yang mengganggu. Sebenarnya untuk apakah Tuhan memberikan kita sebuah desire for beauty? Memberikan kepada kita sebuah perasaan untuk mengejar keindahan yang akan membawa kita kepada kenikmatan. Sementara kita ditempatkan di dunia yang penuh dengan kenikmatan yang dapat dikejar! Apakah maksudnya ini? Pertanyaan yang jujur ini dapat terlihat dari kehidupan seorang Oscar Wilde dramawan, penulis sandiwara, penyair, kritikus yang bersikeras bahwa moralitas dan segala hukum dan batasan itu merusak imajinasi manusia yang sangat luar biasa! Atau mungkin ini juga merupakan pertanyaan bagi setiap kita. Mengapa harus menyangkal diri? Kenapa bukan aktualisasi diri?

Isu di sekitar keindahan Christian Worldview

Saya ingin mencoba meminjam kata-kata Augustine sekali lagi. “I have learnt to love you late, Beauty at once so ancient and so new! I have learnt to love you late! You were within me, and I was in the world outside myself. I searched for you outside myself and, disfigured as I was, I fell upon the lovely things of your creation. The beautiful things of this world kept me from you and yet, if they had not been in you, they would have had no being at all.” Sekali lagi kita diperhadapkan akan pergumulan Augustine dalam mencari Allah, tetapi hal menarik yang ingin saya ambil disini adalah “…I fell upon the lovely things of your creation. The beautiful things of this world kept me from you and yet, if they had not been in you, they would have had no being at all.” (penekanan ditambahkan). Bukankah kita juga sering diperhadapkan dengan pergumulan Augustine ini? Kita sering mencari sesuatu yang indah itu diluar Tuhan, kita mencoba mencari sesuatu yang lebih memuaskan kita daripada Tuhan. Tetapi pada akhirnya kita kecewa dalam pencarian kita. Sudah tidak perlu saya menyebutkan kesaksian orang-orang yang tidak terhitung banyaknya yang memiliki hampir segalanya, kekayaan, wanita cantik (untuk pria), mobil mewah, lukisan Leonardo Da Vinci, patung-patung Michaelangelo Buonarroti, keliling dunia, semua pijat refleksi, relaksasi, dan aromatherapy dari seluruh penjuru dunia. Tetapi tidak menemukan makna dibalik semuanya itu dan akhirnya jatuh kepada narkoba dan bunuh diri. Refleksi menarik yang sering kita lupakan. Tetapi kita mungkin lupa menyadari juga bahwa sebenarnya kita tertarik kepada keindahan pun, itu juga merupakan rencana Tuhan! Saya percaya Tuhan meletakkan sense of beauty kita yang indah ini adalah supaya kita mencari dan mendapatkan-Nya melalui keindahan-Nya, dan menemukan kepuasan sejati dari semua pencarian kita akan keindahan di dunia ini hanya didalam-Nya Sang Pencipta keindahan.

Di bukunya “Christ and the Fine Arts”, Cynthia Pearl Maus menulis “Lebih banyak sajak pernah ditulis, lebih banyak kisah diceritakan, lebih banyak gambar dilukis, lebih banyak lagu dinyanyikan mengenai Kristus daripada mengenai orang lain dalam sejarah manusia, karena melalui saluran demikian apresiasi paling mendalam di hati manusia bisa diekspresikan lebih sempurna.” Sebuah renungan: Bagaimana dengan seni, atau lebih baik saya katakan: “apapun” yang kita katakan indah di zaman ini? Sebenarnya, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kata “keindahan” sekarang ini sudah sangat kabur sekali maknanya dan sudah nyaris tidak dapat dikenali lagi makna aslinya! Zaman sekarang ini kebudayaan modern yang katanya penuh dengan rasionalitas, malah karya seninya mencerminkan ketidak-rasionalitasan! Apapun yang penting “out-of-the-box” atau saya sebut saja “aneh” telah dianggap sebagai seni. D. James Kennedy dan Jerry Newcombe dalam bukunya “Bagaimana bila Yesus tidak pernah lahir?” mengatakan “Kesenian mencerminkan kehidupan, dan apabila sang perupa kehidupan itu tidak punya arti, maka kesenian juga tidak akan punya arti” saya kira ini adalah salah satu dampak yang terjadi ketika kita mencoba menjauhi Allah dan wahyu ilahi-Nya.

Sebuah ironi memang, bahwa sense of beauty yang diletakkan Tuhan didalam kita malah membuat banyak manusia tergelincir dari keindahan yang sejati dari Allah dan malah menjauhi Allah itu sendiri. Lalu bagaimanakah solusinya? Ravi Zacharias seorang apologet pernah ditanyai dalam sebuah sesi “Questions and Answers” mengenai bagaimana memilah sebuah karya seni? “What qualifies as “good” arts?” menarik sekali bahwa Ravi mengatakan bahwa saat seseorang membuat sebuah karya seni, maka pastilah sang perupa tersebut memiliki parameter keindahannya sendiri sebelum membuat sebuah karya seni yang ia sendiri katakan indah, dan parameter tersebut mau tidak mau pastilah terikat oleh worldview perupa tersebut. Karena itu daripada menganalisa mengenai kulit luarnya saja, maka lebih baik yang perlu dibahas adalah worldview dibalik karya seni tersebut. Kalau kita berbicara konteks Christian Worldview maka keindahan seorang perupa haruslah tidak boleh bertentangan dengan karakter Allah. Tetapi masalahnya, sesuai dengan keberatan Oscar Wilde sebelumnya, mengapakah kita perlu repot-repot membatasi imajinasi manusia? Aneh bukan, bila kita diberikan imajinasi yang begitu luar biasa, tetapi kita tidak boleh melanggar karakter Allah (khususnya kekudusan)? Bukankah ini hanya akan mempersempit kreativitas kita?

Serangan Oscar Wilde atau mungkin saya katakan serangan kita semua adalah bahwa kekudusan itu bila disandingkan dengan kekreatifitasan manusia sangatlah tidak masuk akal, lalu buat apa Allah repot-repot memberikan kita otak dan sense of beauty bila tidak untuk dipakai? Mazmur 29:2 berkata “Give unto the LORD the glory due unto his name; worship the LORD in the beauty of holiness.” (KJV penekanan ditambahkan) ini berarti keindahan akan selalu dan selamanya terikat dengan kekudusan. Mengapa selamanya? Karena Allah itu kekal. Mengapa kudus? Karena Allah itu kudus. Tetapi yang terlebih menarik lagi adalah kata “Beauty in holiness” mengindikasikan bahwa ada keindahan didalam kekudusan. Apakah artinya ini? Oscar Wilde tidak ingin dirinya dibatasi oleh batasan atau apapun, tetapi Ravi Zacharias didalam bukunya “Sense and Sensuality” percakapan imajiner antara Yesus dengan Oscar Wilde menyatakan “When beauty is bounded by holiness, the artist soars to the highest. The further one gets from holiness, the greater the potential of violating beauty. Nothing profane can ever be beautiful” bila kita tidak memberikan batasan bagi keindahan, maka bagaimana lagi kita membedakan sebuah karya seni dengan sampah? Meskipun Oscar Wilde mengatakan bahwa ia tidak ingin dibatasi oleh peraturan, sebenarnya ia telah membuat peraturan baru bahwa imajinasinya tidak boleh dibatasi oleh peraturan lain, selain peraturannya sendiri! Dan seperti filsafat relativisme yang menyatakan semuanya relatif, sambil menyatakan dirinya absolut, ia telah menjatuhkan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, seperti hukum yang kedua berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” kita harus mengetes sebuah worldview dengan cara mengaplikasikannya kepada semua orang dan melihat apakah itu akan membawa dunia kearah yang lebih baik? Setelah kita meniadakan hukum kekudusan pada imajinasi, maka saya tidak akan heran bahwa hukum-hukum berikutnya akan segera diruntuhkan juga. Saya kira bahkan Oscar Wilde maupun kita sendiri pun tidak akan setuju bila kita diperlakukan secara tidak manusiawi oleh orang lain. Pada akhirnya untuk menuntut balas ataupun untuk merasa “tidak adil” saja membutuhkan sebuah “keadilan” atau saya sebut “batasan” untuk terlebih dahulu eksis. Disinilah menariknya mengapa Tuhan menetapkan sebuah hukum kekudusan didalam kehidupan kita. Berbeda dengan semua hukum yang pernah diberikan oleh semua agama didunia ini, Tuhan Yesus memberikan hukum-Nya berdasarkan kasih! Siapakah yang paling mengenal hati kita yang sudah dicemari oleh dosa? Tuhan tahu bahwa bila tidak ada pagar untuk memagari hati manusia, maka kita tidak perlu lagi membuktikan bahwa hasilnya sungguh mengerikan, dan akhirnya akan membuahkan maut. Adam dan Hawa hanyalah contoh sederhana dari pergumulan manusia di bidang ini.

C.S Lewis dalam bukunya “The Screwtape Letters” dalam kisah Uncle Screwtape sang iblis senior menulis surat kepada Wormwood keponakannya tentang bagaimana menipu manusia yang semakin dekat kepada Tuhan, Screwtape menulis “Work on their horror of the same old thing”, ditambahkan “is the greatest passion we have put in the human heart.” Masih ada pertanyaan yang mengganggu kita bukan? Meskipun kita sudah mengulas panjang lebar tentang kekudusan, mengapakah kita masih saja jatuh? Seringkali kita melupakan atau merendahkan peran iblis didalam kehidupan spiritual kita. Didalam kehausan (Desire) akan keindahan yang sudah Tuhan tanamkan didalam hidup kita, bukankah lebih banyak kita jatuh pada dosa daripada “jatuh” ke Tuhan. Sepertinya kita bisa menyalahkan Tuhan lagi, mengapa Tuhan menaruh kehausan tersebut? Baiklah kita kembali dulu ke pertanyaan ini : Mengapa “The same old thing”? mungkin pernyataan ini terlihat sederhana, tetapi beginilah cara iblis bekerja! Permasalahannya adalah bukan pada kehausan itu, tetapi bagaimana kita mengisi kehausan itu. Siapakah manusia yang paling sering jatuh dalam dosa? Manusia yang sudah bosan dengan “The same old thing”! Bila kita diizinkan memiliki satu istri, kita ingin dua. Kita diizinkan sepuluh istri, maka kita ingin sebelas. Kita diberikan satu jalan saja untuk mencapai Bapa di sorga. Tetapi kita protes mengapa hanya ada satu jalan! Bukan Tuhan yang membelokkan kehausan kita, contoh klasik adalah kisah Yesus di padang gurun. Apakah yang dilakukan iblis? Membohongi? Tidak! Kalau kita perhatikan kata-kata iblis, sebenarnya ia mengatakan sesuatu yang benar! Apakah salah bila Yesus dapat mengubah batu menjadi roti? Apakah salah bila Yesus akan ditolong malaikat? Saya kira tidak, tetapi yang iblis lakukan adalah “membelokkan” motivasi di balik semua kehausan tersebut. Dan tampaknya kita sebagai manusia biasa pastilah jatuh di situ, karena pada dasarnya kita sudah memiliki kecenderungan untuk berdosa.

Solusi

Mungkin kita berpikir “Celakalah kita, bagaimana kita bisa menang melawan lawan yang berasal dari internal maupun eksternal?” Disinilah kuasa anugerah Tuhan yang terbesar bersinar! Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, permasalahannya bukan sepenuhnya ada pada karya seni tersebut, tetapi bagaimana worldview yang dibaliknya yang harus dibereskan. Mau seketat apapun peraturan untuk pornografi, atau seberapa keras kita meneriakkan “KUDUS-KUDUS!” pada telinga setiap manusia, saya kira selama iblis masih belum dilemparkan semuanya ke penghukuman kekal, tidak akan ada gunanya. Bagaimana solusi dari masalah ini hanyalah terletak pada penebusan Kristus, dan tuntutan hidup kudus yang merupakan keindahan ultimat yang akan memuaskan seluruh kehausan kita akan keindahan. Seorang penulis Jerman menuliskan :

“Ada legenda aneh mengenai dunia yang menjadi tidak berwarna dalam satu malam saja. Warna menghilang dari langit; Lautan menjadi pucat dan tak bergerak; Warna hijau menghilang dari rumput dan warna bunga juga menghilang; Api mati dari nyala berlian, dan cahaya mutiara hilang; Alam mengenakan jubah belasungkawa, dan orang yang tinggal disana menjadi sedih dan takut. Seluruh dunia sudah kehilangan nyawa dan cahayanya. Jika malam ini, dengan satu sapuan tangan Anda menghapus Kristus dari kesusasteraan, adegan dari kehidupan-Nya, semangat yang Ia perlihatkan, prinsip yang Ia bela, anda akan mendapat satu dunia yang dijadikan tak berwarna dalam satu malam. Itulah dunia sastra, karena Kristus adalah warna-Nya.”

Penulis ini telah melukiskan dengan baik, apa jadinya bila Yesus atau saya sebut “Yang Kudus” disingkirkan dari karya seni umat manusia. Tidak ada yang namanya indah bila sesuatu itu melanggar kekudusan Allah.

Setelah membicarakan panjang lebar mengenai apa itu keindahan, sekarang baru kita dapat menyadari betapa sebuah desire of beauty yang diberikan Tuhan dalam diri kita adalah salah satu dari berbagai cara yang Tuhan ingin agar kita sebagai manusia ciptaan-Nya tertarik dan mengagumi karya dan keindahan-Nya. Tuhan tidak lalai memberikan kepada kita hukum kekudusan-Nya agar kita dapat memiliki standar untuk membedakan sesuatu itu indah atau sampah. Dan betapa kehausan itu hanya dapat dipenuhi oleh Sang Pencipta Keindahan Yang Kudus itu sendiri. Allah telah menekankan pada manusia bahwa, dimana Ia meletakkan sebuah pagar, maka Ia pastikan pagar itu pun bermakna, Christopher Morley menggambarkannya dengan baik:

I went to the theatre

With the author of a succesful play.

He insisted on explaining everything.

Told me what to watch,

The details of direction,

The errors of the property man,

The foibles of the star.

He anticipated all my surprises

And ruined the evening.

Never again! – And mark you,

The greatest Author of all

Made no such mistake!

Ketika kita mencoba melompati pagar kekudusan yang sudah Allah tetapkan, maka kerugian tidak terletak pada pihak Allah. Melainkan sepenuhnya pada pihak kita.

Penutup

Saya kira mengumbar seksualitas manusia diluar pernikahan yang kudus tidak dapat dikatakan sebagai seni. Oleh karena tindakan ini akan mematikan keindahan yang sudah Tuhan persiapkan didalam kekudusan suami-istri. Tetapi sebenarnya masalah ini sudah dibahas oleh Paulus sejak abad pertama.

Rom 1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.

Rom 1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Rom 1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

Rom 1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.

Rom 1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

Rom 1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.

Roma 1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.

Rom 1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.

Rom 1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Rom 1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:

Rom 1:29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

Rom 1:30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,

Rom 1:31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.

Rom 1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.” (Roma 1:19-32)

Bukankah luar biasa karya Tuhan dalam kehidupan kita? Sudah seharusnya kita bersyukur bahwa Allah telah menganugerahkan secara khusus pada kita karya-Nya yang sanggup memenuhi segala kehausan kita akan keindahan. Seringkali kita bahkan sudah menjadi kristen masih juga berusaha mencari pemuasan akan kehausan kita di luar Allah. Padahal menggali keindahan daripada Allah dan karya-Nya saja saya ragu kita dapat menyelesaikannya sampai akhir hayat kita. Bukankah semakin besar pengharapan kita bila tiba saatnya nanti:

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” (1 Korintus 13:12)

Meskipun makalah ini jauh dari sempurna tetapi saya berdoa semoga kita diberkati melalui makalah ini. Soli Deo Gloria.

Sumber

Sumber buku:

Recapture the Wonder” Ravi Zacharias

Sense and Sensuality” Ravi Zacharias

The Screwtape Letters” C.S Lewis

Christ and the Fine Arts” Cynthia Pearl Maus

“God And Culture” D.A. Carson dan John D. Woodbridge.

“Bagaimana Bila Yesus Tidak Pernah Lahir?” D. James Kennedy dan Jerry Newcombe

Sumber lainnya:

http://www.AlbertMohler.com

http://www.godsbook.com

Mind The Gap” Ravi Zacharias (Ceramah)

Questions and Answers 3” Ravi Zacharias (Ceramah)

Mungkin ada sumber lain yang tidak saya cantumkan, karena saya sendiri juga kurang jelas sumber aslinya dari mana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s