“Kenapa? dan Kenapa Tidak?”

Kita sering bertanya kepada orang lain “kenapa?” tetapi jarang kita bertanya “kenapa tidak?” Kita sering bertanya “apa?” tetapi kita sedikit kita bertanya “untuk apa?” saudara-saudara yang membaca tulisan ini, kaki saya tidak melayang-layang dari lantai, dan tentunya wajah saya tidak bersinar! Saya tidak punya sayap, dan tidak punya lingkaran malaikat di atas kepala saya. Tetapi saya punya jerawat, dan seperti anda yang juga “beruntung” seperti saya, benar-benar perjuangan berat untuk melenyapkan jerawat ini. Bagaimanapun juga jerawat ini mengundang banyak pertanyaan yang tidak diinginkan dari kebanyakan orang yang saya temui, dan sering juga banyak diterima masukan yang sebenarnya tidak pernah diminta, mulai dari cara memites jerawat, anjuran ke dokter kulit, mengenai makan kacang, dan lain sebagainya!

Ketika saya percaya kepada Kristus, dan memutuskan untuk menyebut diri saya “Kristen” setelah sekian lama saya menolaknya dan mengkritikinya. Saya mendapati kisah saya mirip dengan saat saya mendapatkan jerawat ini. Tiba-tiba orang-orang ingin tahu “kenapa?” “apa?”  dan mulai memberikan berbagai macam nasehat dan masukan yang tidak pernah diminta, termasuk cercaan juga! Inilah fenomena menarik yang ingin saya ceritakan pada kita semua. Saya dapati bahwa mayoritas mereka senang sekali mempertanyakan ““kenapa” anda bla bla bla…?” tetapi ketika saya bertanya kembali “kenapa tidak?” ternyata mereka tidak terlalu senang menjawabnya. Seringkali kita menghindari mempertanyakan hal-hal yang ber”bau” agama dan kepercayaan, oleh karena kita merasa itu tabu untuk dipertanyakan, dan itu hanya membawa masalah saja. Tetapi pada akhirnya kita selalu ingin tahu bukan?

Sangatlah tidak sehat bagi kita untuk mengkonsumsi suatu obat, tanpa mengetahui obat itu untuk apa. Dampaknya bisa sangat merugikan bagi kesehatan kita sendiri, dan juga bahkan mungkin orang disekitar kita yang menanggung kesedihan, keuangan dan terutama waktu  untuk itu. Dan oleh karena itu saya kira semua dari kita tahu betapa PENTINGNYA untuk bertanya dahulu sebelum meminumnya! Atau apabila itu obat yang berkelanjutan dosisnya dan kita sudah terlanjur meminumnya, maka lebih baik lagi kita bertanya mengapa kita perlu terus meminumnya! Begitu juga dengan apa yang kita percayai! Apa yang kita percayai akan sangat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita, entah itu keuangan, waktu, kesehatan, kebahagiaan, prioritas, makna hidup, dan lain sebagainya, yang jelas seluruhnya! Pernahkah kita mengambil waktu untuk mengkritisi sendiri apa yang kita percayai? Entah anda orang Kristen atau bukan. Pemikiran kritis dan pertanyaan yang baik akan membawa kita menuju jalan yang lebih aman daripada kita maju terus dengan buta tetapi merasa tahu, dan bahkan berusaha menuntun orang lain! Itu baru namanya iman! Tetapi iman yang benar-benar berbahaya sekali.

Saya baru-baru ini berdiskusi dengan seorang teman yang lama tidak bertemu, dan dia bertanya “kenapa” saya mau menjadi orang Kristen? Lalu saya tanyakan kembali, “kenapa tidak” mau menjadi orang Kristen? (Ngomong-ngomong dia mennyatakan bahwa dia orang Kristen). Nah, jawabannya sangat bagus dan jujur sekali. Ia berkata “yang benar saja, kamu masih percaya hal begini? Saya senang datang ke gereja, tetapi yang diajarkan sudah benar-benar tidak relevan lagi! Daripada berdoa dan berserah, kenapa tidak berusaha? Sekarang orang selingkuh saja bukan masalah besar, syukur-syukur ada yang mau repot-repot menjebloskan ke penjara! tetapi di Alkitab mereka mau melemparinya dengan batu!” dan pada akhir-akhirnya “kita harus menyelamatkan diri kita sendiri, mana bisa semudah itu hanya dengan percaya saja? Bagaimana dengan mereka yang berusaha hidup saleh?” Nah! Itulah “sebagian” pertanyaannya! Menarik bukan? Saya percaya ini adalah sebagian pertanyaan yang sering berputar di kepala kita bukan? Tetapi kita seringkali menutup diri dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada saat pertama kali saya bertobat, banyak sekali yang menanyai saya macam-macam, tetapi saya jelas saja kewalahan! Meskipun pada saat itu saya sangat berapi-api untuk menceritakan apa yang baru saja saya lakukan, tetapi dengan cepat saya tersadar, saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan. Dengan cepat pula mereka menasehati saya untuk tidak terlalu cepat mengambil tindakan. Apalagi berpindah agama! Saya tahu bahwa saya sedang berjalan didalam kebenaran, tetapi saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kebenaran itu! Itu adalah masa-masa paling menyedihkan bagi saya, tetapi saat itulah saya sadar bahwa saya tidak bisa hanya begini saja, saya tidak ingin dikatakan cuma berpindah karena cewek, atau alasan remeh lainnya seperti sudah tidak tahan lagi untuk tidak makan daging (saya sempat vegetarian 8 tahun).

Sejak itulah saya sering bertanya-tanya kepada orang-orang Kristen yang lebih dewasa di sekitar saya, tetapi apa yang saya dapati? “bagaimana dengan saat teduhmu?” “baik tidak?” Wah, pada saat itu saya benar-benar merasa sangat berdosa sekali! Saya telah kehilangan iman dan mulai mempertanyakan Tuhan! dimanakah imanmu hai Vincent? Tidak cukupkah kasih-karunia Tuhan kepadamu?  Saya akhirnya memutuskan untuk berdiam saja dan bila ditanya, maka dengan tulus hati saya katakan: “saya tidak tahu apa ini benar, tetapi toh, saya percaya, karena ini mengubah kehidupan saya”. ini sama saja dengan mengatakan bahwa saya lebih suka percaya dongeng atau mitos, sekaligus mengatakan bahwa itu benar! Saya sangat terkejut ternyata sedikit sekali diantara orang “Kristen” itu yang tahu mengenai keKristenan! Lalu mengapa percaya? Saya tidak habis-habisnya berpikir soal ini. Tetapi yang jelas saya tidak seyakin itu lagi untuk membagikan iman saya kepada orang lain. entah ini sifat saya atau apa, yang jelas saya sangat merasa tidak enak membagikan sesuatu yang saya sendiri tidak yakin itu benar atau tidak.

Tulisan singkat ini sebenarnya hanya berupa refleksi pribadi saya mengenai pergumulan didalam kehidupan baru saya, tetapi sekaligus berupa sakit hati saya oleh karena pertanyaan-pertanyaan jujur yang saya maupun orang lain seringkali tanyakan inipun seringkali diabaikan, kalau tidak diremehkan  oleh orang-orang yang sering mengaku bahwa dirinya dipanggil menjadi “jawaban” itu. Saya percaya banyak orang diluar sana yang memilki pergumulan yang sama dengan saya, tetapi dihantamkan oleh karang “Tabu” ini, sehingga tidak pede untuk menceritakan keindahan kasih-karunia yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Tulisan ini adalah usaha kecil saya untuk menguatkan sesama orang percaya bahwa Allah kita tidak memberikan kepada kita karunia “kebodohan” tetapi karunia untuk berhikmat dan bertanggung jawab mengenai iman kita, seperti ada tertulis “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Ptr 3:15) nah saya sudah mengemukakan jawaban atas “kenapa” saya repot-repot menuliskan macam-macam hal, bagaimana dengan anda? “kenapa tidak?” C.S Lewis penulis “Chronicles Of Narnia” itu pernah berkata “KeKristenan, bila salah, tidak ada pentingnya sama sekali, dan bila benar, kepentingannya tidak terbatas. Satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukannya adalah menjadi cukup penting.” Sudah saatnya kita menjembatani dua kemungkinan itu, hanya satu yang bisa benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s