Pergumulan akan kebenaran

Saya baru saja menonton film “The Case For Christ” yang dibuat dari buku dengan judul yang sama ditulis oleh Lee Strobel. Film ini menceritakan sebuah perjalanan seorang mantan wartawan yang mencari kebenaran tentang Kristus semenjak istrinya percaya dan mulai ke gereja. Disitu digambarkan sakit hatinya terhadap perubahan istrinya, dimana jauh di lubuk hatinya ia merasa istrinya sedang direbut oleh sebuah paham atau perserikatan yang aneh yang pada akhirnya akan membuat istri dan sampai anak-anaknya menolak ia sebagai ayah yang baik. Istrinya tidak terang-terangan membantah suaminya yang atheis tersebut, tetapi dengan penuh kesabaran dan penuh dengan pelayanan kasih, yang akhirnya membuat Lee menjadi sangat heran dan Lee memberanikan diri pertama kali ke gereja (sambil membawa notes, bila-bila ia menemukan skandal). Apa yang ia temukan disana hamper mengubah segala paradigmanya dengan kekristenan. Dimana Bill Hybels yang menjadi pengkhotbah pada saat itu mengkhotbahkan tentang apa yang dipercaya oleh orang Kristen dan hamper seluruh kesalahpahaman Lee mengenai kekristenan dijawab dan malah membuat dia dengan agak malu pulang sambil mengakui didalam hatinya bahwa ia selama ini telah salah memahami kekristenan, meskipun dengan bersisa pertanyaan yang belum terjawab. Pada akhirnya pertanyaan tersebut membawa ia kepada sebuah perjalanan 2 tahun yang akhirnya menjadi buku yang difilmkan ini.

Nah, jelas inti dari film ini bukan tentang kisah hidup Lee Strobel, melainkan pembuktian atas kebenaran Kristus. Tetapi yang saya dapati dalam film ini adalah INILAH kehidupan kita sehari-hari! Jujurlah pada saya, apakah kekristenan agama yang populer bila kita anut? Maksud saya dengan kita anut adalah menjalankan perintah dan hukum yang dibawa juga oleh agama ini. Salah satunya adalah memberitakan Injil, membagikan Injil, mengabarkan Berita Baik ini. Saya tidak sedang berbicara mengenai KTP dimana bila dihitung dengan itu, maka pastilah sangat banyak jumlahnya. Saya berbicara mengenai iman yang dipraktekkan. Apakah mudah mempraktekkan kekristenan? Seringkali bukankah yang kita dapati saat kita berusaha untuk menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita malah nada sinis yang kita terima? Atau mungkin nada-nada yang setengah percaya setengah tidak. Yang jelas, sedikit yang mau menerimanya langsung dengan senang hati.

Ketika permulaan film ini, diperlihatkan beberapa cuplikan wawancara dengan beberapa orang yang sedang berjalan lewat dengan pertanyaan mengenai apa yang mereka percayai dari Kristus? Mengejutkan sekali banyak yang mengatakan seperti “saya sebenarnya tidak percaya kepada Tuhan, mengapa? Mungkin karena saya lahir didalam zaman ilmu pengetahuan?” “ya Kristus pasti pernah hidup, Ia merupakan seorang tokoh didalam sejarah. TAPI menurut saya Alkitab terlalu melebih-lebihkan pernyataan mengenai Dia, lagipula bagaimana mungkin sih kita percaya kepada dokumen yang berumur 2000 tahun itu?” inilah pertanyaan yang dikeluarkan oleh sebagian orang di tengah jalan, sebagian bahkan mungkin orang Kristen! Tapi artikel ini bukanlah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Artikel ini ingin membahas mengenai bagaimana kita melihat dunia ini. Bila kita perhatikan seluruh kehidupan kita, bukankah kita hidup berdasarkan asumsi-asumsi kita sendiri? Kita naik elevator dengan asumsi elevator itu akan membawa kita keatas, begitu juga dengan sebuah kursi, kita mendudukinya dengan asumsi kursi itu cukup kuat menahan bobot kita. Sama halnya dengan itu, kita cenderung mudah sekali percaya dan apalagi bila orang yang mengatakannya itu merupakan seorang yang diembel-embeli “professor” “doctor” “dosen” “ahli agama” bahkan “orang tua” “pacar” “sahabat” tapi kita nyaris tidak pernah mau tahu apakah itu benar atau tidak. Sama seperti kita yang duduk diatas kursi yang menurut asumsi kita “aman” tetapi dalam sepersekian detik kursi itu patah ketika anda mendudukinya dan siapakah yang pertama kali anda salahkan? Tidak lain yang bisa anda salahkan adalah diri anda sendiri. Ya memang benar anda bisa menyalahkan pembuat kursi tersebut, atau teman disebelah anda, atau siapapun disekitar anda, tetapi tetap andalah yang memutuskan untuk duduk di kursi itu. Apa yang ingin saya katakan disini? Yang ingin saya katakan sebenarnya seringkali kita menolak atau bahkan percaya kepada sesuatu yang diceritakan orang lain tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Telah banyak, termasuk saya, orang yang menolak sebuah fakta tanpa bahkan memeriksa kebenaran fakta tersebut! Saya, dan saya yakin banyak dari kita telah mengaburkan fakta tersebut hanya melalui omongan orang, saya tahu bahwa tidak mungkin kita harus meneliti sampai hukum fisika setiap kursi dan zat gizi apa saja yang ada didalam makanan yang kita makan secara otodidak alias mencoba sendiri. Saya pun menyadari bahwa tidak setiap orang diberi kapasitas untuk berpikir secara kritis dan berbakat menjadi penemu-penemu hebat. Sehingga bisa menemukan teori atau hipotesa baru. Tetapi yang saya juga sadari adalah kita yang bahkan berkapasitas juga cenderung malas mencari bukti hanya saja kita lebih canggih dalam menutupinya. Kita mengatakan seperti “saya bukan orang yang pandai” “saya tidak punya waktu mengurusi hal-hal seperti itu” “itu bukan bidang saya” “itu bukan minat saya”. Nah, saudara saya sadar beberapa dari alasan itu sah-sah saja, tetapi bila kita menggunakan alasan-alasan tersebut, cobalah anda pikirkan lagi, apakah memang itu yang merupakan alasan anda? Ataukah anda sedang menutupi ketidak-tahuan anda dengan sesuatu yang mengganggu seperti yang Lee dapati? Bukankah mulut dan hati kita seringkali tidak cocok? Karena itu janganlah kita mengeluarkan sebuah alasan tanpa sebelumnya merenungkan kebenaran alasan tersebut. Katakanlah anda adalah seorang yang intelektual, kalau begitu kenapa tidak mencari narasumber yang intelektual juga? Daripada menutupi pemikiran kita dengan alasan yang konyol. Kenapa tidak mencoba mencari buktinya?

Ketika berbicara mengenai fakta, seperti yang telah saya sebutkan diatas, yang saya maksudkan adalah fakta mengenai jawaban atas seluruh pertanyaan esensial kehidupan kita. Pertanyaan-pertanyaan itu berupa empat pertanyaan dasar, yaitu : ontology (apakah realitas yang ultimat? sesuatu yang benar-benar real?), Epistemology (bagaimanakah saya mengetahui sesuatu itu benar? Tolak ukur standar kebenaran), axiology (bagaimana kita harus hidup, atau moralitas kita) Teleology (apakah makna dan tujuan hidup kita? Sebenarnya kita ini ngapain sih?) sadar atau tidak sadar, kita pasti memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh didalam kepala kita, meskipun seringkali kita hidup tanpa memikirkan hal-hal tersebut, tapi toh kita sebenarnya hidup menggunakan prinsip-prinsip tersebut. Nah, jawaban atas semua pertanyaan tersebut nanti yang akan disebut sebagai worldview atau wawasan dunia, dimana itulah cara pandang kita terhadap segala sesuatu didunia ini. Setiap agama menawarkan worldview miliknya sendiri secara unik dan berbeda. Bahkan atheisme pun sebenarnya adalah sebuah worldview! Inilah yang sangat esenisal dan menentukan bagaimana kita akan hidup sehari-hari. Seperti seorang filsuf berkata “Dengan demikian betapa bersalahnya kita semua, yang akan berjerih payah selama berjam-jam untuk merumuskan pernyataan tujuan bagi sebuah perusahaan yang menjual tusuk gigi, atau batu nisan, tetapi tidak pernah berhenti cukup lama untuk menuliskan pernyataan tujuan bagi hidup kita sendiri”[1] karena itu alangkah pentingnya pertanyaan ini! Saudaraku yang kumaksud dengan pencarian bukti adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan jawaban empat pertanyaan diatas tersebut. Menurut saya dan banyak orang lainnya itu bukanlah sesuatu yang akan anda jawab dengan sembarangan. Ketika orang tua anda mengalami sakit keras dan membutuhkan obat, dan apabila ia salah meminum obat saja maka ia akan menjadi semakin kritis. Apakah kita akan dengan mudah percaya saja dengan kata teman kita, sahabat kita, bahkan satu dokter saja mengenai keabsahan obat yang akan anda berikan kepada orang tua anda? Jelaslah tidak, kita akan mencari data dari pihak-pihak yang memang ahli dibidangnya dan juga dari ahli-ahli farmasi lainnya yang mengetahui juga mengenai obat-obatan. Begitu juga dengan worldview anda. Setiap pertanyaan bila dijawab dengan tidak benar akan berakibat amat fatal. Karena itu mengapa tidak meluangkan waktu dan mencari kebenaran? Tidak juga dapat kita katakan bahwa kita kekurangan waktu. Karena toh kita memiliki waktu yang sama semuanya yaitu 24 jam, kenapa tidak, apalagi ini adalah sesuatu yang mutlak esensial bila kita ingin hidup bermakna. Sekali lagi pencarian yang akan anda mulai ini adalah pencarian yang akan sangat seru dan menegangkan, saya dapat membantu anda memberikan resources-resources yang mungkin anda butuhkan dalam pencarian anda. Tetapi bila anda tidak pernah mulai ya percuma saja anda habiskan waktu anda membaca artikel ini. Buku “pembuktian atas kebenaran Kristus” karya Lee Strobel mungkin akan menjadi permulaan yang baik. Cobalah. Tuhan memberkati. Soli Deo Gloria

Vincent Tanzil 15 April 2009


[1] Ravi Zacharias–Jesus among other gods

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s