Pertanyaan Bermata Dua

Saat pergi jalan-jalan, entah kenapa ada sedikit rasa takut akan bertemu kawan lama. Bukan karena ada dendam lama atau apa, tetapi karena takut apa, saya juga tidak tahu. Maka daripada saya segera lupa, marilah saya coba menguraikannya disini.

Semenjak saya percaya kepada Kristus, entah sudah berapa sering saya dihujani pertanyaan-pertanyaan yang sangat menjebak sekali. Pertanyaan-pertanyaan tersebut cenderung tidak boleh dijawab secara langsung, ataupun tidak dijawab, karena kedua sisinya akan sama-sama melukai bila dijawab. Salah satu contoh pertanyaannya adalah: “kamu sudah bebas dari pornografi?, ah jangan munafik kamu, masih simpan beberapa kan?” atau berupa ajakan untuk kembali menekuni sebuah “rutinitas” yang sudah lama saya ikuti dahulu, seperti dunia gamers dan penjelajah mall. Apakah anda melihat letak permasalahannya? Di satu sisi, sejak saya menerima Kristus, saya tidak lagi tertarik dengan hal-hal tersebut, bahkan berusaha menghindarinya! Karena ketika saya mengenal Kristus saya belajar pula menghargai waktu yang telah dianugerahkan-Nya kepada saya, dan tentunya saya tidak sepantasnya lagi nonton pornografi! Bukan karena sok suci, tetapi karena rasa bersyukur yang teramat dalam, maka tiada lagi saya akan menjadi anak yang kurang ajar dan tidak tahu terima kasih. Sudahkah anda melihat permasalahannya? Bila saya menolak tawaran tersebut, maka saya akan seakan-akan mengasingkan diri dari mereka, dan seakan-akan menyatakan bahwa saya lebih suci daripada mereka, dan sudah sepantasnya yang suci bermain yang suci dan yang masih di kubangan bermainlah terus di kubangan. Tetapi bila saya menerimanya, saya akan melakukan banyak hal-hal yang bertentangan dengan komitmen saya diatas!

Saya dapati bahwa pertanyaan bermata dua ini seringkali menajamkan sekaligus menumpulkan, kalau tidak mematahkan banyak petobat baru seperti saya dahulu. Mengapa tajam sekaligus tumpul? Karena bila sering ditanyai seperti itu, maka kita akan sering goyah karena mulai tidak yakin dengan apa yang kita percayai, maksudku adalah: apakah saya BENAR-BENAR mau mempercayai sesuatu yang sangat MENGIKAT, bahkan cenderung DIBENCI oleh sahabat-sahabat lama kita? Kita akan semakin tajam apabila mampu melewatinya dengan penuh percaya diri, dan semakin yakin dengan iman kita, tetapi akan (mungkin) dihantui oleh pertanyaan teman-teman lama, atau bahkan kehadiran mereka. Bila sebaliknya, mungkin kita bisa menjadi malu untuk menyatakan iman kita, bahkan mungkin sampai memutuskan untuk undur dari ‘sesuatu yang sangat MENGIKAT dan DIBENCI’ ini demi sahabat-sahabat kita.

Secara pelan namun pasti, pembicaraan kita akan lebih senang berbicara mengenai hal-hal rohani, sementara mereka pun akan terus menerima kita asal kita tidak “terlalu banyak” berbicara hal-hal yang rohani, dan dengan pelan tetapi pasti pula, kita tidak lagi merasa cocok atau nyaman berada dengan mereka, apalagi seseorang dengan bekas lingkungan yang sangat merusak. Kita akan semakin nyaman berbicara dengan sesama orang percaya, membahas mengenai iman dan kehidupan spiritualitas dan sebagainya. Dan pada akhirnya, nyaris terpisah total dari teman-teman lama kita. Diantara kaum lelaki, khususnya yang bernuansa geng-gengan, kata-kata yang paling cocok untuk kita yang “murtad” adalah: sombong.

Salah satu contoh nyata yang saya alami adalah ketika saya pertama kali bertobat dan melihat beberapa “petobat” baru lainnya. Ketika saya bertobat, itu sangatlah heboh dan meng’guncang’ iman banyak orang! Terutama orang-orang yang dekat dengan saya di kampus. Tiba-tiba saya menjadi terkenal, saya sering menyatakan iman saya dengan keras-keras dan tidak bertanggung jawab di tengah-tengah studio menggambar, berharap mereka yang lewat terkena ‘sapuan’ Roh Kudus yang keluar lewat kekuatan firman yang diberitakan dengan penuh keyakinan. Saya tahu itu salah sekarang, tetapi saya telah dengan segera membuat banyak ‘petobat’ baru dan sekaligus membuat ‘musuh’ baru, termasuk beberapa teman saya yang sangat dekat. Yang saya maksudkan dengan ‘musuh’ adalah mereka yang hubungannya merenggang dengan saya, bukanlah sampai menjadi musuh betulan. Mulai ada tawaran-tawaran untuk ke gereja bersama, tawaran untuk menceritakan kisah pertobatan kita, beberapa orang yang menyelamati saya. Saya adalah orang yang sangat keras pada waktu itu, dan seringkali menuntut kesempurnaan dari orang-orang disekitar saya, ungkapan seperti “kalau aku bisa, maka kamupun HARUS bisa!” sudah sering saya layangkan ke teman-teman saya, bahkan ke beberapa petobat baru yang masih sering ragu-ragu. Tidak sedikit pertanyaan yang menghujani saya dari pihak satu, datanglah pertanyaan pihak lain yang mengganggu pikiran saya dari para petobat baru tersebut (sayangnya saya sudah belajar untuk tidak berkata keras lagi waktu itu) “saya kira kita tidak bisa munafik cent, kita hidup didunia yang sama dengan mereka, masakan kita mau memisahkan diri dari mereka? Tidak usah sok suci lah, apakah ke diskotik itu dosa? Saya mencintai Tuhan di hati saya kok, saya percaya Tuhan pasti mengerti” ada juga seperti “itu bukan kabar baik namanya bila itu bukan membawa kebaikan pada orang yang saya beritakan!” walaupun ingin mempertanyakan “Tuhan” mana yang ia maksud dan “kabar baik” mana yang ia dengar, tetapi toh saya telah belajar untuk diam seperti domba kelu pada saat itu.

Barusan adalah teman-teman di kampus yang kemungkinan besar sudah mengetahui kabar terbaru mengenai saya tersebut, toh saya tidak berencana menyembunyikannya. Tetapi bagaimana bila kita bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu? Teman-teman yang seperti inilah yang sangat sering dengan ‘ketidaktahuannya’ menusuk saya serta mengingatkan dosa-dosa lama saya sambil bernostalgia akan ‘masa-masa liar’ tersebut. Sejujurnya saya saya lebih malas bertemu dengan teman-teman lama saya yang termasuk golongan ini, karena pendahuluannya akan memakan waktu yang sangat panjang. Akan sangat mudah, dan sangat menyenangkan sebetulnya! Bila saya diberi pertanyaan dan diberi kesempatan untuk memberi jawab panjang lebar, serta berdialog hingga berjam-jam. Saya akan dengan senang hati melakukannya dan bahkan bersedia janjian ketemu untuk hal itu! Masalahnya adalah, mereka tidak berencana bertemu lebih lanjut, kita hanya bertemu sebentar, saling menanyakan kabar, dan berlanjut membicarakan isu-isu yang lewat, dalam waktu tak lebih dari lima menit. Didalam waktu yang sangat singkat tersebut, terkadang jawaban-jawaban simpel kita lebih terkesan ‘brengsek’ daripada menunjukkan kekudusan kita.

Teman-teman, saya teringat akan pesan Paulus “Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini.” (1 Kor 5:10) dengan kata lain, kondisi kita sekarang ini tidak jauh berbeda, atau kalau boleh saya bilang, justru kondisi kita ini tidak akan pernah jauh berbeda, karena dunia ini memang telah menolak Allah sejak dari mulanya. Lalu bagaimana? Selain terhibur atas kondisi kita, saya juga merasa tidak nyaman karena Paulus tidak mengatakan agar kita mengucilkan diri dari mereka tetapi malah kita harus berada bersama-sama dengan mereka menjadi berkat! Sungguh pernyataan yang amat sulit, mengingat kita sangatlah lemah dan rawan kena ujian, tetapi malah kita disuruh tinggal bersama mereka. Tetapi saya kira disitulah keindahan kekristenan terlihat paling nyata. Bahwa kita tidak ‘eksklusif’ seperti yang banyak orang klaim tanpa melihat gambaran besarnya terlebih dahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s