Martabat Seorang Lelaki

A Man PrayingBetapa ironisnya lelaki ini. Mengapa berbicara seperti ini? Karena saya adalah seorang lelaki dan oleh karena itu saya berpikir sebagai lelaki, dan karena saya bukan satu-satunya lelaki didunia ini yang memikirkan hal ini maka saya pikir saya akan menuliskan sedikit mengenai lelaki.

Wahai kaum lelaki, konon lelaki adalah pribadi yang rasional dan tidak mau menerima hal-hal yang tidak masuk akal, tetapi sering sekali kita marah atas hal-hal yang tidak masuk akal. Konon lelaki adalah makhluk yang sangat pemberani, tetapi mengapa ia begitu ketakutan untuk membiarkan dirinya terlihat lemah? Konon lelaki adalah seorang yang kokoh dan mampu menghadapi terpaan dunia ini, kalau begitu mengapakah kita begitu mudah putus asa dan menggampangkan segala sesuatu? Konon lelaki adalah seorang yang tegaan dan memiliki hati sekeras baja, tetapi kita tidak berani menyakiti hati ibu kita, bahkan sampai ketika sudah menikah. Konon lelaki memiliki mulut yang tidak bertele-tele, tetapi mau bilang sayang atau cinta saja harus membicarakan cuaca terlebih dahulu. Konon lelaki adalah makhluk yang dewasa, namun kita marah bukan main apabila ada wanita atau anak kecil yang mengalahkan kita. Konon lelaki adalah pribadi yang utuh, kuat, kokoh, rasional, dan mampu memimpin seluruh dunia ini dengan kekuatan dan kebanggaanya, tapi toh, Tuhan mengatakan bahwa lelaki saja tidak baik. Maka diciptakanlah seseorang yang akan selalu kita anggap menarik dan menyenangkan asalkan tidak mengganggu kehidupan kita saja. Kalau begitu siapakah lelaki itu? Ia adalah makhluk yang sangat penuh kelebihan, tanpa melupakan segunung kekurangannya.

C.S. Lewis pernah berbicara bahwa lelaki dan wanita memiliki standar yang sangat berbeda akan apa yang mereka katakan sebagai “tidak egois”. Siapakah yang menyukai seorang yang egois? Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang memakan anaknya sendiri demi agar ia bertahan hidup dielu-elukan dan ia dipuja sebagai pahlawan? Saya sendiri belum pernah, dan saya tidak yakin anda akan menemukannya. Tetapi masalahnya adalah: apa yang dikatakan “tidak egois” bagi seorang wanita adalah: turut bersama menanggung penderitaan orang lain. Sementara lelaki berpikir bahwa yang dimaksud dengan “tidak egois” adalah: tidak merepotkan orang lain. Anda melihat titik temunya? Saya tidak. Ketika seorang wanita berusaha bersikap “tidak egois” ia akan menanyakan dan berusaha untuk ikut menderita bersama sang lelaki, tetapi si lelaki yang berusaha untuk “tidak egois” ini akan berkata bahwa ia baik-baik saja dan tidak butuh pertolongan. Kalau saja segala macam kepura-puraan yang bodoh ini bisa diketahui sejak awal, maka tampaknya kita tidak akan memerlukan konsultan pernikahan.[1]

Tetapi saya masih membicarakan mengenai lelaki disini, terutama lelaki dengan daya kompetisinya yang luar biasa liarnya. Kita para lelaki merasa luar biasa hebat (sombong) saat berkumpul dengan orang-orang yang bodoh lainnya, tetapi saat bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih hebat dari kita, kita ingin wajah kita ditaruh di pantat saja, karena malunya bukan main (minder). Orang seperti ini kata seorang hamba Tuhan: adalah “orang yang tidak tahu dirinya ada dimana.” Selama situasi dan kondisi terus berubah, maka perasaan dan gambar dirinya akan selalu berubah. Sungguh konyol rasanya bahwa masih ada diantara kita yang mengatakan bahwa lelaki lebih stabil emosinya daripada wanita.

Inilah masalah terbesar lelaki sepanjang masa (apakah wanita juga, aku tidak tahu lagipula aku menulis mengenai lelaki). Yaitu tidak mengenal dirinya sendiri! Selama berabad-abad pertanyaan manusia tidak pernah berjalan jauh dari pertanyaan dasar ini, “siapakah aku ini?” mengapakah pertanyaan ini begitu penting? Perhatikanlah bahwa dunia ini sudah memiliki begitu banyak kejutan yang tidak menyenangkan, ternyata dolar naik, BBM naik, keran bocor, tagihan listrik yang tidak berlebihan, bangkrut mendadak. Dan alangkah menyedihkannya apabila kita masih juga terus terkejut akan siapa diri kita sebenarnya! Masalahnya seringkali kita sebagai lelaki yang ‘jantan’ ini seringkali tidak mau mengakui kenyataan (kalau tidak kenapa perusahaan bir, rokok, narkoba lainnya masih laku?) Masalah tidak akan muncul apabila hanya sampai taraf terkejut dan tidak mau menerima kenyataan, tetapi masalah sebenarnya adalah ketika kita mulai menutupi kenyataan itu dengan kebohongan besar bahwa kita baik-baik saja. Bahwa sebenarnya kita tidak ada masalah, bahwa kita tahu apa yang kita lakukan.

Mengapakah saya menuliskan hal-hal ini? Nah ini baru masuk ke inti permasalahannya. Bagaimanakah seorang lelaki menemukan identitas dirinya? Apakah dengan berpetualang di alam bebas? Dengan melakukan berbagai kegiatan kewirausahaan? Dengan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat? Harus saya katakan, bahwa tidak ada satupun jalan untuk mengenali siapakah diri kita sebenarnya, kecuali kita terlebih dahulu menyadari bahwa hati kita, pikiran kita, dan segala tingkah laku kita, telah dinajiskan oleh dosa. Siapakah diantara kita lelaki yang berani direkam pikirannya selama satu hari saja untuk diperdengarkan pada orang lain? Gerakan Humanisme telah menipu begitu banyak manusia dengan mengatakan bahwa manusia sebenarnya baik Cuma tingkahnya beberapa saja agak tidak baik. Disinilah titik utamanya, dan disinilah ketika pernyataan Yesus menjadi pernyataan yang paling tajam dan sesungguhnya yang paling perlu kita dengarkan, yaitu bahwa manusia itu berDOSA dan memerlukan pengampunanNya. Apakah ada keberatan? Kalau begitu coba jelaskan mengapa manusia begitu SULIT untuk berbuat baik, tetapi begitu MUDAH untuk melakukan segala macam hal yang jahat? John Stott berkata bahwa kita tidak hanya memerlukan polisi dan tentara, tetapi juga memerlukan kunci, brankas, fingerprint reader, dan berbagai macam alat pengamanan lainnya. Mengapa repot-repot bila manusia pada dasarnya baik-baik saja? Sesungguhnya inilah penghalang utama kita lelaki untuk mengenal diri kita. Yaitu pada saat kita tidak mau mengakui bahwa kita memang sesunggunya adalah makhluk yang telah memberontak dan berdosa kepada Tuhan yang adalah sumber dari segala macam kebenaran dan kebaikan dan oleh karena itu manusia tidak akan pernah mampu mengenali dirinya lagi.

Adakah jawaban dari semuanya ini? Adakah harapan bagi kita disini? Cerita ini akan berakhir sangat menyedihkan apabila kita berhenti sampai disini saja, tetapi justru “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”[2]. anugerah Allah disebut sebagai ‘anugerah’ oleh karena yang diberikan tidak pantas, dan yang memberikan sebenarnya tidak harus. Betapa kuat dan tajamnya seruan Yesus ketika ia mengatakan bahwa manusia harus bertobat dari segala dosa-dosanya dan kembali kepada Tuhan yang benar! Dan tidak berhenti sampai disitu Allah juga menyatakan “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”[3] Didalam Yesuslah ditemukan makna kehidupan yang sejati, karena Ialah sumber dari segala kebenaran, dan sesungguhnya Ialah juga pencipta dari engkau dan saya para lelaki maupun wanita. Oleh karena itu hal yang tidak wajarkah bagi kita untuk bergantung padaNya Sang Pencipta kita Yang Agung dan penuh dengan belas kasihan serta keadilan, pencipta langit dan bumi?

Pada saat itulah, ketika kita mengakui siapa diri kita sebenarnya dan menerima pengampunanNya yang dahsyat. Seluruh ketidakegoisan lelaki, kebanggaan lelaki, kekerasan hati lelaki dan semua pertanyaan dan jawaban mengenai lelaki terjawab. Dan akhirnya kita bisa hidup sebagaimana seorang lelaki sejati sebenarnya harus hidup, yaitu untuk hidup sebagai “Gambar dan Rupa Allah” sungguh suatu kesempatan yang begitu indah bagi kita, dari sedemikian banyak ciptaan yang lainnya, kitalah yang diciptakan menjadi “Gambar dan Rupa Allah”. Maukah saudara? Kiranya artikel yang sederhana dan singkat ini bisa dipakai Tuhan untuk menuntun manusia kembali kepadaNya. Soli Deo Gloria


[1] C.S. Lewis, Screwtape Letters, Pionir Jaya (2006), hal 139-143

[2] Yohanes 3:16

[3] 1 Yohanes 4:10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s