The Late Living Legend

michael-jacksonRibuan orang berkerumun menghadap ke panggung raksasa di hadapan mereka. Satu demi satu diantara mereka memiliki tatapan yang was-was sekaligus tidak sabar, menantikan sesuatu yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Lalu tiba-tiba kembang api mulai diluncurkan dan berbagai macam warna mulai menghiasi langit, tetapi terlebih lagi adalah teriakan ribuan orang yang mulai menyesakkan langit. Hampir pada saat bersamaan sesosok manusia berpakaian berwarna emas dan hitam mendarat tepat di tengah panggung, seakan-akan dilontarkan oleh peluru, dengan posisi tegak berdiri dengan kacamata hitam dan tangan menggenggam, diam selama beberapa menit tanpa suara ataupun gerakan. Seluruh penonton semua berteriak, nyaris histeris, beberapa bahkan menangis seakan-akan tidak percaya bahwa dia berada ditempat itu. Michael Jackson (disingkat MJ dari sekarang) melakukan gerakan kecil, mengangkat tangannya dan melepas kacamata hitamnya perlahan sekali tetapi pasti. Gemuruh penonton sudah sangat memekik, terutama ketika ia melemparkan kacamata hitamnya dan mulai menari sambil menyanyikan lagu-lagunya yang sudah mendunia dan nyaris menghipnotis penonton. Beberapa diantara penonton bahkan sudah mulai ber’guguran’ karena sesak ataupun karena terlalu histeris, beberapa petugas kesehatan terlihat sangat sibuk diantara hiruk-pikuk yang berlangsung, berusaha mengeluarkan penonton-penonton yang jatuh pingsan ataupun tergeletak lemas. Tubuh-tubuh penonton yang lemas mulai diangkat oleh penonton-penonton lainnya untuk diletakkan di luar keramaian agar dapat memperoleh bantuan langsung. Sementara keriuhan terus berlangsung, MJ terus menari dengan penuh gairah, seakan-akan ia tidak peduli, tidak, sebenarnya ia tidak bisa peduli. Karena ia adalah seorang King, karena dia adalah “King of Pop”

Sebelum sampai pada konsernya di “SuperBowl XXVII” yang dihadiri 135 juta manusia (penonton Amerika saja) seperti yang kita baca diatas, MJ telah diliputi oleh berbagai macam kontroversi. Mulai sejak perubahan warna kulitnya, pembelian tanah “Neverland”, sampai ketika ia diberi julukan “King of Pop”. Setelah konser itu MJ tidak akan pernah sama lagi, hampir segera setelah itu ia dituduh telah melakukan kejahatan seksual terhadap anak kecil, menikah dengan Lisa Marie Presley putri dari Elvis Presley, bercerai, dan menikah lagi dengan wanita lain, lalu bercerai lagi, meninggalkan tiga orang anak, salah satunya tidak diketahui ibunya. Dituduh pedophilia, dituduh melakukan tujuh lagi kejahatan seksual terhadap anak kecil, dan ia mengalami kebangkrutan besar hingga harus menutup “Neverland” yang telah ia bangun sebelumnya. Sesaat sebelum ia sempat melakukan lima puluh konser terakhirnya ia ditemukan tergeletak di dalam kamarnya, ia dinyatakan meninggal pada rumah sakit tempat ia dilarikan. Demikianlah hidupnya, manusia yang pernah mengeluarkan album bertemakan “HIStory” ini telah meninggalkan dunia untuk selamanya.

Setelah kehidupannya yang sangat menderita sekalipun, kontroversi masih terus berlanjut hingga hari dimana tulisan ini ditulis, akan sebab ia meninggal, akan kondisi kamarnya yang sangat berantakan dipenuhi oleh obat bius dan tabung oksigen, bahkan masih ada perdebatan akan keselamatannya. Ironis sekali kehidupan sang “King of Pop” ini. Satu saat ia pernah mencapai tempat yang tidak pernah dicapai siapapun sebelumnya sepanjang sejarah, namun sekarang semuanya itu tampak tidak ada artinya sama sekali. Tidakkah kematian itu begitu sering mengejutkan kita? Setiap mendengar lonceng kematian ada perasaan yang aneh yang mengingatkan kita dengan setia bahwa kita pun akan berakhir pada tempat yang sama. Tidak ada perkecualian, ya, bahkan untuk seorang “King of Pop” sekalipun.

MJ telah membawa pengaruh yang luar biasa kepada seluruh budaya dunia. Andrew Sullivan di Atlantic Monthly blog mengatakannya dengan baik: Michael Jackson “Adalah segala yang disembah oleh budaya kita; tetapi tetap saja dia jelas sangat tidak bahagia, tersiksa, ketakutan, dan sendirian” Apakah kesuksesan itu kalau begitu? Chuck Colson mengatakan “Jackson telah mencapai apa yang paling dihargai oleh budaya kita—popularitas—dan membayarnya dengan nyawanya. Dan itu adalah sebuah tragedi.” Memang benar-benar suatu tragedi, bila kita menghabiskan hidup kita untuk mengejar kebahagiaan hidup sambil melupakan Pemberi Kehidupan itu sendiri. Alangkah indahnya apabila kita bisa menyadari kebenaran ini sejak muda. Karena seringkali seorang pemuda akan sangat mudah tergiur oleh apa yang dinamakan “popularitas”. Hikmat Pengkhotbah telah lama menggemakan “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!”…. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s