Reading Beyond The Ages (Membaca Melampaui Jaman)

Book and GlassesSetelah membaca karya-karya Leo Tolstoy di minggu sore ini, saya merasa sangat senang dan tenang didalam hati saya. Bukan hanya karena keindahan cerita-cerita yang dituliskan oleh Leo Tolstoy, tetapi juga oleh karena ketajaman dan keindahan pesan yang ingin ia sampaikan melalui cerita-cerita pendeknya.

Sebenarnya hampir semua inti dari ceritanya yang telah kubaca mengisahkan sebuah pesan yang sederhana, yaitu: hidup dengan sederhana, bekerja dengan keras dengan selalu bersyukur kepada Tuhan. Menarik sekali melihat bagaimana dia mengilustrasikan pesan-pesan yang ingin disampaikannnya. Ada yang berupa cerita yang sangat mengejutkan, dengan apa yang dikatakan sebagai ‘punching line’ yang membuat orang yang membacanya pun terhenyak sebentar, ada cerita sederhana mengenai kehidupan sehari-hari yang akhirnya memberikan sebuah pesan yang sederhana, namun dapat dipraktekkan didalam kehidupan pula.

Memang cerita adalah sebuah media yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan dan pengajaran didalam kehidupan ini, tentunya kita tidak lupa bagaimana cara Tuhan Yesus mengajarkan pesanNya kepada para murid ataupun kepada para rasul, tetapi dilain sisi, cerita seringkali menjadi terbuka didalam penafsirannya sehingga memerlukan penjelasan yang lebih ‘straightforward’ daripada cerita tersebut. Meskipun begitu saya masih tetap sangat setuju dengan perkataan John C. Maxwell yang kira-kira berbunyi begini: “bila saya memberikan anda poin-poin, mungkin pada saat anda pulang anda sudah lupa apa saja poinnya, tetapi bila saya memberikan anda sebuah ilustrasi cerita yang menarik, anda akan mengingat ceritanya beserta poin-poinnya.”

Suatu kali saya pernah sangat bosan membaca sebuah buku yang notabene dapat saya katakan sangat ‘membosankan’ oleh karena ‘dingin’nya buku tersebut dalam menyampaikan pesan yang dibawanya. Semenjak saat itu saya benar-benar merenungkan apa yang ingin Tuhan ajarkan kepada saya melalui peristiwa itu, saya tidak ingin nantinya pada saat saya telah menuliskan yang saya ketahui, malah orang yang membacanya sukses tertidur atau bosan di tengah-tengah pembacaannya! Semenjak itu supaya saya tidak bosan meneruskan membaca buku itu, karena bagaimanapun juga, buku-buku yang ‘dingin’ dan ‘padat’ itu memang penuh dengan isi yang sangat baik dan memang yang saya butuhkan, tetapi selain membaca buku yang tebal dan penuh dengan informasi itu saya juga menyelingi dengan membaca buku-buku lain yang bernuansa cerita dan sastra seperti buku Leo Tolstoy yang dibahas diatas tadi. Jelaslah bagi saya bahwa informasi yang berlebihan hampir-hampir percuma apabila dimasukkan kedalam kepala kita tanpa pernah masuk kedalam hati kita, tetapi benar juga apabila kita yang sudah dewasa dan memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik daripada anak-anak janganlah selalu memanjakan diri dengan membaca buku yang penuh dengan cerita yang diperuntukkan bagi mereka yang masih anak-anak didalam kehidupan rohani mereka yang pada akhirnya melemahkan kemampuan berpikir kita dan membuat kita tidak bisa membuat keputusan pribadi di saat-saat genting dalam kehidupan rohani kita. Karena itu alangkah baiknya apabila kita menyeimbangkan kedua sisi ini.

Memang patut disayangkan bahwa mereka yang senang membaca di zaman ini nyaris seperti hewan yang harus dilestarikan, seringkali ketika kita telah memperoleh manfaat yang begitu banyak dari suatu buku atau dari suatu sumber, kita begitu tergerak untuk membagikannya dengan teman atau sahabat kita yang kita pikir akan mendapatkan manfaat yang sama pula dengan yang kita dapatkan, tetapi pada saat kita membagikannya kepada orang lain lebih banyak kata-kata seperti ‘wow, banyak sekali,’ ‘saya tidak suka membaca,’ ‘kalau saya membaca, saya pasti mengantuk!’ ‘kamu ceritakan saja kepada saya saja apa intinya.’ Dan seterusnya, dan seterusnya. Keluhan-keluhan mengenai ketebalan buku, tidak ada waktu, tidak suka membaca, terlalu ‘berat’, ini benar-benar membuat kita yang suka membaca menjadi hewan yang sangat langka! Seakan-akan orang-orang yang suka membaca adalah sesuatu yang sangat menakjubkan untuk ditemukan didunia ini. Tidakkah anda berpikir demikian? Saya benar-benar berharap pernyataan ini salah.CS009556

Saya teringat pernah membaca kisah tentang Blaise Pascal sang penemu dan ahli matematika yang tersohor itu. Ia hidup di zaman dimana seorang yang pandai dan mampu memperdebatkan teori temuannya seakan-akan seorang selebritis. Ayah Blaise Pascal adalah seorang ilmuwan juga, semenjak kecil Pascal cilik sering dibawa kepada pertemuan-pertemuan yang dihadiri ayahnya, dimana para ilmuwan berkumpul dan mempresentasikan penemuan-penemuannya. Acara akan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan serta kritik dan saran dari hadirin, sementara mereka yang mempresentasikannya akan berusaha memperdebatkan pernyataan-pernyataan mereka. Inilah latar belakang masa kecil Pascal, semenjak kecil ia sudah sangat terpukau dengan para orang dewasa di sekitarnya yang dengan pandainya mempertahankan penemuan-penemuan mereka dihadapan orang lain. Bahkan di zaman itu ketika ada seorang yang berulang-tahun mereka mengundang para ahli-ahli matematika, fisika, biologi dan lain sebagainya untuk hadir didalam peristiwa bahagia tersebut. Betapa kontrasnya dengan kita sekarang yang merayakannya dengan saling menyiramkan saos batagor! Singkat cerita Pascal cilik ini bertumbuh besar menjadi seorang ilmuwan yang luar biasa, seperti yang telah kita kenal melalui penemuan-penemuannya, ia menuliskan teori matematika pertamanya pada saat berumur enam belas tahun, bahkan selain menjadi seorang ilmuwan, ia juga menulis tulisan-tulisan filsafat, theologia, dan apologetika. Semuanya itu dituliskannya sebelum ia meninggal pada umur tiga puluh sembilan tahun. Kehidupannya yang singkat didunia ini tidak menghalanginya untuk memberikan warisan yang begitu besar kepada dunia ini, tetapi lebih daripada itu sebenarnya yang ingin saya tekankan adalah ketekunannya dalam mempelajari semuanya itu, mengingat sebagian besar (khususnya selain matematika) ia mempelajarinya secara otodidak atau istilahnya ‘belajar sendiri.’

Betapa telah kita lihat bahwa memang lingkungan yang berada di sekitarnya memberikannya tempat yang nyaman untuk bertumbuh menjadi seorang yang demikian, bahkan melebihi orang-orang pada zamannya. Tetapi mari kita simak sejenak kisah dari penulis novel amerika yang terkenal yang saya dapatkan dari tulisan lain ini.

Antara tahun 1835-1910 hiduplah seorang yang bernama Samuel Langhorne Clemens atau yang lebih dikenal dengan nama Mark Twain. Ia adalah seorang penulis novel Amerika, khususnya novel anak-anak. Dua buah karyanya yang terkenal berjudul Huckleberry Finn dan Tom Sawyer. Sebagai seorang penulis yang cukup dikenal, pada suatu kali Mark Twain mengundang cukup banyak orang ke rumahnya untuk beramah-tamah. Istri Mark Twain yang bernama Olivia sibuk sekali mempersiapkan acara tersebut dan mengatur segala urusan rumah tangga. Tidak heran, karena mereka mengadakan arisan bagi para tamu di mana yang datang terutama adalah ibu-ibu tetangga mereka.

Ketika mereka sedang menikmati makanan kecil, salah seorang tamu bertanya tentang buku-buku yang dimiliki Mark Twain. Ia memang mempunyai banyak sekali buku. Ada yang berderet rapi dan ada juga yang berserakan di sana-sini. “Untuk apa buku sebanyak ini?” demikian tamu tersebut bertanya heran. Olivia yang sederhana dan memang lugu itu menjawab singkat: “Untuk dibaca.” Mendengar jawaban singkat itu tamu tersebut bertambah penasaran sehingga ia bertanya lagi “Dibaca semuanya?” “Tentu. Bahkan, kadang-kadang ada buku yang dibaca berulang- ulang,” sahut Olivia ringan.

Percakapan tersebut kebetulan didengar Mark Twain. Kemudian sesudah para tamunya pulang, ia berkata kepada istrinya: “Oliv-ku sayang, lain kali kalau ada tamu yang datang dan bertanya seperti itu lagi tentang buku kita, katakan saja bahwa buku-buku itu memiliki banyak kegunaan: buku itu ada yang tebal, yang tipis, dan yang sedang. Yang tebal bisa kita gunakan sebagai bantal, kalau kita tidak punya bantal; bisa juga kita pakai sebagai anak tangga, atau bisa juga untuk tempat duduk darurat kalau engkau sedang bekerja dan kebetulan tidak ada kursi. Sedangkan buku yang berukuran sedang bisa untuk mengganjal meja, kalau misalnya meja kita goyang-goyang, juga untuk mengganjal almari, dan bisa juga untuk melempar ayam, kucing, memukul kecoa atau apa saja. Buku yang tipis bisa dipakai untuk kipas-kipas, atau menyabet anak yang bandel dan anjing yang susah diatur dan perlu didisiplin. jadi, katakan kepada tamu kita bahwa buku itu mempunyai banyak sekali kegunaan.” Begitu kira-kira sindiran Mark Twain untuk orang saint_paulyang tidak mengerti apa artinya buku.[1]

Di zaman post-modern ini, akan sangat mengherankan bagi dunia untuk melihat orang-orang yang suka membaca buku. Zaman ini dapat dikenali melalui tiga prinsip utamanya yaitu: (1) (preferences over principles) selera melebihi prinsip, (2) (feelings over reasons)perasaan melebihi akal sehat, (3) (Images over words) gambar melebihi kata-kata. Oleh karena itu tidak mengherankan melihat keadaan yang sedang terjadi sekarang bukan? Tetapi apakah kita harus terus mengikuti zaman? “Sejauh gereja menyesuaikan diri dengan dunia, dan kedua komunitas itu tampak kepada para pengamat mereka sebagai sekadar dua versi dari satu hal yang sama, gereja tengah menentang jati diri sejatinya. Tidak ada komentar lebih menyakitkan bagi orang Kristen daripada kata-kata. ‘Tetapi Anda tidak beda dari orang lain.’” Demikianlah komentar dari John Stott seorang theolog yang sangat berpengaruh di zaman ini. Ia menunjukkan kondisi gereja saat ini yang memang seharusnya menyakitkan bagi orang Kristen sejati, yaitu bahwa bahaya yang membuat seorang Kristen menjadi tidak ada bedanya dengan orang lain tengah mencekam kehidupan gereja saat ini.

Apakah kalau dunia ini tidak senang membaca maka kita juga menjadi tidak senang membaca? Apakah bila dunia ini tidak suka dengan kata-kata teguran kita tidak boleh menegur? Apakah bila dunia ini tidak suka kita ke gereja, maka kita berhenti ke gereja? Apakah bila dunia ini tidak suka kita hidup dengan prinsip firman Tuhan (hidup kudus), maka kita berhenti hidup kudus? Apakah apabila dunia ini tidak suka berpikir, maka kita berhenti berpikir? Sampai kapankah kita hendak menyesuaikan diri dengan dunia ini? Ini sama saja dengan mengatakan People are not logical. Why bother? Often people are not moral either; does that mean that we should close down all the churches and fire the police force?”[2] memang manusia seringkali bertindak melawan firman Tuhan, tetapi pertanyaannya: “haruskah kita?”

Marilah kita sebagai anak-anak Tuhan yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus boleh menjadi orang yang berbeda dengan zaman ini dengan mempraktekkan kehendak Tuhan didalam hidup kita, “kalau dunia ini gelap, jangan salahkan dunianya, tetapi salahkan mengapa terangnya tidak bercahaya!?” daripada kita menghabiskan waktu kita mencaci-maki dunia ini, baiklah kita yang telah dipanggil terlebih dahulu untuk menjadi terang dunia, bercahaya terlebih dahulu melalui diri kita setiap pribadi untuk menerangi dunia yang gelap ini.

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, … Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (Filipi 3:7-10)


[1] JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN “VERITAS” Edisi 2, Daniel Lukas, Seminari Alkitab Asia Tenggara. Saya menemukan tulisan ini di www.sabda.org yang saya pikir akan menjadi sumber yang bagus mengenai baik buku maupun artikel kristiani.

[2]Geisler, N. L., & Brooks, R. M. (1990). Come, let us reason : An introduction to logical thinking (14). Grand Rapids, Mich.: Baker Book House.

2 Comments

  1. Tulisan pertama mengingatkan saya pd pertanyaan saya waktu saya masih kelas 5 SD, di mana terjadi begitu banyak kerusuhan dan perang agama antara kristen dan islam… pendeta dibunuh, rumah2 org kristen i bakar, gereja di bakar… dan akhirnya pihak kristen pun membalas demikian,,, membakar mesjid dan membakar rumah2 islam… sampai ayah saya membantu beberapa org muslim untuk bersembunyi di rumah kami…

    lalu saya bertanya pada tetangga saya “kenapa org2 kristen itu jahat dan membakar seperti ini?” tetangga saya menjawab “mreka yg duluan membakar alkitab, bla… bla.. bla…”

    saya diam cukup lama…lalu saya pulang dan tanya pada papa… “papa… apa yg papa lakukan kalo di depan mata papa, ada orang membakar alkitab papa?”,,,, papa saya cukup lama diam, menaruh sendok makan di piringnya, mengambil gelas di samping piring dan meminum seteguk, saya tidak berhenti menatap beliau dgn mata bulat saya an akhirnya papa saya menjawab “papa tidak akan melakukan apapun, hanya melihat…” lalu saya tanya lagi “kalau ada yang menghujat Tuhan Yesus dan menghina Tuhan Yesus di depan muka papa, apa yang papa lakukan?” papa saya menjawab “papa akan tetap diam” lalu saya bertanya lagi “papa akan diam sampai kapan?” papa saya menjawab “selama Tuhan meminta papa untuk berbicara” lalu saya belum puas, saya menganggap papa say sangat pasrah, akhirnya saya bertanya lagi “kenapa papa diam dan tidak mau melakukan sesuatu? mungkin semacam pembelaan atau apa?”, papa saya tersenyum, meminum seteguk lagi dan menjawab “Alah yang kita sembah adalah Allah yang begitu berkuasa, Dia tidak membutuhkan pembelaan dari umatNya, tidak membutuhkan perlinungan dari kita ketika Dia dihina, dll.. Dia begitu berkuasa… sama sekali tidak membutuhkan pembelaan dari kita.. jadi ketika alkitab kita dibakar, percayalah Firman itu hidup di hati kita, jika Tuhan Yesus dijelek2an leh orang2 lain, percayalah Dia tetap Allah yang sejati dari yang sejati… Jika Tuhan kita membutuhkan pembelaan dari kita ketika NamaNya dihina, dll maka Dia bukan Allah yang kuat..”

    Saya diam dan tidak bertanya lagi, dan menghabiskan makanan saya dengan diam..
    saya berpikir ttg apa yang papa saya katakan… “apakah benar ketika nabi muhamad dihina, lalu ibela mati2an oleh kaum muslim, berarti dia bukan nabi yang kuat? Allahku Allah yang kuat yang tidak membutuhkan pembelaan, jadi teringat persidangan Yesus di depan mahkamah agung, ketika Dia dicambuk, ketika Dia memikul kayu salib, sama sekali tidak membutuhkan pembelaan dari pengikut2Nya karena Dia Allah yang kuat…Seharusnya begitu pula kita, kerika kekristenan diinjak2, kita tidak perlu membalas dengan menginjak2 lagi lawan kita sebagai bentuk pembelaan kita terhadap Allah kita.. Mungkin Allah akan memakai kita untuk “membela” Dia tapi bukan karena kehendak kita tapi hanya kasih karunia dan Kehendak Bapa saja, sehingga hanya Nama Dialah yang dipermuliakan”

    emmmm….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s