Not A Godless Worldview (Bukan Wawasan Dunia Tanpa Allah)

834079_77309479Pernahkah anda melihat seekor anjing berdiskusi dengan temannya sesama anjing mengenai makna menjadi seekor anjing? Mungkin anda tersenyum ketika memikirkan pertanyaan tersebut. Tetapi ini adalah salah satu contoh yang sederhana yang memperlihatkan perbedaan esensial manusia dengan binatang lainnya. Siapakah manusia itu? Mengapakah kita ada disini? Untuk apakah kita ada disini? Diantara begitu banyak planet mengapakah kita berada di planet bumi ini? Apakah kita adalah makhluk tertinggi? Ataukah masih ada yang lebih tinggi daripada kita? Ini adalah serangkaian pertanyaan yang hanya akan diajukan oleh manusia saja, bukan oleh binatang apapun di dunia ini.

Manusia hidup setiap hari menggunakan semacam kacamata untuk menafsirkan segala hal yang terjadi di dunia ini, bila kacamata itu buram, maka pastilah dia akan agak sulit melihat kenyataan apakah yang sedang terjadi. Apabila kacamatanya berwarna merah, maka pastilah ia melihat bahwa dunia ini ternyata berwarna merah. Kacamata ini disebut sebagai worldview (wawasan dunia). Inilah yang akan menjadi dasar seseorang dalam menentukan sebuah keputusan didalam kehidupan ini.

Worldview tersusun dari jawaban atas lima pertanyaan dasar: (1) Asal mula, darimanakah kita berasal? (2) Identitas, siapakah kita ini? (3) Makna hidup, mengapakah kita ada disini? (4) Moralitas, bagaimana harusnya kita hidup? (5) Tujuan hidup, kemanakah kita menuju?; meskipun seseorang mungkin tidak merangkainya serapi ini, tetapi setiap manusia pasti memiliki jawaban-jawaban atas pertanyaan ini baik secara sadar atau tidak sadar. Artikel singkat ini tidak akan membahas semuanya, tetapi akan membahas satu pertanyaan yang akan mempengaruhi jawaban atas semua pertanyaan tersebut.

Ketika Ensiklopedia Brittanica diterbitkan pada tahun 1950, banyak orang yang terkejut ketika melihat bahwa ternyata tema yang paling panjang pembahasannya dibandingkan seluruh tema lainnya di dalam ensiklopedia tersebut adalah tema mengenai Allah. Ketika Mortimer Adler, salah satu editor dari buku ini ditanya mengapa digunakan ruang sebanyak itu untuk membahas topik itu, ia berkata: “Alasannya sangat jelas, lebih banyak konsekuensi berupa pemikiran dan tindakan yang datang dari persetujuan atau ketidak-setujuan mengenai Allah dibandingkan menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar lainnya.”

Perdebatan mengenai keberadaan Allah telah menempati posisi yang sangat dominan didalam sejarah pemikiran dunia. Mengapakah sampai sepenting itu untuk diperdebatkan? Karena jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan perbedaan besar pada bagaimana manusia akan berperilaku dan berpikir dalam kehidupannya. Bayangkanlah bahwa ternyata tidak ada Allah, maka mengapakah kita perlu untuk berbuat baik? Mengapakah kita perlu menahan diri untuk tidak berbuat jahat? Bukankah lebih mudah untuk berbuat jahat daripada berbuat kebaikan? Kalau ternyata manusia tidak ada bedanya dengan binatang, mengapakah saya tidak membunuh orang yang saya benci? Bukankah tidak ada bedanya membunuh seorang manusia dengan membunuh ayam untuk kita makan? Itu hanyalah sebagian kecil konsekuensi logis dari pemikiran bahwa tidak ada Allah didunia ini.

Lalu bagaimanakah kita mencari tahu bahwa Allah ada atau tidak ada? Apabila saya mengatakan kepada anda bahwa di dunia ini ada sebuah batu yang berwarna pink dan bermotif polkadot, yang perlu saya lakukan kepada anda hanyalah menemukan batu tersebut dan memperlihatkannya kepada anda! Tetapi apabila anda berusaha untuk mengatakan bahwa tidak ada batu semacam itu di dunia ini, maka anda harus sudah menjelajahi seluruh dunia ini, melihat semua batu yang ada di muka bumi ini untuk menyatakan bahwa tidak ada batu yang seperti itu! Itulah posisi yang diambil oleh atheisme, dan hingga hari ini tidak ada seorangpun atheist yang mampu membuktikan bahwa Allah tidak ada, yang ada hanyalah pernyataan-pernyataan berani yang tidak dapat mereka buktikan. Maka benarlah bahwa “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:22)

Kekristenan menjawab bahwa Allah ada dan berkarya didalam dunia ini, kita mengetahuinya dari Alkitab yang merupakan firman Allah yang diberikan-Nya bagi kita untuk mengenal-Nya. Alkitab bersaksi dari dirinya sendiri bahwa ada Allah yang menciptakan dunia ini dan manusia. Alkitab kita tersusun dari enam puluh enam kitab yang ditulis dalam rentang waktu sekitar 1500 tahun, tetapi meskipun ditulis dalam rentang waktu yang sangat panjang dan ditulis oleh berbagai penulis dari segala zaman, tema besarnya dapat terangkum menjadi satu! Yaitu Allah ada dan telah merancangkan sebuah rencana keselamatan bagi umat manusia yang telah jatuh dalam dosa melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Mungkinkah ini terjadi tanpa campur tangan ilahi didalamnya?

Ya Allah ada, dan sebagai Pencipta manusia, Ia meminta pertanggungjawaban atas hidup kita kepada-Nya. Apakah kita sudah hidup seturut kehendak-Nya? Siapkah kita hidup seturut kehendak-Nya?

Vincent Tanzil

(Pernah dimuat di DwiPekan Petra dengan nama “Tuhan, Apakah Engkau Benar-Benar Ada?”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s