Hamba Yang Tidak Berguna (Unworthy Servants)

Suatu kali saya pernah dimintai tolong untuk mengantarkan sebuah paket yang nantinya akan membutuhkan cara yang lebih spesifik pada saat pemakaiannya. Tidak lama, ketika saya sampai ke tempat tujuan pengiriman tersebut saya langsung meletakkan paket tersebut sambil tersenyum dan menantikan jawaban, tetapi yang terjadi malah sebuah percakapan yang kira-kira bunyinya begini:

“Permisi bu (sambil tersenyum dong, itu kan tanda keramahan) ini ada kiriman paket, saya dititipin, saya taruh dimana?” kata saya sambil menaruh paket tersebut di dekat meja ibu penerima paket.

“Tunggu sebentar, tolong antri ya” sambil tetap membenamkan matanya ke surat-surat di depannya. Mendengar itu maka legalah hati saya, karena itu memang masih pagi hari, sehingga saya tidak perlu terlalu terburu-buru. Maka saya duduk di sofa terdekat sambil mengamati hiruk-pikuk yang terjadi di ruangan tersebut.

Tetapi setelah sekian menit si ibu tersebut tampaknya tidak menyadari kehadiran saya, maka saya memberanikan diri untuk bertanya lagi “bu, saya mau kirim paket, bisa tolong dilihat sebentar?”

Sepatah kata langsung meluncur dari mulutnya: “antri ya.” Seketika saya memutarkan wajah saya ke sekeliling kantor tersebut untuk mencari objek yang dimaksudkan ibunya sebagai ‘antrian’ tersebut, setelah mencari dengan putus-asa (karena memang cuma ada saya di depan meja ibunya) saya menjadi agak gelisah, tetapi memutuskan untuk tetap diam dan berdiri disitu.

“Mana suratnya?” sepotong kata terluncur setelah pencarian dan penantian saya yang tidak lebih dari sepuluh detik itu.

“Sebentar saya cari, mungkin ada didalam paket tersebut” setelah mencari beberapa detik, saya menemukannya dan menyerahkannya kepada ibu tersebut.

“Mau dipasang dimana?”

Sayangnya dengan wajah agak bodoh saya menjawab “hah?”

“Kiriman ini kan untuk dipasang, mau dipasang dimana?”

Dengan rendah hati saya menjawab “Tidak tahu, saya cuma bertugas mengirimkan.” “Apa tidak ada didalam suratnya?”

“Tidak ada”

“Oh, lalu?”

Dia bertanya pertanyaan yang sangat lugu: “Jadi, bagaimana cara mengetahui tempat pemasangannya?” dengan tatapan yang seakan-akan sayalah objek kebodohan di dunia ini yang harus diberantas.

Saya menjawab dengan lugu pula “Ya, saya akan menanyakan pada yang mengirimkannya.”

Tanpa memandang saya lagi, ia mendiamkan saya begitu saja. Untungnya di tengah kebodohan saya, masih ada sedikit kecerdasan untuk mengenali syarat pengusiran dari sikapnya tersebut. Maka dengan agak lunglai saya berjalan keluar dengan hati yang sangat panas membara membakar sukma dan relung-relung jiwa saya. Sepenggal kalimat melintas di kepala saya: “Apa dia belum tahu siapa saya?”

Itu adalah sepenggal kisah nyata yang pernah saya alami dulunya. Tidak disangka-sangka seringkali pada saat kita melayani Tuhan, kita mengatakan biar hanya Tuhan saja yang dipermuliakan, ini semua yang kita lakukan hanya demi kemuliaan nama Tuhan, atau yang lebih canggih: Soli Deo Gloria. Tetapi pada saat kita yang dipermalukan, tiba-tiba saja teringat semua pengorbanan dan pelayanan yang pernah kita lakukan, dan mengingat semuanya itu, tampaknya kita tidak layak untuk menerima perlakuan semacam itu!

Pemikiran semacam ini sungguh sangat mengganggu saya sampai beberapa minggu. Saya tiba-tiba merasa sangat terpukul sekali, ketika saya mengenal sebuah kenyataan pahit, bahwa saya tidak benar-benar mengembalikan segala kemuliaan bagi Tuhan dalam setiap perilaku saya.

Tidakkah ini yang sering terjadi didalam hidup kita? Tidakkah ini menjadi momok dari setiap manusia di muka bumi ini? Bahwa hati kita sulit sekali mengakui bahwa kita hidup hanya karena oleh anugerah-Nya?

Terkadang dalam memilih pelayanan, secara tidak sadar (atau sadar?) yang manakah yang lebih menarik, menjadi tukang bersih-bersih ruangan atau menjadi koordinator dari para tukang tersebut? Lebih menarik mana, menjadi pencuci piring di dapur belakang atau menjadi pemimpin doa syafaat di kebaktian? Lebih menarik mana, dimuridkan didalam kelompok kecil atau menjadi pemimpin kelompok kecil? Lebih menarik mana, menjadi pengecek alat musik atau menjadi pemimpin pujian?

Terkadang kita lebih sering menghormati mereka yang melakukan pekerjaan yang besar dan langsung terlihat dihadapan umum, bahkan tidak jarang kitapun berpikiran bahwa ada beberapa pelayanan yang layak kita kerjakan dan ada yang tidak patut kita kerjakan. Tetapi hampir tidak pernah kita berpikir bahwa hal-hal yang besar merupakan sekumpulan dari hal-hal yang kecil yang mungkin tidak kita hargai sebelumnya.

Ternyata Tuhan berkata lain, terkadang Tuhan bahkan lebih berkenan pada mereka yang mengerjakan pekerjaan ‘kecil’ mereka yang tidak dilihat orang, tetapi dengan hati yang setia untuk memuliakan nama Tuhan seperti Yohanes Pembaptis “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”[1] Bahkan seorang Theolog pernah mengatakan pada suatu seminar pada pendeta-pendeta bahwa “Jangan-jangan di surga nanti kita malah akan lebih kecil jasanya dibandingkan dengan mereka yang dengan setia mendoakan kita di rumah!”

Apakah ada pekerjaan Tuhan yang besar ataupun kecil? Tentu saja ada, tetapi perkara yang besar malah akan lebih sering mencelakakan kita apabila perkara yang kecil seperti hati yang bersih tidak bisa kita penuhi dengan setia. Tuhan jauh lebih berkenan kepada umat-Nya yang mengerjakan setiap bagiannya dengan hati yang tulus dan setia.

Marilah kita merenungkan bersama dan mengecek hati kita sekalian, apakah hati kita sudah sedemikian mem’besar’? Marilah kita belajar untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan didalam hidup kita, baik besar maupun kecil dengan hati yang dengan tulus mempersembahkannya kepada Allah yang telah menyelamatkan kita yang tidak layak ini. Akankah kita masih mencuri kemuliaan Tuhan? Semoga Tuhan melindungi kita.

Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”[2]

07 November 2009

MessyDesk


[1] Yohanes 3:30

[2] Lukas 17:9-10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s