Kehormatan Yang Selayaknya

Ketika bencana dan kiamat terjadi didunia ini maka semua bangunan, tidak peduli besar ataupun kecil, harus hancur dan diratakan dengan tanah tanpa pandang bulu. Baik itu adalah gedung yang bernilai sangat besar ataupun itu adalah gedung yang tidak memiliki surat izin dipinggiran sungai sekalipun. Itulah konsep yang beredar melalui film-film tentang akhir zaman akhir-akhir ini. Saya tidak akan berbicara mengenai konsep akhir zaman disini, namun saya ingin berbicara mengenai apa yang saya perhatikan akhir-akhir ini. Suatu kali saya berbincang-bincang dengan teman saya yang baru saja menonton film tentang kiamat yang berjudul ‘2012’ tersebut. Menariknya, terlepas dari semua kontroversi mengenai film tersebut, teman saya mengajukan sebuah fakta yang menarik bahwa didalam salah satu adegan film tersebut diperlihatkan bahwa bangunan gereja Santo Petrus yang megah luar biasa itu hancur berkeping-keping dilanda bencana yang dahsyat tersebut. Mendengar itu teman saya yang lain tiba-tiba bertanya apakah ada bangunan religius lain yang ‘dihancurkan’ disitu, katakanlah, Mekkah? Ia menjawab sambil tersenyum menyadari maksud pertanyaan tersebut, dan mengatakan bahwa Mekkah tidak digambarkan hancur berkeping-keping oleh karena bencana tersebut.

Masih segar di ingatan kita ketika ada seorang pelukis yang membuat karikatur Muhammad di suatu Negara lain, sehingga protes dari berbagai kaum Muslim di seluruh dunia tiba-tiba menjadi satu untuk menyerukan bahwa itu merupakan pelecehan atas nabi mereka! Sementara di nusantara kita ini pernah beredar sebuah video yang memperlihatkan sekumpulan pemuda membanting-banting Al-Quran ke lantai sambil berusaha menengking roh-roh jahat keluar dari Al-Quran tersebut dengan meneriakkan nama Yesus. Tak perlu dipertanyakan lagi kewarasan dari ajaran yang tidak sehat mengenai roh-roh jahat didalam Al-Quran tersebut, tetapi ketika mendengar hal tersebut terjadi, bisa dibayangkan bagaimana reaksi kaum Muslim di Indonesia ini dalam menanggapinya. Perlu untuk diketahui bahwa kaum Muslim tidak pernah membawa kitab suci mereka lebih rendah daripada pinggang mereka, bahkan sebagian dari mereka sampai meletakkan kitab suci mereka diatas lemari buku, bukan didalam lemari buku mereka, oleh karena mereka menganggap itu adalah sebuah ‘kitab dari segala kitab’ yang tidak sepantasnya diletakkan dibawah buku-buku lainnya.

Saat saya berjalan-jalan di sebuah mall Surabaya yang sedang dihiasi dengan nuansa natal, saya melihat ada deretan stan penjualan berbagai pernak-pernik natal, dan salah satunya adalah penjualan salib-salib Kristus yang besar-besar, lengkap dengan patung Tuhan Yesus diatasnya. Hal yang menarik dan memicu pertanyaan didalam hati saya adalah ketika melihat bahwa sebagian besar salib-salib itu dijejerkan dilantai sementara sang penjual sibuk mengurusi barang dagangannya yang lain. Saya bertanya didalam hati “Apa orang itu tidak sadar bahwa ia sedang menjadi batu sandungan bagi saudara kita kaum Muslim? Sebenarnya siapakah Yesus itu bagi dia hingga ia sampai melakukan hal tersebut?” Saya sedih dan bergumul dalam hati karena ternyata saudara kita para kaum Muslim jauh lebih menghormati Muhammad ketimbang kita menghormati Yesus dan mereka juga jauh lebih menghormati Al-Quran mereka dibanding kita menghargai Alkitab kita.

Tentu saja saya tidak sedang membawa kita kepada penyembahan kepada patung salib dan Alkitab! Tetapi yang ingin saya bicarakan adalah sikap hormat kita kepada Yesus dan Alkitab yang telah diberikan kepada kita sebagai jalan untuk mengenali keselamatan yang begitu indah tersebut. Semisal kita diselamatkan oleh seorang dokter dari sebuah kanker ganas, apakah tindakan yang berbudi apabila saya melemparkan kotoran ke wajahnya!? Manusia yang punya tata krama dan memiliki hukum Allah didalam hatinya pastilah tidak akan melakukan hal yang sedemikian keji tersebut! Apalagi orang Kristen yang hatinya telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus! Tetapi tindakan tidak berbudi seperti yang saya gambarkan diatas sedang terjadi didalam diri kekristenan itu sendiri. Suatu ketika T.M. Moore seorang theolog pengamat budaya, didalam bukunya ‘Redeeming Pop Culture-A Kingdom Approach’ bercerita:

“Didalam sebuah kesempatan, saya  menghadiri sebuah konser rock didalam sebuah aula bawah tanah yang besar. Di panggung, sang gitaris melengkingkan gitarnya, sang drummer memukuli drum kulitnya dengan sangat, dan sang pemain bass memukul fretnya dengan liar, sementara mereka semua menyanyikan lirik yang ‘tidak jelas’ sampai ujung paru-paru, dengan lirik tentang who knows what. Saya dibelakang, mengamati para audiens. Tidak ada kursi di aula tersebut, dengan beberapa bantal dan bungkus kacang berserakan di lantai yang terbuka untuk mereka yang mau menari. Meskipun begitu, hanya ada sebagian kecil orang yang menari. Para penonton sebagian besar hanya berdiri sambil menonton, berbicara, melihat sekitar mereka, dan bertepuk tangan cukup sering. Mereka tampaknya tidak terlalu yakin apa yang harus mereka lakukan didalam situasi ini. Situasinya tentu akan menjadi lebih tidak ambigu, saya yakin, bila konser rock ini tidak dilaksanakan di ruang bawah tanah dari sebuah gereja. Kebiasaan budaya memberitahu kita bahwa kita tidak menari di gereja; tetapi sekali lagi, kebiasaan memberi tahu kita bahwa sangatlah tidak umum untuk melaksanakan sebuah konser rock di dalam gereja. Apakah kita seharusnya ada disini? Dan apa yang seharusnya kita lakukan karena kita ada disini, oleh karena izin dari otoritas gereja?”[1]

Musik Rock adalah sebuah aliran musik yang lahir dari filsafat eksistensialisme, yaitu sebuah filsafat kehidupan yang mementingkan sebuah ke’eksis’an diri. Mereka ingin dilihat dunia, maka tidak heran apabila kita menjumpai pada masa-masa ini mobil dan motor yang dilengkapi dengan knalpot-knalpot dengan suara yang memekakkan telinga. Mereka ingin merasa hadir, atau ‘tampil’ dihadapan dunia yang besar ini, oleh karena itu para penyanyi rock sangat mengandalkan dentuman drum dan lengkingan gitar yang over-excessive atau berlebihan, belum lagi dipadu dengan teriakan yang berusaha mengimbangi suara keras yang dihasilkan tersebut. Mereka ingin tampil dan terlihat! Sungguh kontras dengan Kristus yang telah “…mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”[2] Masihkah kita dapat mengatakan bahwa musik adalah sesuatu yang ‘netral’? Layakkah lagu yang berusaha memuliakan diri sendiri itu kita pakai untuk memuliakan Tuhan yang telah menyelamatkan kita tidak hanya dari kanker, tetapi bahkan dari kematian kekal? Terlebih ironis adalah ketika gereja berusaha mengakomodasi semua budaya yang ada disekitar mereka tanpa menggunakan karunia untuk membedakan roh dengan kritis. Tidaklah mengherankan bahwa kita tampak seperti sedang melemparkan kotoran ke wajah pencipta kita di hadapan mereka yang tidak percaya kepada Kristus sebagai Tuhan. Albert Einstein, setelah menelusuri dan meneliti ilmu alam semesta ini pernah sedemikian terkagum-kagumnya dengan alam semesta yang sedemikian kompleks, penuh dengan misteri dan penuh dengan kemuliaan  ini hingga berkata bahwa ia yakin pasti ada Allah yang menciptakan dunia ini. Tetapi sayangnya Allah yang ia sangka sedemikian agung dan berwibawa tersebut tidak ia lihat mendapatkan perlakuan yang layak dari mereka yang menyatakan bahwa mereka mengenal Dia!

Apabila kita melihat bagaimana saudara kita Muslim, sampai rela mempelajari bahasa yang bukan merupakan bahasa mereka sendiri demi mengerti ajaran yang mereka percaya sebagai wahyu dari Allah. Tidakkah seharusnya kita malu ketika kita merasa bahwa tidak penting untuk mempelajari doktrin (ajaran) yang diberikan Allah yang sedemikian mengasihi kita? Apakah sikap tersebut sekali lagi merupakan wujud dari hati kita yang sebenarnya memandang sepi kasih dan kemuliaan Kristus? Bila memang semakin bertambah banyak orang Kristen di dunia ini, mengapakah tidak semakin digalakkannya disiplin rohani? Tidak semakin berkembang moral bangsa? Mengapakah buku-buku rohani yang populer adalah buku-buku yang mementingkan kesuksesan diri saja? Ironis itu terjadi pada buku-buku Kristen! Melihat kondisi ini tidakkah ada hati kristiani yang sedih dan memohon dan bekerja keras untuk pemulihan dunia ini demi Tuhan?

John Newton mantan pedagang budak yang akhirnya diselamatkan oleh Tuhan menciptakan sebuah lagu:

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me.
I once was lost but now am found,
Was blind, but now I see.

T’was Grace that taught my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear
The hour I first believed.

Through many dangers, toils and snares
I have already come;
‘Tis Grace that brought me safe thus far
and Grace will lead me home.

The Lord has promised good to me.
His word my hope secures.
He will my shield and portion be,
As long as life endures.

Yea, when this flesh and heart shall fail,
And mortal life shall cease,
I shall possess within the veil,
A life of joy and peace.

When we’ve been here ten thousand years
Bright shining as the sun.
We’ve no less days to sing God’s praise
Than when we’ve first begun.

Lagu indah ini telah menggerakkan seorang William Wilberforce yang pada mulanya adalah seorang yang hedonis dan memiliki masa depan karir yang cemerlang didalam dunia politik akhirnya menghabiskan seluruh hidupnya menghadapi kebusukan politik yang melegalkan perbudakan, perjuangannya dilaksanakan hampir sendirian hingga hukum anti-perbudakan akhirnya dikukuhkan sebulan setelah kematiannya oleh karena kesehatannya yang terganggu demi memperjuangkan kemuliaan Kristus dinyatakan didalam dunia politik di Inggris. Perjuangannya memakan waktu hingga dua puluh enam tahun. Itulah kesetiaan yang lahir oleh karena menyadari kemuliaan Kristus yang sedemikian besar, hingga hati tidak rela apabila ada yang menistakannya, terlebih-lebih dirinya sendiri menjadi penista!

Berbicara pada saat khotbah disampaikan, makan permen saat khotbah disampaikan, terlambat saat datang ke kebaktian. Seringkali kita menganggap remeh kebenaran oleh karena kita tidak mengetahui nilai dari kebenaran tersebut, bila orang Kristen tidak menghargai kebenaran eksklusif mereka, lalu siapa yang akan menghargainya? Apakah kita berharap orang yang tidak mengenal Kristus memberikan hormat dan kemuliaan bagi-Nya meskipun mereka tidak pernah memiliki hubungan pribadi dengan Yesus?  Kristus telah diludahi dan dihinakan ketika Ia sedang melalui jalan salib bagi orang berdosa seperti anda dan saya, sudikah kita menghinakan dia lagi? Marilah kita memuji dan memuliakan nama-Nya dengan motivasi dan cara yang benar. Bukan karena Dia kurang mulia, namun karena Ia terlampau mulia.

Vincent Tanzil, 6 Desember 2009


[1] Moore, T.M. (2003). Redeeming Pop Culture – A Kingdom Approach. Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing

[2] Filipi 2:7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s