Resensi Buku: Questioning Evangelism – Randy Newman

Seringkali saat kita baru bersentuhan dengan apologetika didalam pembelajaran kita, muncul sebuah perasaan atau dorongan untuk ‘menguji’ kemampuan baru kita ini kepada para ‘orang bodoh’ yang tidak menyadari bahwa pemikiran mereka penuh dengan kontradiksi yang sebenarnya sangat kelihatan dengan jelas. Ini adalah gejala awal yang cukup lazim terjadi. Setelah cukup lama berkecimpung dengan banyak (atau mungkin hanya beberapa) ‘orang bodoh’. Dengan segera kita menyadari bahwa apologetika tidak selalu menyelesaikan masalah, malah apabila dimengerti dengan salah, akan lebih banyak membuat kepahitan daripada pertobatan! Pengalaman ini, pada akhirnya mulai menumpulkan ‘kasih mula-mula’ dari orang-orang Kristen yang mencoba untuk mempelajari apologetika, dan berakhir, dalam beberapa tingkatan ekstrim, menjadi pencela apologetika, atau menjadi pemegang fanatik apologetika dan akhirnya mempersalahkan semua kepahitan tersebut sebagai ‘…mereka menindas kebenaran’. Tentu saja ini mengandung kebenaran! Tetapi terkadang mungkin memang kita telah salah menggunakan umpan untuk mengejar buruan kita – ibaratnya seperti menggunakan sawi putih untuk memancing singa – dimana bukan hanya kita yang heran karena singa tersebut tidak mau mengambil umpan tersebut, tetapi singa tersebut juga sangat heran akan adanya manusia sebodoh ini!

Lalu apakah hati kita harus ciut apabila kita dilanda dengan kegagalan? Apakah kita harus berhenti mempelajari apologetika apabila dampaknya bisa demikian? Tentu saja tidak, apabila kita melihat bahwa apologetika kita beberapa kali gagal, bukan berarti kita lantas berhenti belajar, malah kita harus mempelajari dengan lebih sungguh  tentang bagaimana melakukannya dengan benar. Masakan apabila makan dapat mengakibatkan kegemukan, lalu kita berhenti makan?

Buku yang mendapat The Gold Medallion Book Award ini, mengupas bagaimana Tuhan Yesus dan Paulus seringkali menggunakan pertanyaan dibanding pernyataan ketika menjawab para penanya mereka. Tiga bab pertama dari buku ini juga memberikan dasar hikmat Salomo dari kitab Amsal untuk membedakan antara mereka yang mencari kebenaran dan mereka yang merupakan ‘orang bodoh’ dan bagaimana menghadapi mereka. Bab-bab berikutnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang umum ditanyakan oleh mereka dengan gaya dialog yang penuh dengan unsur humor yang membuat orang berpikir tanpa menghilangkan keseriusan dari percakapan penuh arti tersebut. Penulis yang telah lama bekerja sama dengan Campus Crusade (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia) ini tidak menggunakan bahasa yang terlalu teknis, dengan perkiraan pribadi saya, orang yang sangat awam sekalipun dapat mengerti kontennya dengan baik, oleh karena mudahnya bahasa yang digunakan dan banyaknya kisah-kisah percakapan menarik yang disampaikan dari pengalamannya selama dua puluh tahun melayani di kampus. Meskipun berbahasa Inggris, sekali lagi, menurut perkiraan saya bahasa yang digunakan tidaklah membuat hati menjadi ciut, karena penulis lebih banyak menggunakan vocabulary percakapan sehari-hari ketimbang istilah-istilah filosofis yang terlalu ‘tinggi’.

Akhir kata, buku ini sangat memberkati saya dengan kehangatannya, dan terutama juga, memberikan orang Kristen motivasi yang lebih untuk melakukan penginjilan tanpa dikuasai rasa takut yang berlebihan, ataupun keberanian yang cenderung nekat. Saya sangat merekomendasikan buku baik ini.

Buku ini dapat diperoleh di Perpustakaan Petra sekitar February 2010, atau dapat dibeli di Toko Buku Momentum di Andhika Plaza C/6-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40 Surabaya.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s