Writing Beyond The Ages (Menulis Melampaui Zaman)

Malam sunyi senyap, penuh dengan keheningan yang padat, namun ramai oleh ide-ide yang menari riang di kepala. Berbagai macam ide lewat dan lalu, seakan mengejek tubuh dan jiwa yang sudah letih dan tidak mampu untuk melakukan apa-apa lagi. Mereka seakan-akan berteriak di telinga “Dasar pemimpi!” Oh, meskipun kata itu sudah kudengar setiap malam, ditemani bantal dan guling, sering namun tak selalu, saya mengabaikannya. Tetapi hari ini secara khusus, ada sebuah kekuatan baru didalam hati, tidak bukan kekuatan ego, namun sebuah panggilan. Panggilan yang sangat kuat! Yakni untuk menuliskan ide-ide tersebut. Untuk apa, mungkin anda bertanya? Marilah, ikutlah didalam pergolakan jiwa ini, pergolakan mencari jawaban ini!

Pernahkah anda berpikir mengapa ada tulisan? Mengapa ketimbang berbicara secara audible, Tuhan memutuskan untuk memberikan tulisan untuk menjadi media firman-Nya? Ia memutuskan untuk menggunakan kata-kata untuk menyatakan kehendak-Nya hingga firman-Nya – yang berupa tulisan itu – akan kekal sampai selamanya. Mengapa bukan media yang lainnya saja?

Tulisan memang telah menjadi sebuah budaya yang tidak bisa dilepaskan dari manusia. Sebagian besar sejarah umat manusia telah kita kenali dan pelajari bukan dari kisah-kisah dari orang tua kita sebelum tidur, namun dari sebuah tulisan yang resmi mengenai apa yang telah terjadi pada zaman itu menurut pengamatan saksi mata itu sendiri. Contoh apakah yang bisa lebih jelas lagi selain daripada Kitab Suci kita sendiri? Saya pernah mengobrol panjang dengan teman saya di sebuah depot, tiba-tiba setelah mengobrol selama satu jam dengan asiknya, saya sadar bahwa kita tidak sedang membicarakan topik ini pada mulanya. Lalu saya bertanya pada teman saya apakah yang sebenarnya tadi kita bicarakan, dia menjawab dengan lugas dan tegas, “tidak tahu, sudahlah.” Anda paham maksudnya? Kita telah berbicara selama satu jam tanpa tahu apa yang kita bicarakan barusan!

Melalui artikel singkat ini saya akan mencoba menjelaskan keindahan dan manfaat dari tulisan, pengaruh tulisan kepada dunia, dan terakhir pengalaman dengan tulisan yang mengubahkan pribadi.

Keindahan dan manfaat dari tulisan

Satu hal yang menjadi keindahan dari tulisan adalah karena kita bisa yakin bahwa apa yang ditulis oleh seseorang adalah merupakan hasil pemikiran yang sudah dipikirkan sebelum dibaca oleh orang lain. Berbeda dengan berbicara, kita  bisa berbicara sebelum berpikir, tapi kita tidak bisa menulis sebelum berpikir! Saat kepala saya sedang penuh dengan pikiran-pikiran yang rumit, saya biasanya menuliskannya agar bisa saya pecahkan dengan lebih mudah. Kegiatan ini biasa saya sebut “membaca pikiran saya sendiri.” Setelah saya menuliskannya, saya mensistematiskannya dan membuatnya agar lebih mudah dibaca dan dimengerti, kegiatan yang ini saya sebut “menata pikiran saya” hingga akhirnya didalam satu proses menulis yang singkat kita telah mendapatkan beragam manfaat sekaligus! Yakni: (1) Mengetahui apa yang kita pikirkan, (2) Mengerti apa yang kita pikirkan (3) dan yang paling penting, menyampaikan pikiran kita dengan jelas dan sistematis. (4) tidak selalu, namun biasanya kita selalu ingat dengan apa yang pernah kita tuliskan.

Kita melihat bahwa Tuhan tidak ingin mengambil resiko yang sama seperti saya dengan teman saya saat Ia memberikan hukum taurat kepada Musa, Ia bahkan menuliskannya dengan jarinya sendiri (Keluaran 31:18). Bersyukur bahwa Allah memutuskan untuk menuliskannya, sehingga Tuhan Yesus dapat mengutipnya ketika berhadapan dengan iblis di padang gurun. Karena perkataan yang audible dapat terlupakan dengan cepat, namun sebuah tulisan dapat menjadi sebuah obyek yang dibaca ulang dan diteliti maknanya dengan berulang-ulang.

Pengaruh dari tulisan

Pernahkah kita bayangkan dimana dan kapan hukum ini ditulis? Hukum ini dituliskan ribuan tahun yang lalu di gunung Sinai di Timur Tengah, namun hukum taurat ini telah hampir diketahui oleh sebagian besar penduduk dunia ini. Tidak hanya ia telah dibaca dan diketahui oleh sebagian besar masyarakat dunia ini, namun firman Tuhan ini bahkan telah sampai ke tangan kita dengan selamat, kita renungkan siang dan malam, dan firman ini mengubahkan seluruh kehidupan kita. Melalui apa? Melalui tulisan.

Suatu kali saya menonton sebuah film melodrama dari Jepang yang pernah ‘dibajak’ oleh sinetron Indonesia. Saya tiba-tiba begitu terenyuh oleh kisah mengharukan yang dipaparkan oleh film tersebut, hingga saya memutuskan untuk menutup dan mengunci kamar saya supaya tidak perlu ada saksi mata akan air mata saya! Saya juga pernah membaca sebuah literatur yang bercerita mengenai Allah yang menguatkan iman salah seorang hamba-Nya – seorang tawanan perang – di perang Vietnam dengan robekan kertas Roma 8 yang ditemukan di jamban penjara. Hasilnya? Saya terharu sekali lagi dan memutuskan untuk percaya kepada Allah untuk segala hal yang akan terjadi pada kehidupan saya kedepan-Nya.

Tulisan – seperti saat anda menonton bioskop, dapat mempengaruhi emosi dan pemikiran kita secara signifikan. Tidak ada gunanya menulis tanpa memberikan pesan. Buku karya Friedrich Nietzsche (1844-1900) “Thus Spake Zarathustra” yang menyatakan kematian Allah dan mencetuskan “God is dead movement” dibaca oleh Adolf Hitler, dan dalam waktu singkat dipraktekkannya pada dunia – hasilnya adalah abad paling berdarah sepanjang sejarah peradaban dunia. Satu buku tersebut – setelah lewat tiga puluh sembilan tahun kematian penulisnya – secara tidak langsung telah membunuh korban perang lebih besar dibandingkan dengan korban seluruh perang di dunia selama 2000 tahun dijumlahkan, hanya dalam perang enam tahun.

Anda telah melihat bahwa tulisan adalah sebuah media yang sangat dahsyat, Allah tidak sembarang memilih media ketika Ia merencanakan firman-Nya untuk selalu diingat dan dilaksanakan oleh umat-Nya.

Pengalaman dengan tulisan yang mengubahkan pribadi

Ketika saya belum mengenal kasih Kristus, saya pernah tertarik dengan sebuah poster di dinding kamar kakak saya yang bergambarkan Kristus dan bertuliskan seperti ini:

Our Father Knows Best

Our father knows what’s best for us

So why should we complain

We always want the sunshine

But he knows there must be rain

We like the sound of laughter

And the merriment of cheer

But our hearts will lose their tenderness

If we never shed a tear

Our father tests us often

With suffering and with sorrow

He tests us, not to punish us

But to help us meet tomorrow

For growing trees are strengthened

When they withstand the storm

And the sharp cut of the chisel

Gives the marble grace and form

Our father never hurts us needlessly

And he never waste our pain

For every loss he sends to us

Is followed by a rich gain

And when we count the blessings

That god has so freely sent

We will find no cause for murmuring

And no time to lament

For our father loves his children

And to him all things are plain

So he never sends us pleasure

When the soul’s deep need is pain

So whenever we are troubled

And when everything goes wrong

It is just god working in us

To make our spirit strong

Sampai hari ini saya tidak tahu siapakah penulis dari puisi yang indah ini, namun beranjak dari tulisan ini, Tuhan telah menuntun saya hingga akhirnya saya mengenal Allah yang disembah oleh penulis tersebut.

Takut salah menulis adalah sebuah alasan yang sering diajukan, namun alasan ini seharusnya tidak cukup kuat untuk menahan kita dari menulis, sebab lebih baik pernah menulis dengan benar sekali dari tiga puluh tulisan daripada tidak pernah menulis sama sekali. Apakah tulisan diatas adalah karya satu-satunya dari sang penulis? Saya kira tidak, saya percaya dari sekian banyak tulisannya Tuhan telah memutuskan untuk menggunakan tulisannya yang satu ini untuk memberkati saya, mengapa kita tidak memiliki iman yang sama? Berdoalah Tuhan memakai tulisan anda!

Menulis adalah sebuah pekerjaan yang sangat memakan waktu namun tidak termakan oleh waktu, dituliskan pada satu tempat namun tersebar di berbagai tempat, dipikirkan oleh satu orang namun diserap ribuan hingga jutaan orang – menulis adalah pekerjaan yang melampaui zaman.

Tulisan terkadang dapat berpetualang lebih jauh daripada yang pernah dipikirkan penulisnya. Saya tidak tahu dimanakah anda sekarang, kapankah anda membaca tulisan ini, pikiran apa yang sedang ada di kepala anda, tergerakkah anda untuk menulis? Tergerakkah anda untuk turut menggarami dunia? Marilah!

Vincent Tanzil, 27 January 2010

8 Comments

  1. hahaha, setuju bro, trus terang q baru baca tulisan ni tapi sangat menegur n memotivasi saya untuk memulai menulis..
    thx ya bro.. Gbu more..

    1. Thanks brother, saya berharap bisa segera membaca tulisan-tulisan anda. Hahaha, kalau mau baca soal menulis lagi ada ini: Mesin Tik, Laptop, dan Tulisan. Itu perenungan saya yang terakhir soal menulis. Selamat membaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s