Konsep dan Aksi: Darah dan Daging Orang Kristen (Concept and Act: Christian’s Flesh and Blood)

Apakah yang lebih penting? Memiliki pengetahuan yang luas mengenai kekristenan atau memiliki perilaku Kristen yang baik? Pertanyaan ini telah lama menjadi momok bagi kedua belah pihak, baik mereka yang mengatakan bahwa yang pertama harus ada agar yang kedua bisa dilaksanakan maupun yang mengatakan bahwa yang kedua jauh lebih penting daripada menjadi orang farisi seperti yang pertama. Tulisan singkat ini berusaha untuk menyelesaikan masalah yang sudah semakin pelik ini dengan mengintegrasikan konsep dengan aksi tanpa mengorbankan salah satunya.

Kontras Konsep dengan Aksi

Kalau kita perhatikan, Alkitab kita menyatakan bahwa mereka yang memiliki pengetahuan yang banyak adalah orang-orang yang paling sering dikutuk oleh Allah karena tidak melakukan kebenaran yang sudah mereka ketahui dan bahkan hapalkan! Kata-kata yang paling sering dilabelkan bagi mereka yang berada di golongan pertama ini adalah “Munafik” Sementara agaknya Alkitab cukup toleran bagi mereka yang lebih memilih untuk memiliki kehidupan kekristenan yang baik, meskipun memiliki pengetahuan yang kurang. Kata-kata emas yang sering dipakai oleh kelompok ini adalah “Kasih”

Kelihatan sekilas bahwa pilihan kedua nampak jauh lebih rohani dibandingkan yang pertama. Tetapi saya ingin mencoba memperlihatkan bahwa kehidupan yang kedua ini tidak nampak sebaik yang kita lihat apabila diletakkan didalam konteks kita. Mari kita berpikir sejenak: apabila anda melihat adanya orang-orang yang kelaparan dipinggir jalan sementara anda memiliki makanan berlimpah ditangan anda, apakah yang akan anda lakukan? Dengan jawaban paling rohani kita akan berkata bahwa kita akan segera memberikan orang tersebut makanan – tentu saja saya mengatakan ini bukan dengan maksud sinis terhadap tindakan penuh kasih ini – tentu saja ini adalah sebuah kebajikan, apalagi mengingat kita memiliki makanan berlimpah ditangan kita! Tetapi apabila kita perhatikan, kebajikan ini bukanlah soal memberikan makanan kepada seseorang (yaitu sekedar aksi saja), anda tentu tidak mengatakan seorang yang membelikan makanan terus menerus kepada orang yang obesitas sebagai sebuah kebajikan bukan? Tetapi inti dari kebajikan ini adalah memberi kepada mereka yang memerlukan – dengan arti mengorbankan apa yang kita miliki demi memberkati orang lain, dan Tuhan kita menuntut lebih jauh untuk sesuatu itu dapat dikatakan sebagai kebajikan, yakni memberi didalam kekurangan kita (konsep).

Apabila kita menyetujui definisi diatas, maka seharusnya kita tidak perlu terjebak dengan pertanyaan yang saya ajukan diawal. Apa sajakah kebutuhan seorang manusia? Beragam tentunya, ada yang membutuhkan perhatian, makanan, bimbingan, dan lain sebagainya termasuk pengetahuan. Semua kegiatan untuk memenuhi kebutuhan mereka ini, kalau boleh saya katakan, seharusnya adalah perwujudan dari kasih. Alkitab berkata, percuma kita mengatakan bahwa kita mengasihi seseorang, namun kita tidak berbuat apa-apa demi orang tersebut, namun Alkitab juga berkata bahwa berbuat banyak kebaikan pun bukanlah indikator dari kasih yang sejati. Karena itulah kita harus memiliki hati yang penuh kasih, dan sebab itu kita berbuat banyak kebaikan! Tidak ada salah satu bagian yang lebih penting atau kurang penting, kedua-duanya tidak boleh dipisahkan.

Kita lihat, bahwa konsep (kasih) dan aksi (perbuatan baik), adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Sebuah konsep tanpa aksi adalah seperti orang farisi. Namun sebuah aksi tanpa konsep secara tidak sadar akan mulai menggerus kita jatuh kepada spirit legalisme dari orang farisi. Jadi apabila kita hanya mengambil salah satu dari ekstrem tersebut, maka kita akan terjerumus menjadi seperti orang farisi yang diberikan kata yang cukup menusuk oleh Tuhan kita, yaitu : ”Celakalah!

Konsep dan Aksi yang Integratif

Pada saat perang dunia ke-II yang diprakarsai oleh Hitler. Seorang pendeta muda bernama Dietrich Bonhoeffer (1906-1945) bersuara amat keras untuk melawan kekejaman rezim Hitler. Pendeta gereja Lutheran ini lahir dari keluarga yang merupakan fisikawan yang ternama. Ia menyelesaikan sekolah theologinya pada Universitas Tubingen dan Berlin, lalu ia mengambil studi doktoralnya di Union Theological Seminary, akhirnya ia mengajar theology di Berlin hingga musim gugur tahun 1931.

Bonhoeffer bergabung dengan Confessing Church, yang melawan usaha Nazi untuk memasukkan anti-Semitisme (paham anti-Yahudi) kepada gereja dan masyarakat. Meninggalkan Berlin sebagai protesnya ia menghabiskan waktu dua tahun (1933-1935) di gereja Jerman di London. Pada tahun 1935 terpanggil untuk kembali ke Jerman di tengah kuatnya penekanan dari Nazi, ia menjadi direktur seminari gelap di Finkenwald, Pomerania. Yang akhirnya ditutup oleh Gestapo; setelah mulainya PD II (Perang Dunia ke-II), Bonhoeffer bergabung dengan aksi politis penentangan kepada Hitler yang akhirnya membawanya ke penjara pada April 1943 di Berlin dan pada kematiannya dengan tiang gantung pada 9 April 1945, beberapa saat sebelum Hitler bunuh diri dan mengakhiri PD II.

Sebelum kematiannya ia menuliskan banyak buku, baik mengenai theology modern, maupun mengenai konsep pemuridan yang radikal. Di salah satu bukunya “Mengikut Yesus” yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, beliau menuliskan mengenai ketaatan: “Tidakkah perlu sebelumnya saya mengetahui bagaimana saya harus bertindak? Jawabannya tidak lain daripada: lakukanlah dan engkau akan mengetahui. Engkau terpanggil untuk taat. Apakah taat? Itu hanya saya ketahui dengan menjadi taat, bukan bertanya-tanya. Baru dalam ketaatanlah saya belajar untuk mengenal kebenaran.[1] Disinilah ketika sebuah konsep yang setingkat doktoral, bersatu dengan aksinya yaitu pemuridan yang radikal. Konsep dengan aksi tidak boleh dipisahkan, demikian pula aksi dengan konsep adalah dua sisi koin yang tidak terpisahkan.

Konsep dan Aksi: Darah dan Daging Orang Kristen

Realita perpecahan antara konsep dengan aksi ini sebenarnya bukanlah sebuah barang baru, alias sudah menjadi warisan yang nyaris menjadi kutuk di sejarah umat Kristen. Pertanyaan yang harus kita renungkan dengan seksama disini adalah memutuskan untuk meneruskan kutuk ini atau menyelesaikannya disini sehingga iblis ditendang keluar jauh-jauh dari kegerakan orang Kristen.

Zaman kita tidak berkekurangan orang yang penuh dengan aksi

Zaman kita tidak berkekurangan orang yang penuh dengan konsep

Namun, zaman kita tidak pernah kelebihan orang yang penuh dengan konsep dan aksi!

Kristus tidak berbuat tanpa mengajar, Ia juga tidak mengajar tanpa berbuat. Mengajar membutuhkan belajar, perbuatan membutuhkan pengorbanan. Inilah darah dan daging orang Kristen! Tanpanya, kita hanyalah garam yang telah menjadi tawar.

17 February 2010

Vincent Tanzil


[1] Boenhoffer, Dietrich. (1937). Mengikut Yesus (18). BPK Gunung Mulia Jakarta (Terjemahan).

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s