Pelayanan Yang Berakar Kuat (Sharing Astor)

Pada awalnya saya adalah orang yang sangat membenci kekristenan yang menurut saya adalah agama yang penuh dengan kemunafikan dan rasa sengketa yang tinggi. Tetapi setelah bergumul panjang, Tuhan mempertemukan saya dengan astor[1] saya saat saya menjadi mahasiswa baru di Universitas Kristen Petra. Saat itulah saya melihat bagaimana Firman Tuhan diaplikasikan kedalam hidup seorang Kristen. Meskipun saya menyadari kekurangan-kekurangannya sebagai seorang manusia biasa, tetapi entah kenapa oleh karena pengorbanannya yang mungkin terlihat sederhana bagi banyak orang (kesabaran dan pengertian), saya mulai memikirkan ulang mengenai kekristenan. Saya mulai merasa bahwa agama Kristen tidaklah seburuk itu, dan bahkan saya berpikir untuk menjadi astor! (saya masih agama Tao pada saat itu)

Saya menerima Tuhan Yesus setelah bergumul didalam dosa selama setengah tahun pasca-tutorial di U.K. Petra. Ada banyak peristiwa yang Tuhan rangkaikan hingga hari penerimaan saya kepada Dia, namun yang paling tidak terlupakan oleh saya adalah ketika saya ditolak untuk menjadi pembimbing peran oleh karena agama saya yang non-kristiani. Saat itu saya bertemu lagi astor saya (saya ingin menjadi astor oleh karena ingin meneladani astor saya) dengan perasaan yang sangat kecewa oleh karena ‘diskriminasi’ yang baru saja saya alami. Saya bertanya kepada dia ‘mengapa harus beragama Kristen?’ dan dia menjawab dengan nada yang rendah ‘Vincent, bagaimana kamu mau mengajarkan sesuatu yang tidak kamu percaya?’ Saya dengan cukup shock bertanya ‘Memangnya kalian percaya apa toh?’ Dia hanya tersenyum, dan saya langsung meninggalkan dia karena masih merasa kecewa.

Tidak lama setelah itu saya benar-benar memikirkan mengenai apakah yang dipercaya oleh orang Kristen sebenarnya? Sampai tiba harinya, dimana tidak sampai setengah tahun setelah peristiwa diatas, akhirnya saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Dimana setelah mengalami kehidupan yang baru tersebut saya sudah tidak sabar untuk membagikannya kepada mereka yang belum mengenal Kristus! Akhirnya saya mendaftarkan diri menjadi astor dan diterima.

Ketika saya pertama kali saya mengastori, ada banyak sekali kejadian yang sangat melemahkan semangat saya dalam mengastori. Tetapi ketika saat-saat itu saya selalu teringat bahwa dahulunya saya juga tidak layak untuk bahkan diperhatikan! Saya selalu teringat bahwa saya yang dahulunya adalah penista Tuhan, sekarang mau dipakai oleh Tuhan yang maha-kudus dan pencipta langit dan bumi serta segala isinya! Apakah saya sudah sedemikian ‘kudus’ hingga bisa memilah-milah siapa yang ‘pantas’ saya layani atau tidak layani? Jika tidak ada orang yang memulai mengorbankan sebagian waktu, tenaga dan perhatiannya, untuk saya yang tidak ‘pantas’ ini mungkin saya tidak akan pernah mengenal Kristus, lalu atas dasar apakah saya mengasihani diri oleh karena situasi yang sulit ini? Pikiran sedemikian selalu menolong saya untuk bertahan dengan setia di ladang penuaian yang sebenarnya tidak sesulit yang biasa dipikirkan orang pada umumnya.

Ketika materi terakhir tutorial saya yang pertama, saya tiba-tiba merasakan bahwa semua beban yang saya pikul akhirnya dapat saya lepaskan! Saya datang dengan sangat senang ke tempat janjian kita untuk tutorial terakhir ini. Tetapi ketika kita tiba pada penghujung materi, tiba-tiba hati saya sangat terharu bahwa saya tidak akan melayani mereka secara kelompok lagi setelah setengah tahun kita bersama. Saat itulah, saya memutuskan untuk melanjutkan menjadi seorang astor, bukan hanya karena melihat kebutuhan mereka yang akan dilayani, tetapi juga oleh karena melihat kebutuhan saya yang tidak akan pernah belajar untuk mensyukuri berkat yang sudah demikian Tuhan berikan berlimpah-limpah apabila saya tidak melayani mereka yang membutuhkan. Seperti kata Pdt. Stephen Tong bahwa beban yang membuat kita semakin leluasa dan enak itu bukanlah beban sama sekali! Itu hanyalah alasan kita untuk menutupi kemalasan dan hati kita yang tidak mau melayani! Yang benar ketika kita menghadapi sebuah beban yang berat bukanlah mengeluh bahwa beban kita terlalu berat, namun kita harusnya berkata kepada Tuhan untuk memberikan punggung yang lebih kuat untuk menanggung beban yang lebih banyak lagi! Apakah masih kurang ladang pelayanan di dunia ini? Ladang pelayanan sangat banyak, tetapi pekerja sedikit. Itulah semangat pelayanan, apabila kita melayani hanya untuk demi kesenangan kita sendiri, maka pastilah kita kaget ketika bertemu kesusahan, justru kita melayani oleh karena ada harga yang harus dibayar, dan harga itu tidak murahan.

Kata-kata ‘tidak layak’, ‘belum pantas’ itu sebenarnya adalah sebuah kesombongan yang tersembunyi untuk menolak sebuah pelayanan. Bila kita perhatikan lagi, siapakah yang layak menjadi pelayan Tuhan? Justru kita melayani oleh karena kita tidak layak, tetapi Tuhan toh masih mau pakai kita, masakan kita sedurhaka itu untuk tidak melayaninya sungguh-sungguh? Inilah semangat melayani yang seharusnya ada. Apabila seorang pelayan Tuhan memahami esensi dasar ini, maka seharusnya keluhan-keluhan menjadi rasa syukur bahwa kita boleh beroleh persekutuan dengan penderitaan Kristus lebih dalam lagi tanpa jatuh kepada ekstrim mengasihani diri yang cengeng.

C.T. Studd misionaris yang melayani selama puluhan tahun di Cina dan Afrika pernah mengatakan ‘Bila Yesus Kristus yang adalah Allah dan mati bagi saya, maka tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk saya berikan kepada Dia.’ Ini bukanlah kata-kata orang yang seumur hidupnya diam di rumahnya hidup damai, tetapi orang ini telah melewati medan-medan sulit yang sangat jarang dilalui orang Kristen pada umumnya. Tidakkah kita juga rindu untuk mengatakan hal yang sama dengan dia? Kesalahan dan ketidaksempurnaan akan selalu ada didalam diri setiap kita, tetapi justru dengan melayanilah kita akan terus diberikan kekuatan untuk semakin serupa dengan Dia. Tidakkah kita rindu akan hal itu? Ladang pelayanan sudah ada didepan kita. Marilah kita melayani dan bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan!


[1] Astor adalah singkatan dari asisten tutorial mata kuliah etika. Dimana di U.K. Petra seorang astor adalah seorang yang melayani mahasiswa baru didalam kelas-kelas kecil untuk mengajarkan aplikasi praktis dari konsep yang telah diajarkan di mata kuliah etika. Program ini berlangsung selama satu semester pertama mahasiswa baru sebagai kelanjutan dari PPPKMABA yang merupakan program orientasi mahasiswa U.K. Petra.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s