Kesalahan yang Mengherankan

Duduk didalam sebuah kotak dingin, berjalan mengarungi jalan kota Surabaya demi mencapai sebuah tujuan. Berbagai macam hal ada didalam kotak tersebut, ada seorang yang berdiri memandang dengan kosong namun teliti apabila ada gerak-gerak akan berdiri dan meninggalkan tempat duduknya, ada seorang yang sibuk dengan handphonenya, sebuah barang yang entah menjadi kutuk atau berkat bagi manusia, sibuk memijat tombol-tombol guna menyatakan pesan gombal-rianya kepada kekasihnya nun jauh disana, ada seorang yang tinggi besar dan gagah, berjenggot lebat namun pas dengan postur tubuhnya duduk dan termenung melihat jalanan kota – entah apa yang dilamunkannya, masa depankah? Masa lalukah? Ada begitu banyak peristiwa dan kegiatan yang layak dicermati didalam kotak sederhana tersebut. Mungkin kotak tersebut hanya akan melewati aspal-aspal di kota Surabaya tanpa seorangpun pernah menyadari akan kehadirannya. Mungkin kehadirannya hanya akan disimak apabila ia membunyikan trompet sedihnya di tengah jalan, perhatian manusia dengan berbagai kepentingan pribadinya akan berbalik ke arahnya – hanya untuk melontarkan sedikit makian apabila tidak acuh sama sekali. Tetapi tiba-tiba bis ini memekakkan telinga pengguna jalan lain dengan cara memecahkan bannya sebagai tanda kelelahan memutari jalanan yang membosankan. Namun ia tidak hanya mengejutkan orang dengan bunyinya, ia membantingkan tubuhnya, menghantam, meluluh-lantakkan sebuah trotoar pembatas jalan, sekaligus melenyapkan nyawa dan beberapa bagian tubuh manusia yang terkandung didalamnya. Jeritan-jeritan terdengar, semua mata tertuju kepadanya, untuk saat yang sangat jarang akhirnya ia mendapatkan perhatian. Tetapi apakah gunanya perhatian demikian? Bis itu menghelakan nafasnya, ia lelah berusaha sepanjang waktu berjalan di aspal yang sama setiap harinya – tetapi mungkin yang jauh lebih melelahkannya adalah beban yang dibawanya setiap hari, ya, beban mereka yang berjalan tanpa tujuan, mereka yang putus asa dan mencari pengharapan, mereka yang rindu akan seorang yang cukup berani untuk menyatakan kebenaran dihadapan wajah mereka, mereka yang terhilang didalam bis yang terhilang.

Adakah kebenaran diwartakan? Adakah Injil disampaikan? Adakah memang sebuah kabar baik sebenarnya? Kalau memang ada, dimanakah mereka yang katanya telah mendengar kabar baik tersebut? Dimanakah mereka yang katanya telah mengalami sendiri kebaikan dari kabar tersebut? Apakah ini tidak bisa dijadikan sebuah alasan bahwa kabar baik tersebut hanyalah delusi sementara bagi mereka yang berada didalam komunitas tertentu dan dalam tempo tertentu dan dalam tempat tertentu? Bukankah ini sama saja dengan tidak adanya kabar baik sama sekali? Tetapi, apabila kalau-kalau memang ada kabar baik itu, dan memang ada mereka yang telah mendengar kabar baik itu, merasakan kebaikan kabar tersebut, mengapakah mereka terdiam? Ketakutankah?

Mereka berkata bahwa Allah itu ada, namun mereka tidak percaya kepadanya, mereka berkata bahwa Allah Maha-Kuasa, namun mereka dikuasai oleh ketakutan, mereka berkata bahwa Allah Maha-Tahu, namun mereka dikuasai oleh kekhawatiran, mereka berkata bahwa Allah Maha-Pengasih – sampai-sampai merelakan Anak-Nya yang tunggal demi mereka, namun di hati mereka tidak ada kasih. Apakah sebenarnya perbedaaan mereka dengan mereka yang tidak berkata bahwa Allah itu ada?

Herankah kita? Memang ini hal yang patut diperherankan memang. Sayang keheranan ini tidak lagi berguna, kotak yang fana tersebut sudah terlalu lelah membawa beban dosa demikian banyak orang. Ia memutuskan untuk membuang beban tersebut ke tempat satu-satunya yang ia tahu – kematian kekal.

Salah siapakah ini? Kita bertanya didalam hati, salah Tuhankah?

7 Maret 2010

Vincent Tanzil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s