Pemuda dan Mahasiswa – Sebuah Perenungan

Kemudaan – adalah sebuah aset yang sangat diharapkan oleh banyak manusia. Aset ini Nampak begitu berharganya sampai seseorang yang saleh mungkin dapat mencurigainya sebagai sebuah berhala. Memang apabila kita melihat iklan-iklan kecantikan, olahraga, dan berbagai media lainnya, tampaknya memang kemudaan adalah sebuah aset yang bukan hanya berharga, namun harus dipertahankan berapapun harganya! Mengapakah demikian? Apakah kemudaan adalah memang sebuah aset yang sangat berharga? Bila memang berharga, lantas bagaimanakah kita harus bersikap dengan kemudaan orang lain dan kemudaan diri kita sendiri?

Saya termasuk orang yang gemar mengikuti seminar-seminar, secara khusus yang berkaitan dengan kekristenan. Entah, sudah berapa banyak waktu dan uang yang saya gunakan demi mengikuti berbagai seminar di Indonesia ini. Tetapi pada saat saya mau mendaftar seminar-seminar ini, ada sesuatu dalam diri saya yang senantiasa bertanya sebuah pertanyaan penting (dan saya kira itu mahasiswawi), yakni “berapakah harga seminar tersebut?” Bila pertanyaan pertama ini tidak dijawab dengan memuaskan, maka pertanyaan kedua terburu-buru muncul, “apakah ada harga khusus untuk mahasiswa?” Tidak terlalu mengejutkan bagi saya bahwa banyak yang memberikan ‘harga kehormatan’ tersebut! Mungkin anda dan saya mengkerutkan dahi kita dan mulai berpikir akan asal muasal pertanyaan tersebut – “harapan” dibalik pertanyaan tersebut. Darimanakah? Saya kira itu timbul dari sebuah rasa penyesalan.

Ravi Zacharias pernah ditanyai oleh seorang mahasiswa pada sesi Q&A: “Apakah penyesalan saudara selama melayani Tuhan selama ini?” Pertanyaan tersebut mengejutkan Ravi, dan juga mengejutkan saya. Ketika seorang beranjak dewasa, orang cenderung menyesali masa mudanya. Ya, bahkan tokoh yang memiliki hikmat seperti Salomo! Namun apakah kita harus senantiasa menunggu tua baru menyesal? Penyesalan selalu diidentikkan dengan kegagalan, ini separuh benar. Menurut saya kegagalan adalah elemen yang penting dalam kepemimpinan – tidak ada kegagalan tanpa suatu inisiatif percobaan. Lebih baik menyesal karena mencoba daripada menyesal karena tidak pernah mencoba. Seperti kata Theodore Roosevelt, presiden ‘cowboy’ America:

Bukan kritikan yang penting, bukan juga dia yang menunjukkan bagaimana orang yang kuat tersandung atau dalam hal-hal apa para pelaku dapat melakukannya dengan lebih baik. Pengakuannya adalah kepunyaan dia yang sesungguhnya berada di arena; yang wajahnya penuh dengan debu dan keringat dan darah; yang berjuang dengan berani. Dia yang berbuat salah dan memiliki curahan diri yang besar. Yang lelah karena sebab yang layak. Yang akhirnya paling tahu arti kemenangan dari prestasi yang tinggi ; dan yang setidaknya, jika ia gagal, gagal dengan berani, sehingga tempatnya tidak akan pernah bersama-sama dengan jiwa-jiwa kerdil yang tidak tahu arti kemenangan dan kekalahan

Kembali kepada pertanyaan ‘harga terhormat’ tersebut, mengapa mahasiswa? Karena mahasiswa memiliki semangat yang besar dan bergelora. Sudah bukan isapan jempol belaka lagi saat keruntuhan kerajaan Orde Baru dipicu oleh kegerakan mahasiswa. Namun semangat yang nyaris menghanguskan tersebut harus senantiasa dibekali. Karena inilah yang membedakan seorang pemuda dengan semangat berkobar, namun menghanguskan ladang mata pencahariannya sendiri, dan pemuda dengan semangat yang berkobar terfokus seperti laser – mampu membelah baja! Semangat yang tidak kosong, tetapi berisi. Membara, namun berpagar. Bagi seorang mahasiswa sebuah buku bagaikan sebilah pedang pembelah berlian, sekaligus sebagai seorang penasihat perang. Saya teringat sebuah kalimat terpampang di depan toko buku Toga Mas “Mau belajar tanpa baca buku adalah omong kosong.” Saya tidak perlu berkomentar lebih lanjut.

Sebenarnya tulisan ini merupakan perenungan pribadi pada tahun ke-22 kehadiran saya di dunia ini. Demikian banyak perubahan yang telah Tuhan bentuk dalam diri saya, namun melihat sejarah Indonesia menahan saya untuk berpuas diri. Johannes Leimena pada saat berumur 23 tahun mempersatukan pemuda Indonesia, W.R. Soepratman pada umur yang sama menciptakan lagu “Indonesia Raya” yang masih kita kumandangkan pada beberapa dekade setelahnya ini. Hati saya berkobar melihat banyaknya yang dapat dicapai oleh seorang pemuda yang berdedikasi!

Memang ada sebuah bahaya motivasi yang bersifat aktualisasi diri. Namun yang saya maksudkan adalah berkarya pada masa keemasan kita, dan harapannya memang sampai masa berkaratnya kita! Gambaran mahasiswa yang belajar dan memiliki visi yang berkobar tersebut jauh lebih potensial dan hidup dibandingkan mereka yang puas dengan hati yang kerdil berselubungkan slogan ‘kerendahan hati.’ Melihat fenomena ini Ravi Zacharias berkata “Impian-impian orang muda terkadang memang liar, tetapi impian itu tidak akan pernah bisa dikoreksi dengan cara mengolok-ngoloknya. Impian itu harus diarahkan dengan suara yang penuh kasih, yang membuat suara itu patut didengar, bukan dengan otoritas yang dipaksakan.”[1] Ini merupakan teguran baik kepada mereka yang sudah tidak muda maupun mereka yang masih muda. Bagi yang tidak muda untuk mengingat bahwa sangatlah bermakna bagi orang muda untuk mendapatkan dukungan dan penghargaan dari mereka yang lebih senior, dan bagi mereka yang muda bahwa impian kita terkadang memang liar.

Masa muda, sedemikian indahnya. Bukan untuk dinostalgiakan, bukan untuk diinginkan, namun untuk dimaksimalkan. Adakah kata terlambat? Ia sudah di depan mata pada saat kita mengatakan “masih belum terlambat.”

17 April 2010


[1] Zacharias, Ravi. Jesus Among Other Gods. Bandung:Pionir Jaya. 2006 (27)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s