Belajar Dari Orang Yang Tidak Begitu Saleh

Alcoholics Anonymous adalah sebuah organisasi yang isinya merupakan orang-orang pecandu alkohol, atau setidaknya orang-orang yang mantan pecandu alkohol. Kegiatan dari perkumpulan tidak umum tersebut adalah saling berkumpul dan mengusahakan agar satu demi satu dari mereka bisa disembuhkan dari kecanduan minuman ‘bahagia’ tersebut. Bahkan beberapa orang yang sudah bebas dari jerat alkohol akhirnya berbalik ke organisasi untuk menolong mereka yang masih bergumul dengan kecanduan mereka.

Hal yang menarik dari kelompok ini sebenarnya adalah nama dari perkumpulan tersebut yang memberikan kesan bukan sebuah perkumpulan yang ‘wah’, apalagi prestigius, namun memberikan kesan perkumpulan orang yang disebut juga sampah masyarakat. Lagipula, memangnya kita butuh lebih banyak pecandu alkohol di dunia ini?

Apabila kita mendaftar sebagai sebuah perkumpulan mafia, bukankah itu mempengaruhi status kita menjadi mafia juga? Demikian pula saya kira dalam kelompok eksentris ini. Ketika seseorang mendaftarkan diri dalam pertemuan tersebut, sebuah resiko mengenai nama baik pribadi dan keluarganya sedang dibawa menuju pertaruhan! Namun kelompok ini menyadari bahwa mereka memang bukan orang-orang yang layak untuk dipandang sebagai orang terhormat, karena itu langkah pertama yang harus mereka ambil adalah mengakui bahwa mereka adalah pecandu alkohol sedemikian rupa hingga tidak bisa mengkontrol kehidupan mereka dengan baik. Hal ini merupakan persyaratan mutlak untuk seseorang yang mau bergabung dalam organisasi ini. Hasilnya? Semenjak berdiri tahun 1935, jumlah anggota organisasi ini mencapai dua juta orang di seluruh dunia.

Ternyata sebuah organisasi dengan label ‘orang-orang berdosa’ tersebut malah berhasil menarik jutaan orang untuk berkumpul bersama. Saya percaya kisah yang menggugah ini seharusnya membuat kita sebagai orang-orang yang telah ditebus berefleksi kembali mengenai artinya diselamatkan dengan kasih karunia-Nya.

Sudah terlalu sering orang Kristen berkumpul sebagai orang-orang yang ‘saleh’ yang eksklusif, dengan tangan yang teracung kepada dunia, berusaha menyatakan bahwa mereka adalah orang berdosa yang harus diselamatkan. Saya tentu yakin itu adalah suatu hal yang benar! Namun seiring berjalannya waktu, kebanyakan diantara umat gerejawi tersebut mulai merasa bahwa beberapa umat Kristen tidak hidup dengan terlalu saleh, bahkan beberapa ditemukan sudah memiliki perut yang membesar. Disinilah ketika masalah menjadi pelik. Kita senantiasa siap untuk menerima bahwa diluar sana banyak orang-orang berdosa yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan belas kasihan, tetapi sayangnya kita tidak siap apabila ada saudara seiman kita yang masih bergumul dalam dosa.

Apabila ada seorang hamba Tuhan yang terjerat dalam sebuah kasus moral, langsung saja semua mata dan mulut melihat dan mencemooh, heran bahwa seseorang yang menghabiskan waktunya dengan belajar dan mengajar Alkitab dapat melakukan kejahatan yang demikian rupa. Mungkin contohnya terlalu jauh disana. Satu kali saya berbicara mengenai kekaguman saya mengenai seseorang yang telah banyak memberkati saya melalui khotbahnya, tiba-tiba saja saya disanggah dengan berbagai cerita mengenai keburukan dan kesombongan hamba Tuhan tersebut diluar kehidupan pelayanannya. Tidak perlu diduga-duga lagi, saya jelas kaget dan kecewa mendengar berita tersebut.

Mendengar kisah penuturan tersebut. maka saya segera memandang hamba Tuhan tersebut dengan pandangan yang tidak terlalu hormat. Tiba-tiba mudah sekali untuk menemukan segala kesalahan dan kebusukan yang selama ini tidak kuperhatikan sebelumnya. Apakah ini proses yang baik? Saya tidak tahu, saya jadi memandang hamba Tuhan ini dengan pandangan yang agak negatif, saya merasa bahwa hamba Tuhan tersebut tidak pantas diteladani keseluruhan hidupnya, saya merasa bahwa hamba Tuhan tersebut telah mengingkari panggilannya, dan berbagai tuduhan lainnya, hingga saya menemukan kejatuhan saya di dalam dosa.

Dalam suatu kesempatan saya mendengarkan ceramah almarhum Greg Bahnsen yang mengejutkan saya. Ia bercerita mengenai kesombongan yang rawan timbul dalam perdebatan apologetika. Hal ini timbul dengan cara menggunakan kata-kata yang terlalu rumit dan tidak umum, sehingga lawan menjadi terkejut dan merasa kecil, lalu kita merasa sudah melakukan sesuatu yang hebat. Ia berkata bahwa ia teramat membenci tindakan-tindakan seperti ini, dimana ia menemukannya pada masa perkuliahannya, masa seminarinya, masa-masa kehidupannya dan hingga sekarang sebagai seorang pembela iman, namun paling menyakitkan ketika ia menemukan hal yang dibencinya tersebut pada dirinya sendiri.

Mudah sekali untuk menemukan dosa di dalam kehidupan orang lain, namun memang lebih menyakitkan untuk menemukan bahwa kita juga masih bergumul di dalam dosa. Hal ini semakin menyakitkan dan pahit apabila membayangkan adanya orang-orang diluar sana yang membicarakan dosa kita dengan rasa yang tidak simpatik seperti yang saya dengar dari orang lain dulunya. Hal ini membuat saya memikirkan banyak hal: apakah mereka memang senang berdosa? Apakah mereka tidak sedih ketika jatuh kembali didalam dosa? Tidakkah mereka juga senantiasa bergumul dengan kecenderungan hati mereka yang penuh dosa? Tidakkah mereka juga merasa tertegur dan menangis dalam saat teduh mereka dimana Tuhan menegurnya? Tidakkah mereka juga manusia yang hidup oleh karena anugerah Tuhan sama seperti saya? Mengejutkan bahwa beberapa orang bahkan menolak belajar dari kebaikan orang-orang tersebut oleh karena ditutupi matanya dengan kabut kesombongan pribadi. Apabila kita mau belajar dari orang-orang sekuler yang cenderung kita toleransi moralitasnya, mengapakah kita tidak mau belajar dari hamba Tuhan yang pengajarannya dari Alkitab, namun memiliki pergumulan dengan dosa sama seperti kita semua?

Saya tertegun menyadari kesombongan yang telah merayap dalam hati tanpa disadari, menyadari bahwa saya demikian sombongnya sehingga luput untuk melihat hal-hal yang baik dalam saudara-saudara seiman saya, terutama hamba Tuhan. Ravi Zacharias pernah menasihatkan untuk tidak terlalu keras dalam melihat kehidupan Petrus, karena kita juga seringkali rentan, dan bahkan jatuh lebih parah daripada Petrus. Mudah sekali untuk menudingkan tangan kepada segala kebusukan mereka, namun sulit sekali memaklumi dan mendoakan, bahkan belajar dari kebaikan para pendosa tersebut. Masih adakah hati seorang pemungut cukai yang memukuli dadanya sendiri dalam hati kita?

Kita memang harus memulai dengan mengatakan bahwa dosa telah menguasai hidup kita hingga di luar kendali. Namun kasih karunia Kristus menyelamatkan kita, dan oleh karena itu tidak ada tempat bermegah. Ketimbang menjadi perkumpulan ‘pengadilan’ yang mencemooh, hingga mendiskreditkan saudara kita, marilah kita menjadi perkumpulan orang berdosa yang saling menegur namun diimbangi dengan mendukung satu sama lainnya. Itulah syarat menjadi seorang Christian Anonymous.

Vincent Tanzil, 30 Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s