Rajutan Hikmat Seonggok Debu dan Tanah

“In a very real sense, people who have read good literature have lived more than people who cannot or will not read … It is not true that we can have only one life to live, if we can read, we can live as many more lives and as many kinds of lives as we wish.”

S.I. Hayakawa

Hari ini adalah hari yang cukup istimewa bagi perenungan pribadi saya. Saya berkesempatan untuk tinggal seharian di kamar saya dan menghabiskan waktu dengan membaca berbagai literatur yang sudah lama saya kumpulkan, namun agak jarang dimanfaatkan secara komprehensif yang sederhananya berarti “belum sempat dibaca.”

Tetapi meskipun hari ini saya menghabiskan waktu di kamar sambil membaca dan menulis sendirian, saya menyebutnya hari yang cukup istimewa – mengapa harus disebut istimewa? Demikian anda mungkin bertanya. Bukankah sudah tidak terhitung banyaknya saya masuk ke kamar ini, menghabiskan waktu di kamar ini, tidur di kamar ini, makan di kamar ini, dan berbagai macam hal lainnya yang dapat saya kerjakan di kamar ini? Jadi, apanya yang istimewa? Jawabannya adalah saya telah belajar banyak hal – ya benar-benar banyak hal! Dalam beberapa jam saja di kamar sempit nan berantakan ini saya telah berkeliling melewati kamp konsentrasi Nazi, mencium bau darah dan mendengar teriakan mengerikan kematian yang menyedihkan – saya telah berkeliling di Amerika, seakan-akan melihat Billy Graham dan rekan-rekannya menandatangani perjanjian Evangelical and Catholic Together, seakan-akan pula saya melihat wajah R.C. Sproul dengan penuh kecurigaan mengkritisi isi dari perjanjian tersebut melalui bukunya “Faith Alone.” –  saya telah melihat isi penjara yang diubahkan oleh Danny Croce segera setelah ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya, sambil saya bisa membayangkan wajah Charles Colson yang penuh haru menyambut peristiwa tersebut melalui bukunya “How Now Shall We Live?” Tidak hanya membayangkan kisah-kisah dan raut wajah mereka – saya juga melihat raut wajah Ravi Zacharias ketika ia berkhotbah kepada sepuluh ribu orang dengan topik “The Lostness of Man” pada tahun 1986 di Amsterdam, senyuman di wajah John Piper saat berdoa agar Tuhan membukakan hati dan pikiran mereka yang akan mendengarkan firman Tuhan – ya, saya telah mengelilingi dunia, tetapi terlebih daripada itu, saya telah mempelajari apa yang tidak mungkin didapatkan satu orang manusia pada satu masa kehidupan saja.

Kita menikmati pembicaraan dengan orang lain, terkadang kita bisa terkesima saat mendengarkan pengalaman dari beberapa teman-teman kita yang cukup unik, terkadang bisa pula kita penasaran dengan apa yang sedang dikatakan oleh orang lain. Ada semacam perasaan anak kecil dalam hati kita yang menuntut pengetahuan yang belum kita miliki. Kita ingin mengetahui sesuatu, baik itu mengenai pribadi seseorang, berita yang terjadi di dunia, percakapan-percakapan rahasia, sejarah dari berdirinya suatu bangunan, dan lain sebagainya – singkat dikata kita sebenarnya makhluk yang diciptakan dengan kapasitas dan kemauan untuk belajar.

Membaca sebuah buku adalah seperti melihat ke sebuah dunia lain yang belum pernah kita jamah sebelumnya. Selain membawa kita menuju ke tempat yang mungkin tidak akan pernah kita capai, Rene Descartes bertutur: “The reading of good books is like a conversation with the finest men of past centuries.” Memang bukanlah rahasia lagi bahwa pintu kebijaksanaan terletak pada sebuah kehidupan sebagai pembelajar. Mark Twain pernah berkata: “The man who does not read good books has no advantage over the man who can’t read them.

Apabila kita meyakini Allah Bapa adalah pencipta langit dan bumi serta segala isinya, maka sebenarnya tidak ada kebenaran di dunia ini yang bukan kebenaran Allah, karena Dialah sendiri standar kebenaran di seluruh dunia ini. Tidakkah ini memberikan makna yang sangat dalam pada kegiatan pembelajaran kita? Mempelajari kebenaran-kebenaran dari Allah senantiasa membawa gairah tersendiri yang sangat layak untuk dikejar sepanjang masa kehidupan kita. “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”[1] Gema dari Paulus yang sudah menghabiskan seumur hidupnya mempelajari kebesaran Allah, bahkan menulis sebagian besar dari Perjanjian Baru. Sudahkah kita belajar sesuatu hari ini?

Blessings, 10 Juni 2010

Vincent Tanzil


[1] Roma 11:33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s