Cries of The Heart – Ravi Zacharias

Cries of The Heart - English

Mungkin benar, bahwa membaca karya Ravi Zacharias sebenarnya tidak memberikan kepada kita banyak argumentasi yang sistematis dan komprehensif mengenai topik yang disajikan. Namun bukan berarti Ravi tidak punya argumen untuk berargumen seperti demikian! Hal ini terlebih lagi terlihat pada bukunya yang berjudul “Cries of The Heart.” Dimulai dengan statement “Bringing God near when He feels so far” Ravi, seperti biasanya, lebih suka menekankan pada sisi eksistensial dari argumentasi, ketimbang argumentasi itu sendiri.

Buku ini bukanlah sekedar buku apologetika yang “kering” dan penuh dengan argumentasi logis (meskipun memang argumentasi logis dirasa kental dalam buku ini), dan juga bukan sebuah buku yang sekedar membicarakan perkara-perkara spiritualitas semata (meskipun buku ini membahas mengenai kesepian, ibadah, dan rasa bersalah) – buku ini adalah kombinasi keduanya – dan saya mengatakan buku ini telah mencapainya dengan gemilang! Kaya dengan kisah-kisah kepedihan umat Tuhan sehari-hari, puisi dan pantun, lagi syair himne yang meneduhkan hati, buku ini mencoba untuk menjadi seperti yang dinyatakan oleh Ravi bahwa “When God speaks there are no ploys, no gimmicks. Only life-defining truth. When He speaks we will be soothed by His touch, and we will rest in His comfort, knowing that He has heard our cries and has come near in our need.” Argumentasi yang umum bukanlah tujuan dari buku ini, menyentuh jiwa dan pikiran adalah tujuan utamanya.

Buku ini memberikan tujuh buah bab yang membahas apa yang merupakan jeritan hati manusia. Sebelum berbicara mengenai berbagai poin lainnya, buku ini dimulai dengan “The Cry to Know God” dimana beliau memberikan beberapa insight yang menarik mengenai kekuatan dan kelemahan dari metode argumentasi filosofis maupun teologis. Setelah itu, dilanjutkan dengan “The Cry to Feel My Faith” yang membahas mengenai fungsi dan peran dari emosi dalam kehidupan orang beriman – baik dalam perspektif yang benar, maupun dalam banyak praktek yang salah pada zaman ini. “The Cry for a Reason in Suffering” menyusul bab sebelumnya, membahas mengenai masalah penderitaan dengan mengeksposisi kehidupan Ayub, tidak hanya memberikan jawaban mengenai masalah penderitaan yang pedih, namun beliau juga memberikan argumentasi, mengapa hanya iman Kristen yang layak menjawab problema penderitaan ini. “The Cry of a Guilty Conscience” merupakan sebuah pembahasan yang indah mengenai problema rasa bersalah yang merupakan pergumulan yang umum terjadi dalam kehidupan orang kristiani. Ravi mengutip sebuah puisi yang indah:

Wilt Thou forgive that sin where I begun,

Which was my sin, though it were done before?

Wilt Thou forgive that sin through which I run,

And do run still, though still I do deplore?

When Thou hast done, Thou hast not done;

For I have more.


Wilt Thou forgive that sin which I have won

Others to sin, and made my sins their door?

Wilt Thou forgive that sin which I did shun

A year or two, but wallowed in a score?

When Thou hast done, Thou hast not done;

For I have more.


I have a sin of fear, that when I’ve spun

My last thread, I shall perish on the shore;

But swear by Thyself that at my death Thy Son

Shall shine as He shines now and heretofore:

And having done that, Thou hast not done;

I fear no more.

Cries of The Heart - Indonesian

Beliau melanjutkan pembahasannya dengan berbicara mengenai “The Cry for Freedom in Pleasure” yang membahas pertanyaan “Apabila Allah tidak menghendaki saya menikmati segala kenikmatan yang dapat saya temukan di dunia ini, mengapa Allah memberikan saya indera untuk menikmati kenikmatan – sambil melarang saya menikmatinya?” Ravi memberikan jawaban yang menarik mengenai kekuatan dan keindahan dari kenikmatan Kristen yang tidak dikotomis. “The Cry of a Lonely Heart” menjawab pertanyaan universal dari umat manusia – yakni kesepian dan kesendirian di tengah keramaian hidup. “The Cry of God for His People” merangkaikan dan menutup semua pergumulan yang ada dibahas dalam buku ini dengan mengeksposisi bagaimana Allah pun rindu untuk bersekutu dengan umat-Nya dalam ibadah. “Worship is coextensive with life. Here the sacred andthe secular meet. Here our cries meet the cry of God.”

Membaca buku ini merupakan sebuah kenikmatan tersendiri, karena penulis tidak melupakan segi estetika dan reflektif dari argumentasinya. Namun demikian, dalam versi bahasa inggrisnya (yang saya baca) ditemukan banyak kosa kata yang mungkin tidak umum, bahkan oleh mahasiswa teologi sekalipun. Seperti yang sudah dibahas, banyak kata-kata yang puitis yang akhirnya memaksa kita membuka kamus. Saya tidak tahu mengenai versi Indonesianya yang diterbitkan oleh Pionir Jaya, namun saya akan lebih merekomendasikan bahasa aslinya, karena nilai puitis dari buku ini, lagipula bukankah ini kesempatan yang baik untuk belajar lebih banyak kosa kata baru? Alangkah indahnya apabila setelah membaca buku ini kitapun dapat melanjutkan membaca buku-buku lain dengan nilai estetis yang lebih baik!

Buku ini diterbitkan oleh Pionir Jaya (salah satu penerbit yang belakangan rajin menerbitkan buku-buku Ravi dan C.S. Lewis).  Buku ini dapat ditemukan di toko buku Visi, atau Momentum, atau beberapa toko buku lainnya. Sebenarnya Pionir Jaya merupakan penerbit yang cukup mudah didapatkan pada toko-toko buku umumnya. Selain itu buku ini tentu bisa didapatkan di perpustakaan U.K. Petra. Selamat mencari!

Ravi Zacharias

Ravi Zacharias adalah president dari Ravi Zacharias International Ministries. Lahir di India dan mengenyam pendidikan di Cambridge, beliau telah memberikan ceramah di sebagian universitas paling dikenal di seluruh dunia. Beliau adalah penulis dari beberapa buku, termasuk Jesus Among Other Gods (Ind: Pionir Jaya), Can Man Live Without God (Ind: Interaksara), dan Deliver Us from Evil (Ind: Pionir jaya). Beliau dengan istrinya, Margie, adalah orang tua dari tiga anak dan tinggal di dekat Atlanta, Georgia.

10 Agustus 2010, Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s