Menulis Sebuah Pemikiran Yang Logis, Sistematis, Dan Praktis (Bagian 1)

Write Something Guys!

Menarik sekali manusia itu! Ketika saya melihat meja saya dipenuhi oleh tumpukan kertas yang tidak rapi, buku yang berserakan, sebuah toaster yang berdebu, gelas kopi yang belum dicuci, raket nyamuk yang agak rusak, entah mengapa saya yakin saya harus segera membereskannya untuk menunjukkan bahwa ada manusia yang beradab sedang memakai meja ini. Namun sebuah pertanyaan timbul di kepala: mengapakah manusia selalu menuntut kerapian? Mengapakah manusia menghendaki keteraturan? Siapakah yang menentukan sesuatu itu teratur atau tidak teratur?

Ketika sedang meneliti beberapa desain, saya menemukan bahwa beberapa gambar yang saya lihat berkesan janggal dalam penglihatan saya. Setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata banyak seniman dan kritikus seni lain yang sependapat dengan saya. Mereka melihat bahwa gambar tersebut keseimbangannya bermasalah, skala dan proporsinya bermasalah, namun yang membuat saya tercengang adalah ketika dikatakan bahwa desain tersebut logikanya bermasalah!

Kita manusia adalah makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Jauh di dalam lubuk hati kita, kita senantiasa mencari sebuah keteraturan yang sistematis dan logis. Ketika kita melihat sebuah laptop ditemukan di sebuah pulau tak berpenghuni, maka kita pasti mulai mengira-ngira asal dari laptop tersebut. Ada banyak teori, misalnya (1) Ada manusia di pulau yang tidak berpenghuni tersebut (manusia modern tentunya!), (2) laptop tersebut peninggalan dari seorang manusia yang pernah meninggali pulau tersebut, (3) ada kapal karam yang membawa laptop di sekitar pulau tersebut, dan (4) melalui proses alamiah laptop tersebut terbentuk dengan sendirinya (ditiup angin, dihantam hujan, dihantam badai, disambar petir, dicakar kepiting, dan berbagai proses alamiah lainnya). Sulit bagi saya menemui manusia yang mau memilih pilihan ke-4. Mengapa? Kita tidak berharap ada sesuatu yang logis (laptop) bisa terjadi secara “alamiah” (kebetulan) begitu saja! Bagaimana dengan tulisan kita? Apakah tulisan kita termasuk tulisan yang logis dan bisa diikuti alur berpikirnya? Ataukah tulisan kita termasuk tulisan yang “alamiah”?

Iklan

8 Comments

  1. pkh12:12-13 Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.

    banyak baca & banyak tulis, itu pun semuanya sia-sia, jika tidak berujung kepada percaya (takut/takluk) akan Allah….
    semakin banyak baca/tulis, jangan merasa kita sudah semakin pintar… tapi merasa semakin kita kecil terhadap pengetahuan Allah yang Mahabesar.

    Teruslah membaca bagi Tuhan, teruslah menulis bagi Tuhan, semuanya bersifat kekal jika bagi Tuhan karena Dia kekal… GBU

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s