Resensi Buku: The Radical Disciple – John Stott

The Radical Disciple
The Radical Disciple

“Tidak ada satu pribadi pun yang memiliki kualifikasi yang Ia miliki. Kita mungkin lazim dengan Alexander yang Agung, Charles yang Agung, dan Napoleon yang Agung, namun bukan Yesus yang Agung. Ia bukanlah yang Agung – Ia adalah yang satu-satunya. Tidak ada seorangpun seperti Dia. Ia tidak memiliki pesaing dan pengganti.” (p. 17)

Untuk pribadi yang demikianlah kita menjadi murid. Kita tidak sedang mengikuti seorang yang sekedar Agung, namun yang tidak terbandingkan, The Incomparable Christ! Itulah sedikit cuplikan dari buku perpisahan terakhir dari John Stott yang sudah berumur 80 ke atas ini.

Buku kecil namun penuh dengan kesegaran rohani ini dituliskan dengan tangan John Stott sendiri (secara harafiah, beliau mengatakan di akhir bukunya bahwa beliau menuliskan semua bukunya dengan tulisan tangan). Isinya merupakan pembicaraan yang ekstensif dan mendalam mengenai aspek-aspek pemuridan Kristen yang jarang diperhatikan menurut beliau yakni: Non-Konformitas, Keserupaan dengan Kristus, Kedewasaan, Kepedulian terhadap Ciptaan, Kesederhanaan, Keseimbangan, Kebergantungan, Kematian.

Beliau menjelaskan bahwa seorang Kristen haruslah menjadi sebuah batu karang yang teguh menghadapi arus dunia ini, tidak seperti buluh yang mudah diombang-ambingkan (p.23). Hal ini juga menuntut seseorang untuk menjadi serupa dengan Kristus dengan melakukan hal-hal yang secara jelas dilakukan oleh Kristus di dunia ini, yakni inkarnasinya ke dunia ini. “Jika kita mengatakan bahwa kita adalah seorang Kristen, kita harus menjadi seperti Kristus” (p. 28) demikian adalah alasan paling dasar dan paling meyakinkan akan poin beliau.

Mengenai kedewasaan, setelah mengamati bagaimana gereja-gereja di Timur bertumbuh dengan pesat, namun “bertumbuh tanpa kedalaman”, beliau menyatakan:

Memang benar bahwa Paulus sanggup berjuang hanya dengan kekuatan dari Kristus. Tetapi, meskipun memiliki kekuatan ilahi yang demikian, ia tetap bekerja keras dan berjuang, tidak terkecuali dalam doa dan belajar. Tidak ada tujuan yang lebih tinggi dari pelayanan. Alangkah indahnya slogan ini bagi setiap orang yang terpanggil dalam kepemimpinan – adanya kerinduan untuk mempersembahkan setiap orang yang dipercayakan kepada kita untuk menjadi dewasa di dalam Kristus (p. 43)

Ini seharusnya menjadi obat bagi banyak pelayan Tuhan yang sangat menekankan anugerah dan kekuatan dari Kristus, namun tidak diimbangi dengan kerja keras dan semangat belajar yang memadai dengan kekuatan yang diberikan oleh Kristus. Hal ini seringkali menciptakan orang-orang Kristen yang kerdil, yang bagi sebagian orang mencerminkan Allah kita sebagai Allah yang kerdil.

Stott masih terus melaju dengan memberikan alasan-alasan bagi seorang murid untuk memelihara ciptaan yang telah diberikan Allah kepada manusia. Beliau menekankan bahwa dalam pergerakan kekristenan sekarang dapat dilihat bahwa “…kepedulian terhadap lingkungan hidup bukanlah kepentingan egois yang dikembangkan oleh negara-negara maju, ataupun antusiasme minoritas yang semata-mata milik para pengamat burung atau pecinta bunga, namun secara perlahan-lahan tapi pasti hal ini menjadi perhatian kekristenan arus utama” (p. 47).

Bagian yang menyentuh saya secara pribadi adalah ketika beliau berbicara mengenai kesederhanaan. Beliau mengutip Piagam Perjanjian Kongres Lausanne tentang Pekabaran Injil Dunia (1974):

Kita semua dikejutkan oleh kemiskinan dari jutaan orang dan terganggu oleh ketidakadilan yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Kita semua yang hidup dalam keadaan makmur menerima tugas untuk menerapkan sebuah gaya hidup sederhana dengan tujuan untuk memberikan kontribusi lebih banyak lagi baik upaya-upaya memberi pertolongan dan pekabaran Injil. (p. 59)

Namun beliau juga menegaskan bahwa gaya hidup sederhana pribadi harus dimotivasi dengan sebuah ketaatan dibanding sekedar rasa kasihan terhadap orang miskin “Ketaatan Kristen kita menuntut sebuah gaya hidup sederhana, tanpa bergantung oleh kenyataan bahwa memang ada banyak orang yang berkekurangan” (p. 66). Kiranya kita yang diberikan hidup lebih makmur diberikan kekuatan dan komitmen untuk melakukan hal ini.

Seorang murid juga harus hidup dalam keseimbangan yang ditunjukkan dengan kehidupan persekutuan yang baik di antara sesama orang Kristen. Selain itu beliau juga mengajarkan pentingnya bagi seorang Kristen untuk belajar bergantung kepada sesama mereka orang Kristen lainnya. Beliau mengatakan “Penolakan untuk bergantung kepada orang lain bukanlah tanda kedewasaan melainkan ketidakdewasaan” (p. 95). “Kita semua dirancang untuk menjadi beban bagi orang lain” (p. 98) demikian kata beliau. Karena itu sebagai komunitas Kristen hendaknya hal ini tidak menjadi suatu hal yang mengejutkan, terutama bagi kaum pria yang sudah mulai tua. Beliau mengedepankan kisah Kristus yang bergantung, lalu mengatakan “Jika sikap kebergantungan adalah sikap yang dianggap tepat oleh Allah pencipta semesta, maka tentu sikap itu tepat juga bagi kita” (p. 98).

Berbicara mengenai kematian beliau mengatakan:

Kematian adalah peristiwa yang tidak wajar dan tidak menyenangkan. Dalam pengertian tertentu, ia memperkenalkan kepada kita sebuah akhir yang sangat mengerikan. Kematian adalah sebuah akhir. Namun dalam setiap situasi kematian adalah cara untuk memperoleh hidup. Sehingga jika kita ingin hidup kita harus mengalami kematian. Dan kita hanya akan bersedia untuk mati ketika kita melihat kemuliaan hidup yang dihadirkan oleh kematian. Inilah perspektif radikal, paradoks dari Kekristenan. Umat Kristen yang sejati secara tepat digambarkan sebagai “mereka yang mengalami hidup dari kematian” (p. 117)

Kematian bukanlah hal yang mudah, apalagi bila disertai dengan penganiayaan yang kejam, namun beliau mengingatkan bahwa apabila kita adalah murid Kristus, maka seharusnya hal tersebut tidak mengejutkan kita.

Pembahasan mengenai murid yang radikal ini kiranya menjadi obat yang baik bagi mereka yang sudah lama lelah, maupun bosan, serta lupa akan kasihnya yang mula-mula dalam mengikuti Kristus. Biarlah buku terbitan Literatur Perkantas Jatim ini mampu menyegarkan kita maupun orang lain yang kita kenal! Benar seperti yang dikatakan John Stott bahwa kita tidak dipanggil untuk menjadi seorang Kristen, namun menjadi seorang murid, yang dimana memiliki konsekuensi pemuridan yang radikal!

“Hal mendasar yang diperlukan dalam semua pemuridan adalah bahwa ketetapan hati kita tidaklah sekedar menyanjung Yesus dengan gelar-gelar yang santun namun juga mengikuti ajaran-Nya dan mentaati perintah-perintah-Nya.” (p. 119).

John StottJohn Stott dikenal di seluruh dunia sebagai seorang pengkhotbah, penginjil, dan penulis. Selama bertahun-tahun menjabat sebagai rektor dari Gereja All Souls di London. Ia juga menjadi perancang utama terbentuknya Lausanne Covenant (1974). Ia telah menghasilkan puluhan buku yang telah terjual jutaan kopi di seluruh dunia dan diterjemahkan dalam puluhan bahasa. John Stott juga diakui oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari “100 tokoh paling berpengaruh di dunia.”

14 Desember 2010, Vincent Tanzil

See more at http://www.vincenttanzil.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s