Dosa – Landasan Pemuridan Kristen

This is my flesh

Perjamuan Kudus adalah sebuah acara yang sangat sulit bagi saya. Dalam acara yang seringkali terintegrasi dengan kebaktian umum tersebut, saya seringkali terenyuh dan terharu dengan sangat hingga menangis tersedu-sedu karena mengingat apa yang Kristus telah lakukan bagi saya. Memang Perjamuan Kudus menjadi tempat yang teramat sulit bagi saya untuk menahan air mata penyesalan dan bahagia sekaligus.

Namun setelah Perjamuan Kudus yang terakhir saya ikuti, saya mau tidak mau merenungkan akan pendapat seorang pendeta yang terus membekas di kepala saya. Beliau mengatakan bahwa sekarang bukanlah lagi saatnya memberitakan tentang dosa dan penghukuman, namun kita harus memberitakan tentang kasih. Beliau memberikan dasar bahwa dunia sekarang sudah sangat menderita, banyak orang yang terluka, janganlah lagi beritakan penghukuman dan dosa dalam kehidupan mereka, mereka sudah cukup menderita. Beberapa arus pergerakan gereja saat ini mulai menganut prinsip ini dengan gembira, hasilnya? Gedung yang besar-besar dengan jumlah jemaat yang kian bertambah. Gereja tempat pendeta tersebut melayani pun diperkirakan memiliki 30.000 jemaat.

Lantas, apa yang salah? Apakah kita harus alergi dengan pertumbuhan gereja? Tentu saja tidak, namun sesuatu itu tidak selalu berarti benar oleh karena hasilnya baik. Sama halnya menjadi kaya dengan cara jujur dan merampok orang lain tentu memiliki hasil yang sama namun tidak cara yang sama-sama benar.

Apakah Injil itu? Bisakah injil dipisahkan dengan dosa? Berita dosa adalah berita yang sangat mencekam; Jonathan Edwards pernah mengkhotbahkan mengenai “Pendosa di Tangan Allah yang Murka” (Sinners in the Hand of Angry God):

The God that holds you over the pit of Hell much as one holds a spider or some loathsome insect over the fire abhors you and is dreadfully provoked. His wrath towards you burn like fire. He looks upon you as worthy of nothing else but to be cast into the fire. And yet it is nothing but his hand that holds you from falling into the fire every moment”

(Allah yang memegang anda di atas lubang Neraka seperti seseorang memegang laba-laba atau serangga menjijikkan di atas api, membencimu dan digusarkan dengan sangat olehmu. Murkanya kepadamu menyala bagikan api. Dia memandangmu sebagai benda yang tidak berguna selain untuk dibuang ke dalam api. Dan tidak ada satupun kecuali tangan-Nya yang mencegah kamu untuk jatuh ke dalam nyala api dalam setiap saat)

Jonathan Edwards Preaching "Sinners in the Hand of Angry God"

Ini tentu adalah gambaran yang sangat kontras dengan berita yang disampaikan oleh pendeta tersebut. Dosa bukanlah satu atau dua kesalahan kita yang bisa ditolerir, dosa adalah pemberontakan terhadap Allah sang Pencipta itu sendiri. Dosa adalah perlawanan paling keji dari seorang ciptaan kepada penciptanya. Tidaklah mengherankan bahwa sang Khalik digusarkan dengan sangat oleh dosa!

Lagipula kalau dosa itu bukanlah sesuatu yang mengerikan maka apakah yang disebut dengan anugerah? Tanpa adanya konsep keadilan dan murka, serta penghukuman dari Allah, maka tidak ada pula yang disebut sebagai anugerah. Sebab apabila tidak ada dosa, tidak ada keadilan. Tidak ada keadilan, maka tidak ada penghukuman. Lalu apakah yang perlu dianugerahkan? Bukankah anugerah diberikan kepada mereka yang tidak layak? Mereka yang seperti Jonathan Edwards katakan: “…tidak berguna selain untuk dibuang ke dalam api.”

Disinilah anugerah menjadi berlimpah ruah dan tidak terbayangkan. Tidak dibutuhkan dosa seorang bajingan untuk membuat seseorang menjadi pendosa, ukuran dosa bukan diukur berdasarkan besar dosa kita, namun kepada siapa kita telah berdosa, yakni Allah sendiri. Dosa menimbulkan murka Allah dan murka Allah harus diredamkan dengan pengorbanan Kristus yang sangat sengsara. Inilah anugerah.

Anugerah inilah yang seharusnya memimpin seseorang untuk menjadi murid Kristus yang sejati. Tanpa pengetahuan akan kengerian dosa, maka anugerah tersebut menjadi apa yang disebut oleh Dietrich Bonhoeffer sebagai “Anugerah yang murah”. Apabila anugerah tersebut diterima dengan murahnya, maka bagaimanakah kita mengharapkan sebuah pemuridan yang “mahal”? Gereja dan hamba Tuhan yang sudah lalai menekankan kengerian dosa akan terjebak dalam pemuridan yang dangkal. Mereka akan membangun murid-murid yang sekedar ikut Tuhan untuk memenuhi kebutuhan diri mereka sendiri, tak pernah terpikirkan bagi mereka bahwa ada yang nama-Nya harga pemuridan! Motivasi terbesar bagi seorang Kristen untuk melayani Tuhan bukanlah rasa bersalah atau rasa berhutang, namun oleh karena rasa syukur yang luar biasa. Hal inilah yang membawa Paulus dan banyak penerusnya masuk ke dalam penjara dan kematian tanpa mengeluh, malah bangga.

Ah, belum lagi melihat bahwa Ia masih sedia untuk memanggil pendosa-pendosa seperti anda dan saya  menjadi hamba untuk memberitakan firman-Nya yang menyelamatkan tersebut. Apakah kita masih akan menganggap sepi anugerah yang demikian? Tidak hanya tidak layak, namun juga diberikan kesempatan untuk menyatakan dosa dan sekaligus berita pengampunan yang begitu mulianya. Tepat sekali apabila kita sama-sama berseru bersama John Bunyan bahwa ini sungguh “Anugerah Berlimpah Bagi Pendosa Terbesar.”

26 December 2010, Vincent Tanzil

8 Comments

  1. adakah seorang ibu yang tidak berteriak memanggil anaknya saat lidah api hampir melalap anaknya itu? mungkin seperti itu gambarannya ya pak?
    semoga anda nanti menjadi pendeta serupa Jonathan Edwards atau Stephen Tong.
    atau menjadi pendeta yang seperti Tuhan ingin anda menjadi saja mungkin ya?

    1. Ya, kira-kira seperti itu mungkin gambarannya. Saya lebih baik menjadi hamba Tuhan seperti yang Tuhan inginkan saja. Terima kasih kembali untuk commentnya pak, boleh tahu namanya pak?

  2. refisi:

    supaya aku memberitakan firman tanpa upah dari manusia, biar hatiku DICEGAHNYA daripada bermegah jika mengetahui sepetik rahasia yang hanya karena Dia memberitahukannya saja, biarlah Dia yang menerima segala upahNya, biarlah namaNya saja yang dikenal…

  3. pak tx for story .

    oya saya ada prtnyaan yg mmbuat saya benar2 binggung.
    menurut bapak dosa ada ukuranya ga?
    contoh: dosa orng yg memperkosa dengan orng yg memperkosa sekaligus membunuhnya . ada ga beda dosanya?

    tolong sms kan pak .
    085767514075

    1. Wah pak, saya kira tidak perlu di smskan. Di sini saja saya jawabnya ya? Maaf juga kalau terlambat membalasnya karena berbagai alasan.

      Dosa pada kenyataannya memang ada yang lebih besar dan lebih kecil. Tetapi dalam satu sisi tetap harus dikatakan bahwa semua dosa tetap sama, dalam artian mendatangkan murka Allah. Kalau kita lihat Tuhan Yesus juga kadang beberapa kali menyatakan bahwa ada dosa yang lebih besar dan lebih kecil. Namun, di mata Allah semuanya memang mendatangkan kemurkaan. Akhirnya, dosa seperti apapun, Yesus Kristus sudah datang ke dunia dan mati untuk menebus dosa-dosa kita, baik besar maupun kecil. Tentu, apabila kita mau percaya kepadaNya dan menjadikanNya Raja atas seluruh kehidupan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s