Ide Bisa Membunuh Orang!

Inglorious Basterds

“Ideas are indeed the most dangerous weapons in the world” – William Orville Douglas

Liburan kemarin saya menonton film Inglorious Basterds. Film ini mengkisahkan segerombolan prajurit Amerika yang berkebangsaan Yahudi yang sangat membenci para Nazi – dan memang dikhususkan untuk membantai para Nazi dengan kejam, agar teror meluas di kalangan Nazi. Film ini mengandung kekerasan yang seringkali mengejutkan dan membuat orang bisa mengerenyitkan dahinya sepanjang film ini berlangsung, karena kekejaman yang ada bisa terjadi begitu tiba-tibanya.

Brad Pitt yang memerankan pemimpin dari pasukan kecil tersebut berulangkali menunjukkan kebenciannya kepada Nazi, dia mengatakan bahwa mereka tidak perlu diampuni, mereka terlalu kejam, jadi bunuh saja mereka semua. Beberapa tawanan yang berhasil ditangkapnya dibunuh dengan kejam – dipukul kepalanya hingga pecah, dikuliti kepalanya – dalam pembantaian tersebut biasa satu orang dibiarkan hidup agar bisa menceritakan mengenai kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Inglorious Basterds ini. Prajurit yang selamat tersebut di kepalanya ditorehkan lambang Nazi dengan penuh kebencian, supaya semua orang dapat mengenali bahwa ia adalah seorang Nazi meskipun dia tidak memakai seragam Nazi.

Melihat sebuah perang, dapat dikatakan bahwa perang merupakan sebuah tindakan generalisasi dari sekelompok orang kepada kelompok lainnya. Sungguh menakutkan melihat kedua kubu dapat berperang dan saling membunuh dengan kejam tanpa saling mengenal kepribadian satu sama lainnya, ataupun pokok persoalan yang menjadi alasan perang tersebut. Apakah yang mereka bunuh memang benar merupakan orang yang setuju dengan kekerasan yang dilakukan sebagian kecil orang? Ataukah mereka hanya korban yang tertipu maupun terpaksa? Pada saat perang sudah berlangsung, pertanyaan seperti itu telah kehilangan kekuatannya. Sudah teramat sulit menahan ide yang sudah bermanifestasi menjadi pergerakan negara-negara dan dunia.

Patut disadari bahwa semua praksis yang terjadi di gereja dan masyarakat sekitar merupakan perwujudan dari apa yang tidak kelihatan, yakni ide-ide. Ide tersebut dapat disalurkan melalui media apapun, baik mereka yang berupa verbal maupun visual. Namun apapun yang terjadi, hasil dari pertukaran ide tersebut sudah jelas: perang dan permusuhan dan bahkan perdamaian dan keadilan muncul dari peperangan ide yang menyala-nyala namun tak terlihat.

Debating Ideas

Eksplorasi ide dan pengambilan keputusan akan sebuah pandangan akan sangat dirasakan pada masa mahasiswa (juga selama kita masih hidup dan bisa berpikir), dimana seseorang akan mulai mempertimbangkan kembali apa saja yang selama ini dipercayainya, dan atas landasan apakah dia boleh mempercayai hal tersebut. Tetapi sayangnya di masyarakat pasca-modern saat ini banyak orang yang sudah menjadi tua dalam umur, namun tidak memiliki kedewasaan berpikir yang sesuai dengan usia mereka. Hal yang ironis, bahkan di antara mereka yang menjadi akademisi.

Setiap orang bertumbuh melalu literatur yang dibacanya dan dengan pemikiran yang digulatinya. Tidak seharusnya seorangpun memandang remeh pergulatan dan implikasi serta konsekuensi dari pergulatan ide-ide. Kegagalan melihat dan berpartisipasi dalam peperangan rohani ini hanya akan membawa kekecewaan yang disertai penyesalan yang sudah terlambat.

Contoh paling sederhana dari implikasi ide tentunya adalah tulisan ini sendiri. Entah bagaimana, setelah membaca beberapa literatur, pikiran saya pun dipengaruhi untuk menyetujui bahwa peperangan ide adalah suatu hal yang amat kritis dan sayangnya, sering dianak-tirikan, apalagi di dalam budaya gereja masa kini yang bercorak entertainment. Bahkan mereka yang mengatakan bahwa perdebatan ide itu tidak diperlukan sebenarnya telah ikut berperan di dalam dunia ide.

Sekali lagi, semua disebabkan oleh ide yang bergerilya di balik layar. Hingga akhir dari segala hal yang terjadi, sekali lagi ide menyembunyikan dirinya dengan luar biasa, berpura-pura bahwa semuanya terjadi secara alamiah, sambil terus menyerukan bahwa “bukan kami pelakunya.”

Vincent Tanzil, 18 January 2011

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s