Matius 25:14-30 Perumpamaan Talenta

parable_of_talents

Tuhan Yesus mengakhiri pengajarannya mengenai akhir zaman dan kedatangan Kerajaan Sorga dengan menggunakan empat “perumpamaan adven”. Perumpamaan talenta adalah salah satu dari  keempat perumpamaan tersebut.

Kisah tersebut bertutur mengenai Tuan yang menitipkan talentanya kepada ketiga hambanya sebelum berangkat menuju sebuah kota yang jauh. Sebuah talenta, tidak sama dengan arti yang umum dimengerti hari ini, adalah mata uang yang bernilai amat besar (kira-kira sebesar gaji seorang pekerja selama lima belas tahun). Kisah ini berakhir dengan kedatangan sang Tuan yang akhirnya memberikan hukuman kepada hamba yang dipercayai satu talenta tersebut, dikarenakan hamba tersebut menguburkan talentanya. Sementara kedua hamba yang lain, meskipun berbeda hasil, namun diberikan penghargaan yang sama oleh sang Tuan.

Dapat dilihat dari hadiah yang diberikan oleh Tuan ini kepada hambanya, bahwa Tuan ini bukanlah Tuan yang jahat, namun murah hati. Seorang hamba yang mengerjakan apa yang dipercayakan tuannya adalah suatu tindakan yang biasa, malah sebuah kewajiban. Namun sang Tuan memberikan hamba tersebut beroleh dalam kebahagiaan Tuannya – padahal hamba-hamba tersebut hanya mengerjakan apa yang sudah seharusnya. Sangat disayangkan, persepsi negatif dari hamba yang terakhir menyesatkan dirinya sendiri dan membuatnya tidak bisa melihat kebaikan dari Tuannya.

Diusik pandangannya sendiri bahwa Tuannya adalah seorang yang jahat, maka ia menjadi takut talenta tersebut dituntut daripadanya. Akhirnya ia menguburkan talentanya. Dimana pada saat itu tindakan menguburkan talenta merupakan tindakan yang dianggap bijaksana, karena apabila talenta tersebut hilang itu bukan lagi tanggung-jawab sang pengubur. Namun, tindakan karena ketakutan tanpa dasar tersebut, akhirnya membawa sang Tuan memutuskan hubungan dengan hamba terakhir yang jahat itu.

Renungan bagi Guru

Suatu hari bapak reformator gereja – Martin Luther, sedang mencangkuli kebunnya. Seorang kawannya datang dan bertanya, “apa yang akan kamu lakukan apabila kamu tahu bahwa Kristus akan datang hari ini?” Luther diduga menjawab, “saya akan terus mencangkul.”

Kisah sederhana ini mungkin membuyarkan banyak pandangan orang yang cenderung terlalu serius dalam menghadapi kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Memang mengerjakan talenta kita seringkali diidentifikasikan dengan menguras tenaga habis-habisan untuk melakukan apa yang besar bagi kemuliaan Tuhan, namun kisah ini ingin membongkar pandangan umum bahwa sebuah kegiatan mencangkul halaman bukanlah sebuah usaha untuk mengerjakan talenta kita – dan bahkan memuliakan nama Tuhan!

Perumpamaan ini senantiasa mengingatkan kita untuk tidak berfokus pada melakukan hal-hal yang “besar” saja, namun setiap hal yang “kecil” pun sebenarnya merupakan ekspresi dari kesetiaan dan tanggung jawab kita terhadap apa yang telah diberikan Tuhan. Mengubur talenta, dengan alasan apapun, adalah tindakan yang tidak dapat diterima oleh sang Tuan, dan berujung kepada hukuman yang keras bagi mereka yang tidak bertanggungjawab.

Tugas kita adalah mengerjakan bagian yang Tuhan percayakan untuk kita kerjakan, dengan setia dan maksimal. Siapa yang tahu, ketika kita mengerjakan pelayanan sekolah minggu ini dengan sungguh-sungguh, Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya dan Ia berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Apakah kita sudah mempersiapkan bahan mengajar kita dengan baik dan maksimal? Siapkah kita bertanggung jawab kepada Allah atas tugas yang diberikan kepada kita? Selamat mengajar!

Ini adalah tugas Didaktik Metodik  yang berupa renungan untuk guru sekolah minggu

10 Comments

    1. Saya rasa tidak ada kaitannya langsung dengan predestinasi sih. Kalau dibaca dengan perspektif anugerah, saya rasa bisa dilihat dari Tuannya yang memberi sesuai dengan pertimbangannya sendiri. Terima kasih untuk commentnya, salam kenal!

  1. REFISI:

    just wonder, kok ya Tuhan ‘tahu’ orang yang tidak mengembalikan apapun, makanya cuma diberi 1 talenta, lalu yang berbuah 10 ditanamNya 10, yang berbuah 5 ditanamNya 5.
    ini berbicara apa?
    seringkali kita dengar ajaran supaya jemaat ‘berinvestasi’ pada Tuhan, gak tau diri ya?
    padahal sebenarnya Tuhanlah yang ‘berinvestasi’ pada kita ya? hahaha

    siapakah yang membuat hamba bertalenta 10 bisa menghasilkan 10?
    usaha manusia atau karya Allah?
    bagaimana reform mengartikan perumpamaan ini dengan tuntas?
    selama ini tidak ada jawaban yang ‘memuaskan’.
    bagaimana jawaban hamba2 Tuhan?

    salam kenal

  2. let see, KARENA Tuhan memberimu talenta menulis, maka kamu menulis.
    siapakah yang sebenarnya layak dipuji?
    tetapi, jika Dia tetap memberi pujianNya kepadamu, itu anugerah & itu kasih.

    mungkinkah Tuhan memberimu talenta jika kamu nantinya memberontak untuk menulis atau memberontak kepada Dia melalui tulisanmu?
    tidak, jika kamu memang orang pilihanNya.
    ya, jika kamu bukan orang pilihanNya.
    jadi… untuk apa hamba yang jahat itu perlu diberi 1 talenta, meskipun Tuhan ‘tahu’ dia tidak akan mengembalikan apa2 kepada Dia?
    jawaban saya… supaya semua orang diuji, supaya semua pohon menghasilkan buahnya sendiri, entah itu baik atau itu jahat, entah dia hamba sejati atau dia hamba palsu.

    kalau dipikir2, atheis kalau tidak diberi talenta berpikir pun tidak bisa memberontak.
    atheis kalau tidak diberi lidah pun tidak bisa mencela dan menyangkal Dia.
    jadi adakah sesuatu yang tidak dari Dia dan untuk Dia?
    inilah yang ‘menakutkan’ & ‘menggetarkan’ Paulus.
    bahwa pikiran & jalan Tuhan itu terlalu ajaib dan berkuasa untuk diketahui.

    btw, ‘talenta’ dalam perumpamaan ini sendiri harus diartikan apa?
    kalau tidak salah, ada yang berpendapat bahwa ‘talenta’ di sini bukanlah ‘bakat & minat’.

    kalau untuk sekolah minggu, penekannya adalah :
    apakah sesuatu hal yang terkecil pun yang kamu punyai yang tidak berasal dari Tuhan?
    jika kamu diberi sesuatu dari Tuhan, apakah yang harus kamu lakukan bagi Tuhan?
    janganlah memberontak atau nakal, karena nafasmu pun dari Tuhan, mama papamu dari Tuhan, dan kamu dilahirkan untuk memuji nama Tuhan.

    saya tidak tahu benar atau tidaknya pemahaman saya, dan saya tidak tahu commentary calvin atau matthew henry soal ini.

    1. Terima kasih untuk pertanyaannya. Setahu saya perumpamaan tidak dituliskan untuk menjelaskan dengan panjang lebar mengenai keseluruhan doktrin yang ingin kita ketahui (namanya juga perumpamaan, kegunaannya adalah untuk mengilustrasikan sesuatu yang lain). Sebagai contoh adalah perumpamaan biji sesawi tentu tidak ingin mengatakan bahwa iman bisa diukur panjang, tinggi, lebar, dan besarnya.

      Saya pikir di dalam perumpamaan ada satu amanat utama yang ingin disampaikan. Karena itulah sebenarnya detail-detail cerita tersebut (jumlah talenta, dan sebagainya) berfungsi untuk membantu bagaimana poin utama tersebut dikomunikasikan (dalam hal ini saya melihat poinnya adalah “tanggung jawab”). Kita tidak dapat (dan tidak seharusnya) menarik kesimpulan doktrinal dari detail-detail kecil tersebut. Penafsiran yang terlalu memperhatikan detail-detailnya dan mengartikannya segala macam bisa saja jatuh ke penafsiran yang alegoris. Karena itu saya pikir lebih baik kita membangun doktrin kita dari amanat utama perumpamaan tersebut disampaikan. Jadi pertanyaan mengenai atheis dan lainnya mungkin kurang sesuai diajukan kepada perumpamaan ini.

      Mengenai arti kata “talenta” tersebut memang ada perdebatan tentang makna yang ingin disampaikan. Waktu saya menuliskan renungan ini saya menggunakan makna “segala sesuatu yang diberikan oleh Allah dalam kehidupan kita yang harus dipertanggungjawabkan.” Dan itu mencakup uang, waktu, kemampuan, dan banyak hal lainnya.

      Mengenai tafsiran Calvin dan Henry saya juga tidak tahu. Saya tidak membuka tafsiran mereka saat mengerjakan renungan ini. Lagipula ini adalah tugas pada saat semester awal saya.

      Mengenai penekanan untuk Sekolah Minggu, renungan ini untuk gurunya bukan muridnya. Tetapi terima kasih sudah memberikan masukan! Senang ada yang menanggapi tulisan saya.

  3. oke terimakasih juga masukannya, senang ada orang yang mau membahas ini.
    saya masih terus mempelajarinya, dan sepertinya situs ini akan bermanfaat :
    http://www.biblestudytools.com/commentaries/jamieson-fausset-brown/

    menarik sekali commentary di situs ini soal kidung agung, mirip dengan pemahaman saya sekalipun saya awam.
    padahal sebelumnya ada dosen sttrii yang terkenal, menolak pemahaman seperti ini, dan menganggap kidung agung adalah puisi kisah nyata.
    ternyata pemahaman tiap hamba Tuhan bisa saling berbeda bahkan bertentangan ya.

    saya juga akan melihat commentary situs ini untuk perumpamaan talenta tersebut.
    terimakasih boleh mampir & bincang2. tulisan2mu bagus, menarik & selalu segar. Gbu

  4. just sharing…
    mungkin untuk praktiknya, perumpamaan &perkataan Yesus seringkali berdampak pada cara hidup sehari-hari, karena Yesus memakai hal2 di sekitar kita untuk menjadi perumpamaan.
    tapi menurut saya, spirit pengajaran Yesus bukan supaya manusia melakukan hal2 yang benar untuk hal2 itu sendiri, tapi supaya dengan melakukan hal2 dengan benar, mereka mengerti bagaimana kehendak/kesukaan Allah, bagaimana Allah bekerja dalam kebenaran.
    seperti perintah ‘jangan membunuh’ bukanlah supaya manusia naik tingkat menjadi manusia baik atau demi moral, karena akhirnya akan serupa dengan paham humanisme.
    tapi perintah itu dikatakan, karena Allah tidak suka membunuh, dan siapa mengasihi Allah akan melakukan apa yang menyenangkan hatiNya, dan mengerti hidup itu milik Allah.
    begitu pula soal ‘tanggungjawab’, memang itu baik, tapi bukan ‘manusia bertanggungjawab’ tujuan utamanya, melainkan ‘kepada siapa kamu mau memberi pertanggunganjawabmu’.
    semua agama mengajarkan ‘bagaimana’, tapi hanya kristen yang mengajarkan ‘siapa’.
    dampaknya kristen akan berbeda dengan agama lain dalam hal ‘mengapa’ & ‘untuk apa’nya. 😉 hanya sekedar perenungan pribadi…. thanks again

    1. Terima kasih juga untuk tanggapannya. Saya senang bisa belajar dan tahu banyak hal baru dari sesama orang percaya di tempat lainnya. Pada akhirnya pemahaman kita akan firman Allah memang tidak harus seragam semuanya. Karena itu tidaklah mengejutkan sesama hamba Tuhan bisa berbeda pendapat. Yang penting perbedaan itu apabila besar tidak disembunyikan, sebaliknya apabila kecil jangan dibesar-besarkan. Semoga gereja bisa lebih bersatu dan arif dalam memandang perbedaan. Tentu dengan diskusi dan dialog seperti ini bisa menolong!

      Salam kasih

  5. Yang penting perbedaan itu apabila besar tidak disembunyikan, sebaliknya apabila kecil jangan dibesar-besarkan.— vincent tanzil——–

    nice & great statement! i like it…
    saya tidak bermaksud membesar-besarkan masalah, tapi alangkah baiknya & benarnya bila kita tahu yang setepat-tepatnya maksud Tuhan, hanya kerinduan pribadi.
    lucunya seringkali ketika hamba Tuhan ditanya, kebanyakan mereka berpikir mau didebat.

    btw anda mengingatkan saya pada pdt.markus tandadjaja mantan dosen SAAT, saudara ya.

    salam kasih.

    1. Terima kasih lagi untuk “like”nya hahaha. Mungkin mereka juga tidak berpikir mau didebat, hanya saja nada berbicara mereka yang bertanya mungkin mengundang emosi juga. Tetapi memang ada mereka yang merasa disalahpahami (atau salah paham terhadap pertanyaannya), merasa sedang didebat.

      Saya tidak kenal Pdt. Markus. Saya baru masuk tahun 2010 ini. Salam sekali lagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s