Keyakinan Yang Menyala-nyala

Soekarno Speech

Melihat seseorang sedang berpidato atau berbicara di depan khalayak ramai, terkadang kita bisa merasakan adanya suatu hawa yang menarik massa untuk memperhatikan dia. Matanya nampak bersinar, senyumnya tergores meyakinkan, kakinya seperti menancap di lantai, suaranya terdengar bulat serta lantang—itulah yang membuat ratusan orang ini menatap dan memperhatikan dia dengan seksama, kata demi kata. Hawa apakah itu? Mengapa di lain pihak juga seringkali terlihat mereka yang maju ke depan untuk berbicara malah nampak tidak meyakinkan sama sekali? Semangat untuk meyakinkan orang lain tersebut tidak dapat dirasakan dari pribadi ini.

Orang yang maju dan berbicara dengan meyakinkan tidaklah selalu mengatakan kebenaran. Terkadang beberapa di antara mereka mengatakan setengah kebenaran, dengan tujuan untuk menguntungkan diri mereka sendiri. Segala cara dan trik untuk menyampaikan dengan apik dan handal mereka pelajari agar kucuran keuntungan mengalir ke diri mereka. Tetapi sekali lagi, mengapa demikian yakinnya?

Beberapa kali saya mendengarkan presentasi dari organisasi-organisasi pelayanan, baik yang di tanah air, maupun yang internasional. Dari semua presentasi yang saya dengarkan tersebut, ada satu hal yang selalu saya dapati di dalam hati saya, yakni hati yang hangat dan berkobar—yakin bahwa apa yang dikerjakan orang tersebut adalah penting. Apakah yang ada di dalam diri mereka? Melihat efek panas yang menyala di dalam saya akibat mendengarkan presentasi mereka, saya menduga yang ada di dalam mereka adalah semacam obor, yang biasa kita sebut sebagai visi.

Ada orang yang lahir di Indonesia, namun pekerjaannya mengakibatkan dia bisa meninggalkan negara ini dan hidup di negara antah berantah lainnya. Namun beberapa di antara mereka pulang. Untuk apa? Untuk dengan tidak bosan-bosannya mengerjakan apa yang mereka percaya menjadi visi yang Tuhan percayakan di dalam diri mereka. Meskipun dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari pekerjaan ini, bahkan mungkin merugikan dirinya.  Hal sepele semacam itu tidak dapat menghentikan lajunya yang sudah terlampau dahsyat, dipacu oleh kobaran di hatinya. Kobaran yang tidak pernah padam hingga tuntas dimatangkan.

Tetapi orang yang demikian bukanlah orang yang sering kita jumpai bukan? Filosofi di sekitar kita hanya berkisar mengenai keegoisan diri. Apabila hal tersebut dapat menguntungkan, tidak jarang ada yang bahkan rela berkorban jiwa untuk hal tersebut. Demikian, tetap saja Allah kita tidak mengambil rute yang sama, “akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa” (Rom. 5:10). Teladan siapakah yang lebih indah dari Allah kita sendiri? Bukankah semangat yang terpapar barusan lebih perkasa dari apapun juga? Ironis sekali apabila seorang pelayan Kristen tidak memiliki semangat dan keyakinan yang sama—bahkan lebih—dari mereka yang sekedar mencari untung diri.

Melihat kondisi bangsa-bangsa, peperangan, kemiskinan, bencana, kebodohan, kekerasan hati, dan banyak hal lainnya, adakah hati yang tergerak? Bilakah kita akan melihat orang-orang yang berdiri di depan, meninggalkan keuntungan diri, dengan keyakinan teguh menyatakan apa yang benar? Terlebih lagi, melakukan yang benar. Betapa bangsa akan bersukacita dan Tuhan berbangga.

Vincent Tanzil, 18 Maret 2011

Prothumia Library

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s