Diskusi Dengan Emosi

meetingw
Listening well

Teringat ketika dahulu saya pernah mendengarkan suatu khotbah. Khotbah tersebut mengajarkan suatu doktrin yang sangat tidak saya setujui pada saat itu (sampai hari ini juga). Selesai orang tersebut berkhotbah, seperti biasa kita makan malam bersama sebagai persekutuan meja, sambungan dari persekutuan pujian dan firman yang biasa dilakukan. Saya memberanikan diri untuk mendatanginya dan akhirnya ketidaksetujuan saya terluncur begitu saja dari mulut saya, siap dengan Alkitab terbuka di tangan. Awalnya ia menanggapi dengan sabar. Maklum, saya hanyalah seorang petobat baru. Namun, selang diskusi yang memakan waktu hingga kira-kira satu jam tersebut, ternyata emosi tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. Kawan-kawan di sekitar pun berusaha menyudahi karena makanan kami berdua sudah menjadi dingin, sementara diskusi semakin panas.

Tidak jarang juga saya berdiskusi dengan beberapa orang lainnya semenjak kejadian tersebut. Ternyata kejadian yang sama bukanlah hal yang jarang terulang dalam diskusi-diskusi kecil yang menghiasi kehidupan ini. Pernah seseorang sampai memukul meja di hadapan saya! Terlibat diskusi dengan banyak pihak dalam lima tahun terakhir ini membuat saya berpikir banyak hal. Mengapa seseorang selalu dikuasai emosi dalam beradu argumentasi?

Sebenarnya masalah emosi dalam diskusi bukanlah hal yang baru. Dan setelah saya pikirkan belakangan ini, mustahillah untuk menghindari emosi dari dalam diskusi. Permasalahannya bukan pada emosi tersebut, namun apakah emosi tersebut mengambil alih diskusi yang sedang berlangsung secara tidak sehat.

BEBERAPA FAKTOR EMOSI

Formal Discussion

Ketakutan akan kegagalan merupakan salah satu emosi yang memiliki kecenderungan yang sama. Tidaklah jarang, terutama dalam diskusi publik, atau bisa juga apabila seorang yang sedang mempertahankan pendapatnya, sebenarnya ia sedang mempertahankan statusnya ketimbang pendapat yang diajukannya. Ini karena di dalam sebuah argumentasi tidak mungkin untuk tidak mempertimbangkan aspek personal dari pribadi yang sedang berargumen. Memang terdengar aneh dalam diskusi akademis, namun secara tidak sadar apabila orang yang berdiskusi dengan kita merupakan orang yang tidak bisa dipercaya perkataannya, maka kita cenderung curiga dengan dia. Atau sebaliknya apabila ia merupakan orang yang sangat baik pembawaannya atau mungkin orang yang dikenal cerdas, mungkin akan membuat kita lebih percaya kepada orang tersebut!

Pembicaraan akan semakin runyam apabila sang pembela ide merasa terancam kehilangan tidak hanya ide yang dipegangnya, namun juga status yang disandangnya secara sadar atau tidak sadar. Ia yang terlanjur memiliki predikat terhormat akan sulit menerima bahwa dirinya bisa gagal, terlebih di antara sekian banyak keberhasilan selama hidupnya. Inilah, saya kira, salah satu penyebab emosi yang mendominasi diskusi. Entah posisinya sebagai seorang yang lebih tua, senior, atau gelar akademis yang dipegang, semuanya terkadang turut berpengaruh pada diskusi.

Selain itu ada juga yang disebabkan oleh faktor ketakutan menyadari bahwa apa yang dipegangnya selama ini ternyata salah. Manusia hidup dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya dalam proses belajar. Kita memegang api lalu menyadari bahwa benda tersebut panas dan layak dihindari. Semenjak saat itu kita tidak akan main-main dengan ceroboh bersama api lagi. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan pemikiran teologis kita. Kita melihat apa yang baik untuk dipraktekkan dalam suatu kondisi lalu mengambil kesimpulan bahwa itu adalah yang terbaik yang dapat dilakukan pada kondisi tersebut. Kesimpulan tersebut membuat kita tidak perlu risau lagi akan hal-hal dasar tersebut sehingga kita bisa memasuki daerah lain yang masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Singkatnya, pembelajaran tersebut adalah untuk memberi rasa “aman” dalam hati kita. Tidaklah mengherankan apabila seseorang yang sudah memegang suatu prinsip yang diyakini teguh, bahkan sudah dipraktekkannya dalam jangka panjang, akan merasa kesulitan untuk melepaskannya. Terjadi ikatan emosi dengan prinsip tersebut seakan-akan prinsip tersebut adalah bagian dari dirinya. Karena itu tidak heran luapan emosi cenderung tumpah apabila bagian tersebut “terancam” dalam sebuah diskusi kritis.

Dari beberapa alasan tersebut (tentu masih ada segudang alasan lainnya!) dapat disimpulkan bahwa kita tidak menerima sebuah kebenaran semata-mata disebabkan oleh argumentasi yang logis dan meyakinkan. Ada banyak sekali hal yang dapat mempengaruhi bagaimana kita memutuskan suatu kebenaran yang mau dianut. Pertimbangan emosional hanyalah salah satu daripadanya.

KERENDAHAN HATI DALAM DISKUSI

Emotional Debate

Lantas bagaimanakah seharusnya kita melaksanakan diskusi? Tentu yang darimula harus dipegang adalah tidak seorangpun yang lepas dari keterikatan emosional kepada prinsip-prinsip yang dianutnya. Hal ini merupakan hal yang tidak terhindarkan, malah, suatu hal yang esensial dalam kepercayaan religius manusia. Adalah ironis untuk membayangkan seseorang yang dapat memiliki devosi terhadap imannya tanpa sebuah ikatan emosional sama sekali. Iman, terutama kekristenan, meniscayakan sebuah devosi dari keseluruhan tubuh dan jiwa, tidak hanya pikiran (Mar. 12:30; Rom. 12:1-2).

Karena itu yang dibutuhkan dalam diskusi apapun, terkhusus teologis, adalah sebuah keterbukaan epistemologis[1] (epistemological openness), bahwa kita sebagai manusia dapat melakukan kesalahan. Dan karenanya pendapat beserta argumen kita bersifat tentatif hingga ada yang dapat membalikkan argumen tersebut. Selain itu kita sebagai manusia juga terbatas dalam pengetahuan. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui, yang diketahui oleh orang lain lebih baik daripada kita. Namun ini tidak menutup kemungkinan bagi seseorang untuk memiliki keyakinan teguh terhadap prinsipnya. Di dalam ranah diskusi adalah baik untuk memikirkan kembali komitmen-komitmen dasar kita, bukan dengan keinginan menghancurkannya (karena untuk menghancurkan sebuah komitmen dasar dibutuhkan komitmen dasar yang lebih dasar), tetapi untuk mencari penjelasan lebih akan apa yang sudah menjadi dasar berpikir kita. Bisa jadi setelah pertimbangan tersebut akan muncul sebuah prinsip yang lebih baik untuk menggantikan prinsip lama. Kesimpulan dari prinsip diskusi ini adalah rendah hati.

Beberapa alasan ini seharusnya dapat membuat suasana diskusi menjadi lebih kondusif. Tidak perlu ada wajah yang menjadi terlalu tegang; tidak perlu ada meja yang digebrak; tidak perlu ada peningkatan nada; tidak perlu ada kata-kata kasar dilontarkan; tidak perlu ada kata-kata merendahkan juga (argumentum ad hominem[2]). Terutama di kalangan akademisi Kristen, hendaklah masing-masing bisa saling belajar satu dengan yang lainnya. Sehingga dapat terjadi sebuah komunitas yang disebut Gene Edward Veith Jr dalam bukunya Dengan Segenap Akal Budi, sebuah “Persekutuan Intelektual Kristen.”

Dengan beberapa alasan dan pertimbangan kecil ini semoga dapat membuka dunia perwacanaan di Indonesia, terutama di antara kalangan akademisi teologi. Sesungguhnya menurut saya diskusi yang dibawakan dengan prinsip ini akan membuahkan hasil yang berlimpah, juga dapat menjadi contoh yang baik dalam model-model diskusi yang ada ke depannya.

23 JunI 2011, Vincent Tanzil


[1] Epistemologi adalah disiplin ilmu yang membahas metode pengetahuan, yaitu bagaimana cara mengetahui apa yang kita ketahui.

[2] Argumentasi yang mengacu kepada si pembawa ide ketimbang ide tersebut. Biasanya tidak sahih untuk dipakai dalam diskusi. Sebagai contoh, “ia adalah seorang maling, karena itu ia tidak mungkin bisa berhitung matematika”; “ia tidak pernah sekolah teologi, mana mungkin penafsirannya bisa dipercaya?”

3 Comments

  1. Mungkin bukan hanya dari orang yang mempertahankan pendapat namun bagi orang yang dalam posisi ‘menyerang’ juga harus rendah hati untuk menata kata-kata yang akan dikeluarkan, sehingga tidak menusuk status dan harga diri orang yang diajak diskusi😀 …. keep writing..

  2. mungkin tidak berangkat dari ‘apa yg kamu pikir?’ atau ‘dari mana pikiranmu itu?’, tapi berangkat dari ‘ini yang saya pikir atau ‘harusnya kamu berpikir begini’.
    tergantung tujuan/motif nya, antara ‘memberitahu dia salah’ atau ‘memberitahu dia bahwa saya benar’.

    tapi aku berpikir bebarapa dicipta dg lebih banyak ‘api’, untuk dipertemukan dengan orang yang lebih banyak ‘air’.
    mungkin anda merasa diskusi itu sia2 dan percuma, tapi ternyata di rumahnya setelah hati pengkhotbah itu ‘netral’ dia mulai memikirkan lagi kebenaran kata2 anda.
    jadi saya lebih memilih menjadi menemukan saya supaya saya dipakai dengan seharusnya, dibanding saya membuat menjadi saya yang saya pikir bagaimana dipakai seharusnya.

    Jadi, ketika anda berangkat dari pikiran dia, berarti anda menempatkan posisi ‘dia mungkin salah, tapi saya juga bisa jadi salah, mari cari kebenarannya’, dan keuntungannya adalah bila anda yang salah, anda tidak terlalu malu karena anda kan bertanya/mengkritisi.

    tapi jika anda berangkat dari pikiran anda, berarti anda menempatkan posisi ‘anda mungkin salah, tapi saya sudah pasti benar’, dan kerugiannya adalah kalau ternyata dia bisa membuktikan dia yang benar, maka anda yang malu.

    ketika memasuki pikiran seseorang mungkin kita permisi dan lihat situasi sekitarnya dulu, utk kemudian mulai menyarankan perubahan2 di dalamnya.
    dari pada anda masuk dengan paksa dan berusaha mengeluarkan semua barang yang ada di dalamnya sementara dia masih mencintai barang2 lama yang ada di pikirannya itu.

    kembali lagi tergantung motivasi.
    kepada beberapa orang, Yesus hanya ingin menunjukkan orang itu salah (biasanya kepada orang farisi), dan di kesempatan lagin Dia ingin membenahi kesalahan orang itu (biasanya kepada murid2Nya atau orang yang bertanya dengan rendah hati & motif yang tulus).

    demikian adanya. thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s