Menulis Sebuah Pemikiran Yang Logis, Sistematis, Dan Praktis (Bagian 2)

Writing_by_LeoNn

Telah dilihat bahwa dalam seluruh disiplin ilmu, bahkan dalam dunia desain pun kita menuntut sebuah ukuran yang dinamakan keteraturan yang sistematis dan logis. Mengenai asal-usul dari tuntutan logis tersebut tentunya berasal dari Allah yang memiliki rasionalitas. Namun dalam asumsi kedua kita, kita menuntut sebuah pertanggungjawaban dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita. Hati ini tidak lega rasanya apabila kita tidak menemukan sebuah penjelasan yang tuntas dari pembahasan tertentu dalam hidup ini.

Oleh karena itu apa yang diharapkan dari sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang sistematis untuk dibaca, serta logis dalam alur berpikirnya. Namun sayang sekali pemikiran ini sudah dirusakkan oleh seorang kritikus sastra bernama Jacques Derrida. Pemikiran orang ini memang tidak terlihat, namun secara tidak langsung orang ini telah merusak banyak pemikiran orang hingga dunia sampai pada kondisi seperti sekarang ini. Sama halnya dengan diabetes, seseorang tidak pernah dinyatakan meninggal karena penyakit diabetes, biasanya seseorang meninggal dikarenakan penyakit jantung, radang paru-paru, dan sebagainya, tapi bukan diabetes! Namun tidak disadari banyak orang, diabetes adalah penyakit utama yang seringkali tidak langsung menampakkan taringnya dalam membunuh manusia, namun dampak-dampak dari diabeteslah yang akhirnya membunuh orang tersebut[1]. Ini sama halnya dengan pemikiran Derrida, sebuah kerusakan tulisan tidak langsung diatributkan kepada Derrida, namun pada banyak hal lainnya, yang sebenarnya dampak dari pemikiran Derrida.

Derrida beranggapan bahwa semua pemikiran harus didekonstruksi untuk menunjukkan bahwa  kata-kata tidak dapat berkesesuaian dengan realitas, namun artikel singkat ini tidak akan membahas pemikiran ini terlalu dalam. Salah satu pemikiran Derrida yang perlu diwaspadai adalah kebenciannya terhadap segala sesuatu yang logis dan sistematis. Ia menolak bahwa ada pemikiran dan tata aturan yang logis dan absolut di alam semesta ini. Ia menyebutnya sebagai “logosentrisme” yang juga ia sebut sebagai mitos kulit putih. Bagaimana menentang logosentrisme ini? Ia menunjukkan dengan menuliskan bukunya dengan urutan yang tidak disangka-sangka, ia memberikan bahasan utama pada bab-bab akhir, kesimpulan pada bagian tengah buku, dan paragraph-paragraf yang tidak jelas urutannya.

Hal ini bertentangan dengan akal sehat. Seorang kritikus pernah menuliskan ulasan mengenai bukunya yang ngawur tersebut dengan komentar-komentar yang sama ngawurnya. Tak pelak Derrida naik pitam dan menelepon untuk memarahi kritikus tersebut. Namun apakah kritikus tersebut melakukan sebuah kesalahan? Apabila sebuah tulisan tidak lagi logis dan sistematis, dan bersifat ambigu (Derrida percaya bahwa sebuah tulisan boleh ditafsir sesuai dengan keinginan orang masing-masing, dan penafsiran setiap orang selalu sah), maka apakah sebuah tulisan ada gunanya sama sekali? Apakah sebuah tulisan harus ditafsirkan dengan tepat?

Kita tidak dapat menyetujui Derrida dalam hal ini (lagipula dia telah memberikan contoh yang buruk sebagai seorang penulis!). Karena itu alangkah indahnya apabila tulisan kita memiliki alur yang sistematis dan logis, sehingga pembaca bisa mengikuti alurnya dengan baik dan sampai pada kesimpulan yang tepat pula. Penilai paling tepat akan tulisan kita sendiri seringkali bukanlah diri kita sendiri. Cobalah berikan tulisan anda kepada kawan yang tidak tahu menahu sebelumnya tentang topik yang ingin anda sampaikan. Apakah ia sampai pada kesimpulan yang anda inginkan pembaca simpulkan? Apakah ia bisa menerangkan kembali alur argumen kita dengan jelas? Itulah tandanya tulisan yang baik: logis dan sistematis.

Vincent Tanzil, 15 July 2011


[1] Untuk ilustrasi ini saya berhutang kepada Pdt.Sutjipto Subeno

3 Comments

  1. “Penilai paling tepat akan tulisan kita sendiri seringkali bukanlah diri kita sendiri. Cobalah berikan tulisan anda kepada kawan yang tidak tahu menahu sebelumnya tentang topik yang ingin anda sampaikan. Apakah ia sampai pada kesimpulan yang anda inginkan pembaca simpulkan? Apakah ia bisa menerangkan kembali alur argumen kita dengan jelas? Itulah tandanya tulisan yang baik: logis dan sistematis.”

    Inilah yang selalu dilakukan dosen pembimbing saya selama proses penulisan skripsi kemarin. Benar sekali Mas yang Mas tulisan di atas – kita membutuhkan mata orang lain. Ditunggu tulisan selanjutnya tentang logika dan tulisan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s