Sekali Lagi Soal Diskusi dan Ide!

images

Satu kali mendiskusikan ide  dengan seseorang ada sebuah perasaan yang sangat meluap-luap dalam pembicaraan tersebut. Perasaan tersebut terasa nyaman dan aman, tentram sehingga rasanya semua pemikiran mengalir dengan deras dan jernih. Tidak terasa waktu berjam-jam berlalu sambil kami mendiskusikan begitu banyak ide mengenai karakter seorang hamba Tuhan, pandangan teolog ini itu, puas rasanya! Namun di lain kali pernah juga berdiskusi dengan seorang rekan lainnya yang bernuansa berbeda. Selama berdiskusi jantung terus berdegup kencang, rasanya mulut ingin segera memotong perkataannya karena dirasa tidak mutu pembicaraannya, atau perkataan saya sering dipotong olehnya (mungkin karena dirasa kurang mutu juga). Selesai berdiskusi rasanya di dalam hati ada rasa bersalah, marah, ataupun puas (dalam artian muak dan malas berbicara dengan dia lagi). Saya orang yang menyukai diskusi, namun mengapa kedua diskusi tersebut berakhir dengan sangat berbeda?

Tentu saja saya menyadari bahwa ide memiliki konsekuensi yang terkadang bisa teramat berbahaya (meskipun berbahaya atau tidaknya suatu ide tergantung definisi dan pandangan seseorang), karena itu saya juga menolak sebuah diskusi ide yang murni rasionalistik dan tidak ada muatan emosi sama sekali di dalamnya. Sungguh sedih rasanya berbicara mengenai ide-ide dengan rasa dan nada bosan yang bisa membuat lesu jiwa. Lantas, bukan berarti juga berdiskusi dengan ide-ide harus disertai dengan perkataan-perkataan goblok, tolol, anjing, babi dan lain sebagainya. Yang terlebih parah, yang sering terjadi adalah merohanisasikan segala hal yang dibicarakan. Pernyataan yang timbul seringkali: “saat teduhmu bagaimana?” (meskipun terkadang ada baiknya menanyakan pertanyaan ini) “hati-hati sesat loh”, “sudah, yang penting kasih”, atau “dia kan orang baik, masa salah?” Ah, tentu saja logika berpikir seseorang dalam berdiskusi turut menjadi penentu utama apakah diskusi tersebut akan menyenangkan atau menguji kesabaran.

Meskipun berbagai faktor di atas turut ambil andil dalam diskusi, namun saya kira kerendahan hatilah yang paling menjadi faktor utama di dalam menentukan diskusi tersebut akan berujung atau tidak. Namun apakah yang disebut sebagai kerendahan hati? Rendah hati berarti tidak sombong. C.S. Lewis pernah menulis bahwa kesombongan mungkin adalah dosa yang paling berbahaya yang ada diantara orang Kristen. Mengapa? Sebab dosa-dosa lain cenderung mengikat seseorang untuk bersatu dalam berjuang menghadapinya, katakanlah para pecandu alcohol yang bersatu untuk memerangi dosa mereka, namun orang yang berdosa kesombongan akan terlalu sombong untuk bersatu memerangi dosa mereka. Kesombongan seseorang dalam diskusi akan terlihat dalam sikapnya terhadap pemikiran orang lain. Setiap orang pernah berbuat kesalahan logika berpikir atau salah bicara, namun dalam diskusi yang sehat seharusnya ada pengertian akan hal tersebut. Sama halnya dengan pihak yang salah, seharusnya apabila memang hal tersebut salah, maka seharusnya dia berani mengkoreksinya. Ini tentu saja hanya bisa dilakukan apabila suasana diskusi tersebut bersifat bersahabat dan konstruktif (berusaha mencari jalan keluar, bukan mempertahankan ide masing-masing dengan buta), bukan destruktif. Apabila suasana yang dibangun adalah destruktif, maka pihak yang menyadari argumennya salah sekalipun akan malu sekali mengakui bahwa dia salah dan hasilnya adalah perdebatan tanpa pangkal, dilengkapi dengan argumen-argumen yang semakin konyol.

Ketika berbicara di dalam diskusi yang sehat, saya kira hal-hal ini perlu amat diperhatikan: (1) bahwa kita mungkin salah, (2) kita tidak sedang mengajar seseorang, namun ingin mendengar pendapatnya, (3) mungkin terjadi kesalahpahaman dalam memahami ide dia, (4) bahwa kita sedang mencari solusi, sebagai orang-orang yang tidak maha-tahu. (5) Dan terutama bahwa kalau bukan karena anugerah Tuhan maka mungkin kitalah yang berada di pihak si “bodoh.”

Ah, betapa indahnya diskusi. Di tempat itu kita bisa menyatakan ide kita yang paling konyol sampai yang paling kontroversial tanpa perlu takut dihakimi dan dicela “kurang iman.” Di situ pula terjadi kejujuran dan kerendahan hati yang semakin terpupuk subur, masing-masing pemikiran ditindak-lanjuti dengan adil. Apabila itu terjadi, maka akan sungguh kaya komunitas kita dengan pemikiran-pemikiran yang segar dan bermanfaat. Patut diingat bahwa tidak ada satu pun pemikir besar yang instan dan tidak pernah bergumul dengan pemikiran-pemikiran lainnya. Berdiskusi harus dibuat menyenangkan!

Vincent Tanzil, 26 January 2011

Ini merupakan draft tulisan saya “Diskusi dengan Emosi” yang saya temukan saat melihat-lihat tulisan lama saya baru-baru ini. isinya secara esensial sama dengan artikel “Diskusi dengan Emosi,” namun pendekatannya berbeda.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s