Indahnya sebuah Perpustakaan Pribadi!

130

Sekedar coret-coret iseng saja.

Hari ini saya menjajaki lantai perpustakaan SAAT yang lumayan tinggi setelah sekian lama mengendap di lantai paling dasar. Sewaktu naik turun tangga (karena ingin minum, barang ketinggalan, minum teh, dan sebagainya. Memang repot kalau harus tinggal di lantai atas!) saya memandang hamparan buku yang disusun rapi di rak-rak yang tersedia. Saya mendekat dan menelusuri beberapa judul buku di lantai empat (atau tiga, terserah deh). Saya terkagum-kagum karena ada begitu banyak buku yang sebelumnya tidak pernah saya lihat. Saya buka-buka untuk melihat tahun penerbitannya. Ternyata masih baru. Kapan masuknya? Entahlah, yang jelas saya senang ada buku baru!

Tetapi setiap kali saya mengelilingi perpustakaan entah bagaimana ada sebuah perasaan kecil menyelimuti. Rasanya semua yang saya ketahui hanya seperti jejak kecil di tengah hamparan pasir yang luas. Ingin sekali untuk menghabiskan waktu saya bertahun-tahun untuk membaca buku-buku tersebut! Tetapi selain itu ada sebuah keinginan kecil timbul pula di hati. Saya ingin punya perpustakaan pribadi!

Now, this is very nice!

Ah, itulah harapan saya yang egois. Bukankah bila buku tersebut berada di perpustakaan umum maka pastilah ia dapat menjadi berkat ke kalangan yang lebih luas? Saya selalu menahan diri untuk tidak membeli buku-buku yang seharusnya “tidak relevan.” Tetapi di kepala seperti ada kurcaci kecil yang berbisik, “suatu hari pasti terpakai!” Belakangan kurcaci tersebut sudah lebih jinak karena alasan ekonomi. Tetapi itulah hasrat, beberapa minggu yang lalu saya akhirnya membeli sebuah novel (Berjudul Perpustakaan Bibbi Bokken karangan Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup. Jangan tanya apa relevansinya dalam kawasan teologi). Membeli sebuah buku baru selalu berarti puasa dari hal-hal yang tidak terlalu penting, semisal makanan kecil, dan banyak lainnya. Apakah saya menyesal? Sekali-kali tidak! Entah bagaimana selalu ada kepuasan tersendiri ketika menemui buku tersebut sudah tersusun rapi di lemari saya. Kesan paling menyenangkan adalah ketika menandatangani halaman depan buku tersebut, seakan membaptisnya masuk ke dalam umat buku pilihan saya.

Ketika suntuk melanda, buku-buku tersebut bagaikan kawan yang siap untuk menemani saya. Bedanya tentu mereka tidak akan mengganggu saya apabila tidak diminta. Ketika saya sedang bosan membaca buku yang saya tekuni, berjalan-jalan ke halaman dari buku-buku lain terasa sangat menyegarkan. Menengguk berita-berita yang dituliskan oleh seorang pemikir yang tidak pernah saya kenal sebelumnya terasa sangat menegangkan. Ah, sekali lagi saya sudah terlalu banyak nglantur.

John Stott and his library. Notice the Tyndale?

Saya selalu bergetar ketika melihat foto tokoh-tokoh pemikir, baik di nusantara atau di mancanegara. Penasaran rasanya melihat rak buku yang menjadi latar belakang mereka (saya heran mengapa selalu diblur!). Melihat foto almarhum John Stott di Christianity Today, terlihat bahwa di rak bukunya terjajar Tyndale Commentary. Dan banyak tokoh lainnya seperti John Frame, Richard L. Pratt, Albert Mohler, dll. Mereka seringkali difoto dengan latar belakang (yang blur!) perpustakaan kecil mereka. Betapa indahnya memiliki perpustakaan pribadi di rumah sendiri.

Teringatlah saya akan perpustakaan rumah tempat saya dibesarkan dahulu. Di dalamnya terletak mulai dari komik anak-anak hingga buku mengenai spiritualitas Timur. Sejak kecil saya selalu menikmati tiduran di atas kasur saya sambil menyuap isi buku tersebut selembar demi selembar ke dalam mata saya yang terbuka lapar. Masih teringat saya akan beberapa halaman dari buku Being Happy, Live and Simplify Your Life!, How to be Really, Really, Really Happy yang menolong anak remaja ini menemukan nilai hidupnya. Belum lagi karangan-karangan singkat dari Chicken Soup yang menggugah rasa ingin tahu akan kehidupan di luar kawasan yang pernah saya jelajahi sebelumnya. Memang memiliki perpustakaan pribadi akan bermanfaat tidak hanya untuk satu generasi saja. Ketimbang mewariskan rumah yang nantinya juga akan mereka jual, kenapa tidak mewariskan perpustakaan saja? Betapapun mereka tidak menggunakannya lagi, maka buku-buku tersebut dapat diletakkan di “Panti Jompo” (Perpustakaan). Mereka tidak akan protes. Malah, mereka seakan hidup kembali, melaksanakan tugas yang diberikan penulisnya terus menerus.

Betapa indahnya buku-buku tersebut. Ia adalah tanda dari sebuah kebudayaan. Pribadi yang menghargai buku dan tulisan pasti memahami perasaan saya ini. Tidakkah anda juga ingin memiliki perpustakaan pribadi? Kurangilah membeli barang-barang yang tidak perlu demi menyusun sebuah jajaran yang bertahan lebih lama dan bermanfaat. Indahnya!

Hanya sekedar corat-coret.

Vincent Tanzil, 11 October 2011.

Di lantai 3 (atau 4) Prothumia Library, SAAT-Malang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s