Kekristenan dan Pascamodernisme: Tanggapan Singkat

postmodernist-300x234

Istilah pascamodernisme sudah bukan merupakan barang baru dalam wacana yang beredar hari-hari ini. Lagi demikian, istilah ini terus menuai perdebatan demi perdebatan dalam dunia akademis. Masalah yang dibahas amat bervariasi. Mulai dari definisi dasar dari istilah tersebut sampai kepada pokok-pokok pemikirannya yang dipandang kontroversial, kalau tidak revolusioner.

Esai singkat ini merupakan tanggapan singkat. Tanggapan singkat menyiratkan sebuah pemaparan singkat mengenai salah satu pokok yang dibahas, yang dilanjutkan dengan evaluasi yang singkat pula. Tanggapan ini diperlukan karena falsafah ini telah memasuki ranah yang menjadi kajian mahasiswa teologi bahkan semua orang Kristen yang memikirkan imannya dengan sungguh-sungguh.

Where to?

Salah satu keyakinan pascamodernisme yang terkenal adalah mengenai relativisme kebenaran. Pandangan ini dengan lugas dapat dirangkum dengan kalimat, “segala kebenaran adalah relatif,” yang dilatari dengan ulasan-ulasan yang tidak sederhana dari para “nabi” gerakan ini. Adalah menarik untuk mengkaji ulasan mereka secara mendetail, namun bukan itu tujuan esai ini. Alasan para pascamodernis untuk mewabahkan diktum ini adalah karena setiap orang, komunitas, dan bahasa seringkali bias dalam pandangan mereka terhadap kebenaran. Tidak ada yang namanya kebenaran mutlak bagi semua orang di seluruh dunia, maupun sepanjang zaman. Menyatakan, bahkan mempertahankan klaim kebenaran mutlak merupakan arogansi yang tidak tertahankan dalam etos pascamodernisme. Orang-orang yang demikian adalah orang-orang fanatis, berpikiran sempit, radikal, tidak toleran dan tidak beradab.

Pandangan ini dipandang destruktif bagi teologi. Bagaimana tidak, kekristenan adalah sebuah iman yang berdiri teguh di atas kebenaran. Ada banyak sekali ayat-ayat dalam Alkitab yang menandaskan pentingnya kebenaran dalam iman orang Kristen. Yesus sendiri disebut sebagai “kebenaran” (Yoh. 14:6). Dipandang destruktif karena bagaimana mungkin seorang Kristen dapat mempercayai kebohongan besar dan masih disebut sebagai orang Kristen? Sungguh memilukan kematian para martir apabila kebangkitan Kristus—sebagai contoh—hanya dipandang benar oleh sebagian komunitas saja dan bukan semua orang (1 Kor. 15:1-19). Sia-sialah orang yang meninggalkan segala kenyamanan hidupnya demi menjalani panggilan Tuhan. Tetapi menyatakan kekristenan berdiri di atas kebenaran tidak semerta-merta berarti kekristenan itu merupakan iman yang benar.

Beberapa orang mungkin akan tergoda untuk melakukan strategi menunjukkan bahwa argumen lawan itu mengalahkan diri sendiri (self defeating). Seorang pascamodernis dipandang berlaku tidak konsisten apabila ia menolak klaim kebenaran mutlak, sementara ia sendiri baru saja menyatakan klaim kebenaran mutlak. Mengatakan tidak ada kebenaran mutlak itu sama saja dengan mengatakan tidak ada bahasa Indonesia—dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ia adalah sebuah pernyataan yang mengalahkan diri sendiri.

Tetapi mereka tentu masih bisa berkelit. Kaum pascamodernis malah akan mengaminkan pernyataan kita barusan. Mereka akan mengatakan, “nah, apa kami bilang, bukankah kebenaran itu memang relatif tergantung orang dan komunitas tertentu? Apabila kalian tidak setuju bahwa kebenaran itu relatif itu bukan masalah bagi kami. Silahkan berpegang pada pandangan masing-masing. Bagi anda pandangan anda, bagi saya pandangan saya.” Lantas bagaimana kita menanggapinya?

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pandangan mereka tidak dapat diterapkan dalam kehidupan normal sehari-hari. Apabila ia mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, maka kenapa kita tidak rampas saja barang milik pribadinya. Ketika ia bereaksi dengan marah, kita katakan saja bahwa menurut komunitas kami merampas barang orang adalah cara untuk melakukan kebaikan. Tatkala ia mengatakan bahwa bagi komunitasnya itu bukan merupakan hal yang baik, pertanyaannya: mengapa kita harus mengakui aturan komunitasnya sebagai yang benar? Bukankah ia sedang memaksakan pandangan komunitasnya kepada orang lain? Bukankah ia seharusnya dipandang arogan dan tidak toleran? Lagipula, sebenarnya apa yang dimaksud dengan kebaikan? Pada akhirnya, demi hidup yang normal pun kita senantiasa membutuhkan kebenaran mutlak.

Bahkan ketika kaum pascamodernis berusaha untuk meyakinkan kita akan falsafah pascamodernisme, mereka menggunakan bahasa yang mereka sendiri tolak kebermaknaannya. Apabila bahasa tidak memiliki makna yang pasti, mengapa repot-repot berbicara kepada saya, apalagi meyakinkan saya? Demikian pun, saat meresponi perkataan kita kepada mereka, secara tidak langsung mereka mengakui bahwa kata-kata memiliki arti.

Saya percaya usaha untuk mematahkan falsafah pascamodernisme tidak harus melalui satu lini argumentasi saja. Kita dapat memaparkan banyaknya kesalahan dan kekacauan dari pascamodernisme. Beberapa di antaranya sudah dipaparkan dalam esai singkat ini. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa kebenaran itu harus ada dan objektif, tidak relatif. Membuktikan keberadaan kebenaran tersebut secara ontologis bukanlah ranah esai singkat ini. Cukuplah dikatakan dalam esai ini bahwa gagasan pascamodernisme bukanlah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan dengan utuh, apalagi dalam kehidupan sehari-hari.

Vincent Tanzil, 17 Oktober 2011.

Esai Bidang Minat Teologi Sistematika SAAT

2 Comments

  1. Mungkin kesalah pahaman kebanyakan orang injili pada postmodernisme diawali karena belum pernahnya postmodern dipelajari secara tuntas dan jelas. Saya rasa postmoderinisme tidak pernah mengajarkan relativisme kebenaran dalam pengertian seperti ini.

    1. Terima kasih untuk tanggapannya. Saya menulis esai singkat ini sudah cukup lama. Di awal pun sudah dikatakan bahwa pascamodernisme memang sulit didefinisikan dan bahkan mungkin cenderung anti-definisi. Setidaknya yang saya tanggapi di sini adalah pascamodernisme populer yang menjadi sebuah “etos.” Saya berharap sdr/i bisa memberikan pengertian yang lebih tepat mengenai postmodernisme?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s