Pembaca, Penulis, dan Pemikir Bangsa

the-ghost-writer-02

Lelehan hitam pekat tersebut bernama tinta. Ia menempel pada sebuah lempengan berbentuk tertentu untuk menjejak pada bidang tertentu. Jejak tinta hitam tersebut bukan seperti cipratan kotor di baju yang remeh. Jejak tersebut menapak di sebuah bidang—kertas, karton, kartu—semata untuk menampilkan hal lain selain dirinya sendiri. Ia tidak muncul dengan keegoisan. Ia muncul untuk menunjuk kepada hal lain. Hal lain tersebut ditangkap dan dimaknai oleh pikiran manusia, makhluk yang notabene menciptakan lempengan tersebut. Itu adalah gagasan. Manusia menggagas untuk membuat cetakan dan cetakan memberikan gagasan kepada manusia. Dengan gagasan yang dicetak tersebut berbagai hal mungkin terjadi—revolusi, perang, damai, sukacita, kesedihan, kedigdayaan, kenistaan. Dengan jejak tinta manusia menjejak dunia.

Dunia gagasan memang merupakan dunia yang abstrak. Banyak orang dengan sinis menyebutnya sebagai semacam menara gading tinggi yang nihil kaitan hidup sehari-hari. Tuduhan mereka mengandung kebenaran, meskipun parsial. Gagasan terbaik jelas bukanlah khayal belaka. Gagasan adalah seperti organ-organ tubuh yang tidak terlalu indah rupanya, namun, tanpanya manusia hanya seonggok daging yang tak berfungsi. Setiap hal-hal yang kelihatan merupakan kulit yang digerakkan oleh gagasan-gagasan di dalamnya. Menghapus peran gagasan adalah seperti menghapus manusia. Manusia tidak dapat bergerak dan hidup tanpa gagasan. Justru karena itulah manusia merekamnya. Karena itulah perpustakaan didirikan. Dengan itulah gagasan dan pengetahuan dipelihara.

Tetapi Indonesia memiliki pemikiran yang amat lain. Nampaknya ia menggagas bahwa gagasan bukan merupakan hal yang terlalu penting. Pikiran ini terlihat dari jatuhnya perpustakaan terbesar di Indonesia. Perpustakaan—rekaman gagasan-gagasan manusia—dibiarkannya luluh lantak tanpa perhatian khusus. Menunjukkan apakah ini selain kemunduran digdaya bangsa? Hal terpenting tidak lagi menjadi yang terpenting. Inilah apa yang disebut budayawan sebagai “pemerosotan” bangsa. Kala demikian budaya dapat dinamai beradab atau biadab.

Sebuah perpustakaan runtuh, apakah orang yang memiliki hobi membaca sedikit? Saya kira tidak. Hobi membaca mudah dijumpai dalam situs-situs sosial, dipajang dengan sedikit kebanggaan bahwa itu adalah bagian dari pribadinya. Kalau begitu apakah hobi menulis yang sedikit? Melihat banyaknya blog yang bertebaran, saya kira juga tidak. Kalau begitu apakah masalahnya sebenarnya? Ekonomikah? Tidak juga.

Masalahnya bukan terletak pada masyarakat yang hobi membaca atau tidak, tetapi pada materi yang dibacanya. Adalah berbeda untuk menghabiskan waktu membaca tulisan-tulisan yang tidak berbobot dibanding dengan membaca tulisan-tulisan yang mencerahkan. Bukan pula pada menulis atau tidak, tetapi pada kualitas tulisannya. Menghasilkan ratusan halaman bukan jaminan sebuah tulisan yang baik. Ada banyak buku tebal-tebal yang memang layak dijadikan sanggahan pintu. Bukan pula pada asupan dana yang mencukupi atau tidak, tetapi pada alokasi dan penggunaannya. Koruptor tidak menjadi perhatian saya, tetapi adanya korupsi atau tidak, manajemen dan strategi yang boros akan mengalirkan dana tersebut ke tempat-tempat yang tidak tepat. Masalahnya terletak pada pemikiran—alat pengolah dan pencipta gagasan—yang melatarbelakangi munculnya tulisan, bacaan, dan dana.

Abraham Lincoln (1809-1865) merupakan presiden yang terkenal dalam pemikirannya. Kisah mengenai semangat membacanya sudah patut dikatakan legendaris. Tetapi sebenarnya masa muda Lincoln tidak dihabiskan dengan berjam-jam di perpustakaan. Ia biasa membaca pada malam hari di dekat perapian ruang tamu keluarganya yang miskin. Hidup di desa yang kecil, bahan untuk dibacanya tidak dapat dikatakan berlimpah. Namun demikian, kehausannya untuk membaca diimbangi dengan pengolahan gagasan yang dituangkan bacaannya. Memang masalah utamanya bukan pada banyaknya informasi dan bacaan, tetapi dengan apakah informasi tersebut dibaca, ditafsir, dilumat, ditelan, dicerna, dan akhirnya dibuahkan.

Karena itu tidak cukup hanya membaca saja, sebab pemikir bukan dibentuk melalui studi literatur semata. Namun bagaimanapun seorang pemikir pasti berikhtiar untuk menjadi seorang pembaca, sebaliknya seorang pembaca tidak selalu menjadi seorang pemikir. Pembaca dan penulis saja tidak cukup, pemikirlah yang dibutuhkan. Ia senang untuk mendapatkan bahan-bahan untuk dipertentangkan, dibanding, dibanting, dibolak-balik di kepalanya. Niscayalah sebuah perpustakaan dipelihara dengan seksama. Seolah-olah ia adalah denyut nadi bangsa pemikir yang tak boleh terhambat.

Tetapi alangkah sayangnya apabila seorang pemikir bukan pula seorang penulis. Bagaimanapun juga, apakah gunanya sebuah pemikiran tanpa media penyampai?

Media tersebut mengalami revolusi pada sekitar tahun 1450-1456. Johannes Gutenberg (1400?-1468) memutar balik sejarah Eropa yang berdampak ke seluruh dunia. Ia mencetak Kitab Suci orang Kristen beserta dengan traktat-traktat tulisan dari tokoh-tokoh yang mempengaruhi pergolakan zaman itu. Perdebatan demi perdebatan terjadi tidak lagi semata di udara, namun juga tergurat lekat pada kertas-kertas. Sampai hari ini penganut iman Kristen Protestan dapat merunut identitas mereka pada reformasi besar zaman itu. Media yang digunakan tidak lain berupa tulisan-tulisan, yang terus menerus dicetak ulang hingga hari ini, menandai berbeloknya arus semangat zaman.

Tulisan-tulisan tersebut sekarang berbaris rapi dalam perpustakaan-perpustakaan di mancanegara. Mereka menjadi guru-guru bagi murid-murid pada zaman mereka hingga sekarang. Gagasan mereka senantiasa diperbandingkan, diulas, dan diejawantahkan kembali dalam konteks baru. Mereka seakan masih hidup dan menafasi pergerakan yang serupa di seantero dunia ini.

Menulis merupakan aktivitas puncak dari seorang pemikir. Semua data yang pernah diperolehnya, dilumat dan ditata sedemikian rupa untuk diwacanakan dalam konteks yang berbeda. Dalam kepala pemikir tersebut ada data dan konteks yang dirajut menjadi sebuah kain kebudayaan yang relevan. Menulis memang sebuah pekerjaan yang sangat memakan waktu, namun tidak termakan oleh waktu; dicipta pada satu tempat namun tersebar di berbagai tempat; dipikirkan oleh satu orang namun diserap ribuan hingga jutaan orang. Menulis adalah pekerjaan yang melampaui zaman. Menulis adalah gagasan lama yang baru.

Ratapan dan tangisan sudah menjadi tayangan umum di bangsa ini. Penyebab deraian air asin tersebut sudah tidak terhitung jumlahnya. Negara memang sedang sakit, jangan dikutuki lagi. Melulu meratap dan menangis tidak pernah menyelesaikan masalah. Penyakit tersebut membutuhkan obat. Genangan ratapan tangis tersebut dapat diciduk dan disiramkan ke tempat yang lebih bermanfaat. Bukan lagi waktunya menambah genangan tersebut. Sekarang adalah waktunya memanfaatkan genangan air menjadi sumber daya.

Sebab itu apakah yang Indonesia butuhkan? Di tengah carut marutnya negara dirundung berbagai badai tajam, tulisanlah jangkar yang akan menandaskan keberadaan Indonesia. Sejarah terjadinya bangsa ini diliputi oleh tulisan-tulisan para tokoh bangsa! Tatkala identitas bangsa tersebut ditelan oleh kemarukan pejabat, maka bangsa akan terbawa arus tanpa arah yang jelas.

Tetapi yang dibutuhkan bukan sekedar menyimpan dan memuseumkan sejarah, namun memainkan kembali gerakan sejarah tersebut dalam konteks yang baru. Karena itulah menulis dibudidayakan kembali. Manusia Indonesia dididik bukan sebagai pendengar, namun pencetus gagasan; bukan sebagai pembeo namun sebagai pemikir. Dengan banyaknya guru-guru besar sepanjang zaman yang bersemayam di perpustakaan, seorang pemikir tidak akan pernah kekurangan guru. Pandangan-pandangan tersebut diangkat kembali dengan kritis, disintesiskan dengan keadaan bangsa yang morat-marit, dipublikasikan dengan jernih dan segar menjadi gagasan yang relevan. Berikutnya gagasan tersebut akan duduk bersama di barisan guru-guru besar sepanjang sejarah kemanusiaan, menunggu untuk diangkat dan diwacanakan kembali.

Itulah yang Indonesia butuhkan. Seorang pemikir dengan ikhtiar untuk lebih banyak membaca dan menulis secara berkualitas. Seorang pembaca, penulis, dan pemikir bangsa.

Vincent Tanzil, 9 Oktober 2011

Esai ini pernah dilombakan dalam kompetisi menulis esai Menjadi Indonesia 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s