Rangkuman Buku To Know and Love God: Sebagian

Awalnya rangkuman dari tiap bab dalam buku ini akan dimasukkan dalam resensi buku yang rencana terbit.  Tetapi pembicaraan dengan editor membuat ide tersebut terkesan suram.  Resensi (rangkuman) saya sudah terlalu panjang untuk dimasukkan dalam sebuah resensi buku singkat.  Saya pribadi mulai lelah menelisik ulang buku ini dari awal hingga akhir kembali, setelah selesai membacanya beberapa waktu lalu.  Meskipun demikian, rangkuman yang sudah dibuat amatlah sayang untuk dikubur dalam tanah.  Apabila mereka diberikan kesempatan untuk terbit dan melihat matahari, siapa yang tahu apa yang akan diperbuatnya?  Karena itulah saya memutuskan untuk menerbitkan beberapa rangkai rangkuman buku ini (saya sudah bosan dan lelah saat memasuki bab-bab pertengahan, mohon maklum).  Semoga bisa menjadi berkat.

Clark memulai bukunya dengan konsep dari teologi (Concepts of Theology).  Ia memulainya dengan menggoreskan sejarah perubahan konsep teologi semenjak bapa-bapa gereja, skolastisisme, reformasi, liberalisme, pascaliberalisme, tradisional Protestan—sambil menarik pelajaran-pelajaran bagi teologi injili pada zaman sekarang.  Pendulangannya dari sejarah teologi tidaklah kering, namun penuh dengan ilham yang bermanfaat.  Menurutnya, teologi yang terlihat sangat radikal pun dapat direkonsiliasi dan dijalin menjadi sebuah kesatuan yang indah.  Tentu saja, ia percaya jalinan tersebut seharusnya didasari oleh asumsi-asumsi injili, yang juga sekaligus dipertahankan dan dijelaskannya dalam buku ini.  Sekali lagi, bagi Clark, permasalahan yang sering muncul dalam teologi bukanlah disebabkan oleh pandangan-pandangan yang bertolak belakang secara radikal, namun disebabkan oleh penggunaan bahasa dari para teolog yang tidak terlalu jelas, bahkan terkadang berlebihan.  Apabila mereka dikupas dengan lebih hati-hati, maka niscaya asupan-asupan yang baru dapat diperoleh.

Memasuki bab ke dua, Clark berupaya menjelaskan (dan mempertahankan) posisi yang dipakai oleh kaum injili untuk meletakkan Alkitab—firman Allah—di dalam teologi sistematikanya.  Judul dari bab ini adalah Scripture and the Principle of Authority.

Otoritas dari Allah adalah otoritas yang berotoritas dari dirinya sendiri.  Allah merupakan otoritas yang jujur dan benar (veracious authority).  Maksudnya, Allah yang maha-tahu dan benar secara karakter tentunya merupakan sumber yang dapat dipercaya bagi penerima otoritasnya (61).  Otoritas dari gereja, pengakuan iman, dan Alkitab, merupakan derivasi dari otoritas Allah Tritunggal (62).  Clark melanjutkan ke penjabaran otoritas teologi sebagai jaring laba-laba.  Artinya, landasan otoritas kekristenan tidak selalu bersifat linear, tetapi bersifat lebih holistis, di mana setiap asumsi saling menegaskan dan mendukung asumsi yang lainnya.  Karena itu, sahih bagi seorang teolog untuk reasons from (menyatakan hal yang berotoritas dari pernyataan Alkitab) ataupun reasons to (memperlihatkan bahwa otoritas Alkitab dapat dipercaya) otoritas Alkitab.  Bagi Clark, Alkitab bukanlah premis pertama (first), tetapi merupakan premis utama (prime) (86).

Bab ketiga merupakan dialog antara Alkitab dengan budaya (Theology and Culture).  Bagian ini dimulai dengan pembahasan mengenai kritik-kritik yang dilancarkan oleh mereka yang dikenal sebagai teologi kontekstual, seperti teologi pembebasan.  Hermeneutika kontemporer cenderung menekankan terkungkungnya seorang penafsir dalam konteks budaya dan sosialnya.  Artinya, teologi tidak lagi bisa disebutkan secara tersendiri, tetapi harus dilengkapi dengan kata sifat, “teologi Barat;” “teologi Amerika Latin;” “teologi Asia;” dan banyak hal lainnya.  Tetapi hal ini tidak berarti teologi pembebasan merupakan teologi yang bebas dari presuposisi budayanya sendiri, balas Clark (109).  Menyadari bahwa tidak ada teologi yang dapat memulai dengan netral, Clark memberikan sebuah kerangka teologi yang dialogis.  Ia menyebutnya sebagai “successive approximation” (perkiraan berturut) (119).  Dalam kerangka tersebut, asumsi-asumsi yang dibawa pada mula menafsir Alkitab, terus menerus diuji dan diuji dalam relevansi serta koherensinya dengan data yang ada di Alkitab.  Hasil penemuan-penemuan dari tafsiran tersebut dibicarakan dalam konteks yang lebih luas—yakni teologi yang diwacanakan dalam perbincangan teologi internasional.  Gunanya adalah untuk memperkaya khazanah teologi, sekaligus mengkoreksi kekeliruan dari teologi yang dibawa oleh budaya lain; yang seringkali meluputkan balok di matanya dalam berteologi.  Alkitab tetap dipegang sebagai otoritas utama dalam kerangka teologi ini.  Alkitab adalah transcultural (menyeberangi budaya) tetapi bukan acultural (nir-budaya) atau supracultural (melampaui budaya), dalam upaya kontekstualisasi teologi (120).

Meluncur pada bab ke empat, Clark membahas kejamakan perspektif dan pengetahuan teologis (Diverse Perspectives and Theological Knowledge).  Clark membicarakan perbedaan dari terminologi incommensurable (tidak dapat dibandingkan) dan incongruent (tak sejenis/ bertolak belakang) dalam memandang relasi antara perspektif-perspektif yang jamak.  Incommensurable yang kelewatan adalah yang saking membedakan dua perspektif yang berbeda hingga menolak kemungkinan kalibrasi untuk saling berpengertian satu sama lainnya antara dua perspektif tersebut.  Sementara incongruent adalah semata mengakui bahwa kedua perspektif tersebut memang bertolak belakang secara fundamental—tetapi mereka tidak setuju untuk hal-hal yang sama.  Maksudnya, meskipun kedua perspektif bertolak belakang, namun itu tidak berarti mereka harus incommensurable.  Sebaliknya, perspektif yang incommensurable jaraknya menjadi terlalu jauh hingga mereka tidak dapat dibandingkan sama sekali, seperti halnya membandingkan kenikmatan makan donat dengan kegiatan studi di sebuah universitas—mereka tidak berhubungan sama sekali dan tidak dapat dibandingkan (137).  Clark mengambil posisi soft incommensurability, yakni bahwa memang ada banyak hal yang sulit untuk dibandingkan dalam dua perspektif, tetapi tidak berarti bahwa mereka tidak dapat berdialog sama sekali.  Dengan membedakan antara microperspective (perspektif secara makro, memandang segala sesuatu secara komprehensif) dan macroperspective (perspektif secara mikro, memandang satu disiplin tertentu secara spesifik), Clark mengklarifikasi kesalahpahaman yang umum terjadi dalam memandang perspektif-perspektif yang berlawanan, hingga menimbulkan kebingungan incommensurable dan incongruent.

Selanjutnya, berselancar pada ombak pascamodernitas dan pencarian akan pengetahuan yang objetif, Clark menjabarkan keuntungan dan kelemahan dari berbagai teori pengetahuan yang beredar selama ini, entah modernisme atau pascamodernisme; entah fondasionalisme, koherentisme, atau pragmatisme—untuk sampai pada sebuah kesimpulan yang disebutnya soft foundationalism.  Teori ini dijabarkannya dengan lengkap pada halaman 161-162 dari buku ini.

Masuk ke bab berikutnya, bab ke lima, Clark membicarakan mengenai kesatuan dari disiplin-disiplin teologi.  Mensketsakan sejarah perkembangan pembedaan subdisiplin-subdisiplin teologi, Clark memulai pembahasannya hingga ke permasalahan modern mengenai jurang antara teologi biblika, historika, sistematika, dan praktika.  Mengambil pengkategorian microperspective dan macroperspective ia berusaha menyatakan bahwa keseluruhan disiplin teologi dapat menjadi satu kesatuan cara pandang.  Baginya, setiap subdisiplin dari teologi adalah microperspective, dan jangan dibawa melebihi area yang memang seharusnya menjadi bagiannya.  Ia berkesimpulan bahwa setiap data dan ilham yang didapatkan dari penelitian secara mikro tersebut dapat dipersatukan dalam skala yang makro—dan menurutnya hal ini terwujud dalam teologi sistematika (191).  Karena itu, “Systematic theology is the broadest, most inclusive of the theological disciplines” (193).

Berusaha untuk komprehensif, Clark memasuki bab berikutnya, Theology in the Academic World (Teologi dalam Dunia Akademis).  Ia menuliskan perjalanan perdebatan kegunaan teologi dalam akademi, bagaimana kaum akademisi berusaha untuk mendepak keluar atau “menghaluskan” fakultas teologi Kristen menjadi fakultas teologi agama-agama; yang terkadang memiliki pandangan yang cenderung ateistis (197).  Clark mengkritisi definisi dari “agama” yang digunakan dalam dunia akademis.  Berangkat dari situ, ia menyatakan bahwa teologi injili berhak mendapatkan tempat dalam fakultas teologi kontemporer, tanpa perlu kehilangan integritas akademisnya.  Malahan, “…cross-perspective dialogue will at least cultivate in evangelical theology a rigor that is more difficult to nurture in the hothouse of the evangelical subculture” (207).  Penjelasan berlanjut kepada pembicaraan mengenai teologi sebagai sapientia dan scientia.  Clark memberikan peringatan bahwa keduanya merupakan hal yang esensial dalam teologi injili.  Baik kehidupan akademis dan kehidupan spiritual sehari-hari (gereja) tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya (212).

Apa kaitan teologi dengan kehidupan spiritual—adalah pertanyaan yang hendak dijawab pada bab ke tujuh, The Spiritual Purposes of Theology (Tujuan Spiritual dari Teologi).  Menggariskan ortodoksi merupakan hal yang dikerjakannya pada awal bab ini.  Seperti buku teks kebanyakan, Clark memaparkan berbagai kemungkinan cara memandang ortodoksi.  Setelah ortodoksi dapat dikenali, pembicaraan berlanjut kepada integrasi pengetahuan teologi dengan kehidupan sehari-hari, di mana Clark menekankan fungsi dari pengetahuan, karakter pribadi, dan komunitas.

1 Comment

  1. teologi/kristologi paling tepat dipahami dg puisi kasih & dirasakan dg lagu kasih, demikianlah pemazmur, dipelajari bukan di bawah mikroskop, bukan kalimat mati dan bahasa yg sulit.. just one & only, Jesus is Endless Love & Eternal God.. dimulai dari sini & diakhiri di sini.. ”barangsiapa mengasihi Aku..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s