To Know and Love God—David K. Clark

To Know and Love God Cover

Resensi Buku: To Know and Love God—David K. Clark (Illnois: Crossway, 2003) (464 Halaman).

Mungkin tepat untuk dikatakan bahwa bentuk sebuah teologi secara umum dapat ditentukan oleh metodologinya—prolegomenanya.  Asumsi-asumsi yang mendasari, entah secara sistemik atau prosedural, mempengaruhi kesimpulan akhir dari sebuah teologi.  Karena itu, diskursus mengenai metodologi teologi menjadi hal yang amat penting.  Untuk itulah, David K. Clark, seorang profesor teologi dari Bethel Seminary, menerbitkan kompendium—serangkaian asumsi dan metodologi—dari teologi injili, dengan komprehensif dan jelas.  Ia memaparkan dan mengklarifikasi permasalahan dan keunikan dari metodologi teologi injili sambil membandingkannya dengan wacana metodologi yang sedang beredar.

Tujuan utama penulisannya jelas: menuliskan sebuah filsafat dari teologi sistematika injili.  Maksudnya, buku ini berisi “analysis of the nature, purposes, methods, and limits of evangelical systematic theology” (xxiv).  Di zaman di mana banyak terjadi ketidakjelasan makna dan bahasa, ia berpikir bahwa sebuah analisa yang lebih ketat dan bertanggungjawab semakin diperlukan.  Menyadari bahwa setiap teologi pada dasarnya harus kontekstual, Clark membedakan antara menganalisa teologi dan mengartikulasikan teologi dalam konteks tertentu.  Mengartikulasikan teologi yang ramah dengan konteks merupakan hal yang patut dipuji, tetapi penekanan Clark di sini adalah analisa teologi yang ketat dan bertanggungjawab—di mana ia memilih tradisi filsafat analitik sebagai kawan penuntunnya.

Clark memulai bukunya dengan konsep dari teologi (Concepts of Theology).  Ia menggoreskan sejarah perubahan konsep teologi semenjak bapa-bapa gereja, skolastisisme, reformasi, liberalisme, pascaliberalisme, tradisional Protestan—sambil menarik pelajaran-pelajaran bagi teologi injili pada zaman sekarang.  Pendulangannya dari sejarah teologi tidaklah kering, namun penuh dengan ilham yang bermanfaat.  Menurutnya, teologi yang terlihat berbeda secara radikal pun dapat direkonsiliasi dan dijalin menjadi sebuah kesatuan yang indah.  Tentu saja, ia percaya jalinan tersebut seharusnya didasari oleh asumsi-asumsi injili, yang juga sekaligus dipertahankan dan dijelaskannya dalam buku ini.  Sekali lagi, bagi Clark, permasalahan yang sering muncul dalam teologi bukanlah disebabkan oleh pandangan-pandangan yang bertolak belakang secara radikal, namun disebabkan oleh penggunaan bahasa dari para teolog yang tidak terlalu jelas, bahkan terkadang berlebihan.  Apabila mereka dikupas dengan lebih hati-hati, maka niscaya asupan-asupan yang bermanfaat dapat diperoleh.

Berikut adalah bahasan yang dicakup oleh buku ini.  Bab pertama berbicara mengenai konsep teologi (Concepts of Theology).  Bab kedua, merupakan Scripture and the Principle of Authority (Alkitab dan Prinsip Otoritas).  Bab ketiga, adalah Theology and Culture (Teologi dan Budaya).  Bab ke empat, pembicaraan beralih pada Diverse Perspectives and Theological Knowledge (Perspektif yang Jamak dan Pengetahuan Teologis).  Meluncur pada bab ke lima, Unity in Theological Disciplines (Kesatuan dalam Disiplin Teologi), menjadi pokok bahasannya.  Bab berikutnya adalah Theology in the Academic World (Teologi dalam Dunia Akademis).  Bab ke tujuh berbicara mengenai The Spiritual Purposes of Theology (Tujuan Spiritual dari Teologi).  Bab ke delapan membahas Theology and the Sciences (Teologi dan Sains).  Masuk bab ke sembilan, Theology and Philosophy (Teologi dan Filsafat).  Lanjut, bab ke sepuluh, Christian Theology and the World Religions (Teologi Kristen dan Agama-agama Dunia).  Bab ke sebelas, Reality, Truth, and Languages (Realitas, Kebenaran, dan Bahasa).  Bab Terakhir—ke dua belas, berbicara mengenai Theological Language and Spiritual Life (Bahasa Teologis dan Kehidupan Spiritual).  Ditutup dengan catatan mengenai The Future of Evangelical Theology (Masa Depan Teologi Injili).  Sebuah penutup yang dinantikan dari buku mengenai prolegomena teologi injili!

Gaya penulisannya sangatlah jelas dan didaktik.  Layaknya buku teks, pembahasan tiap bab senantiasa dimulai dengan gambaran sejarah yang berlangsung mengenai pokok pemikiran bab tersebut.  Sejarah perbandingan tersebut dikupas, ditambah dengan pandangan dan argumentasi dari Clark (atau kombinasi dari berbagai sumber), dievaluasi dan dikritisi, hingga mencapai kesimpulan.  Di tengah kebingungan definisi yang biasa terjadi di pembicaraan akademis, Clark cukup hati-hati untuk memberikan definisi kerjanya dalam tiap pembahasan.  Menarik pula dari Clark adalah pembedaan dan pengkategoriannya yang cenderung mudah untuk diikuti dan dimengerti.  Di tengah arus ramai pandangan teologis, sangatlah menolong untuk memiliki gambaran besar akan apa yang terjadi di samudera teologi yang ada masa kini.  Clark sendiri menyadari bahwa pengkategorian bukanlah hal yang mudah untuk dibuat (52).  Pun demikian, demi tujuan penjelasan, pengkategorian wajib untuk dibuat.  Memang penulisannya secara didaktik sangatlah bermanfaat.

Untuk siapakah buku ini direkomendasikan?  Bagi mahasiswa teologi yang mencari sebuah buku prolegomena yang komprehensif tetapi tidak terlalu menyederhanakan, buku ini merupakan pilihan yang wajib.  Buku ini bisa diibaratkan sebagai lukisan besar samudera teologi, yang mana perlu untuk dilihat sebelum seorang teolog mengarungi sungai-sungai disiplinernya.  Lebih lagi buku ini secara sadar membawa dan mempertahankan asumsi injili tradisional.  Dengan rekomendasi dari Kevin J. Vanhoozer, J. I. Packer, Gary Habermas, dan sekawanan teolog injili ternama lainnya; rasanya tidak pas apabila buku ini dipandang sebelah mata.

Akhir kata, buku ini bisa ditemukan berdiam di perpustakaan SAAT—menunggu untuk menumpahkan isi pikirannya kepada pembaca yang haus.

David K. Clark adalah Profesor Teologi pada Bethel Seminary di St. Paul, Minnesota.  Ia adalah lulusan Houghton College (B.A.), Trinity Evangelical Divinity School (M.A.), dan Northwestern University (Ph.D.).  Ia telah menulis tujuh buku, termasuk Dialogical Apologetics dan When Someone You Love Is Dying.

Vincent Tanzil, 5 Desember 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s