Dekapolis; Jejak Langkah Misi-Nya Menjangkau yang Terpinggirkan (Markus 5:1-20)

decapolis2

Orang gila tidak pernah menjadi suatu pemandangan yang menyenangkan. Kita menyukai pertunjukan di mana orang-orang berpura-pura menjadi gila atau melakukan tindakan-tindakan gila lainnya, namun kita tidak pernah benar-benar menginginkan melihat orang yang benar-benar gila (baca: tidak waras, atau terganggu kesehatan mentalnya) berada di halaman rumah kita bukan? Orang gila bisa kita temui di Rumah Sakit Jiwa, tetapi di jalanan pun juga banyak, mereka tak tahu diri mereka siapa, mereka tak berpakaian, mereka tak punya arah kehidupan.  Kalau kita bertemu mereka di jalan apa yang kita lakukan? Kalau saya, jelas akan menghindar, atau bahkan mengeluarkan jurus ampuh: langkah seribu, alias lari!

Tetapi ketika Yesus sedang melakukan perjalanan-Nya di atas debu dan tanah Yudea, seringkali Ia bertemu dengan orang gila. Masalahnya pertemuan Tuhan kita dengan orang gila kali ini tidak sama dengan pertemuan biasanya. Ia bertemu dengan orang gila di kawasan Dekapolis! Kisah ini dipaparkan dengan lugas oleh Markus dalam tulisannya. . .

Perjalananan Yesus di Wilayah Dekapolis

Dekapolis yang berarti “Sepuluh Kota,” merupakan sebutan bagi daerah bertaburnya kota-kota yang berada di bawah pemerintahan Romawi yang berpusat di Siria. Satu hal yang membedakan mereka dari kota-kota di sekitarnya adalah kebudayaan helenistis (baca: kebudayaan Yunani), yang ditemukan di ke sepuluh kota tersebut. Dahulu daerah ini merupakan bagian dari kerajaan Daud (2 Sam. 8:5-15), dan ketika pasukan Hasmonean (tentang pasukan ini lih. Intertestamental Period) mengambil alih kembali sebagian dari wilayah tersebut, pasukan itu memaksakan agama Yahudi kepada penduduknya. Tetapi akhirnya Pompey, seorang Romawi merebut daerah tersebut dan meletakkannya di bawah otoritas kekaisaran Romawi, yang jelas mempeloporkan kebudayaan Yunani (lih. Greco-Roman Background). Maka dari itu, kebudayaan Yunani mulai bertempur dengan kebudayaan Yahudi. Di antara perkotaan Dekapolis tersebut dapat dijumpai komunitas-komunitas Yahudi, sekaligus orang-orang non-Yahudi juga banyak di daerah tersebut. Sejarah gelap yang pernah berlangsung di antara orang Yahudi dan penduduk non-Yahudi di daerah itu menghasilkan kehidupan yang tidak harmonis satu sama lainnya. Tatkala orang-orang Yahudi melakukan pemberontakan pada tahun 66 M, orang-orang Yahudi menyerang beberapa daerah Dekapolis. Kemudian, tindakan ini dibalas oleh orang-orang Dekapolis dengan cara membantai bangsa Yahudi yang tinggal di daerah mereka. Mengerikan!

Yesus pernah berjalan melalui daerah yang bersituasi genting tersebut. Pastilah Yesus mengetahui bahwa orang-orang pada daerah tersebut tidak akan bersikap ramah kepadanya mengingat sejarah yang pernah terjadi sebelumnya. Yesus adalah orang Yahudi! Tetapi bagaimanapun situasi politis yang ada, itu tidak menghalangi Yesus untuk datang kepada mereka yang terhilang.

Yesus di Hadapan Orang Gila

Baru saja Yesus meletakkan kakinya di daratan, orang gila yang sudah terkenal di daerah tersebut langsung mendatanginya, bukan dengan sapaan yang hangat namun dengan teriakan yang membahana (Mrk. 5:1-2). Sudah menjadi hal yang umum bahwa orang Yahudi menganggap orang non-Yahudi sebagai orang yang najis, apalagi orang gila yang berada di wilayah orang non-Yahudi!

datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.  Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,  karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya.  Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.

Crazy Man

Iblis tidak pernah diasosiasikan dengan tindakan yang baik, demikian pula iblis yang merasuki orang tersebut membuat orang tersebut menjadi gila dan sering memukuli dirinya sendiri dengan batu. Belakangan kita melihat, bahkan ketika rombongan iblis tersebut diusir oleh Yesus ke babi-babi di sekitar, babi-babi malang tersebut pun berakhir terapung di atas air. Orang gila ini jelas melambangkan keberadaan Iblis yang mengekang, membelenggu, dan menghancurkan hidup manusia.

Iblis tersebut bersikap sangat tidak normal di dalam diri orang gila itu sebagai seseorang yang memiliki kekuatan besar. Ketika menemui Yesus, si orang gila langsung menyembah-Nya. Yesus tidak perlu repot-repot mencari, iblis di dalam diri orang gila itu sudah datang menjemputnya. Bisa jadi iblis tersebut keheranan akan kedatangan Yesus sang Anak Allah yang demikian cepat, mereka pikir waktunya sudah tiba bagi mereka untuk masuk ke dalam penghukuman. Selain itu, mereka juga menyadari siapakah Yesus itu sebenarnya, tidak sungkan-sungkan mereka berteriak dengan suara keras “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Sungguh ironis bahwa di keempat Injil, pengakuan tertinggi akan siapa Yesus keluar dari mulut iblis. Bapa segala pendusta tersebut mengenali otoritas Yesus! Kita lihat di sini, peperangan antara iblis dengan Allah tidak pernah merupakan pertarungan yang seimbang. Sang iblis menyadari hal tersebut dan langsung memohon ampun bahkan sebelum ada perlawanan sedikitpun (Mrk. 5:10).

Kemudian, Yesus menanyakan nama iblis tersebut, dan dijawablah “Namaku Legion, karena kami banyak” (Mrk. 5:9). Legion merupakan unit terbesar dari pasukan Romawi yang berisikan 6000 prajurit, namun ini tidak harus berarti ada 6000 iblis, hanya mereka memang berjumlah sangat banyak. Kisah kehadiran Yesus di Dekapolis terus berlanjut dengan Legion meminta agar mereka boleh pindah ke dalam sekitar dua ribuan babi yang berada di tepi jurang. Adanya babi berjumlah sebanyak itu semakin menegaskan bahwa itu memang bukan daerah orang Yahudi. Orang Yahudi menganggap babi sebagai binatang yang najis. Tidak terbayangkan apabila mereka memelihara babi dengan jumlah ribuan di sekitar tempat tinggal mereka.

Lihatlah akhir kisah itu, begitu iblis tersebut memasuki kawanan babi, maka berjalanlah kawanan babi itu menuju ajal mereka, satu tanda nyata lagi bahwa iblis memang selalu merusak ciptaan Allah. Namun poin kisah ini adalah jelas: Yesus, dengan otoritas dan kuasa-Nya, menghancurkan Iblis, dan menyelamatkan seorang manusia, seorang non-Yahudi!

Para penjaga babi (pasti bukan orang Yahudi) melihat hal tersebut dan menceritakan kepada rakyat sekitar akan apa yang baru saja terjadi. Kendati bersukacita karena orang gila tersebut telah disembuhkan, mereka malah menjadi ketakutan dan mengusir Yesus dari daerah tersebut. Tindakan orang banyak itu menyatakan penolakan yang akan dihadapi oleh pemberitaan Injil di daerah tersebut nantinya. Entah mereka mengusir-Nya karena merasa dirugikan secara besar-besaran, atau mereka mungkin takut bahwa Yesus adalah semacam penyihir yang sangat kuat, sehingga mengancam nyawa mereka. Kita tidak pernah dapat tahu.

Tetapi orang yang dirasuk tersebut adalah orang yang paling tahu apa yang Yesus lakukan! Yesus telah memilih untuk membebaskan seorang manusia ketimbang ribuan babi sekalipun, tindakan Yesus ini merupakan hal yang sangat luar biasa. Si mantan orang gila ini memutuskan bahwa ia ingin menyertai Yesus, sebuah permohonan yang ditolak oleh-Nya. Sebaliknya Yesus memerintahkan kepadanya “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Mrk. 5:19). Sesuai dengan perintah Pribadi yang menyelematkanya, maka pergilah orang tersebut memberitakan akan apa yang dilakukan Yesus kepadanya. Di balik semua penolakan tersebut, seorang misionaris pertama di daerah Dekapolis telah lahir!

Dekapolis dan Kehidupan Kita

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari pelayanan Yesus di kawasan Dekapolis. Pertama, jelas bagi kita bahwa Yesus berkuasa atas iblis. Bagi mereka yang hidup di dataran dunia bagian Barat, mungkin perkara mengenai iblis bukanlah hal yang dianggap serius lagi. Namun kita yang tinggal di Indonesia dan wilayah Asia menyadari penuh bahwa iblis bukanlah keberadaan yang sekedar rekaan manusia. Alkitab turut menyaksikan bahwa iblis selalu ada dan masih berkuasa di dunia ini, merusak dan menghancurkan ciptaan Allah Mahakuasa—musuh abadi-Nya. Sebagai orang percaya pun kita bisa saja dimangsanya (1 Pet. 5:8). Sekalipun demikian, teks yang sama menunjukkan bahwa kuasa iblis yang sedemikian juga bukan tandingan bagi Yesus sang Putra Allah. Pada zaman itu adalah wajar (seperti beberapa praktek perdukunan hari ini) untuk merapalkan banyak mantra sebelum mengusir iblis, apalagi iblis yang sangat kuat merasuki seorang manusia. Kendati demikian, Yesus tidak menggunakan banyak kata-kata untuk mengusir iblis tersebut. Iblis menyadari ia berhadapan dengan siapa, dan perintah dari Tuhan Yesus cukup untuk membawanya keluar dari manusia yang malang tersebut meskipun jumlahnya sebanyak Legion!

Kita pada hari ini telah menerima kuasa dari Tuhan Yesus untuk berkuasa atas iblis (Mat. 10:1; Mrk. 3:15; 6:7). Satu-satunya yang kita butuhkan adalah nama-Nya yang sanggup untuk mengusir iblis (Kis. 3:6, 16; 16:18). Kegagalan untuk mengusir iblis bukanlah karena kita kita salah menggunakan formula atau “rapalan” tertentu dalam mengusir iblis, namun karena kita tidak berfokus kepada Yesus yang otoritas-Nya tidak dapat ditolak oleh iblis.

Kedua, poin yang kita pelajari adalah bahwa Yesus memang memiliki misi yang universal, maksudnya misi yang mencakup seluruh dunia ini. Ia tidak datang ke dunia ini semata-mata untuk orang Yahudi. Sebenarnya, semenjak Perjanjian Lama Allah telah menyatakan bahwa Abraham akan dipakai untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Kej. 12:3; 15:5; 18:18; 22:18; dstnya.). Apa yang dilakukan oleh Yesus, seperti sudah kita lihat, hanyalah penggenapan dari perintah tersebut. Pada hari ini kita yang berada di tanah Indonesia bisa mendengarkan injil (bahkan mereka yang di Barat juga), merupakan penggenapan akan berkat tersebut. Karena itu tidaklah berlebihan apabila kita hari ini juga turut berpartisipasi dalam penginjilan global. Orang gila tersebut memulai dari desanya sendiri, akankah kita juga melaksanakan perintah Tuhan tersebut?

Tatkala Yesus berjalan di atas dunia ini Ia menjejakkan kaki-Nya dengan amat dalam. Ketika Ia melewati daerah Dekapolis, sesungguhnya Ia tidak hanya sekedar lewat, namun Kerajaan Allah telah dimulai!

Kini, bagaimana dengan kita? Beranikah kita menghadirkan kuasa Yesus melalui hidup kita, mengusir belenggu-belenggu yang hadir dalam kehidupan manusia. Belenggu-belenggu dari Iblis, yang bisa mewujud dalam kerasukan, atau tindakan-tindakan yang dekat dengan dunia kegelapan. Bahkan juga, belenggu-belenggu yang mewujud dalam tindakan kecanduan, kecanduan pornografi, kecanduan seks-bebas, narkotika, games, dan lain sebagainya.  Hal-hal itu adalah secuil dari tindakan Iblis yang menguasai hidup manusia. Apa sikap dan tindakan kita melihat orang-orang di sekeliling kita, ditawan oleh Iblis, tidakkah kita mau membawa mereka kepada nama Yesus yang otoritatif dan sanggup mengadakan perubahan, sanggup menyelamatkan mereka! Bahkan, seperti Yesus, akankah kita juga mau pergi ke bangsa-bangsa lain, untuk boleh juga menjadi pewarta Kabar Baik? Masih banyak di luar sana, bangsa-bangsa yang belum mendengar berita Injil. Maukah engkau pergi, wahai pemuda?

Vincent Tanzil

Tulisan ini pernah dimuat dalam buku aktifitas Camp Pemuda SAAT 2011. Yang dipublikasikan di sini adalah hasil editan bersama dengan Himawan T. Pambudi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s