Greco-Roman Background-Meninjau Dunia Romawi

Rome - Forum of Augustus Temple of Mars on right

Dalam sebuah drama yang biasa kita tonton, ada yang disebut sebagai latar belakang. Misalnya, pohon-pohon mainan, rumput, bangku taman memang terlihat sebagai figuran yang ada di belakang para pemain utama yang sedang berlaga. Mereka nampak tidak terlalu penting pada pandangan pertama, namun bisakah anda membayangkan sebuah drama tentang kisah di taman tanpa latar belakang tersebut?

Bayangkan lagi, tidakkah akan mengherankan penonton apabila film yang dimainkan mengenai kisah terorisme di Jepang, namun latar belakang pemainnya adalah Tugu Monas yang berasal dari Jakarta? Jelaslah bagi kita, sebuah drama yang baik pasti akan mempertimbangkan latar belakang yang sesuai untuk memperjelas kisah yang ingin dituturkan.

Sebenarnya konsep yang mirip dapat ditemukan di dalam Alkitab, terutama di antara keempat Injil. Sebagai contoh, ketika kita membaca perintah Tuhan Yesus untuk berjalan tidak hanya satu mil namun sejauh dua mil (Mat. 5:41), mungkin kita berpikir, apa yang begitu luar biasa dari dua mil tersebut? Bukankah ini hanyalah salah satu contoh dari etika gotong royong yang baik? Apanya yang begitu spesial dari menolong orang lebih banyak dari biasanya? Ada yang mengatakan bahwa perintah Yesus di sini begitu revolusioner (mengguncang dunia!), tapi di bagian mananya? Di sinilah, demi kejelasan dan pengertian yang lebih jelas terhadap epik atau kisah-kisah dalam keempat Injil, kita membutuhkan latar belakang, kali ini latar belakang dari sudut Romawi.

Artikel ini akan membicarakan mengenai para pemain “figuran” yang ada di belakang para pemain utama tersebut (Yesus, Petrus, dan lain-lainnya). Secara khusus adalah Kekaisaran Greco-Roman yang melatarbelakangi perjalanan Yesus—sang Firman—di atas dunia ini. Mengapa perlu latar belakang Greco-Roman? Jelas karena kehidupan dan karya Yesus terlaksana ketika kekaisaran Romawi berkuasa. Menilik cara pandang atau latar belakang Romawi akan memperjelas pembacaan kita mengenai sikap atau pengajaran-pengajaran Yesus.

Sejarah Roma

Yesus hidup di zaman ketika Kekaisaran Romawi berkuasa atas Israel, namun bagaimana persisnya Roma yang terletak relatif jauh dari Israel tersebut dapat menjajah bangsa Israel?

Kita akan melihat sejarahnya secara singkat. Kekaisaran Romawi berdiri pada tahun 27 SM, di mana Gaius Octavius, setelah mengalahkan semua pesaing, diberi nama oleh Senat sebagai “Agustus” yang berarti “yang suci.” Pada saat yang sama Agustus mendirikan monarki yang menjadi Kekaisaran Romawi, di mana Kekaisaran ini mampu berdiri kokoh hingga sekitar lima ratus tahun. Kekaisaran ini dengan cepat mengembangkan daerah kekuasaan dan menguasai negara-negara tetangga dengan kekuatan militer yang sudah ternama. Perluasan Kekaisaran ini mencapai hingga ke wilayah orang-orang Yahudi zaman itu yakni daerah Palestina kuno.

Kekaisaran Romawi yang teramat besar pada zamannya tersebut berpusatkan pada kota Roma yang namanya juga adalah nama dari kebudayaan Romawi secara keseluruhan. Penjajahan yang diberikan oleh Kekaisaran Romawi pada saat itu telah mempengaruhi secara sangat signifikan akan jalannya sejarah dunia belahan Barat, juga penyebaran agama Kristen nantinya.

Agama Dan Ideologi Romawi

Zeus

Berikutnya kita perlu meninjau kondisi keagamaan serta ideologi Kekaisaran Roma pada waktu itu.  Bangsa Romawi merupakan bangsa yang sangat toleran kepada kepercayaan-kepercayaan lain yang memang majemuk atau beragam pada saat itu. Kondisi itu tidak jauh berbeda dengan Indonesia pada saat ini, di mana di dalam satu negara ada berbagai agama yang diakui dan dilaksanakan sekaligus oleh penganutnya. Demikian kondisi yang dimiliki oleh Kekaisaran Romawi yang besar tersebut.

Tetapi apakah bangsa Romawi tidak memiliki kepercayaan dasarnya sendiri? Sesungguhnya, bangsa Romawi bukanlah bangsa yang tidak memiliki agama. Kepercayaan mereka bersifat animistis, yakni menyembah roh-roh dari hutan, sungai, gunung, dan alam. Kendati memiliki kepercayaan sendiri Kekaisaran Romawi memiliki ideologi atau gagasan atau pemikiran yang membuat mereka bisa hidup berdampingan dengan agama lainnya. Pemikiran ini yang juga akan mempengaruhi cara mereka memerintah nantinya.

Toleransi mereka bukanlah sekedar menghargai pandangan-pandangan agama yang ada. Kekaisaran Romawi cenderung tidak bersikap bermusuhan dengan agama-agama di sekitarnya, namun orang Romawi justru cenderung bercampur baur dengan mudah terhadap agama-agama yang beragam itu. Kondisi itu disebabkan oleh ketertarikan orang Romawi terhadap agama-agama yang ditemuinya di sekitar perbatasan Kekaisaran. Ketertarikan tersebut akhirnya membawa bangsa Romawi “mengadopsi” dewa-dewi dari berbagai agama tersebut ke dalam kepercayaan mereka. Selain Juno, Mars, dan Minerva, dewa-dewi seperti Zeus dan Hera yang merupakan dewa-dewi Yunani juga termasuk di dalam koleksi ilah-ilah mereka. Dewa-dewi seperti Baal, Isis, Osiris, Mitras, dan masih banyak dari budaya lainnya amat mudah untuk “digabungkan” ke dalam kepercayaan Romawi dasar yang animistis tersebut. Bisa dikatakan agama mereka memang sangat campur-aduk hingga tidak jelas bentuk bakunya. Kira-kira sama seperti Gerakan Zaman Baru (New Age Movement)[1] masa kini yang meletakkan Yesus, Buddha, dan dewa-dewi lainnya dalam tataran yang sama sebagai koleksi allah-allah mereka.

Tidak berhenti di situ, tidak hanya dewa-dewi yang tidak kelihatan yang mereka jadikan ilah, namun Kaisar itu sendiri merupakan objek penyembahan mereka pula! Pada mulanya Kaisar tersebut bertindak sebagai imam terbesar (pontifex maximus) yang memberikan korban bagi dewa-dewa di langit. Secara perlahan-lahan, ternyata korban yang layak untuk diberikan kepada dewa-dewi mulai diberikan kepada kaisar itu sendiri.

Patut dicatat bahwa kebudayaan untuk menyembah kaisar adalah kebiasaan yang sangat umum dalam kebudayaan di sekitar Romawi. Keadaan ini pun juga merupakan produk sinkretis pencampuran kepercayaan, percampuran keagamaan mereka. Sebenarnya adalah lazim bagi orang Romawi untuk mengangkat Kaisar-Kaisar mereka terdahulu yang sudah meninggal menjadi allah. Namun pada zaman Greco-Roman tersebut Kaisar yang masih hidup pun diberikan korban seperti kepada ilah. Inilah yang disebut Kultus Imperium, atau pemujaan terhadap Kaisar.

Bermula dari kesadaran akan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki oleh penguasa, masyarakat mulai mengenali pemerintah mereka sebagai ilah. Pemikiran ini bahkan menghinggapi buku anak-anak yang ditemukan bertulisan “Apakah sebuah allah itu? Yaitu ia yang kuat. Apakah raja itu? Yaitu ia yang setara dengan yang ilahi.” orang-orang yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan orang lain, entahkah ia gubernur, jenderal, firaun, atau monarki Helenistis (Yunani), biasa diletakkan sebagai yang setara atau yang dekat kepada yang ilahi. Melihat kekuasaan dari Kaisar Romawi yang sudah terkenal di seluruh dunia—legiuner bergerak melalui perintahnya, berton-ton makanan dan sumber daya bergerak di bawah pengaturannya, dan banyak lainnya—membuat sulit bagi masyarakat untuk membedakan Kaisar dengan para dewa yang ilahi. Masyarakat pun menjadikan Kaisar sama dengan Sang Ilahi.

Augustus

Kondisi Kultus Imperium inilah yang mempersulit kehidupan umat Yahudi yang hanya mau menyembah satu Allah saja (tentu saja karena orang Yahudi hendak taat pada Taurat!). Bayangkan, dewa-dewi yang begitu rupa dan banyaknya itu saja sudah merupakan ancaman bagi orang-orang Yahudi, ditambah dengan kewajiban untuk menyembah Kaisar. Koin mata uang Romawi seringkali memiliki potret Kaisar dengan gelar-gelarnya seperti divi filius (anak dari yang ilahi), dan pontifex maximus (imam terbesar), sementara di balik koin itu dipajang potret seorang ilah lain. Keadaan tersebut menunjukkan ideologi dan kepercayaan pada saat itu bahwa pemerintahan Kaisar didasari oleh pemerintahan dari para dewa. Ia memerintah dengan hak yang ilahi, dan keberhasilannya merupakan pertanda kemurahan yang ilahi.

Bagi beberapa orang Yahudi fanatik pada zaman itu, merupakan kenajisan bahkan untuk memegang koin tersebut karena dianggap sebagai tanda penyembahan berhala. Orang-orang Yahudi akhirnya mengambil jalan tengah dengan memberikan korban mereka atas nama Kaisar, namun bukan kepada Kaisar, dan sebagian besar Kaisar menganggapnya cukup layak sebagai tanda kesetiaan dan itikad baik orang Yahudi. Meski demikian, tetap ada insiden-insiden yang mengganggu kedamaian orang-orang Yahudi yang “keras kepala” karena tidak mau menyembah kepada Kaisar. Kondisi inilah yang dengan amat jelas menghadirkan pemberontakan demi pemberontakan yang dilakukan orang Yahudi. Orang Yahudi terjajah dalam segala hal, terjajah secara wilayah (Tanah Suci mereka, yang adalah simbol identitas mereka, dikuasai oleh orang asing! Lih. Jewish Background), terjajah juga dalam hak beragama (kepercayaan mereka akan keesaan Allah tercabik-cabik!), hidup orang Yahudi makin berat dengan tuntutan pajak yang sangat berat dari pemerintah Roma. Di tengah kebencian terhadap penjajah Romawi itulah, tak henti-hentinya, orang Yahudi berharap kepada kedatangan Sang Mesias.

Belum selesai, sistem monarki Helenistis pada saat itu memang menganggap bahwa sang Kaisar adalah semacam “juruselamat” ilahi. Mereka cenderung dipanggil sebagai kurios  yang artinya adalah “Tuan.” Apabila kita melihat Perjanjian Baru kita (dalam bahasa Yunani tentunya) kita akan melihat bahwa kata “Tuhan” pada nama Tuhan Yesus menggunakan kata kurios yang sama.

Kekaisaran Romawi pun juga terkenal akan kehebatan militer dan adminsitrasinya. Selain itu ilmu hukum, arsitektur, permesinan, dan pembangunan jalan juga sangatlah maju pada bangsa yang dikenal sangat pragmatis ini. Dalam dunia sastra, literatur, filsafat, dan seni, mereka sangat berhutang kepada Yunani. Karena itu bukanlah kejutan bahwa gereja mula-mula amat bergumul terhadap para filsuf Yunani pada zamannya. Kita dapat melihat bahwa bapa-bapa gereja mula-mula juga seringkali berdebat dengan para filsuf Yunani pada zaman itu. Tidak terkecuali Paulus sang misionaris tersebut juga tidak jarang bertemu dengan para filsuf tersebut untuk menyajikan injil (lih. Kisah pertemuan Paulus di Areopagus di Kis. 17: 16-34).

Secara tradisional orang Romawi menghargai kehidupan keluarga dan kebaikan, kehormatan (gravitas), serta kesetiaan (pietas). Tetapi seperti halnya masyarakat saat ini, ideologi yang baik tidak berarti masyarakat tidak memiliki sisi gelapnya. Praktik korupsi, imoralitas seksual, kekejaman dan pembunuhan yang brutal juga tercatat di dalam sejarah sebagai bagian dari kehidupan bangsa Romawi.

Pada akhirnya, sebuah Kekaisaran atau Kerajaan Dunia itu memang berhasil memiliki kekuasaan, baik itu secara wilayah, mau pun dalam ranah agama, sosial dan politik. Tetapi pada hakikatnya, kerajaan Romawi yang hebat itu adalah kerajaan yang palsu. Kemakmuran mereka didirikan di atas dasar pemaksaan, kestabilan pemerintahan mereka didirikan di atas dasar kekerasan dan perang. Dalam Kerajaan yang palsu itulah, Tuhan Yesus menghadirkan Kerajaan Allah. Kerajaan yang sejati, yang bersendikan kasih, pengorbanan, persamaan hak, keadilan, dan kebenaran!

Pemerintahan  Kekaisaran Romawi

Penjajahan yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi memang terlihat bukan sebuah Kekaisaran yang totaliter, dalam artian semuanya diatur oleh Kekaisaran. Pergerakan pemerintahan Romawi lebih berjalan layaknya seorang supervisor ketimbang sebuah badan eksekutif. Maksudnya adalah, sedikit pejabat-pejabat Romawi yang langsung memegang jabatan di kota-kota penjajahan mereka. Administrasi dipegang oleh otoritas pemerintahan per kota.  Kondisi pemerintahan Romawi adalah pemerintahan federasi, sama seperti USA di jaman ini.

Selama pajak dan ketentuan-ketentuan Romawi yang berlaku dipegang dengan baik, tiap-tiap hukum lokal dan upacara keagamaan tiap kota tetap dihargai selama mereka tidak menghalangi pemerintahan yang berjalan. Karena inilah orang Yahudi masih bisa tetap melaksanakan ritual ibadah mereka tanpa diganggu pemerintah. Pemerintahan semacam inilah yang disebut sebagai pax Romana (kedamaian Roma). Pax Romana adalah sebuah ideologi Kekaisaran Romawi, yang dimana orang-orang Romawi mengklaim bahwa diri mereka adalah pembawa kedamaian di muka bumi, di atas tanah di mana bendera Romawi dikibarkan!

Ideologi pax Romana inilah yang menyebabkan banyak orang Romawi melihat tugas utama mereka adalah untuk membawa kedamaian kepada dunia dengan kemakmuran, kerukunan, dan kehidupan yang teratur. Kaisar Agustus merupakan seorang yang amat dihormati sebagai pencetus dari idealisme ini, tidak heran pax Romana tersebut juga terkadang disebut pax Augusta. Beberapa pujangga dan sejarawan Romawi juga turut dalam membuat Agustus menjadi semacam ilah untuk Kekaisaran Romawi. Di tengah masa kejayaan Romawi pada saat itu terdapat pula orang-orang yang meramalkan bahwa suatu hari Roma akan menjadi ibukota dari seluruh dunia.

Meskipun di tengah idealisme yang begitu rupa, nyata-nyatanya idealisme atau gagasan tersebut juga tidak berjalan semulus di perkataannya. Di tengah segala kata-kata indah akan pemerintahan Romawi, terdapat pula banyak ketidakadilan dan kekejaman Romawi yang dirasakan oleh bangsa-bangsa yang dijajahnya. Tidak jarang para penulis-penulis Romawi pada zamannya juga ada yang bersikap kritis terhadap pemerintahan Romawi. Ada yang mengatakan bahwa Romawi membantai, memperkosa, menarik keuntungan; mereka membuat penghancuran habis-habisan lalu menyebutnya sebagai perdamaian. Sekali lagi, kestabilan pemerintahan, inilah yang disebut perdamaian ala Roma, dibangun di atas dasar perang, kekerasan, dan kekuatan militer! Betapa rapuh dan bohongnya kedamaian macam itu.

Cicero seorang orator, menyatakan bahwa Kekaisaran Romawi dibenci oleh semua orang di seluruh dunia; provinsi-provinsi meratap; orang bebas mengeluh; dan raja-raja marah. Kesaksian para sejarawan seperti Tacitus menyatakan bahwa penindasan dari para gubernur berlanjut semakin cepat malah setelah pemerintahan Agustus.

Ideologi pax Romana tersebut tidaklah dinikmati dengan tenang kepada orang-orang pribumi yang dijajah pada zaman itu. Sistem pemerintahan Romawi pada tiap provinsi juga mudah untuk disalahgunakan oleh pihak yang berkuasa. Bagaimana tidak, gubernur-gubernur Romawi tersebut hanya memiliki sedikit batasan dalam menjalankan pemerintahan mereka. Dengan kata lain, mereka hampir-hampir menjadi semacam raja yang dapat bertindak sewenang-wenang. Sistem pemerintahan seperti ini menyebabkan sebuah pemerintahan yang entah baik atau buruk bergantung kepada karakter dari gubernur yang berkuasa. Tokoh-tokoh Romawi yang kita kenal melalui keempat Injil rupanya bukanlah tokoh-tokoh yang baik.

Segala warna-warni dari pemerintahan Romawi yang seperti inilah yang melatarbelakangi penulisan keempat Injil dan PB secara keseluruhan. Teks-teks Perjanjian Baru memang tidak membicarakan perihal pemerintahan Romawi ini dengan detail, namun beberapa teks menjadi lebih jelas ketika kita memahami latar belakang pax Romana ini. Yesus juga pernah mengkontraskan damai yang Ia berikan dibandingkan damai (pax) yang dari dunia ini (Yoh. 14:27), sebuah kabar yang pasti menimbulkan pengharapan dibandingkan damai bangsa Romawi yang menimbulkan ketakutan.  Yesus mewartakan Kerajaan Allah, yang didasarkan pada pengampunan, kasih, penghormatan pada sesama, keadilan, kebenaran, penerimaan, dan bahkan pengorbanan.  Yesus mewartakan pesan yang berbeda! Pesan yang revolusioner, pesan alternatif, yang jelas harus dikaryakan sampai saat ini. Bukankah masa kini pun, pemerintahan dunia juga seringkali mewartakan berita perdamaian? Tetapi berita kedamaian yang palsu, dan penuh kebohongan?

Tokoh-Tokoh Kekaisaran Romawi Dalam Alkitab

Untuk mengakhiri uraian latar belakang Romawi, maka kita perlu menelisik terlebih dahulu, dua tokoh penting dalam Injil, yang adalah bagian dari pemerintahan Romawi.

Pertama, Herodes yang sebelumnya merupakan gubernur di Galilea. Ia memenangkan gelar dari Romawi sebagai “Raja orang Yahudi,” sebuah gelar yang didapatkannya dengan penuh penumpahan darah. Pertama-tama perlu untuk diketahui bahwa Herodes bukanlah seorang Yahudi. Ia merupakan seorang yang lahir di daerah Selatan Palestina. Ia menjadi seorang raja karena dianggap berjasa besar kepada Kekaisaran Romawi.

Herodes merupakan seorang yang mencintai budaya Helenis dan Romawi. Karena itulah ia mengusahakan banyak pendidikan dalam budaya Helenistis pada pemerintahannya. Selain itu, ia merupakan seorang arsitek yang amat handal pula. Ia membangun teater, amphiteater dan banyak bangunan-bangunan lainnya untuk mensejahterakan rakyatnya. Termasuk di dalam upaya Herodes untuk menyenangkan rakyatnya (demi maksud politis tentunya), ia juga membangun Bait Suci orang Yahudi menjadi berkali-kali lipat besarnya. Bahkan pembangunannya tidak kunjung selesai hingga tahun 70 M di mana pasukan Romawi membakarnya sampai habis. Bait Allah yang dihiasi dengan banyak emas dan perak dan juga berdiri amat megah inilah yang ditapaki oleh Yesus dan murid-muridNya. Tidak heran para murid juga pernah memuji akan kebesaran Bait Allah tersebut, meskipun Tuhan Yesus menyatakan bahwa Bait tersebut akan roboh juga pada akhirnya (Mat. 24:1-2).

Di bawah kekuasaannya daerah Yudea makmur secara materi. Namun ia juga terkenal kejam, bahkan ada yang menyebut bahwa ia kemungkinan adalah seorang paranoid yang sadis. Kekejaman ini dapat dilihat dari pembunuhan bayi-bayi di Betlehem atas kabar kedatangan Yesus Kristus di dunia (Mat. 2). Selain itu, ia juga pernah membunuh istri dan anak-anaknya sendiri karena curiga bahwa mereka ingin melakukan pemberontakan. Herodes, meskipun seorang pemerintah yang membawa kemakmuran, namun ia juga terkenal akan kekejamannya.

Kedua, Pilatus, seorang yang namanya senantiasa dibacakan pada pengakuan iman rasuli, merupakan gubernur di Yudea pada zaman Tuhan Yesus. Posisinya secara historis tidak terlalu jelas apakah ia adalah seorang gubernur ataukah seorang prefek. Yang jelas, ia tetap memiliki otoritas yang absolut di daerah kekuasaannya, meskipun ia masih harus bertanggungjawab kepada atasannya di Siria. Kita tahu dari sejarawan seperti Yosefus dan Philo bahwa pemerintahan Pilatus ditandai dengan lumuran darah. Perseteruan berdarah tersebut membawanya terhadap panggilan untuk kembali ke Roma. Belakangan menurut sejarawan bernama Eusebius, ia bunuh diri.

                Dua orang contoh bagian dari kekaisaran Romawi, menunjukkan pada kita sebuah kenyataan: kekejaman pemerintah Roma.

Reaksi Orang Yahudi Terhadap Kekaisaran Romawi

Di tengah kondisi penindasan itu, kita perlu mengerti reaksi orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi terbagi-bagi dalam posisi mereka terhadap pemerintahan Romawi. Ada yang sangat pro terhadap Romawi (Golongan Saduki), ada yang berusaha mencari damai, ada yang sangat kontra dan cenderung ingin memberontak dengan senjata (Golongan Zelot). Sistem perpajakan yang dimiliki oleh Kekaisaran Romawi turut ikut andil dalam kebencian orang Yahudi terhadap pemerintahan Romawi. Para pemungut cukai seperti Matius dan Zakheus merupakan figur-figur yang amat dibenci oleh orang Yahudi pada saat itu.

Perpajakan di daerah Yudea bukanlah dipegang oleh orang-orang Romawi, namun oleh sesama orang Yahudi sendiri. Mereka yang bertugas menjadi pemungut cukai wajib untuk memberikan kepada Romawi pajak yang diperlukan, sementara para pemungut cukai tersebut hidup dari komisi yang mereka dapatkan ketika memungut pajak. Orang-orang seperti Zakheus merupakan kepala dari beberapa pemungut cukai lainnya. Tidak seperti pemungut pajak zaman sekarang, para pemungut cukai ini mudah dilihat berjalan-jalan di jalanan untuk bekerja. Sebenarnya sistem perpajakan yang ada sudah menetapkan berapa banyak uang yang seharusnya menjadi komisi mereka, namun kekuasaan untuk menentukan sendiri nilai dari barang-barang yang dikenai pajak seringkali menjadi sarang penipuan dan perampokan bagi para pemungut cukai tersebut. Kaum ini sangat tidak populer di kalangan orang Yahudi, karena dianggap menjual sesama bangsanya demi keuntungan mereka sendiri. Demikian korupnya mereka hingga para rabi menganggap najis sebuah rumah yang dimasuki oleh pemungut cukai. Pengakuan akan kecurangan mereka dapat dilihat dari pengakuan Zakheus (Luk. 19:8) maupun dari teguran Yohanes Pembaptis (Luk. 3:12-13). Tidaklah mengherankan bahwa mereka dibenci bukan hanya karena mereka menarik pajak, namun juga karena bekerja sama dengan Romawi yang juga menjadi musuh nasional bagi orang Yahudi.

Tetapi lihatlah keempat Injil baik-baik! Kepada orang-orang demikianlah kita melihat Tuhan Yesus seringkali bergaul, makan, bahkan tinggal di rumahnya.  Kepada orang-orang yang dianggap hina, Yesus datang dan mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan yang sejati.  Ia memberikan pengampunan, meregangkan tangan penerimaaan, memeluk dengan hati welas asih, dan Ia menghadirkan damai sejahtera.  Bukankah justru dengan demikian, Yesus menghadirkan sebuah pax, sebuah kedamaian?

Kesimpulan

Tidak terasa sudah banyak yang diperkenalkan mengenai para pemain figuran pada zaman Tuhan Yesus, terutama Kekaisaran Romawi. Tentu saja ini bukan keseluruhan dari latar belakang pada zaman tersebut. Buku-buku tebal telah dituliskan agar kita bisa lebih mengerti latar belakang dan budaya dari perjalanan singkat Tuhan Yesus di dunia ini. Masih banyak kejutan-kejutan yang dapat digali dari Injil Yesus Kristus!

Terlebih indah adalah menemukan sendiri akan keindahan dan kekuatan, serta kontroversi yang meliputi Tuhan kita Yesus Kristus pada zamannya. Artikel singkat ini hanya berfungsi sebagai semacam appetizer. Kali ini kita akan dapat membaca injil-injil Yesus Kristus dengan rasa yang lebih berbeda, lebih berasa.

Yang pasti adalah, dunia kita sekarang pun dikuasai oleh Kekaisaran Romawi. Ia mewujud dalam pemerintah-pemerintahan dunia. Lihat saja pemerintah kita yang mencoba mewartakan kedamaian, kesejahteraan dan janji-janji kebaikan lainnya. Tapi apa isinya pemerintahan dunia? Korupsi, kekerasan, ketidakadilan sosial, ketidakpedulian pada yang miskin, tindakan-tindakan moral yang egois, dan mencari keuntungan sendiri; nyata dalam hidup pemerintahan dunia.  Pemerintahan dunia adalah kerajaan palsu.  Dalam konteks inilah, anak-anak muda yang cinta Tuhan Yesus, dan juga Gereja, harusnya melakukan tindakan revolusioner, yang “melawan” kondisi itu. Tentu bukan dengan kekerasan atau pun pemberontakan! Tapi dengan membangun komunitas-komunitas. Komunitas yang berlandaskan kasih, pengorbanan, kebenaran, keadilan, serta pengampunan dan penerimaan terhadap sesama.  Bukankah itu berita yang sangat mengejutkan? Dan, kerinduan kami, mari kita menjadi pejuang-pejuang militan sehingga Kerajaan Allah semakin dinyatakan-Nya di muka bumi ini. Soli Deo Gloria!

Vincent Tanzil

Tulisan ini pernah dimuat dalam buku aktifitas Camp Pemuda SAAT 2011. Yang dipublikasikan di sini adalah hasil editan bersama dengan Himawan T. Pambudi.


[1]Gerakan zaman baru adalah sebuah gerakan keagamaan di abad 21, yang mempunyai dasar pemikiran menggabungkan pola keagamaan Barat dengan spiritualisme Timur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s