Belajar dengan Rasa Penasaran

CuriosityJournalQuestionMark2

Memang benar bahwa kita tidak tahu segala sesuatu.  Manusia cenderung mengambil sikap yang cukup ekstrem dalam menghadapi gejolak ketidaktahuan ini.  Di antaranya adalah bersikap tak acuh sama sekali atau belajar dengan berlebihan, ingin menjadi ensiklopedia berjalan.  Tetapi beberapa mengambil jalan belajar sebagai kewajiban.

Seorang profesor di dataran Amerika pernah menuliskan artikel yang menarik di majalah Christianity Today.  Beliau menulis mengenai kebiasaan mahasiswanya yang malas membaca.  Bagi mahasiswanya, membaca buku adalah seperti sayuran pahit yang harus dimakan demi kesehatan.  Tetapi seringkali pada masa akhir studi, beberapa dari mahasiswa tersebut menyadari bahwa ada terlalu banyak buku penting yang perlu dibaca di dunia ini.  Karena itu mereka meminta daftar sepuluh buku yang harus dibaca dalam tahun itu kepada profesor tersebut.  Jawaban profesor tersebut mengejutkan mereka: “bacalah buku apa pun yang ingin anda baca!”  Bagi profesor tersebut, terlalu banyak waktu yang dihabiskan oleh manusia di dunia ini untuk membaca buku yang “wajib baca.”  Semenjak awal sekolah kita sudah dibiasakan dengan membaca sebagai tugas.  Jarang ada yang memberikan nasihat akan indahnya membaca apa yang kita memang ingin baca.  Tentu saja profesor tersebut tetap berharap bahwa mahasiswa-mahasiswanya akan membaca karya-karya yang penting di sejarah dunia ini dengan keinginan sendiri.  Namun, pesan yang ingin disampaikannya adalah pelepasan mahasiswa dari perbudakan “bacaan wajib.”  Jauh lebih indah untuk membaca dengan dorongan kehausan pribadi.

Tepat sekali apa yang dikatakan oleh profesor tersebut!  Obat untuk mereka yang malas membaca bukanlah sebuah disiplin membaca yang lebih baik (pun pentingnya hal tersebut), tetapi kehausan pribadi akan pengetahuan dan pengertian.  Tetapi, bagaimana menimbulkan kehausan tersebut?  Caranya adalah dengan selalu bertanya “mengapa” dan “bagaimana.” Segala risalah buku akademis yang terpapar rapi di perpustakaan mungkin sebagian besar hanya berusaha menjawab kedua pertanyaan maha penting ini.  Saya pikir tidak ada stimulan yang lebih baik bagi seorang pembelajar ketimbang rasa penasaran akan bagaimana mengerti dunia ini (atau Allah, tergantung subjek favorit anda).

Sebenarnya hal ini sering kita lakukan, hanya mungkin subjeknya yang berbeda.  Kita bertanya mengapa pakaian kita harus rapi, potongan rambut tidak boleh melebihi kerah baju, mengapa perusahaan tertentu sukses, dsbnya.  Urgensi dari pertanyaan tersebut memberikan dorongan yang berbeda-beda kepada kemauan kita untuk mempelajarinya.  Misalnya saja seseorang terkena kanker, tiba-tiba saja ia jadi ingin tahu segala sesuatu tentang kanker, betapa pun rumitnya bahasa yang digunakan, ia akan segera mencari kamus dan bantuan untuk memahami apa yang disampaikan oleh teks yang berada di depan matanya.  Masalah karirnya akan maju atau tidak, pasangan hidup, keuangan masa depan, cara memasak sayur, serasa tidak berarti.  Mengapa demikian?  Sebab masalah yang dihadapinya adalah permasalahan hidup dan mati; bukan sekadar itu, hal itu menyangkut dirinya sendiri dengan sangat signifikan!  Rasa penasaran yang tepat akan membangun rasa haus untuk membaca tanpa rasa kewajiban.

Pergumulan dan konteks kehidupan kita sehari-hari sedikit banyak akan membentuk rasa penasaran kita.  Tidak heran ada beberapa orang yang begitu tertarik dengan masalah sosial politik, tetapi sebagian lebih tertarik dengan cara menjaga kebugaran tubuh di masa senja.  Tetapi, terlalu banyak mengkonsumsi hanya apa yang ingin kita baca bukanlah diet yang sehat.  Karena itulah disiplin sedikit banyak diperlukan dalam menentukan bacaan kita.  Apabila kita terlalu banyak membaca buku-buku yang membutuhkan pemikiran berat, cobalah membaca beberapa novel yang mencerahkan.  Apabila kita terlalu banyak membaca buku-buku ringan yang tidak terlalu membutuhkan konsentrasi tinggi, cobalah baca buku yang lebih mentah dan resapilah kata demi kata, kalimat demi kalimat.  Apabila kita cenderung bergumul saja dengan buku tentang satu subjek, cobalah baca buku dari subjek yang berbeda—meskipun berkaitan pula.  Saya mendapati ayunan pendulum baca dengan bacaan yang variatif dapat menolong dalam kenikmatan membaca, belum lagi sumbangsih pada pemikiran kita yang menjadi lebih utuh.

Apabila sudah selesai mencerna pengetahuan yang diberikan orang lain, jangan lupa diproses dan dituliskan.  Ingatlah, anda mendapat gizi dari orang-orang yang mengesampingkan waktunya untuk menuliskan ramuan pengetahuan mereka.  Siapa tahu Tuhan memakainya untuk memberkati seorang pribadi, bahkan nasib sebuah bangsa, melalui tulisan anda dan saya.  Semoga demikian!

Vincent Tanzil, 23 Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s