James Chalmers–Misionaris di Papua

James_Chalmers_missionary

James Chalmers mendapatkan panggilan untuk menjadi seorang misionaris ketika ia mendengar surat mengenai misionaris-misionaris yang sedang berjuang kepada suku-suku kanibal dibacakan di gerejanya.  Selesai membacakan surat tersebut, sang pendeta menangis dan bertanya kepada jemaatnya apakah ada di antara mereka yang akan berangkat kepada para kanibal tersebut.  Chalmers berkomitmen bahwa ia akan berangkat.

Chalmers dan istrinya tiba di pulau Rarotonga, di mana ia dikenal oleh penduduk asli sebagai “Tamate.”  Tetapi ia tidak lama berada di pulau tersebut, sebab sudah ada orang Kristen di antara suku-suku di pulau itu.  Ketika ada misionaris pengganti, ia langsung meminta untuk pulang dan dikirimkan ke pulau Papua yang belum pernah disentuh pada saat itu.

Ia berhasil berteman dengan penduduk asal Papua.  Mereka sempat diancam akan dimakan oleh suku di Papua, namun mereka berhasil bertahan.  Mereka akhirnya menjadi bersahabat.  Hanya satu hal yang selalu mereka tolak, yakni daging manusia sebagai hidangan.

Hanya beberapa saat keluarga Chalmers berada di pulau tersebut, istrinya harus meninggal dunia.  Mendengar hal tersebut tidak membuat Chalmers bergeming.  Ia menyatakan kepada kawan-kawannya bahwa banyak misionaris lain yang juga memiliki kehilangan yang serupa dengannya, yakni kehilangan istri terkasih.  Ia memutuskan untuk membenamkan diri di dalam pekerjaan misi yang telah ia mulai.  Tuhan memberikan hasil kepadanya: pada tahun 1882 Chalmers melaporkan bahwa, “tidak ada tungku kanibal, tidak ada makan-makan, tidak ada daging manusia, tidak ada hasrat untuk tengkorak manusia.”  Ia berhasil memengaruhi suku-suku kanibal di daerah tersebut untuk menghentikan perbuatan mereka yang keji.

Chalmers seringkali menolak tawaran untuk pulang kembali ke negeri asalnya, meskipun istrinya yang kedua juga harus meninggal di tengah pekerjaan misinya.  Ia menyatakan bahwa ia tidak bisa beristirahat selama masih ada ribuan orang yang tidak mengenal Allah yang bertebaran di sekitarnya.  Pada 4 April 1901, James Chalmers akhirnya dibunuh oleh salah satu suku yang sedang dilayaninya.  Ia bersama dengan misionaris lainnya ditangkap dan dimutilasi untuk akhirnya dimakan oleh suku kanibal.  Kabar kematian Chalmers bukannya meredakan semangat para misionaris muda, malah semakin banyak kaum muda yang terbakar untuk melanjutkan pekerjaan misi yang ia harus tinggalkan.

Pelajaran yang didapatkan

Ada yang mengatakan bahwa gereja dibangun di atas darah para martir dan kisah James Chalmers semakin meneguhkan hal tersebut.  Saya melihat bahwa keberanian seorang misionaris yang penuh dedikasi tidak akan pernah dibiarkan Tuhan terbuang sia-sia.  Keberanian dan keuletan Chalmers menghadapi berbagai peristiwa mengerikan dalam hidupnya tidak menghadang ia untuk melaksanakan panggilan Allah dalam hatinya.  Akhir hidupnya adalah akhir yang mengejutkan banyak orang yang tidak mengerti kehendak Allah, namun jelas bahwa keberanian, air mata, dan darah Chalmers menjadi pintu pembuka untuk masuknya injil kepada para suku kanibal di daerah Papua.  Pelajaran paling berharga dari kehidupannya adalah menghadapi setiap permasalahan di ladang pelayanan dengan mengingat kehendak Allah yang lebih besar, yakni menjadi sarana Allah untuk menyelamatkan mereka yang terhilang.

James & Marti Hefley, By Their Blood: Christian Martyrs of the Twentieth Century (Grand Rapids: Baker, 1996) 169-171.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s