Refleksi Pendidikan Teologi dan Apologetika selama di UK Petra

Saya memiliki kesempatan yang luar biasa selama menjalani perkuliahan pertama saya di UK Petra, yakni belajar teologi dan apologetika untuk membentuk dasar cara berpikir Kristiani saya.  Hal ini menjadi penting karena, sebagai seorang petobat baru, saya masih memiliki banyak asumsi dan filsafat hidup yang, secara tidak sadar, masih tertinggal dalam benak dan perilaku saya.  Pembelajaran ini membuat saya harus berhadapan langsung dengan asumsi-asumsi tersebut, menilainya, dan mengubahnya agar sesuai dengan pikiran Kristus.  Sebagai seorang siswa yang senang membaca buku-buku self-motivation, kepemimpinan, falsafah hidup (baik dalam bentuk populer maupun yang bersifat religius), maka ada banyak hal yang harus dipikirkan ulang dengan sungguh-sungguh, terkhusus ketika saya belajar apologetika dan teologi.  Yang pertama untuk membantah dan membongkar bangunan filsafat palsu, yang kedua untuk membangun filsafat hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tidak hanya membongkar dan membangun pikiran, pembelajaran ini juga membawa minat saya untuk memberitakan Injil.  Di tengah pluralitas agama dan masyarakat yang ada, keberanian untuk hidup kudus bagi Tuhan, memberitakan Injil, tidaklah terdengar relevan apalagi genting.  Namun, ketika teologi dan apologetika telah menyingkirkan semua hambatan dan kecurigaan, maka mau tidak mau perintah untuk memberitakan Injil bergaung dengan lebih keras di kepala, “Kau tidak punya alasan lagi untuk tidak memberitakan Injil!”  Memang saya sadari bahwa pengalaman saya ini unik dan tidak universal.  Saya menyadari bahwa pengaturan perilaku dan tindakan saya terutama adalah melalui pemikiran dan argumen yang logis.  Karena itu ketika sebagian besar hambatan intelektual telah berhasil dijawab, lebih mudah bagi saya untuk menaati kehendak Tuhan—secara khusus dalam bidang penginjilan.  Sekalipun demikian, saya kira tidak ada seorangpun manusia yang berpikiran sehat dapat melepaskan diri dari pengaruh argumentasi-argumentasi yang diberikan kepada pikiran kita, atau apa yang disebut “pembaharuan budi” (Rom. 12:2).

Pembinaan apologetika dan penginjilan ini juga menolong ketika saya mempraktekkan penginjilan.  Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang mengatakan bahwa “semua agama itu sama; Alkitab adalah buku 2000 tahun lampau, apa relevansinya?; agama hanyalah konstruksi manusia, tidak ada agama yang 100% benar.”  Dengan pendidikan teologi dan apologetika yang cukup, minimal saya tidak kecut hati terlebih dahulu dalam menghadapi pernyataan seperti ini (menurut saya banyak debat kusir terjadi disebabkan oleh ketakutan atau ketidakdamaian dalam penyampai berita Injil maupun penerimanya).  Bagaikan dalam sebuah perang, saya telah menguasai peta peperangan yang sedang berlangsung.  Saya bisa menduga apa yang akan dia katakan selanjutnya, apa yang sedang dia pikirkan, apa yang menjadi halangannya untuk percaya, apa yang akan menantang pemikirannya, dan bahkan apa yang akan menyentuh hatinya.  Alhasil, dialog yang lebih teratur dan sopan bisa berlangsung.  Memang apologetika tidak menjamin seluruh kemungkinan dalam dialog penginjilan, apalagi keselamatan penerima.  Tetapi hal ini pun saya pelajari melalui apologetika dan teologi!  Demikian, dalam percakapan-percakapan penginjilan saya ada banyak manfaat yang bisa saya peroleh, yang tentunya tidak akan pernah terbayang apabila saya masuk tanpa perlengkapan teologi dan apologetika yang memadai.

Pendidikan ini juga memberikan kepada saya insentif yang besar untuk lebih memahami iman saya juga iman orang di sekitar saya.  Tak perlu diragukan lagi bahwa pendidikan ini membuat saya memiliki keinginan belajar yang lebih besar.  Hal ini termasuk salah satu dari sekian banyak hal lainnya yang menuntun saya hingga menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiwa teologi, yang dipersiapkan untuk menjadi seorang hamba Tuhan.  Akhirnya, pendidikan teologi dan apologetika yang baik akan (dengan kuasa Roh Kudus) membawa seseorang menjadi murid Kristus yang baik pula.

 

Vincent Tanzil, 10 September 2012.

Lab Komputer SAAT

2 Comments

    1. Sebenarnya materi Astor itu sendiri sudah mengandung unsur apologetika di dalamnya. Jadi, menurutku jelas perlu. Itu adalah aplikasi Alkitab 1Pet. 3:15-16. Ingat juga kalau kita belajar itu bukan cuma untuk diri kita, tapi juga untuk mereka yang kita layani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s