“Jangan Mencuri”—Keluaran 20:15

Righteous Robin Hood?

 

Siapa yang tidak kenal dengan Robin Hood?  Keberanian dan usahanya yang mulia untuk menolong mereka yang lemah dan tertindas sudah melegenda.  Meskipun orang-orang tidak yakin apakah beliau memang tokoh historis atau tidak, pengaruhnya terasa nyata bagi kebudayaan masa kini.  Tetapi, ada satu hal yang selalu menggugah pemikiran dari kisah tokoh dengan kawan-kawannya yang disebut The Merry Men ini.  Apakah diperbolehkan untuk mencuri dari mereka yang korup demi menolong mereka yang lemah?  Apakah tindakan Robin dan rekan-rekannya patut diberi pembenaran?  Apa kaitannya dengan hukum kedelapan—“Jangan mencuri”—yang ditulis oleh tangan Allah sendiri?

“Mencuri” di dalam Alkitab tidaklah tertutup pada kegiatan-kegiatan yang mencolok seperti mencuri harta kekayaan dari sebuah bank raksasa.  “Mencuri” juga bukan hanya mengenai mengambil permen di kantin tanpa sepengetahuan siapapun.  Absalom “mencuri” kesetiaan rakyat daripada Daud (2 Sam. 15:1-6).  Musuh-musuh Yeremia “mencuri” firman yang dinyatakan oleh Yeremia.  Gunanya adalah membangun kredibilitas nubuatan mereka sendiri ketika mereka tidak sependapat dengan sang nabi.  Secara umum dapat dikatakan bahwa “mencuri” adalah tindakan yang tersembunyi.  Tindakan yang tidak diketahui oleh orang lain, terutama yang sedang menjadi objek pencurian.  Selain itu, “mencuri” juga senantiasa melibatkan apa yang menjadi hak kepemilikan orang lain.  Mencuri adalah sebuah tindakan tersembunyi yang mengambil apa yang menjadi hak milik orang lain.

Menarik bahwa hukum “jangan mencuri” mengindikasikan sebuah hak kepemilikan.  Artinya, kontra Karl Marx dan paham komunis, bahwa kepemilikan pribadi merupakan sebuah kejahatan, Alkitab menghargai kepemilikan pribadi.  Pada hakekatnya, manusia juga membutuhkan barang, seperti sandang, pangan, papan.  Kepemilikan pada taraf tertentu merupakan hal yang sehat.  Ketika kita hidup dengan selalu mengenakan pakaian orang lain, memakan makanan orang lain, tinggal di tempat orang lain, kita akan merasa ada sesuatu yang salah dengan jiwa kita.  Kepemilikan manusia berdasar dari mandat Allah untuk menguasai dunia ini (Kej. 1:26).  Mandat tersebut memberikan kepada kita kepemilikan sekaligus tanggung jawab untuk memeliharanya.  Sebab pada pokoknya, kepemilikan tertinggi adalah milik Allah.  Karena itulah kepemilikan kita pun harus digunakan dengan bijaksana.

Menggunakan kepemilikan kita hingga menggerus kepemilikan orang lain bukanlah penatalayanan yang bijaksana.  Sebagai contoh, membelikan seorang konglomerat sebuah tongkat golf dari emas yang tidak mungkin dipakainya, adalah tindakan yang tidak bijaksana.  Tidak heran mencuri menjadi salah satu larangan dalam sepuluh hukum Allah.  “Mencuri” mengambil apa yang menjadi hak milik orang lain—hak yang diberikan oleh Allah.  Mencuri bukanlah sekadar melanggar kepemilikan orang lain, tetapi juga melanggar perintah langsung Allah soal kepemilikan.

Tetapi bagaimana dengan Robin Hood?  Melihat situasi korupnya pejabat-pejabat negara Indonesia, tampaknya perilaku Robin Hood sangat menggoda dan relevan.  Siapa yang dapat menyangkal bahwa selembar seratus ribu rupiah tidak akan berarti bagi seorang konglomerat, tetapi mampu menyelamatkan sejumlah orang miskin yang hampir mati kelaparan?  Untuk menanggapi ini, cukuplah dikatakan bahwa kita tidak pernah dapat menjadi hakim atas kepemilikan orang lain.  Bukanlah hak kita untuk menentukan hak milik yang mana yang berarti dan yang tidak.  Selain itu, kriteria bahwa suatu kepemilikan itu berlebihan atau tidak pun seringkali memiliki batasan yang rancu.  Akhirnya, di tengah pilihan-pilihan kondisi yang membingungkan, mencuri tetap bukan pilihan yang disarankan.

Lewis B. Smedes berargumen bahwa hukum “jangan mencuri” juga dapat diaplikasikan secara positif.  Jelas bahwa ada orang-orang yang secara praktis tidak berkepemilikan lagi.  Mereka yang tidak mempunyai makanan untuk hari esok; yang tidak mempunyai pakaian hangat; yang tidak memiliki rumah; mereka menjerit untuk kepemilikan paling standar!  Tugas kitalah sebagai orang Kristen untuk menolong memenuhi kebutuhan mereka itu.  Tentu saja ini merupakan jalan yang lebih baik daripada mencuri ala Robin Hood!  Dengan mengurangi belanja rutin kita akan hal-hal yang tidak signifikan, kita dapat menyisihkan sedikit uang untuk menolong mereka yang membutuhkan.  Kebutuhan mereka tidaklah terlampau besar bagi sebagian kita.  Ada anak-anak yang dapat melanjutkan sekolah hanya dengan uang sekolah sebesar tiga ribu rupiah—harga segelas minuman di restoran.  Pakaian yang sudah tidak kita pakai dapat menghangatkan banyak orang yang pakaiannya sudah compang-camping.  Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dengan apa yang kita miliki.

Membangun integritas di tengah bangsa yang korup pun adalah hal yang tidak mudah, namun harus dilakukan.  Kita wajib untuk menahan tangan yang hendak mengambil peralatan kantor, pulsa milik orang lain, tusuk gigi di rumah makan, dan banyak hal lain yang bukan milik kita.  Minimal kebiasaan ini akan mendisiplin kita untuk menjalani hukum ini dengan lebih baik semakin harinya.  Siapkah kita untuk menjalankan hukum ini dalam kehidupan kita sebagai umat Allah? (Vincent Tanzil, 9 Februari 2012)

 

Pertanyaan Diskusi:

  1. Apakah dalam jangkauan anda ada orang-orang yang secara praktis tidak berkepemilikian?  Apa yang anda, beserta dengan keluarga, gereja, teman, sahabat, ataupun secara pribadi, dapat lakukan untuk melakukan hukum ini secara positif?
  2. “Mencuri adalah sebuah tindakan tersembunyi yang mengambil apa yang menjadi hak milik orang lain.”  Dalam lingkup kehidupan anda dan gereja, apakah tindakan yang dapat dikategorikan sebagai mencuri?  Apakah yang seharusnya dilakukan pada masa itu?  Bagaimana cara anda melakukannya?
  3. Mencuri tidak harus dilakukan secara aktif.  Menggunakan kepemilikan kita dengan tidak bijaksana dapat dikatakan melanggar mandat kepemilikan dari Allah.  Apakah anda menggunakan kepemilikan anda dengan tidak bijaksana?  Apa saja?  Apa yang bisa anda perbuat untuk memperbaikinya?

 

Studi Kasus:

Baru-baru ini ada seorang maling yang ditangkap di Batam.  Ia disebut sebagai “Maling Budiman dari Batam.”  Mengapa demikian?  Sebab ia merampok dengan prinsip tidak melukai korbannya.  Yang dia rampok adalah orang-orang yang memiliki kekayaan berlimpah ruah.  Hasil rampokannya ia bagi-bagikan untuk menyekolahkan anak-anak yang tidak bisa sekolah, mengobati orang yang sakit hingga sembuh, membangun fasilitas umum di pemukiman warga.  Itu yang dapat terdeteksi.  Tidak jarang ia membagikan berkat tanpa nama.  Dalam bingkisan-bingkisan tersebut terdapat tulisan “dari hamba Allah.”  Ketika ditanya, ia tidak merasa sedang melakukan kebajikan.  Apa yang ia lakukan hanyalah semata menjadi perantara bagi apa yang menjadi hak dari warga yang ditolongnya dan benar, warga memohon dengan sangat kepada kepolisian untuk meringankan beban hukumannya.  Sebab, pria ini dikenal sangat baik dan cinta anak-anak.

  1. Sebagai umat Allah yang tinggal di negeri yang penuh korupsi dan koruptor yang kebal hukum, bagaimanakah kita memandang hal ini?  Dapat dibenarkankah perilaku pria ini?  Mengapa?

Vincent Tanzil

Esai ini diterbitkan dalam buku aktivitas kamp pemuda SAAT 2012, “Living as God’s People”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s