Bagaimana Menantikan Kiamat

The End of The World?

Harinya sudah semakin dekat.  Di berbagai media massa tampak keresahan, ekspektasi dan perdebatan mengenai datangnya hari kiamat, yang konon akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012 ini.  Ada seorang warga di China yang membangun “bahtera” seharga 465 juta rupiah dengan harapan bertahan hidup selama dua bulan di dalamnya.  Ada yang membuat perkumpulan-perkumpulan untuk menantikan kiamat, hingga disesah oleh polisi.  Ada yang biasa saja menanggapinya: “kalau kiamat ya kiamat!”  Mulai dari keresahan, biasa saja, hingga menantikan kiamat, tampaknya benar bahwa kiamat memang menjadi trending topic di banyak media belakangan ini.[1]

Terlalu naif untuk mengatakan bahwa pemicunya adalah film 2012 saja.  Masih ada orang-orang yang bisa berpikiran sehat yang dapat membedakan antara fakta dengan fiksi.  Ada banyak faktor lain yang membuat banyak orang kembali mendiskusikan peristiwa favorit umat manusia ini.  Topik ini sebenarnya mirip dengan kematian.  Kematian adalah saat di mana semua yang direncanakan oleh manusia harus berhenti, dan tidak ada yang sanggup dilakukan untuk mengubahnya.  Manusia resah dengan kematian.  Manusia resah dengan perhentian.  Manusia resah dengan ketiadaan masa depan.  Manusia tidak dapat hidup tanpa pengharapan.  Segala usaha hidup manusia boleh dikatakan sebagai upaya untuk berjalan selangkah lagi menuju sebuah pengharapan.  Manusia tidak rela apabila pengharapannya harus terhenti di luar rencananya.  Pengharapan tersebut bisa berupa banyak hal: masa depan anak-anak; keluarga bahagia; kekayaan berlimpah; kekuasaan; balas dendam; kehidupan bahagia; kesuksesan, dan banyak hal lainnya.  Masalah utamanya bukanlah kiamat, tetapi “akhir” dari pengharapan.

Suatu kali saya mengikuti sebuah kebaktian pemuda.  Dalam kebaktian tersebut, pemimpin pujiannya membicarakan mengenai kiamat yang sudah dekat, dikaitkan dengan natal dan segala hingar-bingarnya.  Ia menguraikan kembali apa yang terjadi pada tanggal 12-12-12 yang lalu, salah satu tanggal yang ditengarai menjadi hari “akhir” tersebut.  Menjelang tanggal tersebut, media sosial penuh dengan kicauan dan posting mengenai peristiwa akhir yang fenomenal tersebut.  Ketika waktu yang dinantikan telah lewat dan tidak ada yang terjadi, dengan cepat media sosial kembali riuh dengan lontaran pernyataan-pernyataan “kabar baik” bahwa kiamat tidak terjadi.

Tetapi, benarkah ini “kabar baik?”

Apabila kita menilik lembaran-lembaran Perjanjian Baru kita akan melihat suatu perspektif yang berbeda.  Kiamat, atau akhir dari segala sesuatu, bagi orang Kristen adalah ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya dan membawa orang percaya untuk menikmati hadirat Allah selama-lamanya dalam hidup yang kekal.  Menarik bahwa mereka mengharapkan Tuhan Yesus untuk datang dengan segera, berbeda dengan kecenderungan orang percaya belakangan ini.  Doa yang umum bagi gereja mula-mula adalah “datanglah Tuhan Yesus!” (Why. 22:20; 1 Kor. 16:22 “Maranata”).  Doa ini masih sering dilantunkan dalam akhir dari ibadah gereja, dinyanyikan dengan penuh khidmat, padahal doa ini maksudnya “Tuhan, biarlah dunia ini cepat berakhir!”  Gereja mula-mula nampak sangat mengharapkan kiamat segera terjadi!  Hari tersebut adalah hari yang bahagia bagi mereka yang berbagian di dalam Yesus Kristus.

Mengapa bisa demikian?  Sebab, orang Kristen dipanggil untuk memikul salibnya masing-masing, untuk menderita sama seperti Kristus menderita.  Penganiayaan dan diskriminasi adalah hal yang umum dalam sejarah kekristenan.  Dunia ini membenci orang percaya, sama seperti dunia ini membenci Yesus.  Semakin seseorang belajar untuk mengasihi apa yang benar, yang baik, dan indah menurut perspektif Allah, semakin ia melihat distorsi yang telah dilakukan dosa di dunia ini.  Apabila seseorang semakin serupa dengan Kristus, ia akan semakin menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat yang nyaman untuknya tinggal.  Harapan terbesar mereka yang mengasihi Tuhan adalah “aku ingin pergi dan diam bersama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik” (Flp. 1:23).  Doa “maranata” terdengar aneh bagi mereka yang sudah merasa terlalu nyaman dengan dunia ini, namun bagi mereka yang menyadari keindahan dan kemuliaan yang menanti mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus, doa ini sungguh-sungguh merupakan kerinduan terdalam—pengharapan ultimat dari orang percaya!

Saya tidak mengatakan bahwa dunia ini sama sekali rusak dan tidak ada suatu pun yang indah yang layak dinikmati.  Tetapi, kalaupun ada yang indah dan nikmat dari dunia ini, mereka hanyalah remah-remah dari kemuliaan dan kenikmatan yang disediakan Tuhan bagi mereka yang percaya dan menaruh pengharapan kepada-Nya.

Kita sedang berada di dalam zaman akhir sambil menantikan akhir zaman.  “Akhir” tidak seharusnya menjadi kata yang menakutkan bagi orang Kristen.  Apabila kata tersebut menjadi momok, maka mungkin kita salah menaruh pengharapan kita.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai tanggal dari akhir zaman tersebut (semakin tanggal tersebut bisa ditebak, saya semakin tidak yakin.  Sebab, Yesus mengatakan bahwa hari tersebut tidak ada yang tahu), bagaimana sikap kita dalam menantikan “akhir” dari segala sesuatu tersebut?  Apakah kita takut bahwa pengharapan-pengharapan kita akan berakhir?  Ataukah, bersama dengan umat segala abad, kita akan menyerukan sorak sukacita, karena pengharapan kita yang terutama akan terungkap?  Maranata!

Vincent Tanzil, 19 Desember 2012.

Sambil menantikan Natal, Tahun Baru, dan kedatangan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s