Osmosis, Hipostasis, dan Terminologi Teologis

blood

Saya seorang yang takut jarum.  Namun dalam sebuah kesempatan saya memberanikan diri untuk mendonorkan darah dalam sebuah acara.  Seperti layaknya aksi donor darah, maka darah saya dinyatakan lolos seleksi, sehingga berkesempatan untuk dialirkan menuju kantong-kantong penyimpanan darah.  Bukan kabar yang menyenangkan pada awalnya.  Tetapi seperti halnya donor darah biasanya, darah saya sudah masuk ke dalam kantong tersebut tanpa menimbulkan perbedaan yang berarti.  Sebaliknya sukacita mulai muncul bahwa saya bisa turut berpartisipasi dalam sebuah aksi yang mulia!

Segera setelah itu saya mulai memamerkan aksi donor darah saya yang mulia tersebut kepada kawan-kawan.   Pada saat itu saya tampak alpa dengan peringatan Tuhan Yesus untuk tidak memamerkan perbuatan baik kita di hadapan orang-orang.   Tetapi entah bagaimana saya terjebak dengan sebuah kawan dalam membicarakan “osmosis” dari darah.

Setelah pembicaraan tersebut saya jadi memikirkan beberapa hal.  Perhatian saya bukan terletak pada mekanisme darah yang dibicarakan, namun kepada peristilahan yang gemanya mirip istilah yang saya kenal dalam dunia teologi: hipostasis.  Pertanyaan menyeruak dalam kepala saya, mengapa orang dapat dengan mudah menggunakan istilah-istilah seperti “osmosis,” “stomata,” “metamorfosis,” “evaporasi,” dan banyak istilah ilmiah lainnya, tetapi mereka merasa sungkan untuk menyebutkan istilah teologis seperti “propisiasi,” “glorifikasi,” “tribulasi,” dan “hipostasis”; sementara menurut saya istilah-istilah tersebut terdengar sama rumitnya seperti istilah ilmiah lainnya? Lantas, mengapa ada orang-orang yang merasa terganggu apabila kita berbicara atau berkhotbah dengan menggunakan terminologi demikian? Apabila jemaat Tuhan sudah dibiasakan dengan istilah asing yang berkenaan dengan fisika, biologi, atau kedokteran, mengapa mereka tidak sekalian dididik dalam istilah-istilah teologis yang diperlukan?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa sebuah khotbah atau artikel harus ditaburi dengan berbagai istilah yang rumit sehingga tidak dapat terbaca atau dimengerti sama sekali.  Pada akhirnya diktum komunikasi yang wajar dan efektif meniscayakan penggunaan kata-kata yang familiar dengan komunikan demi mencapai tujuan dari komunikasi tersebut.  Tetapi maksud dari gagasan saya adalah digunakannya istilah-istilah tersebut, diikuti oleh penjelasan maknanya, merupakan hal yang baik bagi jemaat Tuhan.  Seharusnya hal ini tidak dipandang sebagai hal yang tabu.  Betapa saya merindukan komunitas orang Kristen yang dapat membicarakan istilah-istilah ini (yang penting untuk mengerti perbincangan teologi) dengan lebih leluasa tanpa harus dipandang sebagai orang yang “tidak mendarat.”

Solusinya, saya pikir, adalah pembiasaan penggunaan terminologi-terminologi tersebut dalam kalangan gerejawi, semenjak usia muda.  Kapankah mereka mendengar dan mempelajari istilah homo sapiens, osmosis, dan berbagai istilah latin atau serapan lainnya?  Saat yang sama itulah mereka juga bisa diajarkan istilah-istilah tersebut.  Dengan demikian, istilah yang konon rumit dan terkesan jelimet tersebut bisa dibudayakan dalam gereja, komunitas yang sudah seharusnya paling memahami terminologi imannya sendiri.

 

Vincent Tanzil, 21 Desember 2012

 

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s