Observasi dan Kreasi: Relasi Sains dan Teologi

ARC Research

Sebenarnya teologi dan sains sempat menjadi rekan sekerja pada masa-masa sebelumnya.  Dunia belahan Barat yang banyak dipengaruhi kekristenan menyadari bahwa Allah tidak hanya menyatakan dirinya melalui Alkitab, tetapi juga melalui dunia yang diciptakan-Nya.  Karena itulah banyak ilmuwan yang serius terhadap penelitian ilmiah, namun juga orang yang saleh.  Blaise Pascal misalnya, selain menjadi ilmuwan, juga menulis risalah-risalah teologi yang dibukukan dalam Pensees.  Tragedi pertentangan antara sains dan teologi baru dimulai saat gereja menghadapi pertentangan dengan ilmuwan-ilmuwan seperti Galileo dan penerus-penerusnya.  Charles Darwin menambahkan keruwetan yang ada dengan teori evolusinya.  Sebagai akibat dari pertentangan berkepanjangan tersebut, sains dan teologi sekarang nampak bertentangan.  Boleh dikatakan bahwa Richard Dawkins hanyalah penerus dari tetua-tetuanya.

Richard Dawkins, seorang profesor biologi dari Universitas Oxford meluncurkan banyak buku yang menyerang kekristenan.  Menurutnya Allah hanyalah sebuah “delusi” semata.  Ia mengusung sebuah paham bahwa agama-agama merupakan hal yang menghambat kebudayaan, bahkan merusaknya.  Ia tampak sangat membenci agama, termasuk di dalamnya kekristenan.  Ia pernah menjalankan sebuah proyek untuk menempelkan gambar di bis-bis bertuliskan “there is probably no god.  So stop worrying and enjoy your life.”  Seperti itulah kira-kira etika yang dimajukannya sebagai pengganti kekristenan.  Apakah yang mendasari alternatifnya yang radikal?  Ia menyatakan bahwa paradigma yang diberikan sains sudah cukup untuk menjadi wawasan dunia kehidupan manusia secara utuh.  Sebuah usulan yang berani sekali, namun bukan tanpa kritik balasan.  Setuju atau tidak dengan proposal Dawkins, kita melihat bahwa sains dan teologi nampak tidak terlalu sinkron dalam wacana belakangan ini.  Apa gunanya teologi, apabila sains telah mampu menjelaskan segala sesuatu, bahkan menyingkirkan Allah dari perbincangan?

Sebenarnya ada banyak sekali!  Dawkins dan para pemihak sains ketimbang teologi lupa bahwa sains adalah sebuah metode, sebuah penelitian, bukan pencetus.  Sains tidak dapat menciptakan nilai.  Malahan, sains membutuhkan asumsi-asumsi yang non-ilmiah demi menjalankan observasinya tersebut menjadi sebuah pengetahuan yang sahih.  Misalnya, keteraturan alam semesta, logika, kemampuan nalar manusia untuk memilah yang benar dan tidak.  Asumsi-asumsi tersebut tidak bisa didapatkan melalui penelitian ilmiah.  Sains hanya bisa membuat pernyataan “biasanya” namun tidak bisa mengatakan “seharusnya.”  Kata “seharusnya” hanya bisa diisi oleh agama—secara khusus kekristenan.  Sains digunakan untuk observasi, bukan kreasi.

Ini hanyalah gambaran besar relasi sains dengan teologi.  Artikel ini membahas sejarah singkat dan tuduhan sains kontemporer terhadap teologi.  Masih banyak kaitan yang bisa dibahas antara sains dan teologi, termasuk kontribusi positif sains terhadap teologi maupun sebaliknya.  Tetapi hal itu bukanlah bagian artikel singkat ini.  Minimal melalui artikel ini kita dapat melihat bahwa sains tidaklah semahakuasa itu.

Vincent Tanzil, 18 Januari 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s