Resensi Buku: Reimagining Evangelism-Rick Richardson

4bd520fd7d767Reimagining_Evangelism

Rick Richardson, Reimagining Evangelism. terj. Christine Ike Budiana. Surabaya: Perkantas Jatim, 2010. 204 hal.

Rick Richardson adalah seorang associate professor dan direktur program Masters in Evangelism di Wheaton College.  Dari posisinya bisa terlihat bahwa ia adalah seorang ahli dalam bidang penginjilan.  Tujuan utama dari penulisan bukunya adalah untuk merombak citra penginjilan yang sudah populer, namun dirasanya kurang efektif.  Buku ini adalah upaya untuk menanggulangi permasalahan demikian.

 

Merombak Citra Penginjilan: Salesman atau Pemandu Perjalanan?

Richardson memulai bukunya dengan melukiskan gambaran umum orang tentang penginjilan yang lebih berupa seorang salesman.  Gaya yang demikian sudah tidak relevan lagi, mengingat perubahan budaya yang lebih imajinatif, ekspresif, dan berpusat pada cerita, tidak seperti budaya sebelumnya yang masih kental dengan rasio dan teknologi.  Ia dengan cermat menambahkan bahwa ini sekadar kepercayaan populer, bukan berarti seluruh penginjil memang seperti salesman.  Tujuan pembacanya adalah mereka yang merasa tidak ahli dalam penginjilan dan merasa tertekan oleh gambaran-gambaran tradisional yang dilukiskannya di awal.  Pendekatan yang diberikannya lebih bersifat persahabatan, komunitas, rentan dan fleksibel, dibandingkan metode-metode penginjilan tradisional.  Sekalipun demikian, ia juga memperingatkan setiap penginjil untuk berani menghadapi tantangan untuk ditolak dalam penginjilan.  Persahabatan, kelembutan, dan komunitas tidak meniadakan tantangan.

 

 

Menemukan Kembali Peran Roh Kudus: Kolaborasi lawan Aktivisme

Pada bagian ini Richardson menegaskan kembali peran Roh Kudus yang menurutnya sudah lama diabaikan dalam penginjilan.  Ia memulai dengan memaparkan ajaran Alkitab bahwa Roh Kudus memainkan peranan yang penting dalam kehidupan orang percaya, bahkan Tuhan Yesus.  Cara untuk mendapatkan tuntunan Roh adalah melalui doa.  Bayangkanlah betapa indahnya apabila gereja-gereja sekarang berkomitmen untuk berdoa dan mencari tuntunan Roh Kudus dalam kehidupan penginjilan mereka setiap hari.  Richardson yakin bahwa sebuah ledakan penginjilan akan terjadi.  Ia menganjurkan agar kita berdoa bersama dengan orang-orang yang belum percaya.  Pengalamannya menunjukkan bahwa Allah sering kali lebih senang bekerja di kalangan orang yang belum percaya dalam perkara-perkara remeh, sedangkan Allah mengharapkan orang yang sudah percaya untuk lebih dewasa dalam imannya.  Demikianlah ia menantang pembacanya untuk berkolaborasi dengan Roh Kudus.

 

Saksi Sebuah Komunitas

            Richardson memulai dengan menggambarkan sebuah kisah di mana sebuah komunitas menjadi tempat yang kondusif untuk seorang yang skeptis menjadi percaya.  Pada bagian ini Richardson menekankan pentingnya sebuah komunitas dengan karunia rohani yang beragam dalam penginjilan.  Dasar mengapa ia mementingkan komunitas adalah karena perubahan keyakinan sering kali tidak sekadar berupa sebuah keputusan singkat, namun sebuah proses.  Karena itu gereja perlu untuk menciptakan komunitas pemuridan di mana mereka yang belum percaya pun bisa terlibat di dalamnya, dimuridkan hingga menjadi percaya kepada Tuhan.  Karena itulah setiap warga gereja bisa turut berperan!  Tidak semua orang dikaruniai kemampuan untuk memberitakan Injil secara verbal dengan fasih, namun setiap orang diberikan karunia untuk berpartisipasi dalam penginjilan melalui komunitas!  Akhirnya Richardson menutup dengan dorongan untuk berdosa meminta kepenuhan Roh Kudus, tidak hanya secara individual, namun juga bagi komunitas tersebut.

 

Seni Persahabatan Spiritual

Penulis ini memulai dengan kisah kerinduan seorang Kristen yang terkungkung dalam komunitas Kristen, hingga tidak sempat menjangkau keluar.  Hal inilah yang hendak diperbaiki oleh Richardson.  Hal yang sanggup untuk membuka pintu relasi ini adalah sebuah persahabatan yang sejati.  Richardson mendorong setiap pembacanya untuk lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang belum percaya.  Untuk melakukan hal ini, sebenarnya tidak banyak hal yang perlu dilakukan, hanya lakukanlah apa yang anda sukai bersama dengan orang-orang non-Kristen.  Kewajaran tersebut, disertai dengan pertanyaan-pertanyaan spiritual yang baik, akan menolong setiap penginjil untuk memulai kontak dengan mereka.  Patut diingat bahwa fokusnya adalah persahabatan, bukan sekadar sebuah momen penginjilan dengan keputusan yang pasti.  Memang tidak mudah untuk memulai percakapan, namun apabila kita memiliki sikap yang rendah hati dan terbuka dengan segala kelemahan kita, maka seharusnya hal ini akan lebih mudah.  Orang yang belum percaya cenderung menghargai keterbukaan dan kelemahan kita.  Inilah percakapan sebagai pemandu rohani.

 

Kekuatan Sebuah Cerita

Cerita berbicara jauh lebih banyak dari pada sekadar dogma.  Itulah yang ingin disampaikan Richardson melalui bab ini.  Ia mengeluhkan kebiasaan gereja untuk menyusun “naskah” penginjilan yang terlalu kaku, sehingga sang pemberita Injil menjadi kesulitan untuk mengomunikasikannya apabila situasi keluar dari jalur naskah yang diberikan.  Jangan lagi.  Richardson menyatakan bahwa keseluruhan hidup kita adalah kisah bagi orang-orang yang belum percaya.  Ia menyatakan bahwa lebih bermanfaat untuk mengisahkan perubahan atau pengudusan dari Allah dengan segala kesulitannya, ketimbang terpaku pada kisah mengenai pertobatan.  Kisah mengenai pertobatan yang spesifik mungkin tidak kita miliki, namun kisah perubahan hidup adalah sebuah keniscayaan sebagai orang yang mengikut Yesus.  Terakhir Richardson menutup dengan cara untuk menghubungkan kisah perubahan hidup kita dengan orang yang belum percaya.  Mereka perlu untuk mendengar apa yang menyentuh kehidupan mereka, sehingga mereka tergerak untuk bertanya mengenai kisah besar di balik kisah kita, yakni kisah penebusan Yesus Kristus bagi dunia.

 

Yesus Di Luar Kotak

Orang sering kali tidak mendengarkan Injil bukan karena mereka tidak suka kepada Injil, tetapi karena stereotip yang tidak tepat mengenai Yesus Kristus.  Richardson menyarankan para penginjil untuk lebih cerdik dalam menghadapi tuduhan-tuduhan atau pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada para penginjil.  Tuduhan atau pertanyaan yang diajukan sering kali dapat dibongkar dengan pernyataan atau pertanyaan yang tepat.  Dibanding banyak presentasi, lebih baik kita mempertanyakan asumsi dasar dari ketidaksukaannya terhadap Yesus Kristus.  Richardson meyakini bahwa Yesus yang ada di dalam Alkitab akan selalu mengejutkan banyak orang.  Stereotip yang sudah umum, bahwa Yesus hanya lemah lembut seperti agar-agar, selalu baik, dan membenci konflik adalah asumsi yang harus ditantang.  Tidak lupa juga adanya semangat konsumerisme rohani dalam konteks zaman ini, yang jelas tidak kondusif bagi panggilan Yesus untuk mengikut Dia.  Selain itu, harus diingat bahwa akan ada orang-orang yang menolak Yesus, meskipun mereka sudah mendengar secara menyeluruh mengenai siapa Yesus itu sebenarnya.  Richardson lebih puas apabila mereka menolak Yesus yang tepat, ketimbang menolak Yesus yang dibumbui oleh stereotip yang salah.

 

Kabar Baik

Apakah benar Yesus adalah kabar baik bagi dunia ini?  Richardson memulai dengan mengkritiki kabar baik yang biasa dikumandangkan oleh para penginjil pada masa kini.  Menurut dia kabar baik yang diberitakan cenderung individualistis dan berfokus pada respons personal.  Menerima Yesus menjadi seperti pelepasan emosional dari rasa bersalah dan jaminan untuk hidup setelah kematian.  Kerajaan Allah adalah berita yang lebih holistis, namun dilupakan oleh banyak penginjil salesman.  Ia memberikan sebuah garis besar cerita dari Alkitab mengenai sejarah penebusan Allah kepada dunia ini.  Lingkup penebusan Allah tersebut mencapai individu, komunitas, bangsa dan segala ciptaan.  Menurut dia naskah ini lebih baik dan tepat ketimbang naskah yang reduksionis biasanya.

 

Undangan Pernikahan: Perjalanan Lawan Peristiwa

Pernikahan mungkin merupakan sebuah gambaran yang lebih cocok mengenai relasi orang percaya dengan Kristus.  Richardson meyakini bahwa peran seorang penginjil lebih menyerupai seorang mak comblang.  Para penginjil dipanggil untuk menuntun orang-orang yang belum percaya, namun sedang bergumul, untuk mulai mengikut Yesus.  Inilah momen yang disebutnya “mendefinisikan hubungan.”  Ia menganalogikannya dengan peristiwa di mana dua insan yang sudah lama menjalin kasih mencapai sebuah titik krusial untuk menentukan relasi apakah yang sedang mereka jalani itu.  Persis hal seperti inilah yang hendak dibawa seorang penginjil dalam tugasnya sebagai penuntun.  Ia menantang para penginjil untuk memberanikan diri mengajukan pertanyaan penentu ini.  Menurut pengalamannya terkadang perhitungan kita mengenai kesiapan seseorang untuk menjawab pertanyaan definitif ini salah sama sekali.  Ia menemukan banyak orang yang berkomitmen mengikut Yesus, meskipun ia cukup pesimis sebelumnya.  Pertanyaan ini juga bukan berorientasi terhadap siapa yang di dalam atau di luar lingkaran kasih karunia Allah, namun sedang berada di posisi manakah sang pencari kebenaran tersebut.  Akhirnya, bagian ini ditutup dengan serangkaian kalimat tantangan untuk mengikuti apa yang telah dituliskannya dari awal hingga akhir buku ini—perubahan dari salesman menjadi mak comblang!

 

Apendiks-Apendiks

Richardson menyadari bahwa ia menulis dengan asumsi budaya pascakristen.  Karena itu ia memberikan garis besar apa yang ia sampaikan di awal dengan asumsi para penginjil akan memberitakan kekristenan pada kaum etnis yang berbeda.  Secara umum yang disampaikannya tidak banyak berbeda.  Lagi pula yang disampaikan Richardson berkisar soal isu etnis-etnis yang berada di Amerika.

Richardson melampirkan beberapa apendiks untuk membantu seseorang dalam cara memberitakan Injil.  Lampiran 2 berupa sebuah ilustrasi untuk menjelaskan posisi Yesus dalam kehidupan manusia, sehingga berdampak pada seluruh aspek dunia ini.  Lampiran 3 dari Brian McLaren berisi mengenai cara baru dalam memandang perjalanan rohani orang belum percaya.  Lampiran 4 adalah sebuah daftar untuk menaksir karunia rohani seseorang.  Daftar taksiran ini lebih berfokus dalam karunia-karunia yang bisa menolong untuk membuat sebuah komunitas yang bersaksi.

Tanggapan

Sekalipun banyak hal yang baik, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk buku ini.  Secara khusus tanggapan ini berfokus pada situasi dan konteks Indonesia.  Apakah teori yang disampaikannya cocok?

Richardson, seperti yang sudah diakuinya, sangat menekankan budaya pascamodern dan pascakristen yang menjadi konteks penginjilan masa kini.  Hal ini tentu berbeda dengan  konteks Indonesia yang bahkan tidak memiliki budaya Kristen sebelumnya.  Negara ini lebih dilingkupi oleh budaya Islam.  Meskipun ada beberapa daerah di Indonesia yang menjadi “kantong Kristen” namun kondisi di sana, berdasarkan pengamatan saya, lebih berupa Kristen animis ketimbang pascakristen.  Lebih-lebih dengan budaya pascamodern.  Budaya di Indonesia cenderung tidak merata.  Beberapa kawasan seperti Jakarta dan Surabaya mungkin bisa disebut pascamodern, namun pada saat bersamaan di kampung-kampung kecil dalam kota besar itu masih berbudaya pramodern!

Richardson juga mengkritiki pendekatan yang bersifat dogmatis dan kaku yang dianggapnya tidak cocok dengan konteks seperti yang disebutkannya di atas.  Secara umum saya setuju bahwa pendekatan dogmatis (dalam artian fundamentalis?) tidak akan berhasil pada banyak orang, baik pascamodern atau pramodern.  Sekadar menyatakan dengan memaksa mengenai apa yang kita percayai tidaklah menolong sama sekali, malah berimbas buruk.  Tapi dalam konteks Indonesia, dalam pengalaman saya, banyak orang yang bahkan tidak pernah mendengar apa yang dipercaya oleh orang Kristen.  Ketika mereka ditanya mengenai siapa Yesus itu, terkadang muncul stereotip yang salah (agama penjajah, agama bule, dsbnya), terkadang mereka bahkan tidak tahu siapa Yesus itu!  Apabila yang muncul adalah stereotip, maka pendekatan Richardson dapat berfungsi dengan baik.  Apabila nihil titik tolak, maka sangat baik untuk menceritakan kisah Yesus yang benar.  Dalam hal ini saya menemukan interes yang cukup tinggi di Indonesia mengenai pribadi Yesus, sehingga dogma-dogma dan keyakinan-keyakinan menjadi hal yang menarik bagi mereka—tanpa menihilkan cerita-cerita seperti yang ditekankan Richardson.

Richardson menyatakan “Di mana pun kita berhasil bercerita tentang realitas Allah, lalu beroleh sebuah percakapan, kita telah menginjili!” (hal. 30; juga hal. 112).  Mungkin ini definisi yang terlalu lebar.  Mungkin pernyataan ini dipengaruhi oleh budaya pascakristen yang cenderung ateis atau agnostik.  Bagaimanapun juga, saya pikir pernyataan ini tidak tepat.  Apabila hanya sampai membicarakan realitas Allah, tentulah kita belum menyampaikan Injil.  Mungkin yang dimaksud Richardson adalah kita telah memulai jalan menuju berita Injil tersebut, tapi bukan sudah memberitakan Injil.  Entah apakah ia berpikir demikian, ia kurang jelas pada bagian ini.  Lagi pula konteks Indonesia yang cenderung sangat religius meniscayakan sebuah identifikasi akan siapa Allah yang kita bicarakan.  Apabila tidak, maka kemungkinan besar pendengar kita akan menangkap Allah yang seperti dinyatakan Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa”—Tuhan semua agama—tapi bukan Allah yang menjadi manusia.

Cerita menjadi bagian yang penting dalam penginjilan.  Richardson menyatakan bahwa “orang-orang pada masa kini cenderung tidak percaya pada logika dan kebenaran yang diekspresikan secara proposisional dan dogmatis” (hal. 103-104).  Memang benar bahwa kebanyakan orang di masa ini, baik pramodern atau pascamodern, tidak terlalu nyaman dengan runutan logika yang runtut.  Sayangnya menihilkan sama sekali argumentasi logis juga bukanlah jalan yang tepat.  Beberapa orang yang tergolong kaum intelektual biasanya memiliki tembok-tembok ketidakpercayaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan menjelaskan narasi sejarah penebusan Yesus Kristus.  Tembok mereka perlu untuk dikonfrontasi lalu diisi dengan cerita Yesus yang memuaskan secara rohani maupun intelektual.  Hal ini berlaku juga di dalam konteks Indonesia.  Menganggap bahwa budaya Indonesia hanya bersifat cerita adalah sebuah karikatur yang berlebihan.  Risalah filsafat dan akademis mengenai keabsahan iman Kristen masih bergulir keluar dari dapur penerbit-penerbit buku di Indonesia.  Memang tidak semua bisa didekati secara logika dan proposisi, tapi juga tidak semua bisa dihadapi dengan cerita.

Rick Richardson tentu patut dihargai dalam lingkup penelitian serta kejelasannya dalam menyampaikan apa yang menjadi pokok bukunya.  Ia benar dalam banyak hal.  Sebuah penginjilan yang terlalu terfokus pada perubahan keyakinan cenderung melenyapkan aspek persahabatan; orang-orang Kristen cenderung berlindung dalam tempurung sesama orang Kristen ketimbang turun dan berteman dengan orang yang belum percaya; isi kabar baik yang biasa disampaikan penginjil salesman biasa bersifat reduksionis, dan karena itu tidak terlalu menjadi kabar yang baik bagi banyak orang; penekanan untuk bergantung pada Roh Kudus dalam penginjilan—secara keseluruhan buku ini memberikan kesegaran bagi teori penginjilan yang biasa didengar di Indonesia.  Indonesia membutuhkan gaya penginjilan seperti yang ditawarkannya dalam buku ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s