Sembako: Bukti Kehadiran Gereja?

download

Hiruk pikuk 17 Agustusan belum puas untuk meramaikan negara Indonesia ini.  Sekalipun sudah berlalu seminggu lebih, masih nampak atribut dan beberapa kegiatan yang berlangsung di masyarakat sekitar.  Salah satu yang tidak terkecuali adalah gereja.

            Selama ini gereja selalu terdorong untuk merayakan berbagai macam hal yang terjadi di dalam komunitasnya.  Ada ulang tahun komisi, pernikahan, kelahiran, pergantian pendeta, perpisahan pendeta dan lain sebagainya.  Tentu saja perayaan Agustusan tidak boleh luput dalam agenda gereja-gereja Indonesia; sebab kalau tidak gereja bisa dituduh sebagai sekadar pinarak (mampir) di negara yang berlimpah kekayaan alamnya ini.

            Tetapi ada beberapa pengamatan saya yang meresahkan.  Satu kali saya mengikuti sebuah kebaktian.  Pada akhir kebaktian tersebut diumumkanlah kegiatan gereja tersebut dalam rangka Agustusan.  Memang suasana Agustusan masih terasa.  Apa kegiatan mereka?  Saya penasaran.  Acara mereka adalah bagi-bagi sembako bagi masyarakat di sekitar mereka, yakni rumah-rumah yang hampir menempel dengan gedung gereja yang megah tersebut.  Saya tidak terkejut; malah saya cenderung kecewa.  Sudah berapa sering, dalam pengamatan saya yang terbatas ini, saya menemukan kegiatan yang serupa.  Gereja hadir di dalam suatu masyarakat hanya untuk menjadi pembagi beras dan kebutuhan pokok, itu pun dalam waktu-waktu khusus saja.  Tidak hanya gereja, institusi Kristen yang saya amati pun tidak melakukan hal yang lebih baik.  Institusi tersebut menyumbangkan sembako di hari khusus dan memacetkan jalanan dalam sisa waktunya.  Saya tidak meremehkan pembagian sembako, tetapi apakah tidak ada cara lain?

            Gereja Indonesia sering kali bertingkah seakan mereka gereja yang berada di Indonesia, bukan gereja Indonesia.  Tidak terlalu mengejutkan bahwa ada gereja yang bahkan menolak iuran kelurahan dan kecamatan persoalan perbaikan jalan, lahan parkir, pengolahan sampah, pembersihan saluran got, penanaman pohon—daftar ini bisa diperpanjang.  Untuk apa terlibat ini itu?  Jangan-jangan mentalitas gereja hanyalah: “kami tidak berasal dari dunia ini.”  Bukankah kita hanya numpang di daerah ini?  Bukankah “kewarganegaraan kita adalah dari surga?”  Bukankah misi kita adalah untuk menyelamatkan jiwa?  Gereja lupa untuk ”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7).[i]  Apabila pengabaian ini diteruskan saya khawatir stigma yang sudah terkenal (namun sering dibantah oleh gereja) bahwa gereja hanya hadir untuk kristenisasi[ii] kawasan sekitarnya tersebut malah semakin dipupuk.  Kehadiran gereja tidak mengubah apa-apa di kawasan sekitar mereka, malah terkadang meriuhkan suasana daerah yang dahulu permai.

            Syukurlah bukan hanya berita seperti ini yang jatuh dalam pengamatan dan pendengaran saya.  Ada suatu gereja di sebuah daerah yang lumayan terpencil, ketika menghadirkan dirinya di dalam lingkungan baru tersebut, memberikan sumbangsih bagi kawasan sekitarnya.  Sembako?  Bukan.  Jalanan yang rusak di daerah itu mulai diperbaiki.  Mereka membangun lampu jalan bukan hanya di sekitar gereja, namun dalam hampir seluruh bagian daerah tersebut.  Sudah lama daerah tersebut diliputi kegelapan, namun tidak ada gerakan sama sekali.  Akhirnya terang tersebut bersinar di atas gantang, dan bukan di bawahnya.  Kawasan gelap tersebut sekarang diimbuhi oleh terang yang dibawakan oleh mereka yang terpanggil untuk menjadi terang.

            Kiranya tidak ada orang yang menuduh saya menggantikan Injil Yesus Kristus dengan kegiatan sosial.  Pemberitaan Injil (bukan kristenisasi) dan kehidupan bermasyarakat yang baik tidaklah harus bertentangan, malah bergandengan tangan satu sama lainnya.  Mohon jangan hanya sembako lagi!

Vincent Tanzil, 25 Agustus 2013

Seminggu lebih satu hari setelah perayaan kemerdekaan Indonesia.


[i] Konteksnya adalah bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan.  Dari pada menggerutu Allah berfirman agar mereka mulai menjadi berkat bagi sekitar.

[ii] Kristenisasi harus dibedakan dengan pemberitaan Injil.  Kristenisasi adalah suatu upaya untuk mengkristenkan secara paksa suatu daerah tertentu, baik dengan iming-iming ataupun secara politis.  Sudah sepatutnya kegiatan seperti demikian dilarang.  Pemberitaan Injil adalah menyiarkan kabar baik Yesus Kristus, bahwa ada pengampunan dosa dan pengharapan di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus—hidup dan langit bumi yang baru!  Bahwasanya ada yang bertolak percaya atau tidak merupakan hak asasi setiap insan manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s