Pelahap Buku dan Pemikir

A_woman_thinking

Banyak membaca dan berpikir dengan jernih merupakan dua hal yang berbeda.  Kita bisa menemukan orang yang membaca banyak literatur namun menunjukkan pola berpikir yang tidak berkembang terlalu jauh.  Sebaliknya, kita bisa menemukan mereka yang mampu melontarkan pemikiran dan pertanyaannya dengan jelas dan tepat, sekalipun membaca literatur banyak-banyak tidak menjadi porsi besar kehidupan mereka.  Dahulu orang terbiasa untuk menganggap bahwa banyak membaca memiliki kaitan yang erat dengan kejernihan berpikir.  Semakin saya banyak membaca dan bertemu dengan pemikir lainnya, saya menemukan kesimpulan yang berbeda.

Persoalan bagi mereka yang banyak membaca adalah kurangnya upaya argumen yang resiprokal.  Sebut saja para pembaca ini sebagai Pelahap Buku.  Makhluk-makhluk ini, entah mengapa, memiliki nafsu yang besar untuk menelan informasi yang baru dari berbagai sumber.  Tidak hanya senang dengan informasi, mereka sebenarnya menikmati proses pembacaan itu sendiri.  Sebenarnya kaum Pelahap Buku bukanlah tipe orang yang banyak berpikir.  Kaum ini lebih merupakan pengumpul data.  Mereka bak perampok harta karun yang gemar berpetualang demi mendapatkan harta demi harta itu sendiri.  Akibat dari Pelahap Buku ini adalah sebuah gudang dengan tumpukan benda berharga yang tidak disusun rapi.  Mereka mengoarkan kelimpahan harta, namun tidak mencari kejernihan dan keindahan dari jajaran yang rapi dan pengategorian yang solid.

Kelompok kedua yang memiliki kejernihan berpikir memiliki persoalannya sendiri.  Mereka senang untuk menggunakan pikiran mereka untuk mengolah data.  Sebut saja mereka Pemikir.  Hobi mereka tidak kurang adalah menyusun argumentasi dan menunjukkan kesalahan pemikiran yang lain.  Pengategorian yang rapi dan analitis menjadi ciri khas mereka.  Tidak penting banyak pengetahuan.  Dengan adanya banyak pengetahuan sekalipun seseorang bisa menjadi pemikir kacangan.  Kejelasan berpikir dan alur argumentasi merupakan kartu as bagi segala keadaan.  Sayangnya kelompok ini cenderung tidak memiliki data yang cukup untuk diolah.  Memang pemikiran mereka menjadi dalam, sebab fokus olahan mereka hanya terfokus pada sedikit data yang dikunyah secara rutin.  Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa kekurangan data dapat membuat seseorang menjadi autis pada dunianya sendiri.  Ia mengulang-ulang argumen yang sama, berupaya mencari solusi untuk sebuah persoalan yang sudah diselesaikan orang lain, serta gagap ketika bertemu limpahan data yang tidak dikenal.  Mereka inilah para penjaga museum.  Kepentingannya adalah merapikan data yang ada dalam aras yang elok.  Mengumpulkan ataupun menciptakan karya baru tidak terlintas dalam benak mereka.

Bagaimanakah menyelesaikan persoalan ini?  Tentu saja jawaban yang mudah adalah dengan mencari keseimbangan.  Sekalipun demikian saya pribadi cenderung untuk pro kepada kelompok kedua.  Kejengkelan senantiasa menyeruak ketika bertemu dengan seseorang yang banyak membaca, pintar menyebut nama-nama penulis, namun kebingungan ketika menjelaskan ulang pemikiran para penulis tersebut.  Posisi yang dipegangnya pun tidak terlalu kokoh.  Ia tidak terbiasa bertemu oposisi.  Kecenderungannya adalah untuk mengumpulkan data yang mendukung keyakinan mula-mulanya, bukan untuk mempertandingkannya dalam koloseum ide.  Para Pemikir memiliki ketajaman tombak yang diperlukan bagi setiap prajurit.  Satu-satunya yang diperlukan para Pemikir adalah data baru untuk diolah.  Uniknya, para Pemikir ini lebih mudah untuk mencerna setiap data baru yang didapatnya.  Bahkan, ia sanggup untuk menjabarkan ulang pengertian barunya, serta siap mempertahankannya.  Karena itulah saya lebih senang untuk memberikan porsi besar demi membentuk Pemikir ketimbang Pelahap Buku.  Basis ketajaman berpikir dibandingkan limpahan informasi.  Hal ini bisa dicapai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis, memberikan argumentasi oposisi, membongkar ulang pengertiannya, dan membiarkannya menemukan apa yang menjadi pandangannya.  Melalui hal ini ia akan terbebas dari kenaifan, selain itu ia juga siap untuk menuai data yang lebih banyak lagi—disebabkan keingintahuannya.

Vincent Tanzil

15 November 2013

3 Comments

  1. vincent, saya jurnalis—-pekerjaan membuat saya jadi pelahap informasi dan memberinya bentuk lagi dalam tulisan yang disajikan untuk orang lain——-saya memulai dari pelahap buku, gemar membaca apa saja—-dan keterampilan jurnalistik membuat saya jadi pemikir dan penganalisis juga————————dari sini kami jurnalis sering melihat orang-orang bodoh yang jadi pemimpin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s